
Mila turun dari mobil mewah yang terparkir di depan sebuah restoran. Seorang pria muda dan tampan membukakan pintu untuknya. Penampilan Mila sangat jauh berbeda dari penampilannya yang dulu saat masih menjadi istri Hisam.
Mila tersenyum kepada siapa saja yang di temuinya, meskipun mereka baru saja bertemu. Hal itu dia lakukan untuk menutupi luka hati yang dialaminya dulu. Sikap ramahnya telah terkenal sejak beberapa tahun yang lalu.
Mila diperlakukan bak seorang putri, karena sekarang statusnya menjadi ahli waris sebuah perusahaan besar di luar kota.
Tanpa sengaja, mata Mila tertuju pada Hisam yang masih berdiri di dekat mobilnya saat Mila berjalan melewatinya. Mila sempat kaget saat melihat Hisam, tetapi ketika dia memutuskan untuk kembali ke kota ini, dia sudah siap untuk bertemu dengan Hisam dan ibunya.
Tidak ada senyum terlihat di bibir Mila saat berpapasan dengan Hisam. Hal itu cukup di sadari oleh pria yang sejak tadi ada di sampingnya. Tetapi Mila sama sekali tidak peduli. Tujuannya ke sini untuk makan, jadi tidak perlu peduli dengan Hisam dan yang lainnya.
Tidak jauh dari tempat duduk Mila, Hisam bertemu dengan teman bisnisnya dan melakukan pembicaraan bisnis. Sesekali Hisam melihat ke arah Mila yang saat ini sedang menikmati makan bersama teman prianya yang bernama Adrian.
Pertemuan hari itu begitu singkat, karena Mila dan Adrian segera pergi setelah selesai makan. Mila terlihat tergesa-gesa dan ingin segera pergi dari tempat itu.
Mila bergegas masuk ke dalam mobil diikuti Adrian yang segera menghidupkan mobilnya. Mobil Adrian melaju di tengah lalu lalang mobil-mobil yang lain
"Mila, kamu kenapa?" tanya Adrian cemas.
"Maaf, aku membuatmu khawatir," jawab Mila sambil melihat ke arah Adrian yang fokus menyetir.
"Apakah kamu sudah bertemu dia?" tanya Adrian lagi.
"Hmm," jawab Mila.
Mobil pun berhenti seketika, menimbulkan kepanikan Mila.
__ADS_1
"Adrian, apa-apaan ini, kenapa berhenti di tengah jalan. Untung jalanan sedang sepi, kalau tidak, bisa menimbulkan kecelakaan," ucap Mila panik.
"Maaf, aku tadi hanya kaget," kata Adrian berusaha menekan perasaan cemburunya.
"Kita harus segera kembali ke perusahaan. Kakek pasti sudah menunggu kedatangan kita," ucap Mila sambil menghela napas panjang.
"Apakah dia tadi ada di restoran yang sama dengan kita?" tanya Adrian lagi.
"Kenapa kamu bertanya lagi, apakah kamu cemburu?" tanya Mila.
"Tidak perlu kamu tanyakan. Kamu pasti sudah tahu jawabannya," jawab Adrian.
"Saat aku memutuskan untuk kembali ke kota ini, tidak bisa aku pungkiri, jika Akau pasti akan bertemu dia dan kamu juga tahu itu. Bukankah aku pernah bilang jika dia hanyalah masa lalu aku. Jika kamu tidak bisa menerimanya, sebaiknya kamu pikirkan lagi hubungan kita," jawab Mila.
"Tidak, aku hanya tidak ingin kamu berubah pikiran setelah bertemu dia, mantan suamimu," kata Adrian.
***
Perusahan tempat Mila kerja akan mengadakan kerjasama dengan perusahaan Hisam. Mila awalnya tidak mau menjadi perwakilan perusahaan untuk melakukan kerjasama ini, tetapi Kakek selalu mengingatkan Mila bahwa dalam bekerja harus mengedepankan profesionalitas pekerjaan.
