Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 11. Janji Hisam


__ADS_3

Sepulang kerja, Hisam langsung menuju ke rumah sakit. Seharian ini, dia tidak tenang meninggalkan Mila bersama ibunya. Hatinya merasa tidak tenang dan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya.


Hisam kaget saat membuka pintu dan dia tidak melihat Mila berada di tempat tidurnya. Dia mencoba mencari keberadaan Mila di kamar mandi dan sekitar ruangan. Hati Hisam mulai panik, karena Mila tidak di temukannya di manapun.


Lebih kaget lagi, saat melihat botol infus masih rapi di tempatnya, tetapi jarum dan selang infus tergeletak di tempat tidur. Hisam langsung syok, dan berpikir jika Mila pasti ingin bunuh diri. Hisam memanggil suster untuk membantunya mencari keberadaan istrinya.


"Hisam, ada apa?" tanya Bu Siti yang baru saja datang.


"Mila hilang, Bu. Bagaimana kalau dia bunuh diri, aku harus bagaimana?" jawab Hisam sedih.


"Hisam, mungkin dia ingin jalan-jalan. Supaya kamu cemas dan mencarinya," ucap ibunya menenangkan Hisam.


"Ibu ini bicara apa? Mila bukan orang yang sengaja membuat aku cemas. Kita ini dia pasti tertekan karena kehilangan bayinya lagi. Seharusnya aku menjaganya," kata Hisam penuh penyesalan.


Salah seorang Dokter memberitahu kalau mereka akan menyelidiki hilangnya Mila. Mereka bersama-sama melihat CCTV rumah sakit. Terlihat jelas, jika Mila berjalan meninggalkan ruangannya menuju ke luar lingkungan rumah sakit.


Melihat kepergian Mila atas keinginannya sendiri, Hisam tidak terlalu menyalahkan pihak rumah sakit. Hanya saja, seharusnya penjagaan rumah sakit harus diperketat lagi sehingga tidak ada pasien yang bisa begitu saja pergi tanpa izin dari rumah sakit.


Hisam melihat ke arah ibunya untuk mencari jalan terbaik.


"Ibu, aku antar ibu pulang dulu. Setelah itu Hisam akan mencari Mila lagi," ucap Hisam.


"Baiklah, ibu manut saja," jawab ibunya.


Setelah mengucapkan terima kasih pada dokter dan pihak yang sudah membantunya mencari tahu keberadaan istrinya.


Hisam kembali ke ruang perawatan Mila untuk membereskan barang-barang Mila. Tanpa sengaja, dia melihat selembar kertas yang dilipat segi empat ada di atas meja. Hisam sebenarnya tidak terlalu tertarik dengan kertas tersebut. Tetapi rasa penasarannya membuatnya mengambilnya dan ingin melihat isinya.


Hisam duduk di tepi ranjang sambil membuka kertas tersebut.


Untuk Mas Hisam.


Saat kamu membaca surat ini, aku pasti sudah tidak ada di kamar ini lagi. Mila minta maaf. Mila pergi tanpa seizin Mas Hisam.

__ADS_1


Mila ingin menenangkan diri. Maaf, Mila tidak bisa menjadi istri dan menantu yang baik untuk kalian. Tidak bisa menjadi istri dan menantu yang kalian inginkan.


Jangan cari Mila.


Hisam meremas kertas yang baru saja dibacanya. Meskipun hanya beberapa baris, isinya cukup membuat Hisam meneteskan air mata. Sampai saat Mila memilih pergi, dia sama sekali tidak menyalahkan ibu mertuanya atau suaminya.


"Hisam, katanya mau mengantar ibu pulang?" tanya ibunya di depan pintu kamar.


"Tunggu sebentar. Ini juga hampir selesai," jawab Hisam sambil mengusap airmatanya.


Hisam dan Bu Siti bergegas pulang setelah membayar biaya rumah sakit. Tidak ada pembicaraan selama dalam perjalanan pulang. Hisam tenggelam dalam kesedihannya dan ibunya tenggelam dalam kebahagiaannya sendiri.


Sesampainya di rumah, Hisam enggan untuk turun dari mobilnya. Ada perasaan sedih saat membayangkan jika di rumah ini sudah tidak ada lagi istrinya yang akan menyambut kedatangannya. Tersenyum padanya di kala lelah setelah bekerja seharian.


"Hisam, tidak turun dulu? Kalau mau mencari Mila, mbok ya besok saja. Kamu pasti capek, beristirahatlah," kata Bu Siti mencoba agar Hisam tidak pergi mencari Mila.


"Nggak, Bu. Hisam harus cari Mira sekarang. Hisam khawatir dengan kondisi Mila saat ini. Dia sudah tidak memiliki saudara ataupun keluarga. Mila juga tidak membawa ponselnya karena saat dibawa ke rumah sakit, Hisam terburu-buru," kata Hisam sedih.


