Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 26. Pergi ke luar kota


__ADS_3

Mila masih tidak percaya dengan apa yang di dengarnya dari kedua anaknya. Rumah mantan suaminya itu tidak di daerah ini, jadi mana mungkin mereka melihat ayahnya di rumah sebelah?


Mila berpura-pura percaya dengan perkataan kedua anaknya. Dia meminta mereka untuk kembali tidur. Tetapi mereka sudah tidak bisa tidur kembali. Mila berinisiatif membacakan mereka buku cerita. Selama hampir dua jam Mila bercerita hingga akhirnya kedua buah hatinya kembali tertidur.


Setelah melihat mereka tertidur, Mila mencium kening mereka satu persatu, lalu dia mulai memejamkan matanya.


Keesokan harinya, Mila berangkat kerja seperti biasanya. Di kantor, Mila berpapasan dengan Hisam. Hisam tersenyum kepadanya, seolah tidak ada apa-apa diantara mereka.


"Selamat pagi Bu Mila."


"Selamat pagi, Pak Hisam."


Mereka saling bertegur sapa, seolah mereka baru saja saling mengenal satu sama lain. Mila mengikuti saja permainan Hisam. Meskipun, Mila sudah mengetahui kebenarannya, tetapi seharusnya Hisam menunjukan rasa sedihnya berpisah dengannya.


Di dalam hati Mila yang paling dalam, Mila ingin melihat kegigihan Hisam mengejarnya dan untuk bisa mendapatkan hati Mila kembali. Tetapi, Hisam tidak ada perjuangan sama sekali. Hanya sekali minta maaf padanya dan setelah itu, semua ambyar.


Mungkin bagi Hisam, Mila tidak patut mendapatkan cintanya. Lagi pula, siapa yang mau hidup bersama dengan suami yang selalu berdiri di sisi ibunya? Seandainya, Hisam mengejarnya lagi, belum tentu dia mau menerimanya.

__ADS_1


Kecewa, itulah yang di rasakan Mila saat ini. Setelah 4 tahun berpisah, harusnya Mila bisa melupakan Hisam. Tetapi dengan adanya dia jagoan kecilnya, bayangan wajah Hisam sering muncul di benaknya.


Hari ini ada jadwal pergi keluar kota, untuk melihat lahan baru untuk proyek mereka. Pembangunan perumahan akan dilaksanakan di sana. Tetapi, ternyata lahannya masih bermasalah dan hari ini Hisam dan Mila akan kesana untuk berbicara dengan pemilik tanah. Hisam menemui Mila di ruangannya untuk membahas keberangkatan.


"Kita harus berangkat lebih awal agar tidak perlu menginap," kata Mila,


"Baik, aku akan segera persiapkan semuanya. Aku balik ke ruanganku dulu," jawab Hisam.


Hisam lalu beranjak pergi meninggalkan Mila. Mila juga segera bersiap untuk pergi bersama Hisam. Mila menunggu Hisam di lobi perusahaan.


Selama perjalanan, Mila dan Hisam hanya diam saja tanpa saling bicara. Sesekali Mila melempar pandangannya keluar jendela. Melihat pepohonan yang silih berganti. Sementara Hisam berkonsentrasi dengan jalan di depannya.


Setelah agak siang, mereka sampai di sebuah tanah lapang yang cukup luas. Tanah yang cocok untuk membuat perumahan karena tempatnya yang cukup strategis. Sayangnya, beberapa orang pemilik yang masih belum mau melepaskan tanah mereka untuk pembangunan perumahan.


Mobil Hisam berhenti di depan sebuah warung makan. Rupanya, Hisam sudah ada janji dengan beberapa anak buahnya yang khusus menangani masalah pembebasan tanah.


Baru turun dari mobil, mereka sudah disambut oleh anak buahnya yang segera membawa mereka masuk ke dalam warung tersebut. Mereka memesan beberapa makanan untuk makan siang.

__ADS_1


Selesai makan, mereka membicarakan apa yang akan mereka lakukan setelahnya. Mila yang hanya seorang wanita, merasa tidak dilibatkan dalam persoalan tersebut. Tetapi, Mila juga tidak memaksa Hisam untuk melibatkannya dalam urusan pembebasan lahan.


"Bu Mila, tetaplah di sini untuk sementara waktu. Aku dan mereka akan pergi mengurus semuanya," kata Hisam sambil menyapa Mila.


"Kalau hanya sekedar diam dan duduk saja, untuk apa aku ikut dalam perjalanan kali ini?" tanya Mila.


"Aku tidak bermaksud tidak melibatkan Bu Mila, tetapi alangkah baiknya jika Bu Mila tidak ikut karena takut ibu akan kelelahan. Negoisasi kali ini akan berjalan alot. Dan belum tentu juga bisa selesai hari ini," jawab Hisam.


"Tetapi setidaknya, aku mengetahui bagaimana permasalahan ini dan gimana menyelesaikannya. Aku janji, aku akan diam," ucap Mila setengah memohon.


Hisam berpikir sejenak sebelum akhirnya menyetujui keinginan Mila, untuk ikut dalam negoisasi tersebut.


Mereka lalu berangkat bersama dengan menggunakan mobil Hisam menuju ke alamat pemilik tanah tersebut.


Ternyata, beberapa pemilik tanah sudah berkumpul. Disana mereka di sambut dengan cukup baik, meskipun wajah mereka tampak tidak begitu bersahabat.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2