Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 31. Jalan terbaik


__ADS_3

Entah Mila harus senang atau sedih dengan kenyataan yang ada di depan matanya. Mengetahui bahwa Hisam belum menceraikannya secara resmi. Apakah Hisam sengaja agar Mila tidka bisa menikah ataukah Karen Hisam masih mencintai Mila?


Yang jelas, yang paling kecewa adalah Adrian. Harapannya serasa hancur setelah gagal mendapatkan surat cerai dari pengadilan agama. Surat yang akan membawanya menjadi suami Mila.


Mila dan Adrian meninggalkan Pengadilan agama dengan hati dan pikiran yang kacau. Sebelum pulang, mereka mampir ke sebuah restoran untuk makan siang. Mereka memesan makanan dan minuman dan menikmatinya tanpa banyak berkata-kata. Adrian ingin menyelesaikan makan tanpa gangguan.


Di sinilah, setelah selesai makan, Adrian berusaha membujuk Mila untuk mengajukan gugatan cerai terhadap Hisam.


"Mila, jika mantan suamimu belum mengajukan gugatan cerai, bagaimana jika kamu saja yang melakukan gugatan cerai? Aku akan mencarikan kamu pengacara yang bagus dan kompeten. Gimana, kamu setuju?" tanya Adrian menawarkan jasa.


"Adrian. Aku masih syok dengan kenyataan yang aku temui hari ini. Tidak bisakah kamu memberiku waktu untuk menenangkan diri?" tanya Mila.


"Maafkan aku Mila. Aku tidak bermaksud terlalu memaksamu. Tapi, tidakkah kamu berpikir kalau mantan suamimu sengaja melakukan itu agar kamu tidak bisa menikah lagi? Dia seorang pria. Dengan atau tanpa surat cerai itu, dia masih bisa menikah lagi. Tapi bagaimana dengan kamu?" kata Adrian terbawa emosi.


"Aku tahu. Mungkin aku harus bicara dengannya terlebih dulu. Biar dia yang mengajukan gugatan cerai," jawab Mila datar.


Adrian merasa kecewa dengan keputusan Mila. Gugatan cerai itu, bukan hanya hak suami tetapi juga hak istri. Jika memang istri merasa terzolimi.


Setelah mengantarkan Mila pulang, Adrian memutuskan untuk pergi dan pulang. Sementara Mila memutuskan untuk membicarakannya dengan Hisam. Sambil nunggu laporan dari anak buahnya.


***


Sore itu, anak buah Mila akhirnya menghubungi Mila dan mereka mengadakan pertemuan di sebuah cafe. Mila sudah tidak sabar menunggu informasi yang akan diberikan Pak Jai padanya.


Pak Jai adalah seorang detektif dan sekaligus orang kepercayaan Mila yang sebagai Mila pekerjakan untuk membantunya menyelidiki banyak hal. Baik masalah pekerjaan maupun mencari informasi tentang seseorang yang ingin Mila ketahui


"Bagaimana Pak Jai, apa yang Pak Jai temukan?" tanya Mila antusias.


Pak Jai menceritakan semua yang ditemukan selama penyelidikannya. Adrian dan Cinta memang pernah menjalin hubungan selama 4 tahun yang lalu sebelum memutuskan untuk menikahi Mila. Adrian memutuskan hubungannya dengan Cinta demi Mila.

__ADS_1


Jadi, saat Adrian menemani Mila, dia masih ada hubungan dengan Cinta. Pantas saja, Cinta menganggapnya pelakor. Hanya bedanya hubungan mereka bertiga belum ada pernikahan.


Mila pernah merasakan bagaimana rasanya ada wanita lain yang berusaha mengambil suaminya. Sakit rasanya dan ingin sekali memukul wanita itu.


Meskipun dalam hal ini, Mila merasa tidak bersalah karena dia tidak tahu, ada wanita lain yang terluka karena kedekatannya dengan Adrian. Lalu apa alasan Adrian lebih memilihnya yang seorang janda beranak dia, bukan Cinta yang nyata-nyata seorang gadis.


Pak Jai juga mengatakan, dua bulan lalu, ada yang melihat Adrian keluar dari apartemen Cinta. Cinta rupanya berniat bunuh diri jika Adrian tidak mau menemuinya. Maka malam itu Adrian menginap di apartemen Mila. Kemungkinan saat itu mereka tidur bersama dan sekarang Cinta hamil anak Adrian.