Selain itu, dia juga ingin mengetahui seberapa jauh dia sudah bisa melupakan masa lalunya. Adrian, pria yang terus mengejar Mila juga tidak setuju Mila dekat dengan mantan suami Mila. Tetapi perintah Kakek tidak akan ada yang bisa membantahnya.
Perusahan Kakek adalah salah satu perusahaan investasi terbesar di kota X. Kali ini, Mila harus berada di perusahaan tempat Hisam bekerja untuk mengawasi perkembangan investasi yang akan diberikan oleh perusahaan Kakek.
Acara penandatanganan akan berlangsung sore hari dilanjutkan dengan pesta ulangtahun perusahaan Hisam. Sekalian pesta berhasilnya mereka mendapatkan investor baru yang lebih besar.
__ADS_1
Mila datang di acara penandatanganan yang dilakukan oleh pemimpin perusahaan Hisam yang sekaligus mantan bosnya dulu. Bosnya hampir tidak mengenali Mila sebagai mantan karyawannya dulu dan sekaligus mantan istri Hisam. Sampai ada yang berbisik kepadanya bahwa Mila adalah mantan istri Hisam.
Suasana agak canggung, tetapi Mila dan pak Joni berusaha bersikap profesional hingga acara tanda tangan selesai.
Selesai acara tanda tangan, Mila pulang sebentar untuk ganti pakaian dan malamnya datang ke pesta ulang tahun perusahaan tempat Hisam bekerja.
Suasana malam itu memang sangat meriah. Mila datang di temani Adrian yang sudah menyiapkan diri untuk bertemu masa lalu Mila.
Saat baru masuk, Mila sudah di sambut oleh orang-orang perusahaan tempat Hisam bekerja termasuk Hisam. Pertemuan ini sangat dramatis bagi Hisam yang tidak menyangka akan bertemu Mila dalam situasi yang berbeda.
Mila tampil sangat cantik dan modis malam ini. Gaun berwarna biru, yang menjadi kesukaannya, terlihat pas di tubuhnya yang tampak seksi. Dipadukan dengan sepatu high heels yang serasi menambah nilai kecantikannya.
Mila tersenyum manis kepada setiap orang yang menyapanya. Ditambah posisinya saat ini, membuat semua orang menghormatinya.
Satu pria yang selalu ada di samping Mila, Adrian juga tidak mau kalah dan mengimbangi penampilan Mila. Pria yang selalu mendampingi Mila kemanapun Mila pergi.
Sementara, Hisam telah yakin jika wanita itu adalah Mila istrinya. Tetapi, Hisam tidak percaya diri ketika bertemu dengan Mila. Dia hanya Mila dari kejauhan. Menyaksikan banyak pria yang berusaha mendekati dan mengejarnya.
Hisam melihat dirinya yang kini tak terurus dan tidak sanggup mengurus dirinya sendiri. Meskipun Jabatannya telah naik, tetapi dari segi penampilan dia kurang bisa bersaing dengan pria lain.
Meskipun Hisam tidak terlihat sempurna, tetapi banyak juga wanita yang ingin menjadi istrinya. Bahkan ada yang sengaja datang ke rumahnya untuk mendekati ibunya. Sayangnya, Hisam menakut-nakutinya bahwa siapa yang akan menjadi istrinya, harus mau merawat ibunya. Bahkan harus mengerjakan pekerjaan rumah tanpa ada pembantu.
Mila melihat selintas ke arah Hisam yang diam di tengah ramainya pesta malam ini. Mila yakin jika Hisam sudah tidak ingin melihatnya lagi. Pasti dia sekarang sudah bahagia dengan Tiara dan ibunya. Kehidupan pernikahan mereka pasti lebih mulus karena restu ibunya.
Pikiran itu, selalu Mila tanamkan sejak pergi meninggalkan rumah Hisam. Dan itu menjadi cambuk baginya untuk melangkah jauh ke depan.
__ADS_1
...****************...