Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 25. Bermain dengan Daddy


__ADS_3

Mila pulang kerja mampir ke sebuah mall untuk membeli beberapa kilo buah. Terutama buah mangga kesukaannya. Tubuhnya yang sudah merasa lelah, segera beranjak pergi meninggalkan mall tersebut setelah selesai membayar.


Memasukkan beberapa kantong plastik ke jok belakang dan dia langsung menghidupkan mobilnya. Mobil Mila melaju perlahan dijalanan yang cukup macet saat jam pulang kantor.


Sesampainya di rumah, suara mobil Mila sudah cukup membuat Bik Ijah membukakan pintu untuknya. Mila menyerahkan beberapa bungkusan kepada Bibik agar dibawanya masuk.


"Kemana si kembar, Bik. Kenapa tidak kelihatan?" tanya Mila kaget. Rumah ini tampak sepi tanpa suara si kembar yang menjadi penyemangat saat Mila kelelahan.


"Mereka sedang tidur, Bu Mila," jawab Bik Ijah ragu.


"Tumben, jam segini tidur. Apa tidak takut kalau nanti malam mereka malah terbangun dan tidak bisa tidur lagi?" tanya Mila.


Bib Ijah terdiam. Dia tidak berani mengatakan apa yang sudah si kembar lakukan bersama Pak Sam tadi pagi sampai menjelang sore. Mulai dari manjat pohon mangga sampai mencoba memetik mangga sendiri. Untung saja Hisam cekatan mengasuh si kembar. Bahkan siangnya ikut membagi-bagikan mangga ke rumah-rumah di sekita rumah mereka.


Bukan itu saja, menjelang sore, mandi saja minta di mandikan pak Sam. Sedangkan Bik Ijah tidak bisa melarang karena takut si kembar marah dan tidak mau pulang. Alhasil, mereka mandi sampai hampir satu jam.


"Kamu nanti mereka bangun tengah malam, biar Bibik yang temani mereka. Bu Mila istirahat saja," ucap Bik Ijah merasa bersalah.


"Tidak apa, saya akan tidur bersama mereka. Takutnya nanti mereka merasa tidak aku perhatikan. Dari pagi hingga sore nggak ketemu, masak malamnya juga nggak bisa ketemu. Mila ingin menjadi ibu yang baik," jawab Mila.


"Bu Mila, tadi ada kiriman mangga dari rumah sebelah, masih segar baru dipetik tadi pagi. Bu Mila mau coba atau Bibik kupaskan yang baru ini saja?" tanya Bik Ijah.


"Rumah sebelah ada penghuninya, Bik? Aku pikir itu rumah kosong. Kelihatannya tidak ada yang tinggal disana," tanya Mila penasaran.

__ADS_1


"Sepertinya memang jarang di tempati. Kalau Bibik lihat, dia pasti duda," jawab Bik Ijah.


"Kok Bik Ijah bisa tahu kalau dia duda, pengalaman, ya?" goda Mila.


"Nggak juga, Bu Mila. Karena dia sendirian tinggal disitu," jawab Bik Ijah sambil tersenyum.


"Jadi penasaran sama si pemilik rumah itu. Kalau jarang di tempati, berarti ruang itu tidak berguna. Ada kemungkinan akan dijual. Kau lebih awal memberitahu dia, kalau mau jual rumah, dia bisa tawarkan ke aku," kata Mila agak pelan.


"Bu Mila berniat membeli rumah baru, rumah sebelah itu?" tanya Bik Nah sambil mencuci mangga yang sudah masak.


"Cuma sekedar rencana, Bik. Rumah itu, seperti rumah yang Mila impikan sejak dulu. Sederhana tapi teduh dan asri kayak tinggal di desa," jawab Mila dengan khayalannya yang melambung tinggi.


Setelah lelah berkhayal, Mila bergegas mandi dan berganti pakaian. Dia segera menuju ke kamar si kembar untuk melihat apakah mereka masih terlelap tidur atau sudah ada tanda-tanda bangun.


Malam sudah semakin larut, Mila bergegas menuju ke kamar Hasan dan Husein untuk menemani mereka tidur. Mila berbaring di tengah-tengah kedua anaknya yang masih terlelap tidur.


Mila menatap kedua buah hatinya bergantian. Tiba-tiba airmatanya menetes. Dia tidak bisa memberi mereka sebuah keluarga yang utuh. Rasa bersalah ini, terkadang membuat Mila menangis sendirian saat tidur sendirian.


Saat Mila menangis, Hasan tiba-tiba terbangun dan dia langsung memeluk ibunya. Hati bocah kecil itu ikut merasakan kesedihan maminya. Setelah Hasan terbangun, Husein juga ikut terbangun.


"Mami, Hasan sudah ketemu Daddy," kata Hasan sambil menatap maminya.


"Nenek, Mami. Daddy olangnya baik," kata Husein.

__ADS_1


"Daddy siapa, memangnya kalian tahu wajah Daddy kalian? Jangan bercanda sama ibu," ucap Mila tidka percaya.


"Hasan dan Husein pelnah lihat wajah Daddy, dalam ponsel Mami," jawab Hasan.


"Mana ada. Mami tidak memiliki foto Daddy kalian. Jangan bohongi Mami. Bohong itu dosa loh," kata Mila tidak percaya.


"Mana ponsel Mami, bial Hasan tunjukkan," ucap Hasan kesal, karena Maminya tidak percaya padanya.


Mila memberikan ponselnya pada Hasan. Hasan dengan cekatan memencet-mencet tombol pada ponsel ibunya. Rupanya Hasan sudah mahir dalam mengoperasikan ponsel sehingga mudah baginya untuk menemukan apa yang dia cari.


Sebuah foto lukisan seorang pria, meskipun tidak terlalu bagus, tetapi cukup membuat Hasan dan Husein mengenali wajah ayahnya


"Ini foto lukisan Daddy yang ibu buat, bukan?" tanya Hasan.


Mila semakin sedih. Ternyata selama ini, kedua anaknya sudah menanamkan lukisan wajah Hisam sebagai ayah mereka. Tetapi, bagaimana mungkin mereka bisa bertemu Hisam sementara mereka tidak pernah keluar rumah?


"Di mana kalian bertemu Daddy kalian?" tanya Mila penasaran.


Hasan dan Husein saling berpandangan. Mereka sepakat untuk memberi tahu Mami mereka.


"Di lumah sebelah," jawab


"Apa, rumah sebelah? Yang benar saja," gumam Mil sambil tertawa.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2