Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 21. Bersama mantan


__ADS_3

Mila menghubungi Kakek untuk meminta izin menyewa rumah selama satu tahun. Tidak disangka Kakeknya setuju dengan permintaan Mila. Rupanya Adrian dan Kakek telah membuat kesepakatan untuk membuat Mila dan Hisam menyudahi hubungan mereka secara alami.


Selama ini, perceraian mereka masih belum juga ada yang mengurus. Baik Hisam maupun Mila sama-sama berada di dalam status yang tidak jelas. Meski secara agama mereka telah bercerai.


Kakek sengaja menempatkan Mila di perusahaan Pak Joni untuk membuat Hisam tidak meremehkan Mila lagi seperti dulu. Mila yang sekarang bukan lagi Mila yang dulu.


Kakek ingin Mila melihat orang-orang yang sudah menyakitinya menyesal.


Terkadang, emosi Mila menggebu-gebu untuk membalas setiap tetes airmatanya, tetapi terkadang hatinya rapuh saat Adrian dengan jelas mengingatkan untuk tidak perlu membalas dendam dan fokus menatap masa depan dengannya.


Melepaskan Hisam dan ibunya, menjadikan mereka orang asing untuk selama-lamanya. Mengurus surat cerai dan memulai hidup baru dengan menikahi Adrian. Tetapi ternyata tidak semudah itu, Mila masih terbelenggu dengan masa lalunya.


Sepulang kerja, Mila dan Hisam ada rencana untuk bertemu klien. Mila sudah bersiap dan berkemas untuk segera menuju alamat yang sudah di sepakati. Tiba-tiba, Hisam datang.


"Bu Mila. Maaf, mobil saya berada di bengkel, apa bisa saya ikut mobil Bu Mila?" tanya Hisam ragu.


Mila menatap Hisam tajam. "Baiklah, tapi saya mau mampir ke minimarket. Jika anda keberatan, anda bisa naik kendaraan lain."


"Tidak-tidak, saya tidak keberatan. Saya akan tunggu di depan," jawab Hisam sambil tersenyum.


Mila menarik napas berat. Bagaimana mungkin dia setuju, Hisam satu mobil dengannya?


Mila berjalan keluar menuju keluar kantornya dan Hisma sudah menunggunya. Saat melihat Mila, Hisam langsung mengikuti langkah Mila menuju ke mobilnya.


Sesampainya di mobil Mila, Hisam terdiam sejenak. Mobil Mila begitu mewah dan dia sudah bekerja di perusahaan besar. Sebenarnya Hisam ingin sekali mendengar cerita Mila hingga bisa sesukses ini setelah berpisah dengannya. Melihat kenyataan ini, Hisam cukup bahagia karena dulu dia mengira Mila menderita setelah berpisah.

__ADS_1


"Jadi ikut tidak? Waktunya sudah mepet," tanya Mila membuyarkan lamunan Hisam.


"Tentu," jawab Hisam lalu bergegas masuk ke mobil.


Mila segera memakai sabuk pengaman diikuti Hisam. Mobil Mila melaju cepat menuju tempat pertemuan di sebuah cafe. Mobil berhenti tepat di depan cafe dan Mila segera memarkirkan mobilnya.


"Bukannya tadi kamu mau mampir ke minimarket, kenapa kita langsung ke sini?" tanya Hisam sambil membuka sabuk pengaman.


"Tadi asisten Pak Bara menghubungiku untuk memajukan jam pertemuan. Maaf aku tadi lupa bilang pada Pak Hisam," jawab Mila datar.


"Oh, baiklah," ucap Hisam singkat.


Mereka bergegas masuk dan ternyata Pak Bara sudah berada di sana. Mila berbasa-basi sekedarnya untuk menghilangkan kecanggungan.


Mila dengan cekatan dan dengan bahasa yang apik, mampu bernegosiasi dengan Pak Bara sehingga kerjasama akhirnya bisa di capai. Hisam terpana melihat Mila yang dia kenal lemah dan pendiam itu, kini telah berubah menjadi wanita yang supel dan pandai berbicara memperlihatkan kemampuannya.


"Saya akan mengantar anda pulang," kata Mila sambil membuka pintu mobilnya.


"Apakah kamu tidak jadi ke minimarket?" tanya Hisam.


"Jadi. Tapi aku antar kamu dulu, takutnya kamu ditunggu di rumah," jawab Mila agak canggung dengan pertanyaan Hisam. Pertanyaan yang akan membuat orang salah paham, seolah mereka dekat.


"Siapa yang menunggu? Satu-satunya orang yang biasa menungguku, kini ditunggu orang lain. Aku ikut, sekalian ada yang mau aku beli," jawab Hisam kecewa.


Mila tidak ingin bertanya lebih banyak. Dia mempersilakan Hisam masuk ke mobilnya untuk segera berangkat menuju ke minimarket terdekat.

__ADS_1


Hanya beberapa menit, sampailah mereka ke minimarket. Mereka berbelanja seperti sepasang suami istri. Mereka sesaat lupa jika mereka bukan lagi pasangan.


Saat mereka menyadari, mereka terlihat sangat canggung. Apalagi Hisam yang beberapa saat lalu bagaikan berada di dalam mimpi. Bisa kembali bersama Mila.


Mila bergegas menghentikan belanjaannya dan segera menuju kasir diikuti Hisam. Mereka tidak lagi berbicara satu sama lain hingga sampai di rumah Hisam. Mobil Mila berhenti tepat di depan rumah Hisam. Mila menatap rumah yang pernah memberinya kenangan buruk dalam hidupnya.


"Terima kasih, sudah bersedia mengantarku pulang," ucap Hisam dengan hati bercampur aduk.


"Sama-sama," jawab Mila singkat.


Hisam bergegas melangkah masuk. Mila sesaat memperhatikan Hisam yang disambut oleh oleh seorang wanita yang sudah sangat sepuh. Dialah, Bu Siti, mantan ibu mertuanya. Kini beliau terlihat lebih tua dan tampak lemah. Berjalan pun sudah tidak bisa tegak lagi dengan sebelah kaki yang diseret ketika berjalan.


Tidak terasa airmata Mila menetes perlahan. Entah karena kasihan atau dia merasa senang, melihat orang yang dulu begitu garang dan kejam padanya, kini telah berubah lemah.


"Ibu, kenapa ibu keluar. Udara sangat dingin, Mari kita masuk. Tadi Hisam membelikan beberapa kebutuhan kita sehari-hari," ucap Hisam sambil memegang tangan ibunya.


"Hisam, kamu diantar siapa, sepertinya seorang wanita, apa kamu sudah memiliki kekasih baru?" tanya ibunya terbata-bata.


"Bukan, Ibu. Itu teman kerja Hisam. Hanya teman biasa," jawab Hisam sambil melihat ke arah mobil Mila yang mulai bergerak pergi.


Mila bergegas menghidupkan mobilnya dan melaju dijalanan yang cukup sepi.


Sepanjang perjalanan menuju ke hotel, Mila terus terbayang wajah perempuan yang sudah lanjut usia itu. Betapa kejamnya dulu dan betapa lemahnya dia sekarang. Apakah karma itu datang sebelum sempat dia balas dendam?


Ternyata balasan itu lebih cepat dari yang Mila harapkan.

__ADS_1


Sesampainya di hotel, Mila mendapatkan panggilan telepon dari Kakek, yang ternyata sudah mendapatkan rumah untuk Mila.


...****************...


__ADS_2