
Hari kian menggelap, seakan siang yang sinar teriknya berubah warna dengan datangnya jingga di sore hari dan berubah menghitam seiring waktu yang terus berdetak. Terlihat guratan kesedihan yang terpancar dari aura kecantikan seorang gadis yang menatap sendu kekasihnya sedang terbaring lemah tak berdaya.
Apa yang harus dilakukan olehnya saat ini?
Haruskah dia bersedih dan menangis?
Sangat melelahkan jika mengingat akan kesedihan seakan musibah tiada henti-hentinya datang menghampirinya.
Tuhan tak bisa menjanjikan kebahagiaan sempurna untuk seseorang. Karena disetiap kehidupan akan ada masa-masa tersendiri yang orang lain tak mungkin bisa menyamakannya. Kadar kebahagiaan seseorang berbeda, tingkat penderitaan pun juga berbeda. Mereka sudah memiliki garis takdir mereka masing-masing. Ada yang susah lalu bersenang, ada yang menangis lalu tertawa. Ada pula yang bersedih lalu tersenyum. Ada juga yang kesusahan dari penderitaan lalu mendapatkan kebaikan dari kebahagiaan. Dan begitu pun sebaliknya. Beginilah hidup, seiring dengan berputarnya roda kehidupan yang tak tentu arahnya terus melaju hingga dititik dimana roda itu akan berhenti.
Entah gadis ini berada di zona mana, yang jelas dalam pikirannya hidup tak pernah adil untuknya. Seolah-olah takdir memang sedang mempermainkannya. Mengambil segala yang dia miliki. Kenapa kehidupan orang dewasa serumit ini, pikirannya? Haruskah dia kembali kemasa kecilnya? Harusnya dia tak tumbuh dewasa secepat ini?
Semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang ingin terlontar dari bibir mungilnya seakan dirinya enggan menghadapi masa depannya yang merumitkan akal pikirnya.
Seharusnya dia tetap menjadi anak kecil yang bisa melakukan apapun tanpa harus berfikir apa yang akan terjadi di kemudiannya. Bisa berlarian dan bermain kesana kemari tanpa mengenal lelah dan beban. Bukankah itu yang dijalani anak kecil?
Yang dia tau hanya tertawa dan bahagia. Jika lelah pun dia hanya perlu menangis tanpa perlu memikirkan apa yang harus dilakukannya untuk menghapus hal yang membuatnya menangis. Menghilangkan beban yang membuatnya bersedih.
"Hay." Sapa Langit dengan mengusap lembut puncak kepala Matahari yang berada disampingnya.
"Hay, kau sudah bangun? Kenapa tidurmu lama sekali!" Jawab Matahari dengan memanyunkan bibir mungilnya. Dan membuat Langit menjadi gemas dengannya.
"Maaf aku menyusahkanmu." Ucap Langit menyesal.
"Aku paling benci dengan kata maaf di antara kita." Sahut Matahari.
"Tapi aku memang menyusahkan mu bukan? Harusnya aku yang menjaga mu tapi malah aku yang membebanimu?" Tanya Langit yang tambah menyesal.
"Sudahlah. Aku lebih suka kau membebaniku dari pada meninggalkan ku tanpa kejelasan yang pasti." Ucap Matahari.
"Baiklah. Kau selalu saja menyindir ku" Singkat Langit dengan terkekeh.
"Istirahatlah kembali. Aku akan membeli makan sebentar dan menemui dokter untuk menanyakan kepulanganmu." Pinta Matahari.
"Terima kasih sayang." Ucap Langit Kepada Matahari.
"It's okey." Singkat Matahari dan beranjak meninggalkan Langit untuk tujuan yang sudah dikatakannya tadi. Tapi dia akan ke ruangan dokter terlebih dahulu baru membeli makanan.
__ADS_1
*******
Langit POV
Kekasihku..
Sungguh, aku tak ingin pernah membuat mu menangis, karena setitik air mata mu adalah sejuta penyesalan ku. Ku harap suatu saat kau dapat memahami situasi ini.
Jangan berfikir untuk menyesali sesuatu yang telah pergi. Jangan pernah menangisi yang sudah tiada. Berusahalah untuk bangkit dan membina kembali rasa yang telah hilang dan pergi.
Sebesar apapun kamu menjaganya dengan begitu kuat tidak akan membuat yang pergi untuk kembali. Dan sejauh apapun kamu menghindar yang datang akan tetap datang. Walaupun kau tak menginginkan kedatangannya.
Bukankah dirimu sendiri yang mengatakan bahwa, Matahari mengajarkan kita bahwa pada setiap pertemuan yang hangat terdapat perpisahan yang indah.
