Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 20. Aku siap bertemu masa lalu


__ADS_3

Mila duduk dan mengingat kembali saat jauh dari hidup Hisam. Banyak liku-liku kehidupan yang harus dia alami hingga bisa sampai pada dia yang hari ini, berada di depan mantan suaminya.


Kehidupan Mila telah berubah drastis sejak berpisah dengan Hisam. Setelah kecelakaan yang terjadi hari itu, Mila hidup bersama dengan keluarga Tanti dan Mark sebagai pembantu. Karena saat itu Mila sangat membutuhkan pekerjaan untuk bisa menyambung hidupnya.


Di keluarga Tanti dan Mark, Mila tidak dianggap pembantu tetapi lebih sebagai teman dan saudara. Semua kebutuhan Mila terpenuhi. Mila merasa tidak nyaman dan akhirnya meminta Tanti untuk mencarikannya pekerjaan di tempat lain.


Mila bekerja sebagai pembantu, di sebuah keluarga kaya. Yang siapa sangka akan membawanya pada kenyataan yang tidak dia duga. Saat Kakek Hendro, mengalami kecelakaan, Mila mendonorkan darahnya yang kebetulan sama.


Sampailah akhirnya Kakek melakukan tes DNA pada Mila yang curiga sejak awal kedatangan Mila di rumahnya. Wajahnya mirip dengan putrinya yang kawin lari dengan kekasihnya belasan tahun yang lalu.


Dan hasil tes DNA itu menunjukkan bahwa mereka memang adalah keluarga. Sejak itu, Mila menjadi ratu di rumah sang Kakek dan kuliah ke luar negeri selama 3 tahun. Baru tahun ini dia kembali untuk belajar memegang perusahan Kakeknya.


Lamunan Mila terhenti, saat Adrian datang untuk mengajaknya bertemu rekan bisnis mereka yang lain.


"Mila, aku ingin memperkenalkan kamu dengan beberapa rekan bisnis. Mereka ingin tahu perwakilan dari perusahaan," kata Adrian.


"Bukankah besok aku juga akan datang ke perusahaan mereka dan aku akan memperkenalkan secara langsung besok?" tanya Mila.


"Tetapi, Pak Joni ingin memperkenalkan kamu sekarang. Tapi kalau kamu tidak bersedia, tidak masalah. Aku akan bicara padanya kalau kamu sedang tidak sehat," ucap Adrian.


"Tidak perlu. Aku akan turuti keinginan Pak Joni. Cepat atau lambat, semua memang harus aku hadapi," kata Mila lalu berjalan ke arah Pak Joni diikuti Adrian.


"Aku siap untuk menghadapi kalian semua," gumam Mila.


Bukan siap bertempur dengan mereka, tetapi lebih pada kesiapan hatinya bertemu orang-orang dimasa lalunya.


Pak Joni memperkenalkan dia sebagai Mila, partner kerja mereka. Dan yang membuat Mila simpati pada Pak Joni adalah, karena Pak Joni tidak membawa-bawa masa lalunya.

__ADS_1


Pak Joni meminta Mila untuk sedikit memberikan sambutan. Mila berusaha memberikan kata-kata yang seperlunya saja.


"Terima kasih, Pak Joni. Perkenalkan saya Mila. Untuk setahun ke depan, saya akan menjadi bagian dari kalian semua. Semoga kita bisa bekerja sama dengan baik. Saya sangat bahagia menjadi bagian dari perusahaan kalian. Terima kasih."


Terdengar tepuk tangan dari seluruh karyawan dan rekan bisnis pak Joni, kecuali Hisam yang hanya diam mematung.


Mila berusaha meyakinkan diri, bahwa kehidupan Hisam akan lebih baik tanpa dirinya. Hidup dengan wanita yang menjadi pilihan ibunya dan mendapatkan restu itu yang terpenting. Apalagi, mereka juga akan di karuniai anak dari Tiara.


Walaupun tidak Mila pungkiri, Hisam terlihat kurang terurus dari segi penampilan. Pakaiannya tidak serapi saat Mila menjadi istrinya.


Keesokan harinya, Mila mulai bekerja di perusahaan Pak Joni sesuai dengan surat perjanjian. Mila akan mengawasi laporan keuangan dan laporan proyek terbaru yang sedang mereka kerjakan.


