Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 42. Mantan yang sakit


__ADS_3

Mila dan Varo, melihat ke arah sumber suara. Tina telah berdiri di dekat pintu gerbang rumah kakaknya. Tina sudah banyak berubah. Wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Seperti terlalu banyak pikiran.


Mila tersenyum getir pada mantan adik iparnya yang selalu baik padanya. Hanya saja takdir tidak menjadikan mereka saudara. Mila terus menatap Tina yang kini berjalan ke arahnya.


"Apa kabar, Mbak Mila?" tanya Tina lalu menjabat tangannya.


Mila yang tidak dapat menahan tangisnya, memeluk Tina dengan erat. Setelah beberapa saat, Tina mengajak Mila dan Varo masuk.


"Assalamualaikum," ucap Mila dan Varo nyaris bersamaan.


"Wa'alaikum salam. Masuk dan duduklah," jawab Tina.


Mila dan Varo duduk bersebelahan sementara Tina duduk di depan mereka.


"Ini, suami Mbak Mila?" tanya Tina.

__ADS_1


"Iya. Tina, aku sudah tahu semuanya. Kedatanganku kali ini, ingin bertemu Mas Hisam. Tapi kenapa rumah ini kosong, kemana Mas Hisam pergi? Apakah Mas Hisam sudah meninggal karena penyakit yang di deritanya?" tanya Mila sedih.


"Begini, Mbk Mila. Penyakit Bang Hisam ternyata salah. Hasil tesnya tertukar dengan Hisam yang lain. Sayangnya, kita mengetahui itu setelah kalian resmi bercerai. Dan kami tidak bisa menemukan jejak Mbak Mila," jawab Tina sedih.


"Setelah resmi bercerai, Kakek membawaku pindah. Jika penyakit itu salah, berarti Mas Hisam baik-baik saja, bukan?" tanya Mila lagi.


"Sejak tidak bisa menemukan kalian, hidup Bang Hisam semakin buruk. Dia menyesali apa yang sudah dia lakukan. Dia telah bersandiwara seolah dia selingkuh, agar Mbak Mila membencinya. Setelah bercerai, dia mabuk-mabukkan setiap malam hingga pekerjaannya tidak terurus. Apalagi setelah ibu meninggal, Dia seolah tidak memiliki harapan hidup lagi. Dia ingin sekali bertemu, Mbak Mila, Hasan dan Husein, meski hanya satu kali." Tina melanjutkan ceritanya.


"Lalu, dimana dia sekarang?" tanya Mila mulai cemas.


Mila menangis saat mendengar cerita Tina. Dia semakin ingin bertemu dengan mantan suaminya. Mila lupa, jika saat ini, hati Varo bagaikan ranting yang patah, melihat Mila. Tetapi, karena niatnya ingin melihat Mila tersenyum, Varo menerima kenyataan bahwa istrinya masih mencintai mantan suaminya.


Varo merasa sudah menjadi penghalang cinta bagi Mila san Hisam untuk bersatu kembali. Meskipun Hisam saat ini sedang sakit, justru itu yang membuat Hisam menang darinya. Mila tidak akan tega melihat Hisam meninggal dalam kesepian.


Akhirnya, Tina membawa Mila dan Varo menuju rumah sakit. Dengan hati yang sedih, Mila memberanikan diri menemui Hisam. Disebuah bangsal pasien, tampak seorang pria paruh baya sedang terbaring lemah.

__ADS_1


Seperti juga Tina, Hisam terlihat lebih tua dari usianya. Ubannya juga sudah banyak terlihat, bahkan hampir semuanya berubah putih. Tubuhnya kurus dan hanya tinggal kulit yang membungkus tulang. Padahal dia baru berusia sekitar 40 tahun.


Hati Mila semakin pilu dan teriris. Dia tidak dapat menahan airmatanya yang yang mengalir deras membasahi pipinya.


Varo hanya mampu melihat istrinya menangisi mantan suaminya. Dia ingin sekali memeluknya, tetapi tangan dan kakinya seolah terikat rantai rasa bersalahnya.


Mila mendekati Varo. Ingin mengucapkan kata yang sulit dia ucapkan. Tetapi, mau tidak mau, Mila harus bisa.


"Mas Varo, bagaimanapun aku masih istrimu. Karena itu aku memohon padamu untuk meminta sesuatu darimu," ucap Mila agak bergetar.


Varo sudah menduganya. Akhirnya yang dia takutkan pasti akan terjadi. Bagaimana mungkin dia bisa mengalahkan perasaan Mila pada mantan suaminya yang sudah memberinya 3 anak.


"Aku akan mengabulkan apapun yang kamu minta. Aku ikhlas melepasmu," ucap Varo.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2