Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 32. Membatalkan pernikahan


__ADS_3

Keputusan sudah diambil Mila meskipun terkesan terburu-buru. Keputusan yang dia ambil demi kebaikan semua orang. Tetapi Mila juga tidak mau dianggap Adrian sebagai wanita yang plin-plan karena membatalkan rencana pertunangan secara sepihak.


Mila segera menghubungi Adrian untuk menjelaskan semuanya agar tidak ada kesalahpahaman.


Pagi-pagi sekali, Mila berniat membuat sarapan untuk Hasan dan Husein. Karena siang ini, Mila ingin mempertemukan merek dengan Hisam. Dengan mata masih sedikit mengantuk, Mila berjalan pelan menuju arah dapur.


Entah hal apa yang membawa Mila ingin melihat kamar Bik Ijah. Langkah Mila terhenti saat mendengar Bik Ijah sedang berbicara dengan seseorang di telepon. Awalnya Mila tidak curiga sama sekali, tetapi ketika Bik Ijah menyebut namanya, Mila mulai penasaran.


Mila berdiri di depan pintu sambil menguping pembicaraan asisten rumah tangganya. Baru kali ini ada majikan kepo dengan apa yang dibicarakan pembantunya.


Mila lebih kaget, saat mendengar nama Adrian. Mila menunggu sampai Bik Ijah selesai berbicara, barulah bila masuk untuk menanyakan pada Bik Ijah. Mila mengetuk pintu perlahan yang segera di buka oleh Bik Ijah.


"Ibu Mila," kata Bik Ijah kaget.


Mila meminta Bik Ijah ke ruang keluarga untuk membicarakan masalah tadi. Mila menatap Bik Ijah yang tampak gugup dan merasa bersalah.


"Bibik, Bibik tahu apa yang ingin saya tanyakan?" tanya Mila datar.


"Bibik tahu, Bibik minta maaf pada Bu Mila. Bibik hanya menjalankan perintah dari Bapak," jawab Bik Ijah ketakutan.


"Saya tahu, Bik. Lalu, apa yang sebenarnya Adrian inginkan?" tanya Mila lagi.


"Bibik hanya di suruh merawat Ibu dan anak-anak dengan baik. Selain itu, Bibik diminta untuk mengawasi apakah Bu Mila berhubungan lagi dengan mantan suami Ibu," jawab Bik Ijah dengan suara bergetar.


"Bik, bukannya Mila tidak memaafkan Bibik, tetapi jika Bibik masih ingin bekerja di sini, Mila harap Bibik berhenti berhubungan dengan Adrian. Atau jika Bibik masih berat meninggalkan majikan lama Bibik, kembalilah padanya," kata Mila tegas.

__ADS_1


"Bibik, tidak bisa memutuskan, karena Pak Adrian yang membawa Bibik bekerja di sini," jawab Bik Ijah.


"Baik, silakan Bibik hubungi majikan Bibik. Saya akan menunggu keputusannya," ucap Mila menahan emosi di dadanya.


Mila tidak menyangka jika selama ini, Adrian sengaja menempatkan Bik Ijah di rumahnya untuk mengawasinya. Mila benar-benar kecewa dan keputusannya untuk membatalkan rencana pernikahan dengan Adrian memang sudah pas.


Bibik sudah selesai menghubungi Adrian.


"Bagaimana, Bik?" tanya Mila.


"Pak Adrian akan datang menemui Bu Mila dan menjelaskan sendiri," jawab Bik Ijah.


"Baiklah, keputusan akan diambil saat Adrian datang," kata Mila.


***


Mereka duduk berhadapan, dan suasana tampak hening. Mila masih mencoba mencari bahan membuka pembicaraan, sedangkan Adrian masih syok saat mengetahui jika Mila sudah tahu tentang misi Bik Ijah di rumah Mila.


"Adrian, beberapa hari ini, aku terus berpikir. Rencana pernikahan kita yang sudah di tetapkan Kakek, sepertinya tidak tepat," kata Mila setelah suasana hatinya tenang.


"Tidak tepat, maksudmu?" tanya Adrian kaget.


"Sebulan yang lalu, aku bertemu seorang wanita. Namanya Cinta. Apakah kamu mengenalnya?" tanya Mila.


"Cin-Cinta? Aku kenal dia. Tapi untuk apa dia menemui kamu, apa yang dia katakan padamu?" tanya Adrian panik.

__ADS_1


"Tenanglah Adrian jangan panik. Apakah ada yang kamu sembunyikan dariku?" tanya Mila sambil menatap Adrian.


"Tidak ada. Mana mungkin ada yang aku sembunyikan darimu?" jawab Adrian gugup.


"Lalu, bagaimana dengan Bik Ijah, bukan dirimukah yang menyuruhnya mengawasiku? Adrian aku kecewa, padamu," kata Mila sedih.


"Mila, maafkan aku. Aku hanya terbawa perasaan saat kamu harus bekerja bersama dengan mantan suamimu. Aku mencintaimu dan aku cemburu dengan kebersamaan kalian. Aku khilaf, Mila. Maafkan aku," jawab Adrian terlihat bersungguh-sungguh.


"Adrian, masalah Bibik. Bagaimanapun aku berterimakasih padamu. Bibik bekerja dengan sangat baik dan telaten mengurus Hasan dan Husein. Tetapi, aku pernah bilang padamu, jika aku tidak ingin gagal lagi dalam membina rumah tangga. Sehingga aku telah memberikan syarat padamu untuk saling jujur dan saling percaya. Tetapi, keduanya tidak aku dapatkan dari kamu. Kamu tidak mampu membuatku yakin bahwa kamulah imamku selanjutnya," kata Mila kecewa.


"Mila, aku minta maaf masalah Bibik. Aku memang terbawa perasaan dan aku gagal dalam hal kepercayaan terhadap pasangan. Tetapi, aku selalu berusaha jujur padamu, dalam hal ini aku pasti lulus," jawab Adrian yakin.


"Bagaimana dengan wanita yang bernama Cinta. Saat ini dia sedang hamil," kata Mila mengulangi dari awal.


"Dia hamil, apa hubungannya denganku?" tanya Adrian gugup.


"Dia mengaku hamil anak kamu," jawab Mila datar.


"Tidak mungkin, dia hamil anak aku. Dia itu wanita murahan. Kami hanya melakukannya sekali, mana mungkin bisa hamil?" jawab Adrian keceplosan.


"Akhirnya kamu mengaku pernah tidur dengannya, Adrian. Kamu laki-laki jahat, tidka bertanggungjawab. Jika itu anakmu, maka nikahi dia bukan aku," kata Mila marah.


"Mila, maafkan aku. Aku khilaf saat itu," kata Adrian berusaha membela diri.


"Semua laki-laki memang sama, sama-sama pengkhianat. Kamu tahu aku meninggalkan suamiku dulu karena dia menghamili wanita lain. Dan sekarang kamu juga sama. Adrian, aku tidak akan pernah menikah denganmu, pernikahan kita, batal," kata Mila lalu pergi meninggalkan Adrian yang terduduk lemas.

__ADS_1


Pernikahannya dengan Mila benar-benar gagal. Tetapi, dia masih memiliki harapan, yaitu Kakek Hendro.


...****************...


__ADS_2