Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 18. Kehidupan buruk


__ADS_3

Kehidupan Hisam setelah perceraiannya dengan Tiara, menjadi sangat menyedihkan. Setiap hari dia terus menyesali hidupnya yang tidak beruntung. Bukan karena bercerai dengan Tiara, tetapi karena dia teringat dengan Mila. Dia menyalahkan dirinya yang tidak bisa mempertahankan rumah tangganya dengan Mila.


Hisam rindu dengan kebersamaannya dengan Mila. Dia kangen saat-saat mereka saling bercengkrama dan bercanda berdua.


Sikap Hisam juga berubah menjadi lebih pendiam dan terkesan dingin. Dia juga lebih sering termenung dan melamun. Dia menyesali telah menceraikan Mila.


Hisam juga sudah tidak lagi mencari seorang istri. Dia takut dan merasa trauma, untuk menikah lagi. Karena dia belum bisa melupakan Mila.


Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Penyesalan yang sia-sia. Seharusnya saat ini, mereka hidup bahagia dengan anak-anak Mila jika Mila tidak keguguran sampai dua kali.


Terkadang dia merasa rindu dengan Mila tetapi dia tidak tahu kemana harus mencarinya.


Ingin rujuk, tetapi takut dia tidak akan bisa membuat Mila bahagia karena masih ada ibunya di rumah ini.


Dia juga tidak yakin, Mila mau menerima dia kembali setelah semua yang terjadi.


Ibu mertua Mila juga menyesal telah memperlakukan Mila dengan buruk. Karena ternyata Mila masih lebih baik daripada wanita pilihannya.


Suatu hari, Bu Siti sangat sedih karena Hisam tidak lagi bisa tersenyum. Tergerak hatinya untuk memberikan dukungan Hisam untuk memulai lagi hidup yang baru. Bu Siti mendekati Hisam yang sedang termenung di ruang keluarga.


"Hisam, ibu ingin bicara, kamu ada waktu?" tanya Bu Siti sambil duduk di sampingnya.


"Silakan, ada apa, Bu?" tanya Hisam bingung.


"Kamu, sudah cukup lama bercerai dari Tiara. Apakah kamu tidak akan mencari istri lagi?" tanya Bu Siti perlahan.

__ADS_1


"Hisam tidak ingin menikah, jika pernikahan Hisam akan membuat keributan. Bukankah ini yang ibu inginkan? Hisam tidak menikah?" tanya Hisam sedih.


Bu Siti merasa seperti ditusuk belati saat mendengar ucapan Hisam. Dia akui jika selama ini, dia selalu merasa, Mila telah merebut cinta Hisam darinya. Tetapi saat melihat Hisam hidup sendirian, Bu Siti merasa sangat sedih.


Bu Siti akhirnya kini menyadari, bahwa seorang menantu bukanlah saingannya. Seharusnya mereka bisa hidup berdampingan dan menciptakan suasana rumah yang damai dan tenang. Rumah yang dipenuhi canda tawa anak dan cucu.


Mengingat apa yang telah dia lakukan pada cucunya sendiri, membuat Bu Siti menangis. Jika cucunya bisa selamat, pastilah saat ini ada anak kecil yang akan berlarian dan memanggilnya 'Nenek'. Ternyata semua itu tidak akan pernah terwujud lagi. Karena Hisam sudah trauma dan tidak mau menikah lagi.


"Hisam, apakah kamu masih mencintai Mila?" tanya Bu Siti dengan suara parau.


"Iya, Bu. Tetapi Hisam tidak tahu apa yang harus Hisam lakukan. Kemana Hisam harus mencarinya?" tanya Hisam putus asa.


"Hisam, tidak ada yang tidak mungkin jika kamu mau berusaha. Ibu tidak akan ikut campur lagi masalah rumah tanggamu. Ibu pastikan, ibu tidak akan membuat Mila menderita lagi selama dia mau kembali padamu," jawab ibunya. "Bukankah kalian juga belum bercerai secara resmi?"


Hisam tersenyum dan kembali bersemangat. Restu dari ibunya kini sudah dia dapatkan meskipun sudah sangat terlambat. Entah dia akan bisa bertemu dengan Mila lagi atau tidak.


