Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 44. Keinginan Hisam


__ADS_3

"Apa, kamu sedang hamil? Betapa bodohnya aku," tanya Hisam sambil menyesali perbuatannya dulu.


"Dua kali, aku harus mengalami hal yang sama. Menjalani kehamilan tanpa suami. Aku sedih, sakit hati tapi aku harus tetap hidup demi mereka, anak-anakku," jawab Mila mulai dramatis.


"Maafkan aku, Mila. Andai saja waktu itu aku tahu kamu hamil, aku nggak mungkin akan membuat kamu pergi. Maafkan aku," ucap Hisam sedih. "Mungkin apa yang aku alami ini adlah karma karena aku telah menelantarkan anak dan istriku."


Mila menarik napas dalam-dalam. Dia sudah mengeluarkan uneg-unegnya selama sepuluh tahun ini. Saat ini, manta suaminya sedang sakit parah, tidak mungkin dia akan tega menambah penderitaannya.


Mila ingin melepaskan beban hatinya dan memulai hidup yang baru.


"Mila, aku tidak tahu, kapan penyakitmu ini akan sembuh. Maukah kamu menemani aku disaat-saat terakhirku? Aku ingin bersama kamu dan anak-anak, terutama Galang. Aku belum pernah melihatnya," kata Hisam memohon.


"Mas Hisam. Maafkan aku, saat ini aku sudah menikah lagi dan aku sudah memiliki seorang anak yang masih sangat kecil. Jadi aku tidak mungkin bisa menemanimu," jawab Mila.


"Kamu sudah menikah lagi," tanya Hisam kaget.


Hisam merasa telah kalah dan sudah tidak ada harapan lagi baginya untuk bisa hidup bersama Mila. Tiba-tiba, Hisam merasakan tubuhnya terasa lemah dan kepalanya terasa sakit.


"Aduh, sakit ...." Suara rintihan Hisam mengagetkan Mila. Mila menjadi panik dan langsung keluar memanggil Tina.


"Tina, Mas Hisam ...." Mila tidak sanggup melanjutkan kata-katanya.

__ADS_1


Tina yang mendengar teriakan Mila, bergegas memanggil dokter. Varo dan Mila bergegas masuk melihat kondisi Hisam. Mila memegang tangan Hisam berusaha untuk meredakan sakit Hisam. Tetapi, usaha Mila tidak ada gunanya.


Tidak lama dokter datang dan meminta mereka untuk sedikit menjauh. Varo memeluk tubuh Mila yang gemetaran karena panik dan khawatir dengan kondisi Hisam. Mila merasa bersalah karena telah membuat Hisam tiba-tiba kritis.


"Bagaimana kondisi kakak saya, Dok," tanya Tina.


"Syukurlah, masih bisa terkontrol. Pasien tidak boleh terlalu banyak pikiran. Tekanan darahnya tiba-tiba naik dan ini sangat berbahaya. Tolong jaga suasana hati pasien agar stabil," jawab Dokter.


"Bik, Dok."


Dokter meninggalkan ruangan diikuti beberapa perawat. Mila melepaskan pelukan Varo dan mendekati Tina.


"Maafkan aku, Tina. Aku tidak bermaksud membuat Mas Hisam seperti itu. Aku ...."


"Maaf, Tina. Aku akan pikirkan," jawab Mila ragu.


Varo tidak bisa berkata-kata, mendengar jawaban Mila. Apa artinya dengan akan dipikirkan? Tetapi Varo tetap berusaha menahan diri dan bersikap tenang. Mereka segera pamit pulang setelah keadaan Hisam membaik.


Sepanjang perjalanan, Mila san Varo tidak saling bicara. Mila terus teringat saat Hisam merintih kesakitan, membuat hati Mila sakit. Sedangkan Varo teringat perkataan Mila yang menurutnya memberi harapan pada Hisam.


Sampai di rumah, mereka bergegas mandi dan beristirahat. Mereka duduk santai di ruang keluarga sambil membaca majalah dan berbincang. Itu yang mereka lakukan saat mereka ada waktu luang.

__ADS_1


"Mas, Mas Varo tadi dengar permintaan dari Tina. Aku tadi sudah mencoba memikirkannya," ucap Mila pelan.


"Lalu?"


"Izinkan aku dan anak-anak berada di samping Mas Hisam di sisa hidupnya. Apakah Mas Varo akan mengizinkan?" tanya Mila ragu.


Varo menutup majalah yang dia baca dengan cukup keras. Dia tidak habis pikir dengan pemikiran Mila saat ini. Mila sudah dibutakan oleh Hisam dengan penyakitnya.


"Apa kamu tidak keterlaluan?" tanya Varo kesal.


"Mas, keterlaluan bagaimana? Dia itu usianya sudah tidak lama lagi. Aku hanya ingin memberinya kebahagiaan yang akan dia ingat selamanya. Apalagi, ini juga demi anak-anak. Mereka sudah lama tidak bertemu ayah mereka. Ini juga penebusanku terhadap Galang karena selama ini aku mengabaikan dia. Dia pasti akan bahagia bertemu ayah kandungnya," jawab Mila.


"Apa-apa kamu terus memikirkan perasaan mantan suamimu. Bagaimana dengan aku?" tanya Varo cemburu.


"Mas, kali ini aku ingin memastikan dan meyakinkan hatiku. Beri aku waktu untuk aku menentukan jalan hidupku untuk kedepannya," jawab Mila.


Varo sadar jika sampai saat ini, Mila belum bisa mencintainya. Dengan semua yang dia katakan hari ini, sudah cukup membuktikan itu semua. Dia dan Valeria tidak pernah ada dalam hati Mila.


Varo, akhirnya menyerah dan hari ini, dia juga akan memberikan keputusan untuk hidup mereka selanjutnya. Setuju atau memilih pisah?


...****************...

__ADS_1


Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku.



__ADS_2