
Mila tidak menyangka jika Hisam akan begitu mudah memaafkan apa yang sudah ibunya lakukan pada dirinya. Bahkan atas nam ibunya, dia meminta maaf pada Mila untuk melupakan saja apa yang sudah terjadi.
"Mas, tidak akan semudah itu. Itu anakku yang meninggal, sama seperti mengambil sebagian nyawaku," jawab Mila emosi.
"Mila, tapi semua sudah terjadi dan nyawa anak kita juga tidak akan bisa kembali lagi. Tolong, maafkan ibu," ucap Hisam memohon.
Mila tidak berkata apa-apa lagi. Dia langsung keluar dari kamar ibunya dan segera masuk kamar untuk menangis.
"Hisam, Mila tidak bisa memaafkan ibu," kata Bu Siti berpura-pura sedih.
"Biar, Hisam bicara dengan Mila. Ibu tenang saja," jawab Hisam lalu menyusul Mila ke kamarnya.
Mila tampak duduk di tepi ranjang sambil mengusap airmatanya. Dia tidak ingin terus terlihat menyedihkan di depan Hisam dan ibunya.
Mila kaget saat Hisam tiba-tiba memeluknya dan menangis. Mila tidak pernah melihat Hisam menangis.
"Mas, ada apa, kenapa kamu menangis?" tanya Mila panik.
"Biarkan aku menangis sebentar dalam pelukanmu," jawab Hisam.
Mila membiarkan suaminya menangis hingga beberapa menit. Setelah Hisam bisa mengendalikan diri, Hisam segera menghapus air matanya.
"Mila, tidak hanya kamu yang sedih dan kecewa atas apa yang dilakukan ibu. Beliau sudah sepuh dan aku tidak sanggup melihat beliau terluka dan menderita di usia senjanya. Aku hanya bisa memaafkan dia, aku harap kamu juga begitu," ucap Hisam sambil menarik napas dalam-dalam.
"Mas, aku ini istrimu. Apapun yang kamu perintahkan, aku akan menurutimu, termasuk memaafkan ibu. Tetapi, aku minta, bersikaplah adil pada kami. Aku istrimu yang juga butuh kasih sayangmu. Aku tidak ingin Mas Hisam melupakan ibu tetapi apa yang pernah Mas Hisam katakan dulu, memang sangat melukaiku. Seorang ibu tidak ada gantinya, tetapi seorang istri bisa dicari lagi. Walupun itu benar, tetapi tidak ada seorang istri pun yang ingin mendengar itu dari mulut suaminya. Karena ucapan itu, adalah bukti bahwa seorang suami telah putus asa," ucap Mila sedih.
"Maafkan aku Mila. Aku akui, aku ini suami yang tidak bisa tegas. Aku tidak bisa membuat kalian, ibu dan menantu bisa duduk berdekatan dan saling memberi kasih sayang. Kamu memang wanita yang aku harapkan bisa menjadi makmumku hingga usia menjemputku," ucap Hisam. "Mari kita mulai dari awal lagi."
"Mila sangat bahagia mendengarnya. Semoga Allah menjauhkan kita dari keburukan dunia dan selalu menjaga rumah tangga kita agar tetap bersama," kata Mila.
"Aamiin."
Hisam dan Mila saling berjanji akan menjaga perasaan masing-masing dan memupuk cinta yang mulai pudar. Mereka lebih sering pergi berdua untuk sekedar meningkatkan kedekatan mereka secara lahir dan batin.
Mila tidak memberi kesempatan ibu mertuanya untuk mencuci otak Hisam lagi seperti dulu.
Saat di rumah, dimanapun Hisam berada, Mila pasti selalu ada di sampingnya. Kedekatan mereka semakin tidak terkontrol oleh ibu mertuanya lagi.
__ADS_1
Suatu hari, Hisam mengajak Mila untuk mendampinginya menghadiri acara pesta di perusahaannya. Mila berdandan sangat cantik dan menarik meski tidak memakai pakaian seksi. Hisam termasuk pria yang tidak suka, istrinya menunjukkan sisi seksi istrinya pada orang lain selain dirinya.
Mila menyemprotkan minyak wangi pada pakaiannya meski tidak terlalu banyak. Tetapi bagi Hisam, saat memakai minyak wangi itu hampir seperempat bisa langsung menempel di pakaiannya hingga bisa tercium meski dari jarak yang cukup jauh.
Saat itu, Mila tiba-tiba perutnya terasa mual dan dia segera berlari menuju ke kamar mandi. Hisam panik melihat Mila muntah-muntah hingga tubuhnya terlihat lemah.
"Sayang, apa yang terjadi denganmu, kamu sakit?" tanya Hisam panik.
"Jangan mendekat, aku tidak tahan dengan bau kamu, Mas!" teriak Mila sambil menjauh dari Hisam.
"Mila, kamu kenapa? Bau badanku wangi, bahkan aku sudah pakai minyak wangi hampir seperempat tadi," jawab Hisam kaget dengan sikap Mila.
"Justru itu, aku tidak tahan bau wanginya, terlalu menyengat hidungku dan perutku jadi mual," ucap Mila sambil menutup hidungnya.
