
Hisam terdiam mendengar ucapan Tiara. Dia kembali seperti dulu, dihadapkan pada dilema. Dia berusaha berpikir keras untuk tidak putus asa.
"Tiara, Beliau adalah ibuku. Jadi, aku akan mencarikan pembantu lain untuk mengurus rumah ini. Jadi ibu tidak perlu bekerja dan kamu hanya fokus mengurus dirimu dan kandunganmu," kata Hisam.
"Jadi Mas Hisam masih menyalahkan aku karena meminta ibu bekerja? Mas, aku itu sangat menyayangi ibumu. Aku juga sangat menghormatinya. Hanya saja, aku terpaksa melakukan itu. Karen tidka ada lagi yang akan melakukan pekerjaan itu. Ingat, pernikahanmu dengan Mbak Mila hancur karena kamu lebih memilih ibumu. Kamu menuduh Mila yang jahat pada ibumu. Bukan hanya karena kamu berselingkuh denganku. Jika kali ini kamu juga melakukan hal yang sama, aku juga tidak ingin hidupku dan anakku menderita di rumah ini," ucap Tiara.
"Bukankah kamu dan ibu berhubungan baik. Ibu tidak akan berbuat yang sama terhadapmu. Ibuku menyukaimu," kata Hisam kesal dengan ucapan Tiara.
"Ibumu sebenarnya tidak menyukaiku. Dia hanya menggunakan aku sebagai alasan. Kamu tidak tahu kalau ibumu ingin menguasai kamu, dan tidak ingin kamu menikah," ucap Tiara lagi.
"Tidak mungkin ibuku seperti itu," ucap Hisam tidak percaya.
Hisam mencoba tidak terpengaruh dengan ucapan Tiara. Tetapi, dia tidak bisa menutup mata, dengan semua hal buruk yang pernah ibunya lakukan pada Mila.
Hisam sudah bosan dengan semua ini. Dia tidak ingin bertengkar dengan Tiara karena pasti akan mempengaruhi anak dalam kandungan Tiara seperti yang pernah terjadi pada Mila dulu.
Demi anak dalam kandungan Tiara, Hisam akhirnya mengalah dan dia berusaha memberikan penjelasan pada ibunya untuk menyayangi Tiara.
Dengan alasan rumahtangganya yang hancur bersama Mila karena ibunya, tidak mungkin bagi Hisam untuk mengulangi lagi hal yang sama. Hisam meminta ibunya bersabar dan tidak membuat Tiara pergi dari rumah. Karena Tiara adalah istri pilihan ibunya.
"Ibu, maafkan Tiara. Dia tidak bermaksud menjadi menantu yang jahat. Dia terpaksa melakukan itu. Nanti Hisam akan mencarikan pembantu baru untuk kita. Biar ibu tidak perlu lagi bekerja," kata Hisam sambil memegang tangan ibunya.
Ibunya tampak sedih dan kecewa. Ternyata apa yang dikatakan Mila sebelum pergi bahwa karma itu ada, tidak perlu menunggu lama. Hanya dalam hitungan hari, dia merasa sudah mendapatkan karma itu.
Menantu yang sangat dia inginkan, ternyata tidak sebaik yang dia harapkan. Bahkan ternyata lebih kejam lagi. Barulah dia merasa jika Mila masih lebih baik dari Tiara. Tetapi penyesalan itu sudah tidak berguna lagi.
"Iya, Hisam. Ibu mengerti," jawab Ibunya.
__ADS_1
Dulu, Mila yang selalu harus mengerti ibu mertuanya. Kini, Ibu mertuanya yang harus mengerti kondisi Tiara.
Setelah mendapatkan kepercayaan Hisam, Tiara yang mengaku hamil dan menyebabkan Hisam harus bertanggungjawab, ternyata hanyalah berpura-pura. Dia menggunakan siasat agar dia berpura-pura keguguran karena sebenarnya dia tidak pernah hamil.
Tidak mungkin dia akan bisa menyembunyikan kehamilannya yang tidak akan pernah membesar. Dengan keguguran akan menghilangkan kecurigaan Hisam dan ibunya.
Saat ibu mertuanya mengepel, Tiara pura-pura terjatuh karena lantainya licin. Darah buatan itu terlihat nyata di pahanya untuk meyakinkan ibu mertuanya.
Tiara dibawa ke rumah sakit dan dinyatakan keguguran oleh dokter yang sudah dibayar oleh Tiara sebelumnya.
Mendengar kabar jika Tiara keguguran, Hisam bergegas datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Tiara.
