
Setelah kejadian malam itu, Hisam mulai mengejar kembali cinta Mila. Berbagai bentuk perhatian, permintaan maaf yang Hisam lakukan setiap hari. Dia ingin meluluhkan hati Mila kembali.
Hisam teringat dengan dua bocah kembar di rumah Mila. Hisam, mulai penasaran dengan status anak-anak itu. Apakah benar anak kandungnya Mila ataukah anak adopsi. Jika dilihat dari usia bocah-bocah itu, ada kemungkinan bocah itu adalah anak adopsi karena waktu itu Mila keguguran.
Hisam merenung di teras rumah sambil menatap langit malam. Kenangan bersama Mila terus menghantuinya. Lamunan Hisam terhenti ketika Tina dan suaminya datang untuk menjenguk ibunya.
"Bang Hisam, kenapa malah melamun sendirian di sini?" tanya Tina mengagetkan Hisam.
"Kau ini, kenapa suara motormu tidak terdengar. Mengagetkan saja," jawab Hisam gugup.
"Bang Hisam melamun terus, makanya tidak dengan suara motorku. Melamunkan apa, Mbak Mila?" tanya Tina sambil meledek Hisam.
"Tahu aja. Sudah, sana masuk! Ibu pasti sudah nungguin kamu," ucap Hisam keras.
"Baiklah. Mas Feri, tolong temani Abangku yang ganteng ini, supaya tidak melamun terus," kata Tina pada suaminya.
"Tenang saja, biar aku urus. Nggak akan aku biarkan kakak iparku ini melamun kalau ada aku," jawab Feri sambil tersenyum.
Tina tersenyum lalu melangkah pergi meninggalkan Hisam dan Feri. Hisam menghela napas panjang melihat sikap adik dan adik iparnya yang sangat perhatian padanya setelah hidup Hisam kacau.
__ADS_1
"Bang Hisam, beberapa hari yang lalu, Tina bertemu dengan Mbak Mila. Dia sangat kaget waktu itu," cerita Feri tetapi dia terkejut karena Hisam tidak kaget mendengarnya.
"Bang Hisam tidka kaget, apakah Bang Hisam pernah bertemu dengannya juga?" tanya Feri penasaran.
"Bukan hanya bertemu, tetapi kami satu tim. Dia perwakilan dari investor perusahaan aku. Entah ini permainan takdir atau memang hanya kebetulan saja," jawab Hisam.
"Lalu?" tanya Feri lagi.
"Lalu, apa?" tanya Hisam.
"Ya, apakah Bang Hisam tidak berusaha untuk berbaikan lagi? Atau setidaknya, memohon maaf."
"Seharusnya Bang Hisam menjelaskan jika semua itu rencana Tiara yang sudah menjebakmu saat mabuk. Feri yakin, Mak Mila akan memaafkan Bang Hisam."
"Aku tidak yakin. Dia pasti berpikir jika aku hanya membaut alasan. Yang Akau takutkan saat ini, dia datang bukan hanya untuk bekerja, tetapi untuk mengurus surat perceraian kami," ucap Hisam sedih.
"Apakah dia tahu kalau Bang Hisam belum mengurus surat cerai?"
"Entahlah, itu akan ketahuan saat dia ingin mengambil surat cerai di Pengadilan Agama. Selama dia belum akan menikah lagi, maka dia tidak akan tahu," jawab Hisam sambil menghela napas berat.
__ADS_1
Pembicaraan Hisam dan Feri di dengarkan oleh Tina dan ibunya. Bu Siti yang merasa bersalah atas hancurnya rumah tangga Hisam, meneteskan airmata.
"Ibu, sudahlah. Semua sudah terjadi. Kita tidak akan bisa mengembalikan apa yang sudah hilang. Ibu jangan sedih, mungkin Bang Hisam dan Mbak Mila memang bukan jodoh," kata Tina menenangkan ibunya.
"Tina, bisakah ibu meminta tolong padamu? Tolong cari tahu alamat rumah Mila," pinta Bu Siti pada Tina.
"Untuk apa, ibu ingin tahu rumah Mbak Mila?" tanya Tina bingung.
"Ibu yang menyebabkan rumah tangga mereka hancur. Ibu akan meminta maaf pada Mila dan memintanya kembali pada Hisam," jawab Bu Siti sedih.
"Ibu, Ibu dengar sendiri. Bang Hisam sudah meminta maaf dan meminta Mila kembali, tetapi ditolak. Tina tidak ingin Ibu merasa sakit hati," kata Tina.
"Tina, Mila pasti lebih sakit hati daripada ibu. Ibu sudah banyak melakukan hal bodoh demi mengusir dia dari hidup Hisam. Yang lebih ibu sesali, cucuku, aku telah membunuh cucuku sendiri. Maafkan Nenek," ucap Bu Siti sambil menangis.
Tina memeluk ibunya dengan erat. Penyesalan ibunya telah berlangsung selama hampir 4 tahun. Apalagi setiap kali melihat Hisam hidup seorang diri, hati Bu Siti semakin sakit.
Andai waktu bisa diputar kembali.
...****************...
__ADS_1