
Permata Depok Hospital
Tok tok tok
Ceklek
"Siang mina." ucap bumi kepada seseorang yang berada di dalam ruangan yang ditempati saudaranya untuk berobat. Seseorang yang tak lain adalah adik dari saudaranya itu.
"Siang kak." Ucap mina meyapa kembali bumi.
"Sendiri?" Tanya mina kembali.
"Menurut adek gimana?" Jawab bumi kesal.
"Masih sendiri sepertinya." Sahutnya dengan terkekeh.
"Ck.. Dasar adek durjana!!" Ungkapnya acuh dan mendudukkan tubuhnya di sofa yang di duduki adik sepupunya itu.
"Seriusan kakak sendirian nih?" Tanya mina kembali memastikan.
"Enggak. Sama temen, cuma dia tadi ga sengaja ketemu temennya yang lagi koas di loby jadi mereka mau ngobrol bentar. Nanti nyusul kesini kok." Jawab bumi.
"Cewek?" Tanya mina kembali.
"Heemm." singkat bumi.
"Cantik?" Tanya mina kembali.
"Tentu." Jawab bumi singkat.
"Suka?" Ambigu mina.
'Pletak'
"Auwwww.. Sakit ****!!" Ringis mina saat mendapatkan jitakan di keningnya. Tangan mungilnya reflek mengelus-elus keningnya.
"Pertanyaan mu berlarian kemana-mana anak kecil. Sekolah yang baik jangan memikirkan urusan orang lain." Titah bumi.
"Iya bawel!" Jawab mina acuh.
"Di mana bibi?" Tanya bumi karena tidak melihat bibinya di dalam ruang rawat saudaranya itu.
"Bunda pulang sebentar ngambil baju ganti." Jelas mina.
"Oh.." Ucap bumi hanya ber-Oh ria saja.
"Apa abang udah tidur sejak tadi?" Tanya bumi.
"Baru saja. Tadi dokter habis periksa dan memberi obat, sstelahnya abang tertidur." Jelas mina.
"Bagaimana kata dokter?" Tanya bumi kembali.
"Keadaanya semakin membaik. Besok sudah bisa pulang." Kata mina menirukan perkataan dokter.
"Oh God, semoga semuanya baik-baik saja." Kata bumi.
"Amin." Sahut mina.
__ADS_1
"Oh ya mina, lusa aku akan New York. Kamu harus jaga diri baik-baik ya. Jagain bibi dan abang." Pinta bumi.
"Tentu. Berapa lama perginya?" Tanya mina.
"Entahlah. Habis dari New York aku harus ke Seoul. Mungkin satu minggu baru balik ke sini." Jelas bumi melemah.
"Jangan sedih adek gak apa-apa kok abang. Kalo abang mau pergi mah adek bisa apa." Ucap mina dengan wajah sok cutenya.
"Ih lebe." Mereka pun tertawa bersama.
*******
Diloby rumah sakit
BUGH"
"Astagfirullah, maaf nyonya maaf. Saya benar-benar tidak sengaja. Maaf." Ucap matahari menunduk bersalah saat menabrak seseorang di loby rumah sakit.
"Tidak apa-apa nak." Ucap wanita paruh baya yang ditabrak matahari.
"Sekali lagi saya minta maaf nyonya." Pinta matahari kembali masih dengan menundukkan kepalanya.
"Tidak apa-apa. Permisi." Sahutnya dan berlalu pergi meninggalkan matahari.
Aku seperti mengenali suara itu. Ah pasti hanya perasaan ku saja. Batin matahari.
Matahari pun bergegas ke ruangan yang sudah dikatakan oleh bumi sebelumnya, setelah acara mengobrol dengan temannya selesai. Matahari pun mengitari koridor rumah sakit dan menuju lift untuk mempermudah langkah kakinya menuju tempat tujuannya yang terletak di lantai paling atas.
~
Tut tut tut
".................." Jawab bumi
"Aku udah di lantai atas tapi lupa ruangannya yang mana! Kamu keluar ruangannya dong aku tunggu di ruang jaga depan ya? Jemput aku kesini!" Titah matahari.
"..............." Jawabnya kembali.
Tuuutttt sambungan telfon pun terhenti.
Bumi pun keluar ruangan menuju ruang resepsionis dan juga ruangan suster penjaga. Disana juga terdapat ruang tunggu untuk pengunjung pasien. Lima menit berjalan akhirnya bumi sampai ke ruang tunggu yang dimaksud matahari. Terlihat matahari yang duduk santai sedang sibuk dengan ponselnya.
"Hay.. Maaf lama." Sapa bumi saat sudah di hadapan matahari.
"It's okey. Ayo." Ucap matahari.
"Ayo.." Timpal bumi dan menggandeng tangan matahari.
Mereka pun berjalan menuju ruangan paling ujung. Dimana ruangan yang mereka tuju berada.
Ceklek
"Siang bi. Bibi baru datang?" Tanya bumi saat membuka pintu ruangan. Karena tadi saat keluar bibinya belum ada di sana.