Hisam tahu, betapa sakitnya saat kehilangan seorang anak seperti yang dirasakan Mila saat itu. Walaupun dengan hilangnya anak itu, bisa membuat Hisam menceraikan Tiara. Tetapi Hisam juga tidak ingin menambah sakit hati Tiara dengan menceraikannya. Karena bagaimanpun juga, anak itu adlah Sarah dagingnya, Hisam juga merasa kehilangan.
"Mas, kamu harus memberikan keadilan untuk anak kita. Ibu sudah membunuh anak kita seperti yang dia lakukan pada Mila. Ibu harus bertanggungjawab," ucap Tiara sambil menangis.
"Tiara, apa benar yang kamu katakan?" tanya Hisam belum yakin.
"Hisam, ibu benar-benar tidak melakukannya," jawab Bu Siti sedih.
"Makasih ibu, aku sengaja membunuh bayiku sendiri? Ibu pikir dong, ini anakku yang membuat Mas Hisam mau menikahi aku. Apa mungkin aku mempertaruhkan nyawa anakku dan juga kelangsungan rumah tanggaku?" kata Tiara yang membuat Hisam yakin jika Tiara tidak akan mungkin membunuh bayinya sendiri.
"Ibu, Hisam tidak akan memaafkan ibu jika apa yang dikatakan Tiara itu benar," kata Hisam pada ibunya.
Hisam tidak tega berkata seperti itu, tetapi dia harus mengatakan itu untuk membuat hati Tiara tenang. Sedih rasanya karena bagaimanpun juga, Dia adalah ibunya.
Hati Bu Siti juga sangat sakit, mendengar perkataan Hisam. Hisam kini benar-benar telah berubah, tidak seperti dulu lagi. Semua ini karena Tiara.
__ADS_1
Setelah perawatan selama dua hari, Tiara sudah diperbolehkan untuk pulang. Tiara menunjukan jiwa yang tidak stabil, karena itu, sebelum mendapatkan pembantu baru, ibunya yang akan mengerjakan semua pekerjaan rumah. Mau tidak mau, Bu Siti harus menerima keputusan Hisam.
"Ibu, tolong mengerti kondisi Tiara. Dia baru saja keguguran," kata Hisam meyakinkan ibunya.
Dengan alasan keguguran, Tiara memarahi ibu mertuanya dan berusaha membuatnya tidak betah hidup bersama dalam satu rumah.
"Ibu ini gimana, sih. Membuat sayur bisa keasinan begini? Ibu kan sudah lama jadi istri, harusnya bisa masak. Pa karena ibu sekarang janda, jadi keahlian ibu masak jadi hilang?" ledek Tiara.
"Tiara, kamu sudah keterlaluan. Aku ini ibu mertua kamu, kamu tega berbicara seperti itu pada ibu," jawab sang ibu mertua.
"Kenapa, ibu mau aku seperti Mila? Nggak bisa. Tiara ingin ibu tinggalkan rumah ini. Ibu itu bikin pemandangan rumah ini tidak sedap dipandang mata. Punya ibu mertua seperti pembantu. Malu aku, kalau teman-temanku datang. Sadar diri, kalau anaknya sudah nikah, sudah jadi milik istrinya. Pake acara menantang aku. Ibu nggak akan menang dariku," ucap Tiara sombong.
"Tiara, kalau tahu hati kamu sejahat ini, ibu tidak akan membantu kamu agar bisa menikah dengan Hisam. Ibu akan menerima Mila sebagai menantu ibu," kata Bu Siti saking sakit hatinya.
"Oh, kalau begitu, ajak saja Mila kembali, kalau ibu bisa. Tiara jamin, Mila tidak akan pernah mau lagi menjadi istrinya Mas Hisam jika ibu masih hidup," ucap Tiara sambil mencibir ibu mertuanya.
Ibu mertuanya terlihat kesal. Tetapi dia membenarkan apa yang di katakan Tiara. Setelah apa yang terjadi, Mila tidak akan pernah mau kembali lagi.
Hisam pulang bekerja dan langsung disambut oleh Tiara dan ibunya yang sama-sama ingin mengadu.
"Mas Hisam, ibu marah karena dia kamu suruh bekerja. Dia memarahi Tiara," rengek Tiara.
"Tiara bohong, Hisam. Ibu tidak pernah marah padanya. Kamu jangan percaya dia," ucap Bu Siti sambil mendekati Hisam.
Tiara dan Bu Siti saling beradu omongan hingga membuat Hisam geram. Telinganya terasa bagaikan di tusuk jarum.
"Diam!" bentak Hisam.
__ADS_1
Hisam kini kembali merasakan dilema. Dia tidak tahu harus memilih siapa. Jika dia memilih Tiara, dia akan menjadi anak durhaka. Tapi jika dia memilih ibunya, rumah tangganya akan jadi korbannya.
...****************...