Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 38. Bagai mimpi


__ADS_3

Mila menuju rumah ibu mertuanya bersama Hisam dan kedua anak kembar mereka. Hisam yang baru semalam mengetahui jika Hasan dan Husein adalah anak kandungnya, menjadi sangat terharu.


Dia menyadari bahwa sekarang dirinya telah benar-benar memiliki semua yang dia inginkan. Istri yang dia cintai dan anak-anak yang baik dan lucu. Hidup terasa begitu sempurna. Hanya dalam beberapa hari, dia telah mendapatkan segalanya.


Bukan uang, bukan juga harta dan kemewahan, kehadiran Mila dan kedua anaknya, mampu menjadikannya pria yang paling beruntung di dunia ini.


Selama perjalanan, Hasan dan Husein terus bertanya tentang Nenek. Mereka pernah dua kali bertemu Nenek. Yang pertama saat Bu Siti dan Tina datang ke rumah dan yang kedua saat acara pernikahan Mila dan Hisam.


Mobil berhenti tepat di depan rumah Hisam yang lama. Rumah dimana banyak kenangan buruk bagi Mila. Mila berusaha tetap bersikap tenang dengan memejamkan mata sejenak dan menarik napas dalam-dalam.


"Apa kamu yakin akan masuk," tanya Hisam.


Mila hanya mengangguk pelan. Sementara Hasan dan Husein sudah lebih dulu berlari masuk kedalam rumah.


"Nenek, Nenek ...." Suara Hasan dan Husein terdengar cukup keras.


Melihat kedatangan Hasan dan Husein, Bu Siti tampak kaget. Di tidak percaya jika kedua anak Mila itu datang menjenguknya.


"Kalian datang dengan siapa?" tanya Bu Siti.

__ADS_1


"Sama Mami dan Daddy," jawab Hasan sambil melihat ke arah Mila dan Hisam.


Mila menatap Bu Siti yang mulai tidak dapat menahan airmatanya. Mila mengikuti Hisam yang melangkah mendekati ibunya.


"Ibu, kami datang menemui ibu," ucap Hisam sambil memegang tangan ibunya.


"Terima kasih, kalian sudah mau datang. Terutama kamu, Mila. Ibu merasa bersalah. Seandainya ibu tidak membuat kamu keguguran, tentunya anak kamu sudah sebesar mereka. Ibu sangat menyesal, disaat ibu semakin tua, ibu merindukan cucu-cucu ibu. Ini karma untuk ibu," kata Bu Siti sedih.


"Sudahlah, Bu. Semua sudah berlalu, sekalipun menangis darah, anakku tidak akan pernah kembali," kata Mila sedih.


"Semoga dia memaafkan kejahatan Neneknya," gumam Bu Siti.


"Ibu, kami di sini untuk menemani Ibu. Bibik Narmi dimana?" Tanya Hisam.


"Iya, kami akan makan siang di sini. Mas, aku ke dapur bantu Tina," jawab Mila lalu melangkah pergi.


"Hisam, bagaimana kamu meyakinkan Mila untuk mau bertemu ibu?" tanya Bu Siti.


"Hisam tidak melakukan apa-apa. Itu murni dari hati Mila sendiri. Kita syukuri panyang terjadi hari ini. Mereka ini, juga cucu ibu. Mereka anak kandung Hisam," kata Hisam sambil tersenyum.

__ADS_1


"Benarkah?" tanya Bu Siti menatap kedua cucunya yang sejak tadi duduk di sampingnya.


Mereka berada di rumah Bu Siti, sampai sore. Mereka menghabiskan waktu untuk saling mengenal kembali.


***


Kebahagiaan yang Mila rasakan saat menikah kembali dengan Hisam, tidak bisa berlangsung lama. Tiba-tiba Hisam mulai jarang pulang. Dia lebih sering tinggal di rumah lama, bersama ibunya.


Mila merasa tidak terima dan saat Hisam kembali, Mila sudah siap dengan seribu pertanyaan.


"Mas, sudah beberapa hari ini kamu tidak pulang. Kamu juga tidak memberitahuku kemana kamu pergi. Kita ini suami istri, harusnya kamu jujur padaku," kata Mila dengan penuh emosi.


"Mila, aku menginap di tempat ibuku. Apanya yang salah?" tanya Hisam sedikit keras.


"Aku sudah bilang aku tidak pernah melarang kamu untuk berbakti pada ibu, tetapi kamu seolah tidak menganggap aku ada, Mas. Kenapa semua harus terjadi lagi?" tanya Mila semakin emosi.


"Sudahlah, kamu sekarang sudah tahu kalau aku berada di rumah ibu. Kenapa harus panik?" jawab Hisam.


Hubungan yang sudah berjalan baik selama beberapa bulan, membuat Mila tidak pernah menyangka, suaminya akan mengulangi lagi hal yang sama.

__ADS_1


Apakah aku ini bodoh hingga tertipu untuk yang kedua kalinya? Apakah aku yang terlalu mencintainya, sehingga Hisam bisa berbuat semaunya? Apakah beberapa bulan ini, hanyalah mimpi semata? Batin Mila.


...****************...


__ADS_2