Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 33. Pernikahan Mila


__ADS_3

Setelah berhasil membatalkan pernikahannya, Mila merasa agak lega. Kini tinggal menghadapi Kakek. Mila berharap Kakek akan mengerti keputusannya. Sejak awal, dia memang tidak mencintai Adrian.


Hisam datang menemui Mila dan bertemu dengan Hasan dan Husein. Ternyata, ibunya sudah memberitahunya jika Hasan dan Husein adalah anak angkat Mila. Tidak ingin banyak drama, Mila membiarkan kesalahpahaman terjadi.


Hisam sangat bahagia meskipun kedua anak itu hanyalah anak angkat Mila. Hisam sudah merasa cocok dan dekat dengan mereka selayaknya ayah dan anak.


Rumah Mila tampak sepi karena Mila memutuskan memberhentikan Bik Ijah dan mengembalikannya pada Adrian. Setelah apa yang dilakukan Bik Ijah dan Adrian, tidak mungkin Mila bisa tenang tetap memperkerjakan Bik Ijah.


Kali inipun, Mila bingung karena Mila harus mencari tempat penitipan anak agar dia bisa bekerja. Belum lagi harus mengurus rumah. Setelah kepergian Bik Ijah, Mila berusaha mengerjakan pekerjaan rumah sendiri, tetapi dia merasa kelelahan sendiri.


Hasan dan Husein tertidur setelah kelelahan bermain dengan Hisam. Hisam mengangkat tubuh Hasan dan Husein secara bergantian dan di tidurkan di kamar mereka.


Mila dan Hisam berbicara di ruang keluarga untuk membahas rencana mereka selanjutnya.


"Mila, aku akan menemui Kakek secepatnya dan meminta izin menikahi kamu," kata Hisam yakin.


"Aku rasa, akan sulit untuk meminta restu Kakek. Apalagi, setelah apa yang kmu lakukan padaku," jawab Mila.


"Maafkan aku. Lalu apa yang harus kita lakukan?" tanya Hisam cemas.


"Bukankah kita hanya perlu menikah secara agama agar bisa kembali menjadi suami istri?" tanya Mila.


"Iya. Tapi, tentu kita tetap membutuhkan wali untukmu. Apa Kakekmu akan bersedia datang?" tanya Hisam.

__ADS_1


"Kakekku, ayah sari ibuku. Jadi aku rasa, kita hanya perlu mencari keluarga ayahku agar bisa menjadi wali pernikahanku. Sayangnya, aku tidak tahu dimana mereka. Apakah ayah memiliki saudara atau tidak, aku juga tidak tahu. Atau, pakai wali hakim saja seperti dulu," kata Mila.


"Putuskan saja seperti itu. Aku akan mengurus semuanya. Kamu hanya perlu menyiapkan diri untuk menjadi pengantin wanita yang bahagia. Tidak akan sampai satu minggu kita akan bisa menikah. Apa kamu sungguh sudah siap?" tanya Hisam.


"Jangan khawatir denganku, aku sudah siap?" jawab Mila.


Mila memutuskan menikah secara diam-diam dengan Hisam tanpa sepengetahuan Kakek. Selain Mila ingin melepaskan diri dari Adrian, Mila juga ingin membalas dendam pada ibu mertuanya dengan mengambil Hisam darinya.


Dengan menikah dengan Hisam, Mila memiliki banyak keuntungan. Meskipun niat Mila menikah dengan Hisam banyak sekali, tetapi di lubuk hati Mila yang paling dalam, Mila masih mencintai Hisam.


Benar saja, hanya berselang 3 hari, Hisam telah selesai mempersiapkan pernikahan mereka. Pernikahan akan dilakukan di rumah Hisam, yang akan dihadiri oleh anggota keluarga saja.


Hari itu, Mila telah selesai memakai pakaian pengantin yang sederhana. Mila dan kedua anaknya dijemput oleh suami Tina. Mila tidak menyangka jika semua memang sudah dipersiapkan oleh Hisam.


Acara akad nikah berlangsung secara khidmat. Hisam dengan mudah mengucapkan akad nikah dan di ikuti kata yang di tunggu-tunggu olehnya.


"Sah," kata pak penghulu.


"Sah ...." sahut semua yang hadir.


Diantara tamu yang hadir, Mila melihat ibu mertuanya datang dengan kursi roda. Dan dia tidak berani dekat dengan mereka karena Hisma sudah meminta ibunya untuk melihatnya dari jauh.


Mila sudah merasa menang kali ini. Tetapi, dia sedikit bingung, kenapa hatinya sakit dan merasa kasihan saat melihat ibu mertuanya jauh dari mereka?

__ADS_1


Padahal itu yang dia harapkan saat menikah kembali dengan Hisam. Setidaknya rasa sakit hatinya terlampiaskan.


Mila menekan rasa kasihan dalam dirinya terhadap ibu mertuanya. Dia juga berusaha menekan sisi baiknya untuk bisa bertahan di rumah ini. Mila yakin, perjuangannya masih akan berat selama ibu mertuanya masih hidup. Tetapi tidak mungkin, dia akan berdoa agar ibu mertuanya cepat mati.


"Mila, bisakah kita meminta restu pada ibuku, sekali ini saja?" tanya Hisam ragu.


"Maksud Mas Hisam?" tanya Mila.


"Begini, aku tidak akan memaksamu untuk memaafkan ibu. Tetapi, kita baru saja menikah, lupakan kesalahan ibu sekali ini saja. Setelah itu, aku tidak akan pernah memintamu untuk baik pada ibuku," jawab Hisam.


"Baik, hanya sekali ini saja, bukan?" tanya Mila.


Hisam dan Mila meminta restu Bu Siti yang tampak terharu dan di sudut matanya menetes airmata yang tidak hentinya. Mila duduk bersimpuh bergantian dengan Hisam.


"Semoga pernikahan kalian bahagia selamanya. Dan tidak akan ada lagi, ibu mertua yang jahat sepertiku," doa Bu Siti dengan penyesalan.


Mereka larut dalam perasaannya masing-masing. Mila juga merasa sedih, tetapi dia tidak ingin terlihat lemah di depan ibu mertuanya. Adilkah jika saat ini Mila masih waspada dengan ibu mertuanya yang sudah berada di kursi roda?


Justru itu yang kini membuat Mila sedikit khawatir. Apakah dirinya sudah menjadi orang yang kejam dengan membuat Hisam tidak lagi merawat ibunya?


Setelah menikah, ternyata Hisam sudah menyiapkan rencana tentang ibu dan juga Mila. Rumah lama akan di tempati ibunya dengan seorang pengasuh. Sedangkan Mila dan Hisam, akan pindah ke rumah baru.


Mila penasaran karena Hisam mengatakan bahwa rumah baru sudah disiapkan untuknya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2