Matahari

Matahari
Flashback 4 tahun lalu


__ADS_3

flashback ke masa lalu bumi 4 tahun yang lalu...


Pagi yang cerah dengan awan-awan putih yang indah. Mengisyaratkan sebuah kebahagiaan seseorang. Tapi tak lama awan-awan itu terlihat menghitam, seakan kebahagiaan itu kelam dalam kabut hitam yang menutupi awan.


Disanalah, Disebuah Pemakaman elit dengan dinding-dinding pagar yang menjulang tinggi sebagai batas di setiap pemakaman. Pemakaman yang luasnya hingga berhektar itu hanya dihuni untuk satu keluarga saja.


Disana terdapat sebuah kolam renang kecil yang dindingnya terbuat dari kaca. Ada pula sebuah taman yang terdapat banyak alat edukasi permainan untuk anak-anak. Ada dua buah toilet yang menyatu didekat kolam renang itu dengan gambar seseorang memakai rok dan yang satunya memakai celana. Gambar itu menandakan ruangan untuk gender yang berbeda.


Toilet itu didesain bak sebuah kamar yang berada di atas sungai, dengan lantai yang berair dan terdapat batu-batu halus yang tertata dengan rapi yang tenggelam diantara air yang menggenang itu. Ditengah-tengahnya terdapat beberapa batu besar yang disusun berjajar untuk digunakan menapakkan kaki, agar tidak basah jika menggunakan sepatu. Dindingnya dilapisi keramik tiga dimensi yang bergambar pohon-pohon besar dan rindang layaknya sebuah hutan. Terdapat 4 pintu disetiap ruangan toilet itu.


Disana juga terdapat tempat parkir untuk pengunjung yang berziarah. Mungkin dilihat dari luasnya bisa menampung empat hingga lima mobil. Tempat parkir itu juga difasilitasi dengan penutup langit yang terbuat dari alumunium. Sehingga mobil yang terparkir tetap teduh tanpa memikirkan kepanasan akan teriknya matahari ataupun kedinginan jika terjadi hujan.


Disana juga terdapat sebuah ruangan terbuka, layaknya sebuah pendopo joglo seperti ciri khas jawa tengah. Bedanya dinding-dingdingnya terbuat dari batang pohon yang masih utuh hingga terlihat kulit batangnya yang mengering namun tetap menempel kuat pada batangnya. Atapnya terbuat dari genting aluminium namun dihiasi dengan dedaunan, bahkan di sisi pinggir atap pun ada banyak tanaman asli yang tumbuh menjalar ke ujung tanah. Seperti nuansa saat duduk diatas pohon yang tumbang ditengah hutan.


Di pemakaman itu sudah terdapat 4 makam yang berjajar rapi dan salah satu diantaranya masih terlihat jelas bahwa makam itu masih baru. Dua makam dengan keramik Berwarna biru senada, bertuliskan Berliana atmaja dan Kim putra yohanes yang tak lain adalah kedua orang tuanya. Sedangkan disebelahnya bertuliskan Maryam kim dan Yohanes Riyazd, nenek dan kakeknya yang meninggal seminggu yang lalu.


Disanalah seorang anak laki-laki yang duduk bersimpuh di sebuah gundukan tanah liat yang masih baru itu. Dia ditemani beberapa orang laki-laki dengan postur tubuh yang tinggi dan tegap. Mereka mengenakan baju berwarna hitam layaknya berseragam atas sebuah kesedihan. Baju yang sama dengan yang dikenakan anak laki-laki itu.


"Pagi kek, bagaimana kabarmu disana? apakah kakek sudah bertemu nenek juga daddy dan mom?" ucap anak laki-laki itu dengan bibir yang bergetar seakan menahan rasa sesak di dadanya. Namun senyum manis tak ia pudarkan dari wajahnya.


"Sudah seminggu kakek meninggalkan ku. Apa kakek tidak merindukan ku? Maafkan aku yang tak bisa berhenti menangis kek, maaf jika aku terlalu cengeng. Maaf jika aku masih berhatap ini semua hanyalah mimpi. Dan maaf sampai saat ini aku belum sanggup menanggung beban ini sendirian kek." ucapnya kembali ditengah isak tangisnya yang tak mampu dia tahan lagi.


Bukan karena dia cengeng ataupun lemah. Hanya saja kehilangan membuatnya tak mampu mengontrol isi hatinya. Dia memang laki-laki, tapi laki-laki juga manusia. Dia juga punya jiwa yang bisa rapuh kapan saja. Bahkan dapat hancur sehancur-hancurnya.


Langit pun semakin menghitam, menandakan hujan akan segera turun.