Pemimpin proyek tersebut adalah Hisam. Sehingga mau tidak mau, Mila dan Hisam akan lebih sering bertemu. Membicarakan banyak hal yang menyangkut bisnis perusahaan.


Pertemuan itu, tidak bisa dihindari. Mila mencoba bersikap seolah mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Mereka terpaksa bertemu setiap hari.


Sayangnya Mila kini sudah memiliki seorang kekasih dan mereka berencana akan segera menikah. Pria yang telah menemaninya saat dia sedang terpuruk selepas cerai dari Hisam.


Hisam memutuskan untuk mendekati Mila kembali, sekalipun dia tahu Mila sudah memiliki Adrian. Hisam berusaha menciptakan suasana santai di tengah banyaknya pekerjaan yang mereka lakukan. Saat mereka selesai meninjau lokasi proyek, Hisam mengajak Mila makan siang di sebuah rumah makan sederhana yang awalnya Hisam takut jika Mila akan menolaknya. Tetapi ternyata, makanan kesukaan Hisam tetaplah sama seperti dulu.


"Saya bahagia melihat hidup kamu lebih baik dari saat bersamaku. Kamu lebih bahagia dari yang yang ku kira selama ini," kata Hisam sambil makan.


"Aku berterimakasih padamu, karena jika kita tetap bersama, aku tidak akan menjadi seperti sekarang ini. Sekarang, anak kamu pasti sudah besar," ucap Mila.


"Aku belum memiliki anak," jawab Hisam singkat.


"Loh, kalau tidak salah, harusnya anak kamu sudah berusia 3 tahun. Atau malah sudah punya adik lagi?" tanya Mila lagi.

__ADS_1


"Aku sudah bercerai dengan Tiara. Dia ternyata berpura-pura hamil," jawab Hisam kecewa.


Mila tampak kaget mendengar jawaban Hisam. Tetapi dia tidak ingin tahu lebih banyak agar hatinya tidak terluka lagi.


"Mila, maafkan aku. Bisakah kamu memberiku kesempatan lagi? Bisakah kita rujuk kembali?" tanya Hisam sambil menatap Mila.


"Maaf, semua sudah berlalu. Semua sudah menjadi masa lalu. Jangan tengok ke belakang lagi," jawab Mila yang diyakini Hisam sebagai sebuah penolakan.


Kehadiran Hisam dalam hidup Mila kembali, membuatnya ingin membalas dendam pada mantan ibu mertuanya. Mila menyelidiki kehidupan Hisam setelah bercerai dengannya.


Pertemuannya dengan Hisam kembali, ternyata berpengaruh pada hubungannya dengan Adrian. Adrian yang sudah mengetahui bahwa Hisam adalah mantan suami Mila, berusaha mempengaruhi Mila untuk tidak terlalu dekat dengan Hisam meskipun mereka berada di dalam satu tim.


Mila bukannya tidak tahu jika Adrian pasti akan cemburu dengan kedekatannya dengan mantan suaminya. Tetapi, saat ini Mila akui, memang dia masih belum bisa melupakan Hisam seratus persen dari hidupnya. Terlebih ada hal yang membuat Mila tidak akan pernah bisa lepas dari bayang-bayang mantan suaminya.


Adrian tidak ingin kecolongan, karena itu dia menyempatkan diri mengajak Mila keluar untuk makan malam dengan misi, mengawasi kegiatan Mila selam jauh darinya.


"Mila, apa kamu akan berniat tinggal di hotel sampai tugas kamu selesai? Apa tidak sebaiknya kamu menyewa rumah saja," kata Adrian mengawali pembicaraan.


"Aku maunya juga begitu, tapi Kakek ingin aku tinggal di hotel agar aku tidak terlalu repot mengurus rumah. Mesti harus ada pembantu untuk mengurus rumah. Sulit untuk mencari pembantu yang benar-benar sesuai dengan yang aku harapkan," jawab Mila sambil makan.


"Masalah pembantu, aku bisa bantu. Masih ingat Bik Ijah? Nanti aku akan minta dia untuk mengurus rumah kamu. Gimana?" tanya Adrian sedikit memaksa.


"Aku pikirkan dulu dan aku juga harus bicara dulu dengan Kakek," jawab Mila.


Mila sedikitpun tidak curiga dengan usulan Adrian. Adrian ingin menempatkan Bik Ijah untuk menjadi mata-matanya di rumah Mila.


Akankah Mila setuju dengan usulan Adrian?

__ADS_1


...****************...


__ADS_2