"Masuk sebentar. Lagipula kalau memang Mila ingin pergi, biarkan saja. Itu artinya dia tidak mencintai kamu. Istri bikin susah saja," titah ibunya.


Di kamar inilah, Hisam seperti mendengar semua ucapan Mila tentang ibunya. Kekejaman ibunya dan ancaman yang diterima Mila, hingga membuat Mila memilih pergi darinya.


Hisam baru sadar, jika dia bukan suami yang baik untuk Mila. Dia lebih membela ibunya sekalipun dia tahu jika ibunya sudah melakukan perbuatan jahat pada Mila. Kali ini Mila pergi, pasti karena ibunya juga.


Hisam keluar dari kamarnya untuk mencari ibunya. Saat itu ibunya sedang duduk santai sambil menonton acara televisi dan tidak sedikitpun merasa sedih. Kepergian Mila sama sekali tidak membuat ibunya kehilangan.


Hisam mengeluarkan isi hatinya, dan menyalahkan ibunya atas kepergian Mila. Hisam menganggap kepergian Mila karena sikap ibunya. Tetapi Ibunya tidak mau disalahkan.


"Ibu, apakah ibu melakukan sesuatu yang membuat Mila pergi?" tanya Hisam menahan emosi.


"Kamu bicara apa, Hisam. Kali ini, ibu tidak melakukan apapun. Kamu mencurigai ibu?" tanya Ibunya kesal.


"Tentu saja, Bu. Apa yang pernah ibu lakukan sebelumnya, lebih dari cukup untuk menuduh ibu melakukan hal buruk pada Mila. Ibu mengaku saja!" terima Hisam.

__ADS_1


"Hisam, karena wanita itu kamu berani membentak ibu. Kamu tidak takut ibu menyebutmu anak durhaka?" tanya ibunya marah.


"Ibu, Hisam tidak tahu lagi harus bagaimana menghadapi ibu. Kali ini, Hisam akan membawa Mila kembali apapun resikonya. Hisam mohon sama ibu, mengalah lah untuk kami?" ucap Hisma memohon.


Setelah berkata seperti itu, Hisma langsung pergi untuk mencari Mila. Hari sudah mulai malam, Hisam semakin khawatir dengan keadaan Mila. Dia pasti kedinginan saat ini.


"Mila, kamu dimana?" gumam Hisam.


Tidak ada tempat tujuan, Hisam pun pergi ke tempat-tempat yang mereka kunjungi saat masih pacaran. Dan yang terakhir, sebuah taman yang banyak memberikan kenangan dalam hidup Hisma dan Mila. Di taman inilah, Hisam melamar Mila.


Mata Hisam tertuju pada seseorang yang sedang bersandar di kursi taman. Hisam yakin itu pasti Mila. Hisam bergegas mendekatinya. Hisam tersenyum bahagia saat melihat dia memang benar-benar Mila, istrinya yang sedang tertidur seorang diri.


Hisam duduk perlahan dan membaringkan kepala Mila di pangkuan Hisam. Setelah beberapa saat, Mila terbangun.


Mila kaget melihat Hisam ada di dekatnya bahkan dia sedang tidur dipangkuan suaminya.


"Mas Hisam," gumam Mila.


"Mila. Maafkan aku. Aku tidak peka dengan kesulitanmu. Aku mohon, kembalilah," ucap Hisam lembut.


"Maaf, Mas Hisam. Selama aku masih tinggal bersama ibumu, aku tidak akan kembali ke rumah itu lagi. Sudah cukup rasanya Mila bertahan. Mil sudah tidak kuat lagi," jawab Mila tegas.


"Mila, maafkan aku. Karena telah membuat hidupku menderita. Berilah aku kesempatan untuk membuatmu bahagia, seperti janjiku ketika melamar mu untuk menjadi istriku. Mas akan membeli rumah baru untuk kita tinggal berdua. Kamu senang, 'kan?" bujuk Hisam.


"Lalu bagaimana dengan ibu?" tanya Mila ragu dengan ucapan Hisam.


"Ibu akan tinggal bersama bibik. Aku akan membayarnya untuk merawat ibu. Tetapi, untuk sementara, sebelum aku membeli rumah baru, tinggallah di rumah itu. Aku janji hanya sementara saja," kata Hisam meyakinkan Mila.


"Baik. Aku akan beri kesempatan. Mila harap, Mas Hisam tidka akan mengingkari janji," ucap Mila sambil menatap Hisam.


"Mas Janji," jawab Hisam.


Mila Akhirnya bersedia kembali karena janji suaminya untuk hidup berdua tanpa campur tangan ibunya.

__ADS_1


...****************...


__ADS_2