Matahari

Matahari
Aku pasti baik-baik saja


__ADS_3

~Takdir adalah misteri. Sedangkan nasib adalah alat dari Tuhan untuk mengungkapkan sebuah takdir yang tersembunyi..


"Maafkan aku! Maafkan aku bang! Aku takut! Aku takut kehilanganmu untuk kesekian kalinya."


"Cukup ta! Semua sudah suratan takdir. Kita harus terus bersabar dan ikhlas." Ucap Langit menenangkan gadis sang pemilik hatinya.


"Maaf jika dulu aku pernah meninggalkanmu dan saat bertemu pun juga harus sesingkat ini." Ucap Langit kembali. Merengkuh tubuh mungil seorang gadis pemilik hatinya itu. Pun dengan Matahari yang mendekap erat sang Langit tempatnya terbit dan tenggelam.


Namun kini, Matahari itu sirna. Diganti gelapnya malam. Walaupun diganti dengan sinarnya ribuan bintang pun dia tak seindah Matahari terbit yang selalu di nantikan para mahkluk bumi untuk sekedar mengingatkannya akan indahnya dunia.


Dan tak seindah jingganya senja yang selalu dirindukan oleh penikmat makhluk bumi untuk menghilangkan penatnya dengan keindahannya.


Drrt Drtttt Drttt


Suara getaran ponsel di saku celana Langit membuyarkan pelukan syahdu itu. Mereka pun saling melerai masing-masing. Pun dengan Langit yang langsung merogoh ponsel pintar yang terselip pada sakunya itu.


Entah siapa sang penelpon itu, tanpa melihatnya Langit langsung menggeser ikon dengan lambang warna hijau itu keatas yang menandakan menerima panggilannya.


"Hallo Langit kamu dimana?" Tanya sang penelfon.


"Assalamu'allaikum" Salam Langit.


"Wa'alaikumsalam." Ucap sang penelfon yang tadi lupa mengucapkan salam.


"Sory lupa. Kamu enggak lupa sama janji kita kan? Dua hari lagi aku ulang tahun loh!" Ucap kembali sang penelfon mengingatkan akan sebuah janji yang entah kapan mereka berdua buat.


"Maaf aku baru mengingatnya!" Ucap Langit menyesal.


"Ceh.. Kau selalu saja seperti itu. Lalu kau sekarang dimana? Aku tidak mau tau pokoknya lusa kau harus menepati janjimu. Titik enggak pake koma apalagi pengecualian." Pinta sang penelfon itu terkesan memaksa.


"Maaf tapi aku enggak bisa. Aku lagi pulang kampung bersama sahabatku dan mungkin akan kembali ke Jakarta nanti setelah akhir pekan. Kau bisa merayakannya bersama Yasmine atau Mina kan ?" Ucap Langit meminta maaf dan menyarankan solusi yang entah apa sedang di ributkan mereka.


"Siapa sahabatmu itu? Hingga kau sekarang melupakanku?". Tanya sang penelfon dengan nada ketusnya.


"Dia adalah seorang gadis kecil yang selalu ku ceritakan padamu dulu. Seorang wanita yang membuatku mendambanya dan ingin memilikinya." Jelas Langit mengungkapkan semua yang ada di dalam benaknya.


"Wanita 12tahun lalu? Embb maksutku 13tahun yang lalu tepatnya!" Jelas sang penelfon.


"Iya. Maaf ya!" Pinta Langit sungkan karena sudah membatalkan janji yang mereka sepakati secara sepihak.


"Lusa aku akan tetap menyusulmu ke Jogja."


"Tapi ........."


Tuut tuut tuuuuut


"Oh Tuhan kenapa di matikan sih!" Ucap langit.


"Siapa?" Tanya Matahari setelah sekian lama hanya berdiam diri saja tanpa mengucapkan sepataj kata pun. Hingga rasa keingintahuannya menjadi pusat pertanyaannya saat itu.


"Temanku." Singkatnya.


"Kau membatalkan janji dengannya hanya karena ku. Aku tidak ingin terlihat seperti seorang pengacau. Temui dia besok seperti yang sudah kamu janjikan kepadanya." Ucap Matahari.


"Tidak ta. Aku ingin menghabiskan sisa hidupku bersama mu. Bukan orang lain. Aku takut takkan memiliki waktu yang cukup banyak untuk bisa bersama mu seperti saat ini." Ucap Langit. Pun dengan tangannya yang membelai lembut pipi Matahari.


"Hanya sehari bang. Setelahnya kau masih miliki dn harus tetap menjadi milikku.


Jadi.... Temui dia dan pergilah bersamanya sesuai janjimu padanya."


"Lalu kau bagaimana ??" Tanya Langit.


"Aku akan stay di Hotel untuk beristirahat" Ucap Matahari.