"maaf tuan muda sepertinya hujan akan segera turun, sebaiknya kita harus kembali kerumah besar." ucap salah satu laki-laki yang berseragam hitam itu.

__ADS_1


Anak laki-laki itu tak menjawab perkataan laki-laki berseragam itu. Dia malah kembali mengusap batu nisan yang berhadapan pada gundukan tanah liat tersebut.


"kek sepertinya aku harus pulang. Orang-orang kepercayaanmu ini sungguh cerewet. Bahkan lebih cerewet darimu kek. Telingaku seakan ingin merasakan tuli untuk sesaat agar tidak mendengar mereka berceloteh panjang lebar." ucap sang anak laki-laki itu dengan mendengus kesal seraya menghapus jejak titisan air mata yang menghujani pipinya.


"aku pulang kek, hari ini aku juga akan bertemu asisten han. Semoga saja aku bisa menbawa mereka pulang seperti keinginan kakek. Namun aku tak berani berjanji kek. Karena seperti yang kakek bilang, mereka terlanjur kecewa." ucapnya dengn menghembuskan napas kasar yang terbuang dari kedua hidung mancungnya.


"Dan penyesalan akan datang pada akhir dari arti kekecewaan kek. Maka itu aku takkan berharap lebih akan kehadiran mereka. Aku pulang kek, semoga kakek bahagia bersama mereka. Jangan lupa titipkan salamku pada mereka ya kek. Katakan aku sangat merindukan mereka. Aku pamit kek." ucap sang anak itu kembali.


Dan berdirilah dia di depan gundukan tanah liat tadi, lalu berjalan meninggalkan makam itu di ikuti beberapa laki-laki berpostur tinggi dan tegap yang sedari tadi menemaninya.


***


Tiiinnn tiiinnn


Suara klakson mobil menggema dengan keras didepan sebuah rumah megah bak istana. Rumah yang memiliki dinding pagar tinggi yang terbuat dari tumpukan batu-batu yang tertata rapi namun tetap aman. Dengan gerbang yang tinggi pula, berwarna cokkat metalik yang berkesan mewah namun tetap elegan. Begitu pula seseorang yang memiliki rumah bak istana tersebut.


Butuh waktu hingga sepuluh menit agar mobil dapat masuk kedalam tempat tujuannya. Mobil itu harus melewati taman-taman asri yang terdapat beberapa bangku dan kursi di berbagai sudut tempat. Adapula sebuah ayunan dan perosotan yang biasanya digunakan seorang anak kecil untuk bermain.


Mobil itu juga harus melewati sebuah jembatan yang terbuat dari tatanan kayu yang kokoh untuk dapat melewati sebuah aliran air yang dapat dikatakan seperti sungai yang megalir kesebuah danau buatan yang berada di belakang rumah tersebut. Bisa dibayangkan bukan berapa luas rumah yang dikatakan bak istana raja ini?


Ini baru halaman depan saja! Belum rumahnya, belum halaman belakang yang katanya terdapat sebuah danau, belum juga disebelah kanan dan kiri rumah itu. Bagaikan benar-benar dinegeri dongeng.


Setelah sepuluh menit berlalu Akhirnya mobil itu berhenti tepat didepan pintu besar bercat putih klasik. Pemiliknya pun mematikan mesin mobilnya dan mulai membuka pintunya lalu menjatuhkan kakinya dengan perlahan diatas tatanan marmer berwarna coklat tanah itu.


"Pagi tuan Han." Sapa seorang penjaga yang berada didepan pintu utama itu seraya membungkukan tubuhnya sopan.


"Pagi pak. Apa tuan muda ada? Ada hal penting yang harus kami bicarakan. Tapi maaf sebelumnya saya hanya membuat janji pribadi dengan beliau beberapa hari lalu." ucap laki-laki yang bernama Han tersebut.

__ADS_1


"Tuam muda memang sudah menanti anda Tuan. Mari saya antarkan kedalam." ucap sang penjaga tersebut.


"Baik pak. Terima kasih." ucap han


"jack, tolong parkirkan mobil tuan han di tempatnya." ucap penjaga itu kepada salah satu temannya.


"baik pak." jawab teman penjaga itu yang namanya jack.


.


.


.


.


.


.


#penyesalan memang selalu datang terlambat, akan rasa kekecewaan yang berakhir dengan sebuah perpisahan. Maka pikirlah kembali setiap tindakan dan ucapan yang akan kau berikan kepada orang lain, terlebih dari rasa sayang selain keegoisan..


~


~


#jangan lupa tinggalkan jejak like dan comment mu, dan langkahkan vote dalam berandaku..

__ADS_1


thanks 💕💕💕💕


__ADS_2