
Upaya negoisasi telah berlangsung cukup alot. Disinilah Mila baru melihat, bagaimana Hisam dengan sangat bijaksana berusaha meyakinkan mereka untuk menjual lahan mereka pada perusahaan.
Apa akhirnya, semua berhasil dan terjadi deal antara pihak perusahaan yang di wakili Hisam dan pihak penjual. Penanda tanganan telah dilakukan saat malam sudah menjelang.
Mila segera menghubungi Bik Ijah untuk memberitahunya jika malam ini dia pulang terlambat.
"Kamu tidak menghubungi keluargamu? Apa kamu tidak takut kalau mereka khawatir?" tanya Mila kaget.
"Siapa yang akan mengkhawatirkan aku, Ibu? Ibuku sudah terbiasa jika aku pulang larut malam.," jawab Hisam.
Mila terdiam karena dia baru ingat jika Hisam kini berstatus duda. Mila lalu tersenyum datar, menyadari kesalahannya bertanya.
Sedangkan anak buah Hisam sudah menyiapkan pesta karena keberhasilan negoisasi mereka hari ini. Mereka pergi ke sebuah karaoke untuk bersenang-senang.
Mila bingung karena Hisam harus ikut sebagai kepala proyek, lalu dia harus menunggu di mana?
Tidak mungkin Mila akan menunggu di mobil sampai acara itu selesai. Jika memaksa pulang sendiri, dia tidak tahu harus naik apa untuk bisa pulang malam-malam begini.
Hisam akhirnya memutuskan menyewa kamar agar Mila bisa beristirahat. Hisam janji tidak akan lama di pesta tersebut.
Mila menunggu hingga hampir 3 jam, Hisam belum juga datang menjemputnya. Mila sedikit takut kalau Hisam lupa padanya dan kembali sendirian. Mila duduk bersandar sambil terus melihat jam di ponselnya. Sekarang sudah menunjukan pukul 1 dini hari.
__ADS_1
Tiba-tiba, pintu kamarnya ada yang mengetuk. Mila bergegas membuka pintu karena yakin jika itu adalah Hisam. Saat membuka pintu, Mila kaget saat melihat Hisam dalam keadaan mabuk berat dan dipapah dua orang anak buahnya.
"Bagaimana dia bisa mabuk seperti ini?" tanya Mila.
"Maafkan kami, Bu Mila. Kamu tadi yang memaksa Pak Hisam minum, tapi kami tidak menyangka, beliau tidak mau berhenti minum. Tolong rawat Pak Hisam karena beliau bilang jika Bu Mila adalah istrinya," kata salah satu anak buah Hisam.
"Apa, Pak Hisam bilang seperti itu pada kalian?" tanya Mila kaget.
"Benar, Bu Mila. Awalnya kami tidak percaya, tapi beliau menunjukan foto pernikahan kalian pada kami," jawab yang satunya.
Mila menarik napas berat. Terpaksa Mila setuju untuk merawat Hisam sekaligus Mila penasaran dengan apa yang dikatakan dua anak buah Hisam.
Setelah itu, kedua anak buah Hisam berpamitan pergi. Tinggallah Mila yang ahrus mengurus Hisam yang sedang mabuk. Bekas muntahannya membaut Mila ingin ikut muntah juga.
Mila melepaskan sepatu dan kaos kaki Hisam. Mila juga terpaksa melepaskan pakaian Hisam dan mencucinya dan di keringkan di dalam kamar mandi. Dia juga mengelap bagian tubuh Bisma yang terkena muntahan agar tidak berbau.
Mila kini merasa seperti seorang istri sedang merawat suaminya sendiri. Melihat Bisma terlelap tidur, Mila mengambil sebuah bantal yang ada di samping Hisam untuk dibawanya ke sofa. Tidak Mungkin mereka tidur satu ranjang.
Mila tidak tahu, jika Hisam tiba-tiba terbangun dan dengan cepat menarik tubuh Mila hingga jatuh diatas tubuh Hisam. Mata Mila ter?@belalak merasakan detak jantung Hisam yang berdetak kencang.
Mila berusaha bangun tetapi Hisam dengan cepat memeluk tubuh Mila sehingga Mila tidak bisa berontak lagi. Mila meneteskan airmata, mengingat hubungan mereka yang tidak memungkinkan untuknya dan Hisam berbuat lebih jauh.
__ADS_1
"Dingin, aku kedinginan," gumam Hisam. "Peluk aku, Mila."
Saat ini, Hisam dalam kondisi mabuk dan Mila harus bisa mencegah apa yang akan terjadi. Tetapi bagaimana caranya.
Hisam memeluk tubuh Mila erat-erat. Bisma yang sudah lama memendam rindu pada Mila, mulai tidak bisa menahan hasratnya. Biasanya dia menyalurkan hasratnya dengan beraksi mandiri di kamar mandi.
Hisam seolah bermimpi tidur bersama Mila. Dia membalik tubuh Mila yang kini ganti posisi di bawah. Dia mulai menciumi wajah Mila dengan penuh gairah.
Mila masih bisa menerima ciuman dari Hisam, tetapi ketika Hisam sudah mulai jauh melangkah, Mila terpaksa menampar wajah Hisam hingga Hisam mulai sadar dengan apa yang sudah di dilakukannya pada Mila.
Tetapi Hisam langsung tertidur.
Hari sudah mulai menjelang pagi. Mila meminta pelayan hotel untuk menyiapkan pakaian Hisam yang semalam basah untuk dikeringkan.
Setelah pakaian Hisam datang, Mila membangunkan Hisam dan memintanya untuk segera bersiap kembali pulang. Dalam ingatan Hisam, masih terbayang beberapa adegan saat dia menciumi Mila semalam.
Apakah semalam aku sudah menggauli Mila? Jika iya, kenapa dia tidak marah. Apakah sebenarnya dia masih mencintai aku? Batin Hisam sambil mandi dibawah guyuran air shower.
Pagi itu juga, mereka bergegas meninggalkan hotel tersebut.
...****************...
__ADS_1