
Hisam tidak mau menceraikan Mila, karena dia sangat mencintai Mila. Meskipun Mila akan berubah jelek dan menua, Hisam ingin tetap bersama Mila.
Sayang sekali, Mila sama sekali tidak lagi peduli dengan semua itu.
Yang terpenting dalam hidupnya saat ini adalah anak dalam kandungannya. Seperti yang Hisam bilang, seorang ibu tidak ada gantinya, tetapi suami bisa ada gantinya. Mungkin saat ini, prinsip itu yang akan Mila gunakan untuk menyelamatkan bayinya.
"Mila, kamu terlalu egois dan keras kepala!" bentak Hisam.
Ini bukan pertama kalinya Hisam membentak Mila dan bukan pertama kalinya Hisam marah padanya. Jika saat itu dia menerima saja perlakuan Hisam, kali ini, Mila tidak ingin hidup dalam tekanan lagi.
"Mas, mungkin kita memang sudah tidak sejalan lagi. Jadi untuk apa hubungan ini dipertahankan. Sebuah pernikahan tidak hanya butuh cinta, tetapi juga membutuhkan satu misi yang sama dan juga butuh dua penyangga yang seimbang. Jika salah satu lebih tinggi, maka rumah itu akan miring dan tidak lama lagi akan ambruk," ucap Mila.
"Apa maksudmu, Mila. Kamu harusnya yang mengerti aku dengan keadaanku saat ini," ucap Hisam.
"Belum cukupkah kamu mengerti posisi kami di rumah ini? Aku selalu berusaha mendukung dan berusaha menjadi istri dan menantu yang baik. Tapi, apa kamu sebagai suami pernah memahami aku? Apa arti aku bagimu? Urutan nomor berapa kami di hatimu?" kata Mila emosi.
"Jangan coba membuat aku merasa bersalah. Mila, kamu seorang istri yang memang harus berbakti pada suami dan mertuamu. Itu hal yang wajar," jawab Hisam kesal.
"Jangan mengatasnamakan berbakti untuk membuatku hidup dalam tekanan batin. Aku tidak mau hidup seperti ini!" Suara Mila terdengar begitu keras dan penuh emosi.
Mila bertengkar hebat dengan suaminya, hingga akhirnya Mila merasakan sakit pada perutnya. Mila meringis memegangi perutnya dan akhirnya terjadilah pendarahan kembali.
__ADS_1
Hisam mulai panik dan segera membawa Mila ke rumah sakit. Sebelum memasuki ruang pemeriksaan, Mila bersumpah, jika bayinya kali ini tidak bisa diselamatkan, maka dia tidak akan bisa hidup bersama Hisam. Tentunya, Hisam harus menalak dirinya.
Mila menjalani perawatan intensif dan berusaha untuk tidak menangis kali ini. Apapun yang akan terjadi pada bayinya, dia akan menerima sebagai sebuah berkah. Hingga Dokter memberitahu Hisam, jika Mila kembali keguguran.
"Kondisi rahim istri anda sedang tidak baik. Jadi, sebaiknya jangan hamil dulu untuk satu tahun ke depan. Rahimnya butuh pemulihan dari trauma. Mohon anda mengingat apa yang saya katakan hari ini," kata Dokter sambil menghela napas berat, sepertinya ada sesuatu yang membebaninya.
Tentu saja Hisam menyesali diri dan menyalahkan dirinya telah membuat Mila kembali keguguran. Seandainya saja dia tidak memarahi Mila, seandainya mereka tidak bertengkar. Tetapi nasi sudah menjadi bubur.
Mila masih terbaring lemah di atas tempat tidur pasien. Tidak ada tangisan yang keluar dari mulut Mila. Bahkan airmatanya juga dipaksakan agar tidak keluar. Hal itu membuat Hisam semakin sedih.
Suatu hari, ibu mertuanya datang dan meminta Hisam untuk pergi bekerja. Ibunya yang akan menjaga Mila. Suara lemah lembut ibunya membuat Hisam luluh dan membiarkan ibunya menjaga Mila.
Mila hanya diam saat ibu mertuanya duduk di kursi di samping tempat tidurnya. Hanya sekilas Mila melihat, senyum sinis ibu mertuanya, saat melihat kondisinya yang terbaring lemah.
"Mila, ternyata ibu tidak perlu bertindak, kamu sudah kehilangan bayimu lagi. Ibu harus berterima kasih pada Tuhan yang sudah memberikan karmanya pada menantu jahat seperti kamu. Makanya, jadi menantu itu jangan suka membantah mertua. Pakai berusaha merebut perhatian Hisam lagi. Benar-benar karma menantu durhaka datang lebih cepat," ucap Bu Siti sambil mengejek Mila.
Mila hanya menatap wajah ibu mertuanya itu dengan tatapan datar. Tidak ada kemarahan, tidak ada kesedihan yang Mila tunjukkan dihadapan ibu mertuanya.
"Dengar-dengar, rahim kamu harus diistirahatkan karena trauma. Jadi kamu nggak bakalan punya bayi dalam waktu dekat ini. Kasihan, padahal ibu pingin sekali punya cucu dari Hisam. Kamu sekarang, sudah menjadi wanita yang tidak berguna. Untuk apa kamu dipertahankan menjadi istri, jika kamu tidak akan hamil lagi," ucap Bu Siti sinis.
Mila hanya mendengarkan apa yang dikatakan ibu mertuanya. Seorang ibu mertua yang sangat kejam. Lebih kejam dari pembunuh di luar sana.
__ADS_1
Mila memejamkan matanya dan sudah membuat keputusan. Keputusan yang mungkin akan dia sesali suatu saat nanti.
Setelah lelah berbicara sendiri, Bu Siti tampak kehausan dan pergi keluar untuk membeli minuman. Tinggallah Mila seorang diri.
Mila mulai bangun lalu memanggil seorang perawat untuk meminta kertas dan pulpen. Mila beralasan karena dia malas bicara, makanya ingin menggunakannya untuk bicara dengan suaminya lewat tulisan saja.
Mila menuliskan apa yang saat ini dia rasakan. Meski hanya beberapa baris saja, cukup membuat airmatanya mengalir deras.
Mila lalu melipat kertas tersebut dan meletakkannya di atas meja di samping tempat tidurnya. Mila melepaskan jarum infus yang masih melekat di kulitnya. Sakit rasanya, tetapi itu harus Mila lakukan agar dia bisa pergi. Mila ingin menenangkan diri dan tidak ingin melihat hal-hal yang menyakitkan hatinya.
Sambil melihat ke kiri dan ke kanan, Mila mencoba pergi dari rumah sakit tanpa pamit. Mila sudah tidak perduli lagi sekalipun dia dicap sebagai istri yang durhaka karena pergi tanpa seizin suaminya.
Mila terus berjalan menjauh dari rumah sakit. Dia tidak tahu, kemana mesti pergi. Dia hanya mengikuti langkah kakinya yang kian gontai.
Langkahnya ternyata menuju ke sebuah taman yang menjadi tempat pertemuannya dengan Hisam saat masih pacaran dulu. Mila duduk di kursi panjang sambil menyandarkan tubuh dan kepalanya.
Mila merenung, dan memikirkan apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Kemana dia harus pergi dan kepada siapa dia akan menyandarkan diri?
Saat ini, tubuhnya masih kotor dan dia tidak bisa pergi ke masjid. Dia hanya bisa berdoa agar jalan yang akan dia tempuh akan menjadi jalan yang terbaik baginya.
...****************...
__ADS_1