__ADS_1


"Kau yakin tidak apa-apa? Jika kau tidak nyaman sendirian aku akan mengajakmu."


"Aku yakin bang. Aku pasti baik-baik saja kok." Ucap Matahari meyakinkan.


Langit hanya tidak ingin mengabaikan wanitanya hanya karena wanita lain. Pun dengan hatinya yang resah jika sesuatu terjadi pada Matahari. Tapi tetap saja. Gadis keras kepala itu tetap meyakinkan Langit jika diriny baik-baik saja. Padahal tidak dengan hatinya.


Kruyuk Kruyuk Kruyuk


Tiba-tiba suara dari cacing-cacing di perut Matahari meronta-ronta ingin meminta asupan gizi.


"Kenapa tidak bilang jika lapar!" Ucap Langit.


"Hehe tadi belum sih. Sekarang saja baru terasa." Sangkal Matahari.


"Ayo cari makan." Ucap Langit yang sudah berdiri sempurna. Lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Matahari berdiri. Pun dengan Matahari yang menerima uluran tangan itu dengan baik.


"Ayo." Singkatnya setelah berdiri disamping Langit.


"Kita akan makan apa malam ini?" Tanyanya kembali. Langit pun mengangkat tangan kirinya dan melihat jarum jam sudah menunjukkan pukul 22.00 wib.


"Kau saja yang pilihkan aku tidak tau sama sekali. Apalagi sekarang sudah jam 10 malam."


"Oke baiklah." Ucap Matahari.


"Bagaimana kalau kita ke taman kuliner kartika sari saja pasti masih rame." Lanjutnya kembali.


"Ya sudah ayo." Ucap Langit lalu merogoh saku celananya untuk mengambil ponsel pintarnya dan mulai memesan aplikasi berwarna hijau itu untuk menemani perjalanan mereka, mengingat bahwa mereka tak membawa kendaraan disini.


Mereka pun menikmati makan malam mereka di Tengah hiruk pikuk para muda mudi yang asik bersendau gurau. Menikmati setiap detik moment berharga mereka yang sempat tertunda. Pun dengan besok mereka masih akan melanjutkan perjalanan untuk menghabiskan waktu bersama. Menjalani masa-masa indah untuk menciptakan sebuah kenangan di masa mendatang.


Tak terasa mereka sudah selesai makan dan berbincang-bincang tentang hal-hal yang mereka anggap konyol dan lucu. Hingga waktu mengalir begitu cepatnya dan mengharuskan mereka untuk segera kembali ke Hotel.


######


Izinkan aku menua bersamanya


Ku lihat matanya bersinar bagaikan bintang malam di ujung timur,


Indah dan mengagumkan..


Seperti malam yang penuh bintang tak berawan,


Bagaikan bintang yang menyinari malam sunyi,


Cantik dan meneduhkan..


Tapi sekarang...!!


Aku melihat bahwa elok sinarnya membuatku takut,


Takit terhadap malam yang sunyi,


Aku begitu takut,


Takut menemukannya bersinar sangat terang diantara jutaan bintang di langit itu,


Dan hanya memandangku yanh juga memandangnya,


Namun...


Dari tempat yang berbeda..


Kenapa aku begitu sepengecut ini Tuhan?

__ADS_1


Sekian lama merenung dalam kesepian,


Ketika bahagia pun,


Kesepian kian menyapa kembali,


Seakan aku tak pantas bahagia!


Kenapa harus aku Tuhan?


Kenapa?


Sebesar itukah dosaku?


Hingga sejuta bahagia pun langsung lenyap dengan aetitik asa yang membelengguku,


Apakah duniaku sekejam ini?


Aku memang hanya ciptaan-Mu,


Tapi.. Tak bisakah aku meminta


Hanya sekedar untuk memupuk asaku agar pergi menjauh,


Membiarkan rasa sakit ini tenggelam dengan sensirinya,


Tuhan....!!


Izinkan aku hiduo lebih lqma lagi,


Biarkanlah kami menua bersama,


Menyaksikn seorang anak tumbuh dengan kasih sayang keluarganya,


Hingga bertahun-tahun lamanya,


Hingga surai ini mulai memutih terkikis oleh detak jantung waktu yang terus beranjak maju,


Pintaku..


Dari hambamu yang berjuang melawan takdir*..


karya :


✰Venthy Venosa✰*


(Puisi ini pernah aku bawakan di acara event audio room anak KBK, Alhamdulillah masuk babak penyisihan walaupun di akhir ga juara haha)


.


.


.


.


________________________


Maaf ya Up lama karena sibuk di RL hingga lupa ketik ketik dan up..


HAPPY IED ADHA bagi yang merayakan..


mohon maaf lahir batin ya..🙏🙏

__ADS_1


INGAT!!


yang dikorbankan sapi kambing atau domba ya jangan hati kalian 🤣🤣


__ADS_2