
Mila tidak bisa mengontrol dirinya. Airmatanya terus mengalir mengingat apa yang terjadi sepuluh tahun yang lalu. Semua kenangan pahit yang tidak ingin Mila ingat, kini bermain di pelupuk matanya.
Semua telah berakhir dengan rasa sakit yang teramat dalam bagi Mila. Sepuluh tahun akhirnya dia bisa jadi seperti sekarang ini. Mengapa semua harus seperti ini, kenapa?
"Mila, aku minta maaf. Seandainya aku membuka ini lebih awal, mungkin semua tidak akan berakhir seperti ini. Aku merasa menjadi duri diantara kalian berdua. Jika, kamu ingin kembali pada mantan suamimu, aku akan mengikhlaskan kamu. Biarlah aku dan Valeria mengalah," kata Varo yang semakin menambah sakit di hatinya.
"Aku ingin mencarinya. Apakah kamu kan mengizinkan aku?" tanya Mila di sela Isak tangisnya.
"Tentu, aku sendiri yang akan mengantarkan kamu mencarinya," jawab Varo sambil menahan sedih dihatinya.
Bagaimana mungkin, dia akan mengantarkan orang yang dia cintai mencari pria lain?
Sejak awal Varo sudah menyadari jika Mila tidak pernah mencintainya. Dia hanya berusaha menjalankan kewajibannya saja sebagai seorang istri.
Cinta yang bertepuk sebelah tangan ini, sesungguhnya juga sangat membuatnya sedih. Berharap suatu saat Mila akan bisa mencintainya.
Keesokan harinya, Mila dan Varo pergi menuju kota tempat tinggal Hisam. Setelah memastikan, ketiga anaknya, Hasan, Husein dan Galang pergi sekolah. Sementara, Valeria Mila tinggalkan di rumah mertua Mila.
__ADS_1
Perjalanan yang cukup jauh, karena sejak Mila dan Hisam bercerai, Kakek menjual rumahnya dan pindah ke kota yang lebih jauh. Mereka sengaja pindah rumah, agar Hisam tidak bisa menemukan mereka.
Selama perjalanan, Mila dan Varo tidak banyak bicara apalagi berinteraksi. Mila lebih banyak diam karena dia masih tidak tahu apa yang harus dan akan dia lakukan. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah ingin segera bertemu dengan Hisam.
Ada sesuatu yang harus Mila selesaikan karena selama ini Mila sangat membenci Hisam dan bahkan telah tanpa sengaja membuat ketiga anaknya merasa ibunya telah berubah. Terutama Galang, yang wajahnya sangat mirip dengan Hisam.
Setiap kali, Mila melihat Galang, Mila akan teringat penghianatan yang dilakukan Hisam. Karena itu Mila lebih memilih tidak melihat Galang. Dia sangat takut akan menyakiti Galang.
Galang tumbuh sangat jauh dari kasih sayang Mila, hingga dia tumbuh menjadi anak yang berjiwa pemberontak. Sekarang Mila mulai menyesali apa yang dia lakukan selama ini terhadap Galang. Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Galang menjadi lebih suka berada bersama teman-temannya sejak itu.
Mila dan Varo turun dari mobilnya. Mereka berjalan perlahan mendekati rumah Hisam. Meskipun rumah ini tampak sepi, tetapi masih terlihat cukup bersih dan terawat dengan baik.
"Sepertinya rumah ini kosong, tidka ada penghuninya," kata Varo sambil menatap keadaan rumah di depannya.
"Apa mungkin mereka pindah rumah?" gumam Mila.
"Permisi, Assalamualaikum!" teriak Varo cukup keras dari luar pagar yang setinggi perut orang dewasa.
__ADS_1
"Assalamualaikum, Mas Hisam, Ibu!" teriak Mila setelahnya.
"Apa aku perlu tanya tetangga sekitar?" tanya Varo.
"Tidak perlu. Kita pergi saja ke rumah Tina, adiknya Mas Hisam," jawab Mila putus asa.
"Baiklah," jawab Varo singkat.
Pada saat Mila dan Varo akan masuk ke mobilnya, sebuah suara mengejutkan mereka.
"Kalian cari, siapa?"
...****************...
Mampir yuk ke karya temen aku.
__ADS_1