"Tunggu, jangan-jangan kamu hamil. Iya, ayo kita pergi ke dokter. Atau, aku keluar sebentar untuk membeli testpack," ucap Hisam sambil tersenyum.
Tanpa menunggu jawaban Mila, Hisam langsung bergegas pergi menuju apotek terdekat untuk membeli beberapa testpack dengan berbagai merk. Hisam ingin meyakinkan hatinya jika istrinya benar-benar hamil.
Mila menunggu kedatangan suaminya sambil merebahkan dirinya diatas tempat tidur. Senyum manisnya menghiasi wajahnya yang tampak sedikit pucat.
Hisam datang dan memberikan beberapa testpack kepada Mila sambil menjaga jarak. Mila bergegas bangkit menuju kamar mandi. Mila mulai melakukan test satu demi satu.
Mila membawa alat-alat testpack tersebut untuk ditunjukkan pada suaminya. Wajah Mila tampak semakin pucat.
"Gimana, Sayang hasilnya?" tanya Hisam panik.
"Lihat sendiri," jawab Mila sambil menyerahkan alat-alat itu pada Hisam.
Hisam melihat satu persatu dengan perasaan tegang. Senyum kecil mulai terlihat dan hingga alat itu habis, senyumnya berubah lebar. Hisam tidak dapat menyembunyikan rasa bahagianya.
"Sayang, kamu hamil. Senyum dong, kenapa kamu terlihat tidak bahagia dengan kehamilanmu?" Tanya Hisam sambil menatap Mila.
"Mas, pergilah sendiri. Aku tidak akan ikut. Badanku rasanya lelah," jawab Mila dengan suara lemah.
Hisam tersenyum dan segera membuka pakaiannya. Hisam mengganti pakaiannya dengan yang baru dan santai.
"Kenapa ganti pakaian?" tanya Mila.
__ADS_1
"Aku tidak akan pergi. Aku akan menemani dan merawat kamu. Kalau aku masih memakai pakaian tadi, takutnya perut kamu mual lagi," jawab Hisam sambil tersenyum.
***
Keesokan harinya, Mila dan Hisam pergi ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungan Mila. Menurut dokter, Mila harus banyak istirahat dan tidak boleh banyak pikiran.
Karena itulah, Mila terlihat sangat sedih. Bukan karena dia tidak bahagia dengan kehamilan ini, tetapi karena dia memikirkan keselamatan anaknya. saat ini mila belum yakin benar, jika Ibu mertuanya sudah benar-benar menyesal dan bertaubat. Mila tidak ingin mempertaruhkan keselamatan bayinya.
Di rumah, ibunya masih saja bersikap buruk jika Hisam tidak ada. Senyum sinis ibu mertuanya membuat Mila khawatir.
"Kamu hamil lagi, Mila? Baguslah, jadi ibu memiliki kesempatan untuk membalas kamu. Kamu sudah membuat Hisam jauh dariku," ancam Bu Siti.
"Bukannya ibu sudah meminta maaf pada kami dan sudah bertaubat?" tanya Mila panik.
"Bagiamana jika anak dalam kandunganmu hilang lagi, kamu pasti akan jadi gila," ucap Bu Siti sinis.
Mila terus teringat ancaman ibu mertuanya.
Saat menjelang tidur, Mila mencoba berbicara pada suaminya. Hisam rebahan sambil memainkan rambut Mila yang berbaring di lengan suaminya.
"Mas, bagaimana kalau kita tinggal di tempat lain?" tanya Mila ragu.
"Apa maksudmu? Rumah ini adalah rumah kita, tentu saja kita akan tinggal di sini," jawab Hisam.
"Maksud Mila, Mila saat ini sedang hamil. Mila tidka ingin mengalami keguguran lagi seperti dulu," kata Mila membela diri.
"Kamu tidak perlu khawatir, ibu sudah menyesal dan beliau tidak akan melakukan itu lagi. Percayalah padaku," ucap Hisam berusaha meyakinkan Mila.
Mila sedikit panik dan kecewa dengan sikap Hisam yang terus membela ibunya. Hisam sama sekali tidak peduli dengan perasaanya yang penuh kekhawatiran. Bagaimana dia bisa hidup tenang jika masih serumah dengan pembunuh anaknya?
"Mas, aku sudah tidak bisa lagi mengharapkan kamu untuk bisa mengerti diriku. Jika dulu, aku masih bisa bersama ibumu. Tetapi kali ini aku tidak bisa mempertaruhkan keselamatan bayiku. Mas, sekalipun kamu tidak setuju, aku akan tetap pindah rumah," ucap Mila sedih.
"Mila, jangan buat aku dalam posisi sulit untuk memilih antara kamu dan ibuku," ucap Hisam kecewa dengan Mila.
"Aku tidak akan membuatmu memilih, karena aku yang akan membantumu memilih. Aku akan pergi bersama anakku. Jika memang kamu menginginkan kami, kamu bisa mencari aku. Atau kamu bisa talak aku sekarang juga," kata Mila lebih berani bersikap.
"Mila, kamu tahu aku tidak ingin menjadi anak durhaka. Aku ingin berbakti pada ibuku. Tapi aku juga tidak ingin menceraikan kamu. Aku mencintaimu dan bayiku."
__ADS_1
...****************...