Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 6. Keguguran


__ADS_3

Sejak Mila dinyatakan hamil, Tiara sudah tidak datang lagi ke rumah mereka. Hati Mila sedikit tenang dengan hal itu. Mila kini berlimpahan kasih sayang dari suaminya.


Hisam menyewa jasa orang untuk membantu pekerjaan rumah Mila. Hisam tidak ingin Mila kecapekan sehingga mempengaruhi kondisi bayinya. Tetapi Mila meminta satu hal pada Hisam, untuk memenuhi keinginannya. Mila ingin memasak untuk mereka makan setiap harinya.


Hisam tidak keberatan dengan keinginan Mila tersebut asalkan Mila bisa menjaga kandungannya dengan baik.


Saking bahagianya, Hisam mengajak Mila berbelanja keperluan bayinya. Padahal mereka belum tahu, apakah bayinya laki-laki atau perempuan. Ada perasaan yang tidak bisa Hisam ceritakan saat menunggu kelahiran sang buah hati.


Di Mall, Hisam melihat-lihat banyak perlengkapan bayi, dan semua ingin di belinya.


"Mas, memangnya anak kita berapa, kok mau diborong semuanya?" goda Mila.


"Sayang, kita 'kan belum tahu anak kita nanti cowok apa cewek, jadi beli aja sekalian," jawab Hisam sambil terkekeh bahagia.


"Mas, jangan buang-buang uang, bagaimana kalau kita beli nanti saja kalau kita sudah tahu pasti jenis kelaminnya. Nggak lama kok, paling 5 atau 6 bulan lagi," ucap Mila.


"Nggak bisa, kelamaan itu," kata Hisam cemberut.


"Ya udah, kita beli beberapa aja, ya?" tanya Mila.


"Baik, ikut mau kamu saja," ucap Hisam.


Akhirnya mereka hanya membeli beberapa helai pakaian bayi. Membeli beberapa perlengkapan lainnya hingga menghabiskan uang yang tidak sedikit menurut Mila. Biasanya, Hisam sangat perhitungan, tetapi untuk calon bayinya, dia begitu royal dan tidak perhitungan.


Setelah dari Mall, mereka pergi ke taman di pusat kota. Hisam sengaja mengajak Mila, untuk melihat air mancur dan bunga-bunga warna-warni yang tumbuh di sekeliling taman.


Mereka sangat menikmati kebersamaan yang hampir kandas oleh masalah-masalah yang menerpa keluarga mereka.


Sore harinya, mereka baru pulang dan membawakan ibunya nasi goreng kesukaannya. Ibunya menerima dengan hati kesal.


"Ibu, ini kami belikan nasi goreng kesukaan Ibu. Meskipun kami tidak mengajak Ibu, tapi kami tidak pernah melupakan Ibu," kata Hisam sambil menyerahkan bungkusan pada ibunya.


"Tidak apa-apa, ibu malah senang melihat kalian bahagia," kata sang ibu sambil tersenyum.


"Kami ke kamar dulu, mau istirahat," pamit Hisam.


Bu Siti melihat kedua anak dan menantunya dengan tatapan kesal. Mulutnya memang berkata tidak apa-apa, tetapi hatinya terasa sakit.


Semenjak Mila hamil, kasih sayang 'Hisam telah habis untuk istri dan anaknya. Jika dibiarkan seperti ini terus, maka Hisam akan melupakan kalau dia masih memiliki ibu,' batin Bu Siti.


Bu Siti tidak selera makan. Nasi goreng yang Hisam belikan, rasanya berbeda dari yang biasa dia makan. Itu terjadi karena suasana hatinya yang sedang tidak baik-baik saja.


***

__ADS_1


Semua berjalan seperti biasanya. Hisam berangkat kerja, dan Mila mengantarkan hingga depan rumah.


"Mas pergi dulu. Jaga baik-baik dedek bayinya dan kamu juga," ucap Hisam sambil mengelus perut Mila.


"Mas tenang saja, Mila akan berusaha sekuat tenaga untuk jaga dedek bayi. Da-da Ayah," jawab Mila sambil tertawa kecil.


Kebahagiaan Mila dan Hisam tidak terukur dengan apapun. Senyum dan tawa kebahagiaan mengiringi setiap langkah dan gerak mereka.


Mila tidak menyadari, jika ibu mertuanya menahan kekesalan yang dalam. Rencana jahat sudah mulai masuk ke dalam pikirannya.


Siapapun tidak akan menyangka jika hati Bu Siti sangatlah kejam. Biasanya ibu mertua menginginkan cucu yang akan menjadi penerus garis keturunan mereka selanjutnya. Tetapi Bu Siti memang beda.


Menantunya hamil, bukannya senang malah memiliki niat untuk mengaburkan kebahagian keluarga anaknya sendiri.


Bu Siti yang berada di kamar, tiba-tiba berteriak kencang. Mila yang panik, karena mengira terjadi sesuatu pada ibu mertuanya bergegas menuju kamar ibunya. Baru saja dia membuka pintu, kakinya terpeleset dan dia pun jatuh.


Darah terlihat mengalir dari sela-sela pahanya yang membuat dia langsung histeris.


"Aah, tolong aku! Selamatkan anakku!" teriak Mila sambil memegangi perutnya.


Ibu mertuanya yang melihat hal itu, hany diam sambil tersenyum sinis. Dia mengingat bagaimana dia sudah menyiapkan semuanya.


Bu Siti menumpahkan beberapa tetes minyak goreng baru di lantai di depan pintu kamarnya. Dia juga sengaja berteriak untuk membuat Mila bergegas datang tanpa memperhatikan kondisi lantai.


"Ibu pendarahan, harus segera dibawa ke rumah sakit," kata bik Kinah. "Bu Siti, tolong bantu jaga Bu Mila."


