
Mila tidak ingin kebahagiaan yang baru dia rasakan akan berakhir duka. Dia mencoba menerima dan mengerti akan sikap Hisam. Tetapi, nyatanya Hisam telah berubah. Perubahan yang begitu mendadak, sempat membuat Mila curiga jika Hisam menyembunyikan sesuatu.
Mila berusaha mencari tahu dan menemukan kenyataan yang membuatnya merasakan luka yang lebih sakit dari yang dulu. Mila sengaja datang ke rumah ibu mertuanya untuk melihat Hisam. Tapi apa yang dia lihat, membuat Mila seakan mati berdiri
Mila menyaksikan Hisam sedang tidur bersama seorang wanita dan dalam keadaan tidak berbusana. Rasanya tidak ingin percaya, tetapi Mila belumlah buta untuk melihat semua ini. Dia mengambil beberapa bukti foto untuk membuat Hisam tidak akan bisa mengelak.
"Mas Hisam, apa yang kalian lakukan? Jadi selama ini kamu lebih memilih tinggal bersama ibu karena ada wanita ini? Kenapa tidak bilang, kalau kamu sudah tidak mencintai kamu, kamu bisa mengatakan padaku. Aku tidak akan menghalangi kamu untuk bersama dia," kata Mila dengan penuh kemarahan dan rasa kesal yang dalam. Lebih baik melepaskan daripada menggenggam api yang hanya akan melukai tangannya.
Mila menatap Hisam dan wanita itu dengan tatapan penuh kebencian. Wanita itu menutupi tubuhnya dengan selimut sedangkan Hisam bangun dan mendekati Mila.
"Jika aku bilang, aku mencintai dia, apa kamu akan melepaskan aku? Aku tidak ingin kamu sakit hati," jawab Hisam.
"Aku sekarang sudah sakit hati. Dulu aku memaafkan kamu karena aku tahu jika saat itu kamu dijebak. Tapi kali ini, aku tidak akan pernah memaafkan kamu, Mas Hisam. Tunggu panggilan pengadilan dan kalian akan bebas melakukan apapun," kata Mila sambil menahan airmatanya.
Mila pergi meninggalkan rumah ibu mertuanya dengan hati hancur. Lebih hancur dari 5 tahun yang lalu. Walaupun kali ini, Mila masih lebih bisa menahan tangisnya. Dia masih bisa pergi dengan elegan.
Setelah kepergian Mila, Bu Siti menangis melihat Mila pergi dengan luka yang sam seperti dulu. Bisma mendekati ibunya dan berusaha menenangkan.
"Apa kamu tidak terlalu kejam pada Mila, Hisam?" gumam Bu Siti.
__ADS_1
"Ibu, Hisam tidak memiliki pilihan lain. Hisam sudah memikirkannya, dan ini adlah jalan terbaik yang Hisam bisa lakukan. Bukan hanya Mila yang terluka, aku juga. Hisam berharap, Mila akan cepat melupakan aku," kata Hisam sedih. Tidak terasa buliran airmata jatuh dari sudut matanya.
"Pak Hisam, apa yang dikatakan Bu Siti, itu benar. Tidak ada seorang wanita, yang sanggup melihat suaminya di atas ranjang dengan wanita lain. Aku juga wanita, aku juga ikut merasakan luka yang saat ini Bu Mila rasakan. Saya jadi ikut merasa bersalah, telah setuju membantu Pak Hisam. Saya memilih berhenti dan besok saya akan meninggalkan tempat ini," kata Ningsih pengasuh Bu Siti.
"Maafkan aku Ningsih. Karena aku telah melibatkan kamu. Aku juga berterimakasih atas bantuanmu," kata Hisam.
Siapa sangka, apa yang terjadi hari ini dan juga beberapa hari yang lalu adalah skenario yang jalankan Hisam. Hisam ingin Mila membenci dan meninggalkan dirinya.
Hisam merasa, dia tidak memiliki pilihan lain selain melepaskan Mila dan kedua buah hatinya. Hisam teringat beberapa waktu yang lalu, Kakek menemuinya.
Awalnya dia mengira, Kakek hanya ingin mengobrol seperti biasanya. Akak tetapi, ternyata Kakek Hendro meminta Hisam untuk melepaskan Mila.
"Kakek, bukankah kami sekarang baik-baik saja, mengapa Kakek mengungkit apa yang pernah terjadi?" tanya Hisam kaget.
"Hisam, dari awal aku tidak pernah setuju kalian menikah," jawab Kakek Hendro.
"Apakah Mila tahu?" tanya Hisam lagi.
"Tidak. Dan dia tidak boleh tahu kalau ku menemui kamu. Hisam dia memang tidak akan bisa meninggalkan kamu, tetapi kmu bisa meninggalkan dia," ucap Kakek.
__ADS_1
"Aku juga tidak akan pernah meninggalkan Mila. Aku mencintainya," jawab Hisam tegas.
"Hisam, kelangsungan perusahaan tempati bekerja ada di tanganmu. Aku bisa menghentikan dana investasi yang pernah kami janjikan. Aku bisa melakukan apa saja untuk membuat perusahaan kamu hancur di tanganmu. Seluruh karyawan di perusahaan kamu tergantung pada keputusanmu hari ini," Kata Kakek Hendro mengancam Hisam.
Hisam terdiam sejenak. Dia tetap teguh memang prinsipnya. Keluarga kecilnya lebih penting dari semua itu. Bisma lebih memilih mengundurkan diri dari perusahaannya.
"Hisam, jika itu masih bisa membuatmu bertahan, bagiamana dengan penyakitmu?" tanya Kakek Hendro.
"Darimana Kakek tahu jika saya sedang sakit?" tanya Hisam panik.
"Hisam, sekarang kamu tahu aku bisa mengetahui apa yang sengaja kamu sembunyikan dari keluargamu termasuk kepada Mila. Kamu itu akan segera mati, jadi jangan buat anak dan istrimu bersedih lagi," ucap Kakek kasar.
Hisam didiagnosis menderita kanker otak. Dan jarang ada pasien kanker otak yang bisa di sembuhkan. Hisam memikirkan bagaimana hidup anak dan istrinya setelah dia meninggal. Hanya Kakek yang bisa menjaga Mila dan kedua anaknya.
Keputusan yang Hisam buat secara sepihak dan melukai hati Mila, adalah sebuah pilihan yang tidak tepat. Tetapi pilihan itu tetap Hisam lakukan.
Keputusan yang akan Hisam sesali hingga akhir.
...****************...
__ADS_1