Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 15. Pernikahan Siri Hisam


__ADS_3

"Hisam, kamu jangan berpikiran untuk bunuh diri. Ibu menunggumu, cepat keluar!" terima ibunya lagi.


"Ya, Bu. Ini Hisam lagi ganti baju," sahut Hisam.


Dengan langkah gontai, bisa mulai berdiri dan berganti pakaian. Dia mengenakan pakaian pengantin yang sudah dipersiapkan ibunya beberapa hari yang lalu.


Dia berdiri tepat di depan kaca, mencoba tersenyum tapi yang tampak malah wajah yang penuh kesedihan. Dia mencoba tegar dan mencoba untuk berdamai dengan takdirnya.


Hisam keluar menemui ibunya yang tersenyum melihat anaknya sudah terlihat sangat tampan. Hanya kurang senyum saja.


"Hisam, sudah siap berangkat? Waktunya sudah sangat mendesak. Calon istrimu pasti sudah menunggu, Jangan sampai kita terlambat sampai di sana," kata sang ibu.


Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, Hisam hanya tersenyum lalu menuju ke mobilnya. Mereka lalu berangkat bersama menuju ke rumah Tiara.


Selama perjalanan, Bu Siti tampak senang dan selalu tersenyum riang. Tujuan hidupnya telah tercapai, menyatukan Hisam dengan pilihan hatinya.


Bu Siti berharap bahwa Setelah dia memiliki menantu Tiara hidupnya akan lebih baik. Dia yakin, Tiara tidak akan merebut kasih sayang hisam darinya.


Sampailah mereka di rumah Tiara. Di sana sudah menunggu Pak penghulu dan juga keluarga mempelai wanita. Hisam menghela napas panjang untuk berusaha menenangkan hatinya. Menerima kenyataan kalau sekarang dia akan menjadi suami orang lain.


Hisyam duduk di samping Tiara dan acara akad nikah pun segera dilaksanakan. Hisam mengucapkan akad nikah tetapi dia malah salah mengucapkan nama calon istrinya. Yang seharusnya Tiara berganti Mila.


Tentu saja hal itu menimbulkan kegaduhan. Tetapi Hisam kembali mengulang untuk kedua kalinya dan kali ini, dengan lancar, dia mengucapkan akad nikah.


"Sah," ucap penghulu disambut ucapan yang sama dari para pengunjung.


Kini, Hisam telah menjadi suami Tiara. Hisam menikahi Tiara dan memulai hidup baru meski di rumah lama.


Pesta pernikahan di buat cukup meriah dan dihadiri banyak orang. Tujuan mereka untuk membuat orang-orang tahu jika Tiara sudah menikah dengan Hisam.


Kebanyakan dari mereka adalah tetangga sekitar rumah Tiara dan Hisam. Karena rumah mereka tidak terlalu jauh. Mereka berbisik-bisik mencoba mencari tahu penyebab perceraian antara Hisam dan istrinya yang pertama.


"Hisam itu duda kan? Mereka juga belum secara resmi bercerai, jadi hanya bisa menikah siri. Padahal istri pertamanya sangat baik dan aku lihat rumah tangga mereka juga baik-baik saja," ucap salah satu ibu-ibu yang bernama Bu Sila.

__ADS_1


"Dengar-dengar, karena ibu mertuanya tidak suka Mila. Dan mereka tidak akur, apalagi setelah Mila dua kali keguguran. Mila pasti tertekan dan tidak tahan tinggal lama-lama di rumah mertua. Tahu sendiri, jarang loh ada menantu yang bisa bertahan hidup satu atap dengan mertua," jawab ibu Desi.


"Aku sendiri saja, ogah hidup sama mertua. Dikit-dikit di komentari, kayak nggak bisa bebas. Berasa di penjara," tambah ibu yang lain.


