
Mila terdiam dan memejamkan matanya sesaat untuk mengumpulkan kekuatannya menghadapi prahara rumah tangganya saat ini. Beberapa menit kemudian, dia membuka mata dan berdiri dari tempat duduknya.
"Mila mau kemana?" tanya Hisam panik.
"Mau kemana lagi, tentu saja aku harus pergi. Aku sudah cukup melihat pertunjukan ini, jika lebih lama lagi, aku tidak akan sanggup," jawab Mila lalu berjalan menuju ke kamarnya.
"Hisam, bagaimana ini dengan Tiara. Dia sudah mengandung anak kamu. Kamu harus bertanggungjawab," kata ibunya.
"Tapi ibu, aku tidak mencintai Tiara. Semua itu karena aku khilaf saja," jawab Hisam bingung.
"Baiklah, kalau kamu tidak mau bertanggungjawab. Aku akan menggugurkan kandungan ini. Kamu tidak akan pernah memiliki anak lagi," ucap Tiara kesal.
Tiara berlari keluar dari rumah Hisam sambil menangis. Hisam hanya diam saja. Dia tidak tahu apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Tiara jangan gugurkan kandunganmu, Hisam pasti mau bertanggung jawab!" teriak Bu Siti. "Hisam, cepat kejar Tiara, jangan sampai dia benar-benar menggugurkan kandungannya. Mila sudah tidak bisa diharapkan memiliki anak darimu. Kalau Tiara sampai menggugurkan kandungannya, kamu tidak akan memiliki anak lagi!" titah ibunya.
Hisam menarik napas panjang dan bergegas mengejar Tiara. Rupanya Tiara hanya bersiasat. Dia sengaja berpura-pura ingin pergi, tetapi dia menunggu Hisam mengejarnya. Tiara tersenyum penuh kemenangan saat Hisam benar-benar mengejarnya.
"Tiara, tunggu! Aku akan bertanggungjawab. Tetapi aku memberimu dua pilihan," ucap Hisam ragu.
"Dua pilihan, apa itu?" tanya Tiara sambil berbalik arah.
"Aku hanya akan menikahimu secara siri, yang kedua aku hanya akan membiayai sampai anak itu lahir saja. Karena aku tidak akan pernah menceraikan Mila. Jika kamu tidak setuju, aku tidak bisa memaksamu dan aku tidak akan menghalangi kamu lagi. Lakukan apapun terhadap bayi kamu. Itu sudah bukan urusanku," kata Hisam tegas.
Tiara berpikir sejenak, lalu dia tersenyum. Untuk sementara, yang penting bisa menikah dengan Hisam. Selebihnya akan dipikirkannya nanti.
"Baiklah, aku setuju menikah siri denganmu. Tapi, aku mau tinggal satu rumah denganmu," jawab Tiara.
"Baiklah, sekarang kamu pulang dulu. Aku akan bicara pada Mila," ucap Hisam lalu masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
"Bagaimana, Hisam, apa kamu akan menikahi Tiara?" tanya Bu Siti.
"Iya, aku akan menikahinya tapi secara siri. Karena aku tidak akan menceritakan Mila," jawab Hisam.
"Tidak bisa, harusnya kamu menceraikan Mila dan menikahi Tiara secara resmi. Ini tidak adil bagi Tiara," kata ibunya marah.
"Sudahlah, Bu. Pikiran Hisma saat ini sedang kacau. Ibu jangan menambah masalah lagi. Hisam mau menemui Mila," ucap Hisam kecewa.
Hisam berjalan menuju ke kamarnya. Tetapi dia tidak tahu jika Mila mendengarkan apa yang katakan Hisma pada ibunya. Mila kembali kedalam kamar dan menunggu Hisma masuk.
Pintu kamar terbuka perlahan. Saat mendapati Mila sedang membereskan pakaiannya, Hisam bergegas berlari merebut pakaian yang di pegang Mila. Terjadilah adegan tarik-menarik antara Hisam dan Mila.
"Mas Hisam, lepaskan!" terima Mila.
"Nggak. Aku akan lepaskan jika kamu berjanji tidak akan pergi," ucap Hisam keras.
"Terserah, ambil saja, kalau kamu mau!" teriak Mila lagi.
"Mila, jangan pergi. Aku tidak akan pernah menceraikan kamu. Aku mencintaimu," ucap Hisam panik.