Hisam mulai putus asa dan mulai tenggelam dalam minuman keras. Dia lebih suka mabuk-mabukan dan pulang malam. Dia tidak betah di rumah, karena setiap kali dia di rumah, dia teringat pada Mila.


Kondisi tubuhnya juga sudah tidak terurus lagi. Pergi bekerja dengan pakaian yang tanpa di setrika dan terlihat kucel. Sungguh kehidupan yang sangat miris.


Hisam sudah tidak sanggup membayar pembantu dan ibunya yang kini harus mengurus rumah dan memasak sendiri.


Bu Siti yang Sudah semakin tua, tidka bisa sepenuhnya mengurus kebutuhan Hisam. Keadaan rumah semakin berantakan dan kacau terlebih jika Bu Siti sakit karena kelelahan.


Uang gaji Hisam, dihabiskannya untuk membeli minuman dan hanya tersisa sedikit yang hanya cukup untuk membeli makanan sehari-hari.

__ADS_1


Suatu hari, Hisam pulang malam dan dalam keadaan setengah mabuk. Dia mengetuk pintu rumah, tetapi ibunya tidak juga membukakan pintu untuknya. Hisam sedikit panik. Dia berusaha melihat ke dalam dan mencari tahu apa yang terjadi lewat jendela. Dia sangat kaget saat melihat ibunya berbaring di lantai.


Hisam menjadi panik dan dia berusaha membuka pintu tetapi tetap tidak bisa. Dia segera memecahkan jendela rumahnya agar dia bisa segera masuk kedalam rumah.


Setelah berhasil masuk, Hisam berlari ke arah ibunya dan dia lebih panik lagi lagi karena ibunya tidak bergerak lagi atau pingsan. Hisam bergegas membawa ibunya ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan.


Setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata ibunya terkena stroke ringan. Saat ini harus menjalani perawatan dan terapi. Paling tidak, harus menginap di rumah sakit sampai kondisinya siap untuk menjalani rawat jalan.


Tina dan Hisam bergantian merawat ibu mereka selama tiga hari di rumah sakit. Setelah tiga hari, ibunya diperbolehkan pulang tetapi harus menjalani terapi dan rutin memeriksakan kesehatan ke dokter.


Hisam dan Tina berunding tentang bagaimana dan siapa yang akan merawat ibunya.


"Tina, Abang minta maaf karena tidak bisa menjaga ibu dengan baik," ucap Hisam merasa bersalah.


"Tina mengerti kesulitan Abang. Tetapi Tina harap Abang jangan terlalu tenggelam dalam kesedihan. Mungkin ibu terlalu banyak pikiran dan tertekan melihat kondisi Abang saat ini. Abang, jika Abang terus seperti ini, bagaimana mungkin akan ada yang mau sama Abang? Apalagi Mbak Mila," ucap Tina menasehati Hisam.


"Aku mengerti," jawab Hisam singkat.


"Mulai sekarang, Abang harus giat bekerja. Jika bukan karena cinta, setidaknya demi ibu dan Tina. Siapa tahu, Abang masih memiliki jodoh dengan Mbak Mila. Tina do'akan semoga terkabul, aamiin," kata Tina berusaha meyakinkan Hisam yang masih dalam ketidakjelasan sikap.


Hisam kini menyewa seorang pengasuh untuk merawat ibunya, dan mengurus rumah. Sesekali Tina akan datang, untuk membantu merawat ibunya.


Hisam mulai giat bekerja kembali sehingga dia akhirnya dipromosikan menjadi manager. Kariernya kini sudah semakin cemerlang, setelah 4 tahun berlalu. Tetapi dalam cinta, hati Hisam itu kosong. Hatinya telah tertutup rapat-rapat untuk yang namanya wanita dan cinta yang lain.


Sampai suatu hari, Hisam harus melakukan pertemuan dengan salah satu mitra bisnis perusahaannya di sebuah restoran mewah. Dia datang terlebih dulu dan berusaha mencari tempat parkir yang nyaman.

__ADS_1


Mobilnya berhenti dan tidak sengaja dia melihat seseorang yang selama 4 tahun ini masih mengisi hatinya. Jantungnya serasa berhenti berdetak.


...****************...


__ADS_2