Bu Siti tampak acuh dan tidak ingin membantu Mila. Tetapi karena ada Bik Kinah, Bu Siti terpaksa berpura-pura baik pada Mila.


"Mila, bagaimana keadaanmu, apa yang kamu rasakan?" tanya Bu Siti.


"Bayiku ...." Hanya kata itu yang keluar dari mulut Mila.


Bik Kinah berlari keluar untuk memanggil taksi yang kebetulan lewat. Bibik lalu meminta pak Sopir untuk membantu mengangkat tubuh Mila dan segera membawa Mila ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah sakit, Mila langsung mendapatkan penanganan serius. Airmata Mila tidak berhenti mengalir.


Saat sampai di rumah sakit, bibik segera menghubungi Hisam yang dengan cepat datang karena panik.


"Bagiamana kondisi Mila dan bayinya?" tanya Bisma pada Bik Kinah.


"Bibik tidak tahu. Bu Mila masih dalam perawatan Dokter," jawab Bik Kinah.


Hisam berjalan mondar mandir dengan hati yang penuh kekhawatiran. Hatinya juga gelisah ingin segera mengetahui kondisi istri dan calon anaknya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian, Dokter keluar dan mencari keluarga pasien


"Anda keluarga pasien?" tanya Dokter Pras, dokter spesialis kandungan.


"Benar, Sok. Saya suaminya. Bagaimana kondisi istri dan anak saya, Dok?" tanya Hisam panik.


"Anda harus menguatkan diri, untuk menerima berita ini. Kami sudah sangat berusaha, tetapi kami tidak dapat menyelamatkan bayi dalam kandungan istri Bapak. Mohon mohon maaf," kata Dokter Pras.


Hisam terduduk lemas mendengar perkataan Dokter Pras. Dokter Pras segera pamit untuk menangani pasien yang lain. Tetapi, Hisam sudah tidak bisa menjawab.


Hati Hisam seolah hancur berkeping-keping. Dia tidak tahu harus menyalahkan siapa. Apakah dia harus menyalahkan Mila karena tidak dapat menjaga bayinya? Ataukah harus menyalahkan dirinya yang tidak bisa menjaga Mila dan bayinya?


Meskipun Mila tidak perlu melakukan kuret, tetapi Mila masih harus menginap beberapa hari di rumah sakit untuk pemulihan. Hisam dengan sabar menemani Mila yang tampak tertekan.


Sepanjang hari, Mila hanya diam tak merespon apapun yang dikatakan Hisam. Sampai Mila sudah diperbolehkan pulang, tidak nampak ada kehidupan di mata Mila. Tatapan matanya kosong.


Sesampainya di rumah, Mila hanya duduk termenung di ruang keluarga sambil menyesali diri. Menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi pada bayinya. Belum sempat dilahirkan dan belum sempat melihat dunia. Allah sudah lebih dulu mengambilnya dari tangan Mila.


Bu Siti mendekati Mila sambil tersenyum sinis. Ada perasaan lega dan bahagia melihat menantunya seperti mayat hidup. Bu Siti duduk di samping Mila.


"Mila, bagaimana keadaanmu? Ibu turut berduka atas meninggalnya bayimu. Kamu pasti sangat sedih. Ibu juga ikut sedih. Makanya, berhati-hatilah dalam menjaga kandungan kamu agar tidak keguguran. Itu semua salah kamu. Kamu tidak bisa menjaga bayimu," ucap Bu Siti pelan.


"Ibu tidak perlu terus menyalahkan Mila. Kalau ibu tidak berteriak-teriak, Mila pasti tidak akan jatuh. Padahal di rumah ini, semua dalam keadaan bersih. Kenapa bisa ada lantai licin di depan kamar Ibu," ucap Mila penasaran.


"Kamu curiga pada Ibu? Tapi bener sih. Ibu sengaja membuat lantai licin, supaya kamu jatuh dan keguguran. Ibu senang karena akhirnya bayi kamu tidak terselamatkan," ucap Bu Siti bangga.


"Jadi, semua ini ulah ibu? Kenapa ibu tega melakukan ini pada Mila dan bayi Mila. Apa salah bayi Mila Ibu?" tanya Mila histeris.


"Salah bayimu, karena dia telah mengambil Hisam dari Ibu. Semenjak kamu hamil, Hisam lebih sayang padamu daripada pada ibunya. Kamu juga berdosa Mila, menjauhkan Hisam dari ibunya. Sama rasanya saat kamu kehilangan anakmu, itu yang aku rasakan saat kamu mengambil Hisam dariku," Jawab Bu Siti puas telah membalas sakit hatinya pada Mila.


"Ibu, aku akan bilang pada Mas Hisam, jika ibu yang sudah membunuh bayiku," ancam Mila.


"Silakan beritahu Hisam. Kita lihat, apakah dia lebih percaya kamu atau ibunya," tantang Bu Siti. "Hisam, istrimu ingin bicara."


Hisam yang baru saja selesai mandi anda berganti pakaian segera datang menemui Mila dan ibunya. Bisma cukup senang melihat ibunya terlihat baik dengan Mila.


"Ada apa, apa yang ingin kamu bicarakan, Mila?" tanya Hisam sambil duduk di samping Mila.


Mila tiba-tiba ragu untuk mengatakan kebenarannya tentang ibunya. Tetapi, jika tidak dia katakan sekarang, mungkin dimasa depan tidak akan ada waktu lagi.


"Mila, ada apa?" tanya Hisam lagi.


"Mas Hisam, sebenarnya ibu yang telah membunuh bayi kita," ucap Mila sambil menatap Hisam. Mila berharap Hisam akan percaya padanya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2