"Ya, kalau mertuanya baik, kalau jahat, bisa mati berdiri di rumah mertua. Apalagi punya suami yang selalu membela ibunya, berasa hidup dalam bara api, panas rasanya," sambung yang lain lagi.


"Amit-amit, jangan sampai suami kita tidak bisa berbuat adil pada kita. Makan hati," ucap Bu Desi.


"Sudah-sudah, jangan ghibahin orang lagi. Semoga kita dijauhkan dari suami dan mertua yang jahat," kata Bu Desi menghentikan obrolan mereka.


Hisam mendengarkan dengan hati hancur. Mungkin benar yang mereka katakan. Dialah suami yang tidak bisa peka terhadap istrinya. Yang selalu membela ibunya disaat mereka tidak akur. Meskipun jelas melakukan kesalahan, tetap saja dia ingin Mila mengerti dan memaafkan ibunya.


Penyesalan ini begitu menyiksanya. Hatinya sakit jika teringat Mila yang pergi dengan berjuta duka di hatinya.


"Hisam, kamu harus bawa istrimu pulang ke rumah kita," titah ibu Siti pada Hisam.


Hisam hanya menurut saja. Setelah pamit pada mertuanya, Hisam membawa Tiara ke rumahnya.


Malam pertama, Hisam menjelaskan sebuah perjanjian. Hisam tidak akan menyentuh Tiara. Karena Hisam menikahinya hanya agar anak dalam kandungan Tiara memiliki seorang ayah. Meskipun Tiara tampak sedih, tetapi dia berusaha menerima permintaan Hisam.


Hasan setuju dengan permintaan Tiara. Karena selama ini, ibunya yang memegang uang belanja dan urusan rumah lainnya karena merasa Mila tidak becus mengaturnya. Hisam ingin memberikan hak itu kepada istrinya.


Setiap malam, Hisam menghabiskan waktunya untuk berada di ruang kerjanya. Bahkan dia sampai tertidur di sana. Dia tidak ingin Tiara berharap banyak untuk pernikahan ini.


Ketika Hisam menjelaskan pada Ibunya tentang uang belanja, Ibunya sempat menolak tetapi, Hisam mencoba mengingatkan bahwa Tiara adalah wanita pilihan Ibunya dan tentu saja Ibunya harus percaya pada Tiara.


Hari demi hari telah berganti. Hisam merasakan rumah ini tampak sepi dan tidak ada pertengkaran lagi seperti dulu. Berbeda dengan saat ada Mila, ibu dan Tiara tidak pernah terlibat pertengkaran. Meskipun Hisam tidak mencintai Tiara, Hisam cukup senang dengan kedamaian ini.


Akan tetapi, ternyata semua itu hanya luarnya saja. Suasana tenang dan damai hanya ketika Hisam di rumah.


Ibu mertuanya mulai tidak suka dengan sikap Tiara yang sering berbelanja hal-hal yang tidak penting. Menghabiskan uang Hisam yang seharusnya untuk keperluan rumah tangga.


Hari itu, Tiara pulang dari berbelanja pakaian. Ibu mertuanya sudah menunggunya di ruang tamu dengan wajah kesal.

__ADS_1


"Senang ya, hanya tinggal menghabiskan uang anakku?" sindir Bu Siti.


"Memang kenapa, itu uang suamiku sendiri. Kenapa, ibu tidak suka? Kalau begitu, ibu menikah, biar bisa membelanjakan uang suaminya sendiri. Jangan dikit-dikit manja ke suami orang lain," jawab Tiara tidak mau kalah.


"Menyesal aku dulu membela kamu. Aku berusaha mati-matian agar kamu bisa menikah dengan Hisam. Nyatanya kamu lebih buruk dari Mila. Mila saja tidak pernah mengeluh meskipun aku yang memegang uang belanja. Dia juga tidak suka belanja seperti kamu. Kamu memeras harta anakku," kata Bu Siti kecewa.


