Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 8. Balasan untuk ibu mertua


__ADS_3

Mila mulai mendapatkan kembali kepercayaan Hisam. Dia kembali beraktivitas seperti sebelumnya. Meskipun masih tetap dibantu oleh Bibik. Dia juga menyiapkan makanan setiap hari. Mulai dari sarapan hingga makan siang dan makan malam. Jadi mereka sudah tidak pergi makan di luar lagi.


Seperti biasa, makan siang yang hanya ada dia dan ibu mertuanya. Mila tidak duduk bersama ibu mertuanya karena dia akan makan menunggu sampai ibu mertuanya selesai dan itu sudah menjadi kebiasaan saat suaminya tidak ada di rumah.


Mila menatap Ibu mertuanya yang baru akan mengambil sayuran, untuk ditaruhnya didalam piring nasinya, tiba-tiba Mila menghentikannya dan mengatakan jika makanan itu mungkin saja asin seperti biasanya. Karena itu, Mila melarang ibu mertuanya makan.


"Tunggu, jangan dimakan! Mungkin makanan yang Mila masak keasinan lagi. Coba, biar Mila yang makan dulu ya, Bu," ucap Mila sambil menarik lauk dan sayur di depan ibu mertuanya.


Mila mengambil nasi dan lauk serta sayur di atas piringnya. Lalu Mila mulai makan dengan lahapnya sambil bergumam.


"Makanan ini, benar-benar asin. Bener, Bu. Makanan ini asin. Biar Mila makan sendiri saja. Ibu pasti tidak doyan," kata Mila sambil terus melahap makanan di depannya.


"Mila, ibu doyan, kok. Kamu saja doyan, pasti makanan itu tidak asin," jawab Bu Siti sambil menelan ludah. Bu Siti menatap Mila yang kelihatannya sangat menikmati makanan di depannya.


"Ibu, ini asin kok Bu. Beneran, ini kalau Mila tidak lapar, Mila tidak akan doyan makanan asin ini," ucap Mila sambil tersenyum dalam hati.


Ibu mertuanya tidak bisa berkata-kata karena memang dulu dia sering mengatakan makanan Mila keasinan, padahal dia beri garam sendiri supaya asin.


Mila tersenyum kecil melihat ibu mertuanya terus memandangi nasi putih didepannya. Perlahan ibu mertuanya menyendok nasi putih tanpa lauk ataupun sayur itu, dan di masukkan ke mulutnya. Terlihat raut muka mau muntah ditunjukan untuk menimbulkan iba dihati Mila. Tapi hati Mila telah beku.


Mila makan masakannya sendiri, dan hampir menghabiskan lauk serta sayuran di depan ibu mertuanya. Sementara sang ibu mertua memperhatikan sambil menahan perutnya yang kosong. Tetapi, Mila masih sedikit peduli dengan memberikan sedikit lauk untuk ibu mertuanya.


"Ya sudah, daripada ibu kelaparan, ini ada sedikit lauk. Asin sedikit nggak papa ya?" ucap Mila sambil menyodorkan lauk pada ibu mertuanya.


"Hhhh," desah ibu mertuanya.


"Lain kali, jangan membuang makanan karena keasinan. Jadi, makanan tidak dendam pada siapa yang membuangnya," sindir Mila.


Makanan yang masih tersisa, segera Mila berikan pada Bibik untuk dibawa pulang. Ibu mertuanya sangat kesal dengan sikap Mila karena dia belum merasa kenyang sudah diberikan pada orang lain.


Sayangnya, Mila sama sekali tidak peduli. Yang penting, dia tidak membuang makanan yang dia buat sendiri.


Meskipun Mila sangat membenci ibu mertuanya setelah semua yang terjadi padanya, Mila tetap tidak bisa sepenuhnya membalas dendam. Apa bedanya dia dengan ibu mertuanya jika terus menuruti hati yang sedang marah. Dendam tidak akan pernah ada habisnya.


Yang terpenting bagi Mila, adalah suaminya kini percaya padanya.


***


Kekesalan ibu mertuanya, rupanya tidak bisa hilang begitu saja. Terlebih setelah Hisam lebih memperhatikan Mila daripada dirinya. Ibu mertuanya kembali menggunakan siasat untuk membuat Hisam kembali lebih percaya padanya.


Saat Mila dan Hisam sedang nonton televisi, Bu Siti berpura-pura sedih.

__ADS_1


"Hisam, ibu ingin bicara," ucap Bu Siti sedih.


"Ada apa, Bu? Ibu terlihat sedih," tanya Hisam sambil menatap ibunya.


"Jangan bicara di sini. Bicara di tempat lain saja."


Bu Siti melihat ke arah Mila yang duduk bersandar di bahu Hisam. Meskipun ada ibu mertuanya, Mila berusaha tetap mesra dengan suaminya.


"Ibu, apakah karena ada Mila, jadi ibu tidak ingin bicara di sini? Kalau begitu biar Mila pergi dari sini," kata Mila lembut.


"Mau ke mana Mila, tetap di sini. Ibu, bicara di sini saja. Kita semua adalah satu keluarga, jadi tidak ada yang harus kita sembunyikan satu sama lain," ucap Hisam tenang.


Bu Siti tidak merasa senang ucapan Hisam. Dengan dengan hati dongkol dia berusaha menyembunyikannya dengan baik dihadapan Hisam.


