Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 29. Bertemu mantan Ibu mertua


__ADS_3

Mila bermain bersama kedua anaknya untuk menghilangkan rasa kangennya setelah kemarin di tinggal menginap di luar kota. Akhir pekan ini, Mila ingin di rumah dan menghabiskan waktu bersama keluarga kecilnya.


Bik Ijah datang untuk mengantarkan minuman dan makanan ringan untuk mereka bertiga. Mil sangat senang memiliki asisten rumah tangga seperti Bik Ijah yang selalu siap siaga dan mengerti kebutuhan kami.


Saat sedang asyik bermain, tiba-tiba Bu Siti datang bersama Rina. Mila sempat kaget saat Bu Siti memanggil namanya.


"Mila."


Terdengar suara parau seorang wanita yang sangat dia kenal. Suara yang pernah menjadi mimpi buruk baginya saat menjadi istri Hisam.


Mila melihat seorang wanita yang sudah terlihat rapuh dan sudah tidak bisa berdiri tegak berada di hadapannya. Raut wajah kesedihan menambah kerutan yang sudah sangat terlihat jelas.


Empat tahun sudah, mereka tidak saling bertemu, empat tahun sudah Mila terbebas dari siksaan ibu mertuanya yang kejam. Untuk apa dia datang dengan wajah melasnya itu?


Tina tampak agak kewalahan membantu ibunya berjalan mendekati Mila. Mila meminta kedua anaknya untuk masuk karena Mila tidak ingin anak-anaknya melihat pertengkaran antara dia dan mantan ibu mertuanya.


"Sayang, kalian masuk dulu ya. Mami lagi asa tamu," kata Mila pada kedua anaknya.


"Siap, Mami," jawab Hasan dan Husein bersamaan.


Kedua anak itu mengambil masing-masing satu mainan kalau masuk ke dalam rumah. See kentara Mila berdiri tegak menatap Bu Siti dan Rina yang sudah ada di depannya.


"Mbak Mila, izinkan ibu bicara sebentar," kata Tina agak cemas dengan sambutan Mila.


"Oh, silakan duduk," ucap Mila sinis.

__ADS_1


Meskipun hati Mila sakit, Mila tetap berusaha menghormati mantan ibu mertua dan adik iparnya. Senyum yang dia paksakan, menambah sesak di dadanya.


Bu Siti dan Tina duduk di kursi di teras rumah. Tidak lama kemudian, Bik Ijah keluar dengan membawa dua gelas minuman.


"Silakan di minum, Mbk, Bu," kata Bik Ijah.


"Terima kasih," jawab Bu Siti dan Tina bersamaan.


"Untuk apa kalian datang ke rumahku, dan bagaimana kalian bisa tahu alamat rumahku?" tanya Mila menahan sesak di dadanya.


"Maafkan Tina, Mbk. Tina yang mencari tahu alamat rumah Mbak Mila dan memberi tahu pada Ibu. Ibu sudah bertaubat, Mbak. Beliau sudah berubah," kata Tina berusaha meyakinkan hati Mila.


"Mila, ibu minta maaf atas semua kesalahan yang ibu lakukan padamu selama kamu menjadi menantu ibu. Ibu tidak pernah memperlakukan kamu sebagai menantu. Ibu tidak pernah mensyukuri memiliki menantu seperti kamu. Mila, ibu tahu dosa ibu tidak termaafkan, tetapi, ibu bisa pastikan jika Hisam sangat mencintai kamu. Apapun yang Hisam lakukan karena dia ingin berbakti pada ibu. Hanya ibu yang terlalu iri padamu karena kamu bisa membuat Hisam membagi cintanya yang dulunya hanya milik ibu," kata Bu Siti panjang lebar.


"Ibu ...," gumam Tina sedih.


"Mintalah ampunan pada Tuhan, bukan pada Mila. Mila hanya manusia biasa yang juga penuh dengan kesalahan. Mila cukup senang melihat ibu berjanji tidak akan berbuat jahat lagi pada Mila. Lagi pula, ibu tidak akan bisa berbuat jahat lagi karena Mila bukan lagi menantu Ibu," jawab Mila mulai santai.


"Mila, karena itulah, Ibu ingin kamu dan Hisam rujuk kembali," ucap Bu Siti serius.


"Apa, rujuk?" tanya Mila kaget.


"Kenapa kamu kaget, Mila? Ibu janji, ibu tidak akan merusuhi hidup kalian lagi. Ibu bisa tinggal di rumah Tina atau di panti jompo. Ibu ingin menebus dosa ibu pada kalian berdua," kata Bu Siti meyakinkan Mila.


Mila terdiam. Meskipun Mila sangat membenci ibu mertuanya, tetapi dia bukanlah orang yang tidak punya hati. Bahkan hati Mila lebih lembut dari sutra. Mila tersentuh mendengar pengakuan mantan ibu mertuanya. Kata-kata yang beliau ucapkan, membuat Mila meneteskan airmata.

__ADS_1


"Maaf, Mila tidak bisa," jawab Mila singkat.


"Mila, tentang Hisam dan Tiara, semua itu hanya siasat Tiara untuk mendapatkan Hisam. Hisam tidak pernah selingkuh dengan Tiara. Semua itu salah paham," ucap Bu Siti lagi.


"Mbak Mila, Ibu memang pernah berbuat salah. Tapi, semua yang ibu katakan itu sebuah kebenaran. Bang Hisam juga korban seperti Mbak Mila," kata Tina menambahkan.


"Tina, Ibu. Maaf, Mila tetap tidak akan merubah keputusan Mila. Mila tidak bisa rujuk lagi dengan Mas Hisam," jawab Mila tegas.


Tina dan Bu Siti tampak kecewa dan sedih. Mereka juga tidak bisa memaksa Mila ataupun menyalahkan Mila atas keputusannya. Apa yang dilakukan Bu Siti memang sangat keterlaluan.


"Mbak, maafkan kami karena kami datang dengan harapan yang tinggi, berharap Mbak Mila dan Bang Hisam bisa rujuk kembali," ucap Tina.


"Maaf karena telah membuat kalian kecewa," kata Mila.


"Meskipun Mbak Mila tidak ingin rujuk kembali, masih bisakah kita tetap menjalin silaturahmi?" tanya Tina.


"Tentu," jawab Mila terasa berat.


"Kalau boleh tahu, siapa dia anak-anak tadi, apakah dia anak Mbak Mila? Apakah Mbak Mila tidak mau rujuk karena Mbak sudah menikah lagi?" tanya Tina.


Mila bingung harus menjawab apa. Jika dia mengatakan yang sebenarnya, pasti mereka akan mengatakannya pada Hisam. Terpaksa, Mila harus menutupi asal usul Hasan dan Husein.


"Mereka aku adopsi karena aku tertekan karena kehilangan anakku kembali. Merekalah alasan aku tetap bertahan hidup," jawab Mila.


"Ibu minta maaf, Mila," kata ibu mertuanya.

__ADS_1


Mila tersenyum meski hatinya sakit. Mengatakan jika mereka bukan anak kandungnya merupakan hal yang sangat sulit. Pengakuan yang harus Mila lakukan demi dirinya dan juga kedua anaknya.


...****************...


__ADS_2