"Lalu bagaimana dengan Tiara, dia hamil anakmu? Bagaimana kamu akan bertanggungjawab padanya?" tanya Mila datar.
"Mila, aku akan bertanggungjawab. Bagiamana pun dia anakku. Aku akan menikahinya secara siri dan dia sudah setuju," ucap Hisam yang membuat Mila tersulut emosi.
"Siapa yang memberimu izin menikah siri dengannya?" tanya Mila menahan emosi.
"Mila, tenang. Mas Janji akan menceritakan dia, setelah anaknya lahir," kata Hisam berusaha meyakinkan Mila untuk tetap tinggal.
"Kamu, ingin poligami? Mas, meskipun aku tidak bisa memberimu seorang anak, aku tetap tidak mau dimadu. Jadi jika ingin menikahi dia, ceraikan aku. Jangan mencoba membuat aku berangan-angan lagi memiliki keluarga yang bahagia. Sudah cukup, kalian ibu dan anak menyakitiku. Talak aku sekarang juga!" teriak Mila.
__ADS_1
"Mila, apa salahnya aku poligami. Banyak kok, wanita yang rela suaminya poligami. Apalagi kamu dalam beberapa tahun ini tidak bisa hamil lagi. Jadi, kamu terima saja aku menikahi Tiara. Toh aku berjanji padamu akan menceritakan dia setelah anaknya lahir," ucap Hisam merasa benar
"Tapi aku tidak bisa berbagi suami dengan wanita manapun. Dengan adanya ibumu saja, hidupku rasanya bagai di neraka. Apalagi bertambah satu wanita lain. Aku tidak bisa," jawab Mila sambil meneteskan airmata.
"Tapi, aku tetap tidak akan menceraikan kamu. Status kamu akan tetap istriku sampai kapanpun," ucap Hisam kesal.
"Kamu kejam. Kamu egois. Meskipun kamu tidak mau berucap talak padaku, aku tetap akan pergi. Dan aku yang akan menggugat cerai kamu," ucap Mila emosi
"Oke. Silakan kamu pergi dan menggugat cerai aku. Kamu pikir, menggugat cerai tidak perlu uang? Carilah uang sampai kamu bisa mengajukan gugatan itu. Aku akan menunggumu, karena kamu tahu keputusanku. Aku, tidak pernah menceraikan kamu," tantang Hisam.
"Baik. Karena kamu sudah menantang harga diriku, aku pastikan aku akan bisa mendapatkan uang untuk biaya perceraian," sambut Mila.
Mila kembali membereskan pakaiannya yang tidak terlalu banyak. Dia sempat mencoba mengiyakan hati dan pikirannya untuk tetap teguh pada pendiriannya kali ini. Dia tidak lagi goyah oleh rayuan suaminya. Dia tidak akan lagi melihat ke belakang.
Sementara, Hisam hanya terdiam melihat istrinya sibuk mengemas barang-barangnya. Ucapannya untuk menikahi Tiara pasti sangat menyakiti hatinya. Tetapi sesungguhnya dia berharap, Mila akan menerima dirinya poligami.
Mila terlihat lemah dan tidak memiliki sanak saudara lagi. Kemana dia akan pergi setelah bercerai? Nyatanya, Mila lebih memilih meminta cerai darinya.
Hisam sengaja menantang Mila, agar Mila sadar, mencari uang tidak segampang yang Mila kira. Dan jika nanti Mila tidak bisa menghidupi dirinya sendiri, terlebih bisa memiliki uang untuk biaya perceraian mereka, Mila pasti akan kembali padanya.
Mila melangkah menuju pintu kamarnya dengan hati yang sudah mantap. Tiba-tiba, Hisam kembali menarik tangan Mila dan memohon padanya untuk tidak pergi.
"Mila, aku mohon jangan pergi. Aku sudah membelikan kamu rumah seperti yang kamu inginkan. Kamu bisa tinggal di sana tanpa ada ibu. Kamu dan Tiara tidak akan hidup satu rumah. Tiara akan tinggal di sini bersama ibu. Biar Tiara yang merawat ibu," ucap Hisam dengan nada bergetar.
Mila memejamkan matanya. Dia kembali meneteskan airmata yang sejak tadi ditahannya. Suaminya meminta dia menerima Tiara sebagai madunya.
Tidak satu rumah, tetapi apakah akan membuatnya bahagia?
Mila mencoba bertanya pada hatinya sekali lagi. Sanggupkah dia dimadu?
__ADS_1
...****************...