Menantu Yang Tak Dianggap

Menantu Yang Tak Dianggap
Bab 37. Memaafkan itu indah


__ADS_3

Mila semakin menghormati Kakek dan semakin percaya pada cinta kasih Kakeknya. Kepercayaan itu sudah Kakek dapatkan dari Mila, bahwa Kakek sudah berubah. Bukan lagi Kakek yang egois seperti saat ibunya masih hidup dulu.


Mila dan Hisam memutuskan untuk kembali ke rumah dan bekerja seperti biasanya. Mereka menikmati hari-hari penuh dengan kebahagiaan yang tidak Mila dapatkan dulu. Hidup damai tanpa campur tangan ibu mertuanya yang kejam.


Siapa sangka, ibu mertuanya tiba-tiba jatuh sakit dan harus dirawat di rumah sakit karena sakit lambung. Hisam meminta izin pada Mila untuk menjaga ibunya. Mila merasa menjadi wanita yang kejam sama seperti ibu mertuanya karena membuat seorang anak jauh dari ibunya.


Mila akhirnya memberikan izin pada Hisam untuk menjaga ibunya di rumah sakit. Sementara Mila hanya sekali saja menjenguknya, itupun karena anak-anak ingin bertemu Neneknya.


Seminggu sudah berlalu dan Ibu mertuanya sudah diperbolehkan pulang. Dokter menyarankan agar Bu Siti tidak terlalu banyak pikiran agar penyakitnya tidak cepat kambuh. Karena banyak penyakit itu bersumber dari dalam diri kita sendiri. Semakin banyak pikiran dan tekanan, penyakit itu akan semakin kuat.


Hari demi hari, Mila merasakan bahwa Hisam tidak tenang saat jauh dari ibunya. Meskipun Hisam berusaha menutupi dengan tersenyum dan tertawa. Mila tidak bisa menutup mata jika Hisam ingin sekali merawat ibunya.


Mila tidak ingin menduga-duga ataupun mengira-ngira apa yang ada didalam hati dan pikiran suaminya. Mila juga tidak ingin hal yang sama akan terulang lagi dalam pernikahannya kali ini. Selama Hisam mau percaya padanya dan mau berdiri didepannya, Mila akan memberikan hatinya untuk dia.


Selama beberapa bulan ini, Hisam sudah menunjukan niat baik dengan tidak membiarkannya hidup satu rumah dengan ibunya. Hisam rela hidup dengannya dan tidak membiarkan siapapun ikut campur dalam kehidupan rumah tangganya. Hisam juga mencintai Hasan dan Husein sebesar Mila mencintai mereka.


Setelah Mila merasa yakin dengan keseriusan Hisam, Mila ingin berterus-terang tentang keberadaan Hasan dan Husein pada Hisam. Sekalipun Mila tidak tahu reaksi Hisam nantinya. Karena selama ini, Hisam hanya tahu jika Hasan dan Husein adalah anak angkat Mila.


Malam semakin larut ketika Mila mulai merebahkan diri di samping suaminya yang masih sibuk dengan ponselnya.

__ADS_1


"Mas belum tidur?" tanya Mila lembut.


"Belum. Ini lagi menanyakan keadaan ibu pada Tina. Mila, maafkan aku," kata Hisam sambil menatap Mila sedih.


"Minta maaf kenapa?" tanya Mila bingung.


"Aku masih memperhatikan ibu," jawab Hisam.


"Mas, Mila tidak pernah melarang kamu memperhatikan ibu. Aku juga tidak pernah melarang kamu peduli padanya. Aku hanya tidak ingin ibu ikut campur lagi dalam kehidupan rumah tangga kita. Terlebih menyakiti aku dan anak-anak," ucap Mila sambil menggenggam tangan Hisam.


"Mila, aku rasa ibu sudah berubah. Tapi, karena aku sudah berjanji padamu untuk tidak mementingkan ibu lagi, maka aku akan menepati janjiku. Kamu dan anak-anakku akan menjadi prioritas utama bagiku sekarang. Jadi kamu tidak perlu khawatir, aku akan memilih ibu daripada kalian," kata Hisam lalu memeluk Mila erat.


Mila merasakan sakit di hatinya saat mendengar ucapan Hisam. Sejahat apapun ibu mertuanya, ketika dia sudah mau bertaubat dan menyesali perbuatannya, maka seharusnya dia bisa memaafkan. Tetapi, Mila merasa menjadi menantu yang jahat dan sama jahatnya seperti ibu mertuanya dulu memperlakukannya.


Beberapa bulan ini, Hisam telah menjadi anak yang tidak berbakti pada ibunya demi dia. Siapa yang akan berdosa, Hisam ataukah dirinya. Pertentangan batin antara kasihan dan dendam membuat Mila pusing sendiri.


Mungkin kini saatnya melupakan dan saatnya melepaskan dendam. Seperti yang dia lakukan pada Hisam. Ibunya juga berhak mendapatkan kesempatan kedua.


"Mas, besok kita menjenguk ibu," ucap Mila pelan.

__ADS_1


"Apa, kita? Aku dan kamu?" tanya Hisam kaget.


"Iya, kita berempat. Mila pernah memiliki cita-cita menjadi seorang menantu yang baik. Disayang mertua dan dicintai suami, alangkah bahagianya hidup ini. Semoga kali ini Mila diberikan kesempatan seperti yang Mila inginkan. Mila juga ingin menjadi menantu yang berbakti karena Mila sejak kecil tidak memiliki orangtua," kata Mila sambil meneteskan air mata.


"Mila, aku sangat beruntung memiliki istri seperti kamu. Kamu bisa mengalahkan ego kamu, dendam kamu dan mau memaafkan kami. Mila, semoga hidup kita akan di berkahi oleh Allah dan segera di berikan anak-anak yang baik seperti ibunya," doa Hisam untuk Mila.


"Aamiin. Dan doamu telah dikabulkan oleh Allah, Mas Hisam," ucap Mila.


"Maksud kamu?" tanya Hisam.


"Sebenarnya, Hasan dan Husein adalah anak kandung kita," jawab Mila sambil menunduk karena dia telah berbohong pada ibu mertuanya dan Tina. "Maafkan aku, Mas Hisam. Aku telah berbohong pada ibu dan Tina."


"Benarkah, mereka ... Anakku? Bukankah, kamu keguguran?" tanya Hisam penasaran.


"Maafkan Mila, Mas. Saat itu Mila takut kalau ibu akan melakukan hal yang buruk lagi pada kandunganku. Jadi saat itu aku memohon pada Dokter demi keselamatan anakku dan untuk mengatakan pada kalian bahwa aku keguguran," jawab Mila sedih.


"Aku mengerti kesulitan dan kekhawatiran kamu saat itu. Mungkin jika aku di posisi kamu, aku juga akan melakukan hal yang sama. Terima kasih telah menjaga anak-anak kita dengan sangat baik," kata Hisam bahagia.


Mila tersenyum senang melihat reaksi Hisam yang tulus memaafkan dia. Mereka berpelukan dan saling memaafkan. Dunia terasa begitu indah, saat masing-masing bisa saling menerima kesalahan dan memaafkan. Karena mereka sadar, manusia tidak ada yang sempurna. Manusia adalah tempat salah dan dosa. Yang terpenting adalah berusaha memperbaiki diri untuk kedepannya.

__ADS_1


Saat ini, itulah yang sedang mereka coba lakukan.


...****************...


__ADS_2