Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 23. Membohongi si kembar


__ADS_3

Mila, Kakek dan si kembar Hasan Husein pergi ziarah ke makam ayah dan Ibu Mila pada sore harinya. Di sana, Kakek memperkenalkan si kembar Hasan Husein sekaligus memberitahu mereka makam Kakek dan Nenek mereka.


Kalian nanti mereka sudah dewasa, mereka sudah tahu kemana harus mendoakan kakek dan nenek mereka. Tanpa harus bertanya lagi. Semoga saja mereka tidak akan melupakannya.


Selesai berdoa, mereka memutuskan untuk mampir ke sebuah warung makan di dekat rumah Hisam, untuk membeli air mineral. Mila turun dan bergegas menuju warung makan tersebut. Tidak disangka, Mila akan bertemu dengan Tina, adik iparnya.


"Mbak Mila? Ini bener Mbak Mila?" tanya Tina kaget.


"Tina?" gumam Mila.


"Mbak Mila, apa kabar?" sapa Tina sambil meraih tangan Mila.


"Baik, Tina," jawab Mila sambil tersenyum.


"Nggak nyangka, kamu sekarang sudah banyak berubah. Kamu lebih cantik dan berkelas," kata Tina sambil membolak-balik tubuh Mila.


"Biasa saja, Tina. Memang pekerjaan yang menuntut aku harus berpenampilan seperti ini," jawab Mila.


"Mbak Mila, maafkan ibu dan Bang Hisam yang telah membuat Mbak Mila menderita selama ini," kata Tina lagi.


"Semua sudah berlalu. Maaf, aku harus segera pergi," kata Mila sambil tersenyum.


"Silakan Mbak," ucap Tina.


Mila bergegas menuju ke kasir dan seger pergi setelah membayarnya. Mila berjalan cepat keluar dari warung makan tersebut. Si kembar sudah tidak sabar menunggunya di mobil, lalu keluar menjemput ibunya.


"Mami," teriak Hasan dan Husein lalu meraih minuman dari tangan ibunya.

__ADS_1


"Kalian haus? Pelan-pelan minumnya, jangan sampai tersedak," kata Mila lembut.


Mereka lalu bergegas masuk ke mobil dan mobil melaju kembali ke rumah. Sepanjang perjalanan, si kembar tidak henti-hentinya bertanya tentang kota ini.


"Mami, apa Papi tinggal di kota ini?" tanya Hasan, sikapnya lebih kritis dari Husein.


"Iya, Mami. Kapan kita bisa ketemu Papi?" tanya Husein ikut-ikutan.


"Iya. Kan dulu Mami bilang, kalau Papi itu sedang hilang ingatan. Nggak mungkin Papi ingat sama kita. Entar kalau Papi udah agak baikan, Mami akan membawa kalian ketemu sama Papi," jawab Mila agak belepotan.


Mila merasa sedih, melihat si kembar. Kebohongannya beberapa waktu lalu, kini menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Untuk menutupi kebohongan ini, Mila harus menciptakan kebohongan lain lagi. Mila tidak pernah menyangka jika kedua anaknya akan terus mengingat apa yang pernah dia katakan. Kenapa dulu dia tidak mengatakan saja, kalau ayahnya sudah meninggal?


Kakek hanya menghela napas berat. Tetapi dia menyerahkan semuanya pada Mila. Asalkan Mila menepati janjinya untuk tidak kembali lagi pada mantan suaminya.


Sesampainya di rumah, Kakek langsung pamit pada Mila dan anak-anak, untuk segera pulang. Kakek memiliki banyak pekerjaan yang belum selesai yang harus dikerjakan.


Malam itu, Mila tidur bertiga dengan si kembar. Mila merasa bersalah karena menyembunyikan sebuah kebenaran dari mereka. Ayahnya tidak pernah sakit dan tidak pernah lupa ingatan. Tetapi ayahnya memang tidak tahu keberadaan mereka di dunia ini.


Sebenarnya, saat kehamilannya yang kedua, Mila tidak pernah keguguran. Mila merasa ketakutan dan trauma, ibu mertuanya akan melakukan hal buruk bagi calon anaknya. Saat dia mengalami pendarahan, Mila meminta Dokter untuk memberitahukan pada suami dan ibu mertuanya jika Mila sudah keguguran.