Dan kamu lah matahari itu! Lihatlah kembali dirimu sendiri dan kau hanya perlu menciptakan matahari terbit mu sendiri. Karena hidup selalu menawarkan kesempatan kedua di hari esok. Jika hari esok kamu masih bisa membuka mata maka janganlah berfikir untuk menyerah. Karena kesempatan hidupmu ada untuk sebuah alasan.
Jangan pernah memikirkan ku, karena ini sudah menjadi takdir ku. Entah kapan terakhir aku bisa membuka mataku, kuharap saat itu aku sedang berada disampingmu. Dan kapan pun itu ketika aku menutup mataku, ku harap kau sudah mengikhlaskan ku.
Sungguh, ini semua bukan kenginanku. Impianku adalah hidup bersama mu. Menua dan memiliki anak yang banyak dari rahimmu.
Tapi apalah daya! Aku hanya manusia biasa yang tidak bisa menghindari arus sebuah takdir.
Ingin rasanya aku bisa terbangun setiap hari disampingmu. Membelai lembut surai hitammu dan mengecup singkat pangkal kepalamu. Merasakan masakanmu dan meminum teh atau kopi di pagi hari bersamamu. Sungguh, aku ingin sekali menikmati masa-masa itu.
Tapi maafkan aku, aku sudah lelah dengan semua keadaan ini. Rasa sakit ini begitu menyiksa ku. Aku hanya ingin melihatmu bahagia, tak lebih. Izinkan aku untuk merangkai kenangan indah bersamamu walau hanya sesaat. Aku hanya ingin menjadi bagian kisah dalam hidupmu.
Percayalah bukan ini yang ku inginkan. Merangkai kenangan lalu meninggalkan. Jika aku boleh meminta, aku ingin menukarkan seluruh hartaku untuk nyawaku.
Jika aku sudah tidak mampu mengejar mu, aku akan bertahan dan menunggu mu disana.
Jika kita tidak di takdirkan bersama di dunia, aku berharap kita di takdirkan bersama di akhirat nanti.
*********
Ceklek
"Kenapa tidak tidur?" Tanya Matahari ketika kembali ke ruang rawat dimana Langit berada.
__ADS_1
"Aku takut kau meninggalkan ku." Jawab Langit asal.
"Bagaimana bisa begitu? Kau yang selama ini aku tunggu hingga bertahun-tahun. Jadi kau tak kan ku lepaskan begitu saja. Kau harus membayar hutang janjimu padaku." Ucap Matahari seraya mendudukkan tubuhnya dibangku dekat ranjang yang ditempati Langit.
"Setelah keluar dari sini aku akan membayar semua janjiku kepadamu." Jawab Langit.
"Baiklah, tapi kau tidak boleh terlalu lelah. Kata dokter kau harus banyak istirahat dan minum obat yang teratur." Titah Matahari.
"Dan malam ini kita sudah boleh pulang." Ucap Matahari kembali.
"Iya Tuan putri." Jawab Langit tersenyum.
"Tapi sebelum pulang kita makan dulu, biar sampai rumah kita bisa langsung istirahat." Titah Matahari kembali.
"Suapi." Pinta Langit manja.
"Huh... Kau ini manja sekali seperti anak perempuan saja!" Sindir Matahari dengan terkekeh.
"Biarkan. Manja dengan pacar sendiri bukan sama istri tetanggakan!!" Ucap Langit.
"Kapan kita jadian?" Tanya Matahari dengan menyuapkan makanan ke mulut Langit.
"Dua belas tahun lalu. Kau lupa jika kau masih kekasih ku?" Ucap Langit menjelaskan dengan mengunyah makanan dimulutnya.
"Pacar macam apa yang mengabaikan pasangannya bertahun-tahun?" Tanya Matahari kembali.
"Iya maaf. Aku hanya tidak ingin kau terluka dengan keadaan ku. Waktu itu aku sudah ingin pulang menemanimu ketika mendengar kabar uncle dan aunty kecelakaan. Tapi malah aku juga mengalami hal yang sama." Ucap Langit menyesal.
"Sudahlah jangan mengungkitnya kembali." Sahut Matahari.
"Tapi aku...............!!!!!!!"
Aku hanya mau kalian meninggalkan jejak sebelum pergi. Yang paling ku benci adalah datang tiba2 tapi pergi tanpa aba2.
Setidaknya tinggalkan like dan komentar nya biar author semangat menjalani takdir yang halu ini 🤣🤣
jangan lupa vote nya sayang 😘😘😘😘😘😘😘
__ADS_1