
Mila menatap wajah Kakek Hendro yang tampak kaget mendengar pernyataan Mila. Wajah lembut itu tiba-tiba berubah tegang. Mila sempat merasa sesak di dadanya melihat hal itu.
Untungnya, hal itu hanya berlangsung beberapa saat saja. Wajah Kakek kembali lembut seperti saat Mila baru datang. Mila bingung dengan perubahan Kakek, tetapi sekaligus juga senang. Karena Kakek tidak marah ataupun memaksa Mila untuk tinggal di rumah Kakek lagi.
"Mila, maafkan Kakek. Usia kamu sudah tidak muda lagi. Kamu juga sudah memiliki anak, jadi Kakek sudah tidak berhak lagi memaksa kamu untuk mengikuti kehendak Kakek. Kakek hanya ingin kamu bahagia. Jika kebahagiaan kamu bersama Hisam, Kakek hanya bisa menerima," ucap Kakek bijak.
"Kakek, Mila sangat bahagia mendengarnya. Kakek ternyata sangat pengertian. Sayang banget deh sama Kakek," kata Mila senang.
Mila beringsut mendekati Kakeknya, lalu memeluknya erat . Mila tidak menyangka jika Kakeknya akan langsung menerima pernikahannya dengan Hisam tanpa marah ataupun emosi. Mila tidak menyadari jika Kakeknya lebih memilih menerima dari pada menolak pernikahan Mila dan Hisam karena pasti akan membuat Mila kecewa padanya .
Mila adalah satu-satunya, garis keturunannya yang masih tersisa. Sesuai janjinya pada istrinya, Kakek akan melakukan apapun yang cucunya inginkan karena tidak ingin kisah hidup orangtua Mila akan terulang lagi. Dan yang rugi adalah Kakek sendiri.
__ADS_1
Kakek teringat saat Ibunya Mila yang bernama Mariana, jatuh cinta pada pemuda miskin yang bernama Dedi. Kisah cinta yang tidak sederajat itu, membuat Kakek sangat marah dan menganggap Dedi hanya menginginkan harta Mariana saja. Mariana adalah putri tunggal pemilik perusahaan investasi yang sedang berkembang saat itu.
Mendapatkan tentangan dari orangtua, Mariana dan Dedi tidak lantas putus asa. Mereka bahkan telah memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah masing-masing dan memulai hidup baru tanpa campur tangan dari keluarga kedua belah pihak.
Mereka menikah dan hidup serba kekurangan. Tetapi, kehidupan mereka sangat bahagia. Setahun kemudian lahirlah Mila.
Kebahagiaan mereka tidak berlangsung lama. Sampai suatu hari, ibunya jatuh sakit dan meninggal dunia. Ayah Mila sangat sedih dan merasa bersalah karena merasa tidak bisa menjaga istrinya.
Berselang hanya beberapa bulan, ayahnya Mila jatuh sakit dan akhirnya meninggal menyusul ibunya. Mila yang masih berusia 6 tahun, hidup sebatang kara dengan belas kasihan dari tetangga yang tidak tega melihat Mila. Sampai akhirnya, Mila dititipkan ke panti asuhan oleh tetangganya.
Karena itulah, Kakek Hendro tidka ingin secara terang-terangan menyakiti hati Mila.
__ADS_1
"Kakek, Kakek melamun?" tanya Mila mengagetkan Kakek.
"Kakek teringat Nenekmu. Kapan-kapan, ajaklah suamimu datang untuk mene.ui Kakek. Kakek juga ingin mengenal pria yang sudah membuat hati cucu Kakek ini jatuh cinta," kata Kakek sambil menghela napas panjang.
"Kakek ingin bertemu Hisam? Kebetulan, Mas Hisam ada di luar. Mila akan memanggilnya. Sebentar ya Kek," kaya Mila senang.
Mila menghubungi Hisam lewat ponselnya. Mila meminta Hisam masuk untuk bertemu dengan Kakek Hendro. Hisam agak curiga, kenapa begitu mudah, Kakek memaafkan Mila dan dirinya. Tetapi, Hisam tidka ingin membuat Mila sedih.
Masuklah Hisam tanpa gangguan dari scurity karena Mila yang memintanya. Hisam mengucapkan salam dan dijawab oleh Mila dan Kakeknya bersamaan.
Kakek menyambut baik kedatangan Hisam dan mereka berbincang dengan akrab. Kebahagiaan apa lagi yang Mila inginkan selain ingin memiliki keluarga yang utuh serta hidup rukun dan damai.
__ADS_1
Mila bermain bersama anak-anak dan membiarkan Kakek dan Hisam agar saling mengenal lebih dekat.
...****************...