Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 45. Menginap


__ADS_3

Varo telah membuat keputusan untuk memberi waktu Mila menyelesaikan masa lalunya yang belum selesai. Dia mengizinkan Mila merawat dan menjaga Hisam bersama anak-anaknya. Sementara Varo tetap tinggal di rumah ini, untuk sementara waktu.


"Mas, terima kasih. Aku akan pergi untuk beberapa hari. Aku harap, aku akan bisa segera menyelesaikan masalah ini secepat mungkin," ucap Mila sebelum pergi.


"Pergilah. Aku dan Valeria akan menunggumu di sini," jawab Varo.


Mila memeluk Varo sebelum akhirnya dia pergi membawa ketiga anaknya untuk bertemu Hisam. Mila pergi dengan membawa harapan untuk bisa membuat hidup mantan suaminya lebih bahagia.


Setelah perjalanan cukup jauh, mobil Mira berhenti di depan rumah baru Hisam. Rupanya, sejak dia dan Mila bercerai, Hisam lebih banyak menghabiskan waktunya berada di rumah baru. Apalagi setah ibunya meninggal. Kedatangan Mila dan anak-anaknya memberi secercah cahaya hidup untuk Hisam. Semangat hidupnya tumbuh kembali.


"Daddy ...!" terima Hasan dan Husein bersamaan. Mereka langsung memeluk ayahnya.


"Daddy kangen sama kalian. Kalian sekarang sudah besar," kata Hisam melepas rindu.


"Hasan juga kangen Daddy," ucap Hasan.


"Husein juga, Daddy," sahut Husein.


Sementara itu, Galang masih berdiri karena dia belum mengerti apa-apa. Mila lupa jika dia belum memberitahukan pada Galang, bahwa Hisam adalah ayahnya.


"Galang, maafkan Mami karena Mami baru bisa cerita sekarang. Pria yang ada di depanmu, adalah ayah kandungmu. Seperti juga kedua kakakmu," kata Mila sambil memegang kedua bahu Galang.

__ADS_1


Galang menatap ibunya dengan tatapan penuh pertanyaan. Galang yang masih berusia 12 tahun itu, tampak bingung. Dia masih belum bisa memahami secara nalar perkataan ibunya. Butuh waktu untuk membuat Galang menyadari jika ayah kandungnya sama dengan ayah kandung kedua kakaknya.


Pikiran anak seusia Galang, yang masih kritis, menganggap bahwa ayah mereka berbeda karena perlakuan ibunya sangat berbeda. Ibunya sangat menyayangi kedua kakaknya, tetapi ibunya selalu marah-marah padanya. Itulah yang Galang rasakan sejak kecil.


"Galang, itu ayahmu. Pergilah, temui dia," bujuk Mila.


Mila sedih karena sejak kecil memperlakukan Galang seperti bukan anak kandungnya. Meskipun dia menyesali sekarang, sudah tidak ada artinya lagi. Kepribadian Galang memang sudah terlihat sebagai pemberontak.


Galang melangkah mendekati ayahnya yang mulai berkaca-kaca melihat Galang. Anak bungsunya yang sejak bayi tidak pernah ditemui. Jangankan di temui, mengetahui keberadaannya saja, baru beberapa hari yang lalu.


"Galang," gumam Hisam lemah.


Galang memeluk tubuh ayahnya tanpa ekspresi. Dia masih belum merasakan kehadiran Hisam sebagai ayahnya.


"Mbak Mila sendiri bagaimana? Apa Mbak nggak akan tinggal bersama mereka?" tanya Tina.


"Saat aku melihat mereka, aku malah teringat Mas Varo dan Valeria putriku. Mereka juga bagian terpenting dalam hidupku. Aku tahu, Mas Hisam membutuhkan Akau dan anak-anak di sisinya. Tetapi, aku mungkin tidak bisa mewujudkan keinginannya. Aku bukan lagi istrinya, juga bukan lagi wanita yang hidup sendiri. Aku sudah memiliki kehidupan baru yang harus aku jaga. Beberapa saat lalu mungkin aku sempat bingung, tapi kali ini aku sudah yakin jika aku telah mencintai suamiku. Biarlah, anak-anak tinggal bersamanya," jawab Mila.


"Tina mengerti, posisi Mbak Mila. Mbak Mila jangan sampai melewatkan orang baik seperti Mas Varo. Dia terlihat sangat mencintai Mbak Mila dan anak-anak," ucap Tina menanggapi ucapan Mila.


Selesai menyiapkan makanan, mereka makan malam bersama. Suasana terlihat sangat ramai karena suara anak-anak. Galang juga sudah mulai terbiasa bersama ayahnya.

__ADS_1


Menjalang tidur, Mila mencoba menghubungi Varo. Tetapi, Varo tidak mengangkat panggilan darinya. Mila tampak mulai gelisah. Dia takut terjadi sesuatu pada Varo dan Valeria. Biasanya Varo selalu mengangkat panggilan telepon darinya.


Mila sudah tidak sabar ingin segera kembali ke rumahnya. Sayangnya, malam sudah sangat larut. Mila mencoba memejamkan mata meskipun terasa berat


Keesokan harinya, Mila bangun pagi-pagi sekali untuk membantu Tina membuatkan sarapan untuk mereka.


"Tina, bagaimana dengan keluargamu jika kamu merawat kakakmu?" tanya Mila.


"Pengasuhnya Bang Hisam lagi cuti seminggu. Jadi terpaksa aku yang harus merawat Bang Hisam sampai pengasuh datang. Mbak jadi berangkat pagi ini?" Tina balik bertanya.


"Iya, tunggu mereka selesai sarapan," jawab Mila .


Selesai sarapan, Mila pamit pulang. Meskipun orang-orang yang dia cintai kini berada di hadapannya. Dia seperti harus memilih antara masa lalu dan masa sekarang. Dipeluknya satu-satu, ketiga anaknya.


"Aku titip anak-anak," ucap Mila.


"Kamu tidak usah khawatir. Aku akan menjaga mereka," jawab Hisam.


Mila kembali ke rumahnya. Tetapi sampai di rumah, suasana tampak sepi.


...****************...

__ADS_1


Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga cerita teman aku.



__ADS_2