Setelah suaminya mulai bisa percaya dan mulai bisa membedakan antara kewajibannya sebagai suami dan kewajibannya sebagai anak, Mila berniat memberi kejutan pada suaminya saat sudah pindah rumah. Tetapi sebelum dia memiliki kesempatan itu, Tiara hadir dalam kehidupan rumah tangganya yang akhirnya berakhir dengan perceraian.


Kepergian Mila dari rumah Hisam, sempat membuat Mila putus asa. Hanya dengan adanya si kembar yang belum lahir, mampu membuatnya bertahan. Karena jika dia mati, tidak hanya satu nyawa yang hilang, tetapi 3 nyawa.


Mila pergi membawa sebuah rahasia si kembar, yang entah akan dia beritahukan pada Hisam atau tidak.


Keesokan harinya, Mila membantu Bik Ijah menyiapkan sarapan untuk anak-anak. Mila meminta Bik Ijah untuk mengerjakan pekerjaan rumah yang lain, agar nanti saat Mila pergi bekerja, Bik Ijah bisa fokus mengurus si kembar.

__ADS_1


Mereka berbagi tugas agar semua pekerjaan bisa diatasi tanpa mencari pengasuh baru. Mila tidak percaya dengan pengasuh baru.


Mila memanggil kedua anaknya setelah sarapan siap diatas meja makan.


"Hasan, Husein. Sarapan sudah siap!" teriak Mila.


Dari lantai atas, tampak dua jagoan kecil Mila berjalan cepat menuju ke arahnya. Tercium wangi harus dari tubuh mereka. Mereka memang terbiasa mandi dan berganti pakaian sendiri. Mereka tampak sudah rapi dan siap untuk sarapan.


Kebiasaan ini Mila tanamkan sejak pengasuh terakhir mereka memperlakukan si kembar dengan buruk. Pengasuh suka bersikap kasar dalam mengasuh si kembar. Untungnya bisa diketahui lebih awal, sebelum si kembar mengalami trauma yang lebih dalam.


Lebih baik di kembar belajar mengurus diri mereka sendiri dan mengekspresikan kemampuan mereka, tanpa takut. Mereka sekarang, berlomba agar mandi dengan bersih dan memakai minyak wangi sebelum sarapan. Mereka takut ibunya akan mencarikan mereka pengasuh baru.


Karena trauma yang si kembar alami, Mila meminta Bik Ijah untuk sekedar mengawasi mereka bermain. Jika tidak ada hal yang darurat dan penting, bik Ijah tidak perlu ikut terlibat kecuali mereka yang meminta.


Selesai sarapan, Mila menyiapkan alat-alat tulis dan buku gambar. Sekotak buku bacaan dan sekotak mainan. Dengan semua itu, sudah cukup membuat mereka nyaman bermain.


Mila bisa pergi bekerja dengan tenang setelah menyiapkan semuanya. Mobil sudah dipanasi sejak tadi, dan kini siap untuk meluncur menuju ke kantornya.


Sebelum masuk mobil, Mila sempat melihat ke rumah sebelah yang sempat membuatnya kagum. Rumah impian yang Mila inginkan sejak masih bersama Hisam. Terlintas di benaknya untuk membeli rumah itu berapapun harganya. Uang tidak masalah lagi baginya, karena dia pewaris tunggal keluarga Kakek Hendro Wijaya. Pemilik salah satu perusahaan investasi besar, PT Wijaya Group , Tbk.


Kalau hanya untuk membeli rumah di kota kecil ini, hal itu sangat kecil bagi Mila. Yang jadi masalahnya, apakah pemilik rumah itu setuju menjualnya pada Mila.


Rumah itu, hanyalah sebuah rumah yang sederhana dengan tanaman buah mangga yang Mila sukai.


Mila bergegas masuk mobil untuk segera berangkat bekerja. Sepanjang perjalanan dia masih terus memikirkan rumah tersebut. Mila menarik napas panjang sambil menggelengkan kepalanya.


Untuk apa membeli sebuah rumah, toh aku hanya setahun di kota ini? batin Mila agak galau.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2