"Siang nak, iya bibi baru sampai. Tadi bibi melihat mu di depan tapi sepertinya kamu sedang bersama seorang wanita jadi bibi tidak berani menyapamu." Ucap bibi tersenyum.
"Ah iya lupa. Dia teman bumi bi. Aku panggilkan dulu." Ucap bumi dan keluar kembali memanggil matahari.
__ADS_1
"Woy ayo masuk!!" Titah bumi pada matahari.
"Eh iya. Maaf tadi aku angkat telfon." Kata matahari menjelaskan.
"Iya ga apa-apa. Ayo masuk. Aku kenalin bibi dan adik perempuan ku." Kata bumi.
"Bibi.. Mina... Kenalin ini teman bumi." Ucap bumi saat sudah ada didalam ruangan.
Kenapa dadaku tiba-tiba sesak ya? Oh ya Tuhan kenapa perasaan ku ini. Batin matahari.
"Hay kak kenalin aku mina." Ucap mina memperkenalkan diri dengan mengulurkan tangannya.
"Matahari." Jawab matahari menyambut uluran tangan mina dan tersenyum.
"Loh bibi mana dek?" Tanya bumi.
"Di toilet kebelet katanya. Ayo duduk sini kak." Pinta mina kepada matahari.
Mereka berdua pun duduk di sofa yang berada tidak jauh dari brankar dimana seseorang tergeletak lemah disana. Mata matahari tertuju pada seseorang itu. Hatinya seperti terkoyah. Ada yang perih disana. Tapi dia tidak tau kenapa hatinya seperti itu. Bumi memperhatikan pandangan matahari. Sepertinya ini adalah waktu yang tepat untuk memberitahukan semuanya. Walaupun ini menyakitkan untuk bumi. Tapi dia tak boleh egois dengan terus menyembunyikan kebenaran ini. Sejak tiga bulan lalu dia sudah mengetahui kebenaran ini semua. Sungguh semua kenyataan ini membuatnya hancur sehancur-hancurnya.
Oh God, ku harap apa yang aku pikirkan selama ini tentang sahabat kak langit benar. Kuharap hari ini adalah hari yang tepat menemukan mereka berdua. Sungguh ini sangat menyakitkan untukku. Tapi ini benar tak adil untuk mereka. Biarlah mereka bersama untuk sesaat. Biarlah ini menjadi kenangan untuk kepergiannya. Biarlah dia kembali di hidupnya. Batin bumi.
"Dia saudara laki-laki ku yang ku ceritakan tadi." Bumi menjelaskan kepada matahari dengan menepuk pelan pundaknya.
"Dia sama seperti mu berasal dari kota Yogyakarta." Jelas bumi kembali.
"Jogja??" Tanya matahari memperjelas tanpa memindah pandangannya dari brankar itu.
"Yaps. Tapi waktu SD dia pindah kesini, ke Jakarta." Terang bumi kembali.
"Jakarta?" Tanya matahari kembali, menyipitkan matanya menatap bumi menyeledik.
"Iya. Tapi tidak lama. Setelah lulus SD dia pindah ke German selama tiga tahun." Jelas bumi kembali.
"Setelah tiga tahun itu dia kembali ke Indonesia untuk menemui sahabatnya. Tapi justru nasib malang menimpanya. Kecelakaan itu melenyapkan segalanya. Impiannya harapannya penantiannya dan semuanya menjadi hancur. Sungguh walaupun aku sejak kecil tidak selalu berada di sampingnya dia tetaplah kakakku. Abang tersayangku. Sesalnya aku tidak pernah mengenal sahabat yang dia maksud. Pasti sahabatnya sedang menantinya atau mungkin sudah mendapatkan pengganti kakakku sekarang. Setahun lamanya dia tertidur. Dan ketika terbangun yang di ingat hanya ingin bertemu sahabatnya. Tapi....!!!" Sahut mina dengan perkataan yang menggantung.
"Tapi kabar itu membuatnya tak ingin menemui sahabatnya. Dia tak ingin sahabatnya terluka. Dia tak ingin mengecewakan sahabatnya. Biarlah sahabatnya menganggap dirinya jahat karena telah meninggalkannya tanpa kabar. Biarlah sahabatnya berfikir bahwa dia telah melupakannya. Biarlah sahabatnya berfikir bahwa telah mendapatkan penggantinya dan tak menganggapnya ada. Dua tahun dia bekerja keras melawan penyakitnya tapi kenyataan bahwa penyakit itu seakan akhir dari perjalanan hidupnya. Akhir dari perjuangan cintanya. Sedih, kecewa, terluka dan penyesalan membuatnya menyerah untuk tetap bertahan hidup." Ucap mina kembali dengan tatapan kosong.
Ceklek
Suara pintu kamar mandi terbuka. Semua mata tertuju pada pintu itu.
"Bi kenalkan ini temanku tadi waktu di depan!!" Jelas bumi memperkenalkan dan mengalihkan pembicaraan.
"Bundaa......"
.
.
.
.
.
.
__ADS_1
#jangan lupa tinggalkan jejak like dan comment mu, dan langkahkan vote dalam ceritaku....
thanks 💕💕💕💕