"Begini, Hisam. Akhir- akhir ini, Mila tidak memberi ibu makan siang dengan cukup. Dia lebih memilih memberikan makanan itu pada bibik," ucap Bu Siti sedih.


"Ibu, hanya masalah sepele saja. Hisam kira ada malah penting apa, sampai ibu ingin bicara secara pribadi dengan Hisam?" tanya Hisam sambil tersenyum kecut.


"Hisam, kamu sudah banyak berubah sejak kamu kehilangan bayi kamu. Apakah kamu percaya dengan tuduhan Mila pada ibu?" tanya Bu Siti sedih.


"Ibu, Semua yang sudah terjadi, jangan diingat lagi. Hisam ingin kita bertiga bisa hidup damai menjadi sebuah keluarga yang bahagia tanpa saling dendam," ucap Hisam.


"Benar yang dikatakan Mas Hisam, Ibu. Mila sudah berusaha melupakan semua yang terjadi. Jika ibu tidak bisa melupakan semua itu, artinya ibu merasa bersalah," ucap Mila menambahkan ucapan suaminya.


"Kalau begitu, kita sudahi saja semua pembicaraan ini. Mulai sekarang, Hisam tidak ingin mendengar kalian berdua saling menjelekkan. Jika kalian akur, aku juga bisa bekerja dengan tenang," kata Hisam semangat.


"Iya, ibu mengerti," jawab Bu Siti sedih.


Bu Siti akhirnya meninggalkan Mila dan Hisam yang masih asyik melihat acara televisi.


"Mas Hisam, Mila ingin bicara pada ibu sebentar. Kelihatannya ibu masih belum bisa menerima keputusanmu. Mila ingin minta maaf sekali lagi," kata Mila sambil menatap suaminya.


"Baiklah. Tapi jangan bertengkar dengan ibu," jawab Hisam.


Mila tersenyum sambil mengangguk pelan. Mila ingin agar Hisam lebih percaya lagi padanya, jika dia berniat bersikap baik pada ibu mertuanya.


Mila melangkah menuju kamar ibu mertuanya lalu mengetuk pintu pelan.


"Siapa?" tanya ibu mertuanya.


"Mila, Bu," jawab Mila.

__ADS_1


Tidak lama, pintu kamar terbuka.


"Ada apa kamu datang menemuiku?" tanya ibu mertuanya kesal.


"Biarkan Mila masuk dulu. Kita bicara di dalam. Bukankah ibu tidak ingin Mas Hisam mendengar pertengkaran kita?" tanya Mila sambil tersenyum.


Bu Siti membiarkan Mila masuk kedalam kamarnya. Mila duduk ditepi ranjang sementara ibu mertuanya berdiri dihadapannya.


"Mila, menanti yang sangat kejam. Kamu menantu durhaka. Suatu saat, Hisam akan melihat jika kamu itu jahat pada ibunya. Saat itu, dia pasti akan menceraikan kamu," kata Bu Siti emosi.


"Ini semua karena ibu yang memulai. Lebih kejam mana, aku dengan ibu. Ibu berhutang satu nyawa dan aku belum membalasnya," jawab Mila tidak mau kalah.


"Ibu menyesal karena hanya satu nyawa yang melayang, kenapa tidak sekalian dengan nyawa kamu?" ucap Bu Siti kecewa.


"Ibu, Mila tidak menyangka jika ibu memiliki niat seperti itu. Mila ingin berbakti pada ibu. Ini tulus dari hati Mila, ibu," kata Mila sambil bersimpuh di kaki ibu mertuanya.


Mila sengaja bersikap seperti itu, Karen dia tahu, Hisam mendengarkan percakapannya dengan ibu mertuanya di luar pintu kamar.


"Mila, kamu melakukan ini karena kamu takut ibu membunuhmu juga? Seperti yang ibu lakukan pada bayimu, bukan?" tanya Bu Siti yang membuat Hisam kaget.


"Ibu, jadi ibu yang telah membunuh anak Hisam?" tanya Hisam kaget.


"Hisam, ibu ... ibu tidak bermaksud seperti itu," jawab ibunya panik, karena rahasianya sudah di ketahui oleh Hisam.


"Ibu, Hisam tidak percaya jika ibu tega melakukan itu," ucap Hisam sambil menangis.


"Ibu tidak sengaja, Hisam. Maafkan ibu. Haruskah ibu bersujud agar kamu mau memaafkan ibu? Ibu akan bersujud sekarang," ucap ibunya lalu dia berniat bersujud di kaki Hisam.


Bagaimanapun, Semarah apapun Hisam pada ibunya, dia tetap tidak bisa melihat ibunya bersujud di depannya.


Hisam menahan tubuh ibunya agar tidak bersimpuh di lantai.


"Ibu, jangan lakukan!" teriak Hisam.


"Tapi Hisam, ibu menyesal kamu percaya pada ibu bukan?" tanya ibunya cemas.


"Iya, Ibu. Hisam percaya pada ibu," ucap Hisam lalu memeluk ibunya.


Mila tidak bisa berkata-kata lagi. Antara senang semua sudah terbongkar dan sedih karena Hisam menerima penyesalan ibunya begitu saja.


Satu nyawa anakku tidak ada artinya di hadapan mereka, batin Mila.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2