"Ibu tidak bisa membandingkan aku dengan Mila. Mila itu istri yang bodoh. Mau saja di kuasai ibu mertua. Aku bisa membaut Mas Hisam mengusir ibu dari rumah ini jika aku mau. Jadi jangan sok berkuasa di rumah ini!" bentak Tiara.


Bu Siti tampak sedih dan kaget, sikap Tiara berubah begitu cepat setela menikah dengan Hisam. Bu Siti mulai menyesal telah menyakiti Mila dengan banyak hal yang menyakitkan Mila.


"Ibu tinggal di sini itu gratis loh. Jadi ibu mesti bekerja untuk membayarnya. Jangan hanya sukanya gratisan saja. Hari ini aku capek, aku mau istirahat. Tiara hari ini sudah memecat Bibik karena uangnya aku gunakan untuk ke salon. Makanya ibu hari ini harus membersihkan rumah, mengepel lantai dan memasak sore ini untuk makan malam. Setelah aku bangun, semua harus sudah selesai," kata Tiara panjang lebar.


"Tapi, Tiara, selam ini ibu tidak pernah melakukan pekerjaan rumah. Jika tidak ada Bibik, Mila yang mengerjakan semua pekerjaan rumah. Ibu tidak bisa, lagi pula, Hisam tidak akan setuju jika ibu melakukan itu," jawab Bu Siti.


"Itu kalau Mas Hisam tahu. Makanya, jangan bilang-bilang sama dia. Kalau sampai ibu berani mengatakannya, hidup ini akan lebih menderita lagi. Tiara tidka suka ibu membandingkan aku dengan Mila. Kalian ini suka Mila, kenapa ibu menyingkirkannya dari hidup Hisam? Dan sekarang semua sudah terlambat, Mila tidak akan mau lagi memiliki mertua seperti ibu," ancam Tiara sambil menyindir ibu mertuanya.


Sejak hari itu, setiap hari Bu Siti harus mengerjakan pekerjaan rumah yang dulu sering dilakukan oleh Mila. Mila yang sedang hamil saja, dulu masih mau melakukan pekerjaan rumah tanpa mengeluh.


Seminggu kemudian, Hisam pulang saat istirahat siang untu mengambil dokumen yang tertinggal di rumah. Hisam terkejut saat melihat Ibunya sedang mengepel lantai. Hati Hisam sangat sedih dan marah.


"Ibu, apa yang ibu lakukan? Bukankah sudah ada Bibik? Siapa yang menyuruh ibu melakukan pekerjaan ini?" kata Hisam dengan masa bergetar karena menahan marah.


"Tiara," jawab Bu Siti sedih


"Tiara?" gumam Hisam.


Hisam bergegas menuju ke kamarnya. Dia mencari Tiara yang ternyata sedang memakai make up. Hisam bertambah kesal, ibunya sedang bekerja keras, dia malah bersantai di kamar.


"Tiara, kenapa kamu suruh ibuku bekerja, bukannya sudah ada Bibik?" tanya Hisam.


"Mas Hisam. Maaf Mas, Tiara terpaksa menyuruh ibu bekerja. Biasanya Tiara yang kerjakan, tetapi hari ini, badan Tiara terasa tidak enak. Jadi terpaksa meminta bantuan ibu. Hanya sekali ini saja kok, Mas. Soal Bibik, dia minta berhenti dan tidak memberikan alasan yang jelas. Terpaksa aku izinkan karena aku tidak ingin dikatakan majikan jahat," jawab Tiara lembut.


"Benarkah, apa bayimu baik-baik saja?" tanya Hisam penuh perhatian.

__ADS_1


"Baik-baik saja, Mas. Mas, kamu jangan marah, aku takut anakku akan keguguran seperti anaknya Mbak Mila. Kamu harus membela aku jika kamu ingin anak ini lahir dengan selamat," ucap Tiara berusaha mempengaruhi Hisam.


...****************...


__ADS_2