"Terima kasih Pak Jai. Bapak bisa pergi sekarang," kata Mila.


Mila memikirkan baik-baik penjelasan Pak Jai. Mila tidak ingin menjadi orang ketiga di dalam hubungan mereka. Mila juga tidak ingin menyakiti wanita lain demi bisa hidup bahagia.


"Mila," panggil seseorang yang suara yang tidak asing baginya.


Mila menoleh ke arah sumber suara yang tidak jauh dari tempatnya duduk. Seorang pria tampan yang pernah menjadi pelabuhan hatinya kini sedang berdiri di belakangnya. "Hisam," gumam Mila.


Hisam tersenyum lalu berjalan mendekati Mila. Ini memang di luar kantor jadi Hisma berani hanya memanggil namanya saja.


"Silakan. Kebetulan juga, aku juga ada yang ingin aku bicarakan," kata Mila.


Hisam duduk sambil menatap Mila dengan lembut. Untuk sesaat mereka terdiam.


"Aku ...." Ucap keduanya bersamaan.


"Kamu dulu," kata Mila.


"Kamu dulu, kamu kan wanita," kata Hisam.


Mila menghela napas panjang lalu mulai berbicara.

__ADS_1


"Mengapa kamu mendaftarkan gugatan perceraian kita?" tanya Mila agak gugup.


Mendengar pertanyaan Mila, hati Hisam sedih.


"Apakah kamu sudah memutuskan untuk menikah lagi?" tanya Hisam.


"Maksud kamu apa? Aku hanya ingin tahu kenapa? Bukankah itu sudah hampir 4 tahun lamanya?" tanya Mila lagi.


"Karena, jika kamu tidak ingin menikah lagi, kamu tidak akan membutuhkan surat cerai tersebut. Benarkan?" tanya Hisam kecewa. "Apa kamu akan menikah dengan Adrian?"


"Itu hanya rencana. Aku tidak tahu, takdir apa yang sedang menungguku," jawab Mila.


"Mila, aku minta maaf. Aku akui, aku memang sengaja tidak melakukan gugatan cerai. Aku masih berharap bisa menikah denganmu lagi. Mungkin aku terdengar egois. Tetapi itulah yang bisa aku lakukan untuk tetap mempertahankan kamu sebagai istriku. Meskipun aku dulu pernah menalak kamu, tetapi dalam hatiku aku aku tidak pernah ikhlas melepaskan kamu pergi," jawab Hisam panjang lebar.


"Tapi kamu tidak pernah berjuang untuk aku. Saat aku pergi, apa kamu mencarimu? Saat bertemu denganku, apa kamu pernah bersungguh-sungguh ingin kembali bersama? Kamu datar seperti air yang mengalir begitu saja. Kamu tidak mau berjuang demi aku," kata Mila memojokkan Hisam.


Hisam sedikit bisa tersenyum saat menyadari arti dari perkataan Mila. Mila tidak membencinya, Mila bahkan masih ingin melihat dia berjuang untuknya.


"Mila, aku berjanji, aku akan berjuang untuk kita. Aku tidak akan membiarkan ada yang berniat memisahkan kita lagi. Di hatiku hanya akan ada kamu, dari awal hingga akhir maut memisahkan kita," ucap Hisam penuh keyakinan.


"Seandainya, aku tidak ingin ada ibumu di antara kita, apa kamu bisa melepasnya?" tanya Mila sambil menatap Hisam.


"Aku yakin bisa. Ibu bisa ikut Tina. Ibu sudah setuju hal itu," jawab Hisam. "Kalau begitu, kamu setuju untuk menikah denganku lagi?"


"Baik. Aku setuju. Tetapi masih ada beberapa hal yang harus aku urus. Karena aku dan Adrian pernah bersepakat untuk menikah. Kakekku juga tidak akan setuju, aku kembali padamu," kata Mila.


"Kita akan menghadapinya bersama-sama. Aku akan datang dan meminta izin pada Kakek," kata Hisam.


Hanya inilah jalan satu-satunya bagi Mila agar Adrian melepaskannya dan bertanggungjawab pada Cinta. Seorang anak pasti sangat membutuhkan kehadiran seorang ayah. Jangan sampai nasib anak Cinta seperti Hasan dan Husein.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2