
Mila kaget mendengar ucapan Varo. Dia belum mengucapkan permintaan apa-apa, tetapi Varo sudah lebih dulu menebak. Dari nada bicaranya terlihat kalau dia sangat kecewa dengan Mila.
"Mas Varo bicara apa? Mas Varo salah paham," kata Mila sedih.
"Aku ...." Varo merasa sedikit malu karena mencoba menebak sendiri keinginan Mila. Dia mengira, Mila akan minta berpisah.
"Aku hanya ingin meminta izin, agar mempertemukan Mas Hisam dengan ketiga anak kita. Karena bagaimanapun juga mereka sekarang telah menjadi anakmu," kata Mila menjelaskan.
"Maafkan aku, karena aku berpikir terlalu jauh. Tentu saja aku mengizinkan. Bagaimanapun juga, mereka adalah anak dari Hisam. Terutama Galang. Ayahnya berhak tahu keberadaannya di dunia ini," jawab Varo sedikit lega. Tetapi sesungguhnya dia belum seratus persen percaya pada kekuatan pernikahannya.
"Terima kasih, Mas Varo," ucap Mila senang.
Mila tersenyum setelah mendapatkan izin dari suaminya untuk membawa anak-anaknya bertemu Hisam.
Tina membuka pintu perlahan agar tidak membangunkan Hisam. Mila dan Varo mengikuti langkah Tina untuk lebih dekat melihat kondisi Hisam.
Mila sulit untuk melihat dengan jelas kondisi Hisam karena matanya dipenuhi genangan airmata. Hanya sesekali Isak tangisnya terdengar pelan.
Tina perlahan menyentuh yang lengan Hisam dan membangunkannya perlahan.
__ADS_1
"Bang, Bang Hisam. Bangun dan lihat siapa yang datang," ucap Tina pelan.
Hisam perlahan membuka mata dan tatap matanya terhenti pada sosok wanita yang dia cintai. Sebutir airmata menetes disudut matanya yang tampak kosong. Tetapi saat melihat Mila, sorot mata itu berubah bermakna. Ada kerinduan yang yang terpancar dari sana.
Tina memberikan isyarat pada mantan kakak iparnya itu untuk mendekat. Tanpa menunggu aba-aba, Tina melangkah keluar dari ruang rawat inap diikuti Varo. Mereka sebagai meninggalkan Hisam sana Mila Karen pasti banyak hal yang ingin mereka bicarakan.
Mila perlahan mendekati Hisam dengan langkah perlahan. Kakinya terasa berat tetapi Mila berusaha memaksanya agar bisa berjalan.
Mila duduk di kursi yang ada disamping tempat tidur Hisam. Mila semakin sedih saat Hisam mengulurkan tangannya berusaha menyentuhnya. Mila bergegas meraih tangan itu dan memegangnya lembut.
"Mila, kaukah itu? Aku tidak sedang bermimpi?" tanya Hisam pelan.
"Mas Hisam, ini Mila. Mas Hisam tidak sedang bermimpi," jawab Mila lembut.
Mila dengan erat menggenggam tangan Hisam dan tidak mau Hisam melepaskan genggamannya.
"Mas Hisam, dengarkan aku. Mas tahu apa yang membuatku kecewa dengan Mas Hisam? Karena kamu membuat keputusan tanpa melibatkan aku. Kamu tahu bagaimana aku menjalani hidup tanpa kamu. Menyimpan kebencian yang sangat dalam padamu," ucap Mila mengungkapkan isi hatinya selama sepuluh tahun ini.
"Maafkan aku, Mila," gumam Hisam merasa bersalah.
__ADS_1
"Aku selalu berpikir, apakah kamu menganggap aku ini istri yang memang tidak pantas untukmu? Bahkan setelah aku tahu kebenarannya, aku masih tetap berpikiran sama. Bahkan aku merasa, aku ini kalau aku lebih buruk. Aku minta maaf jika selama aku menjadi istrimu, aku belum bisa menjadi istri yang bisa kamu banggakan. Sehingga ketika kamu memiliki kesulitan, kamu merasa aku tidak pantas berada di sampingmu. Kamu membuangku karena kamu yakin aku wanita lemah yang tidak akan bisa menghadapi ujian hidup bersamamu," tambah Mila.
"Aku tidak pernah berpikir seperti itu. Aku sangat mencintaimu, aku ingin hidup kamu bahagia," jawab Hisam sambil meneteskan sebutir air bening yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Mas, kamu harusnya tahu. Kebahagiaan aku adalah tetap di sampingmu di saat susah maupun senang."
"Maaf, aku salah."
"Yang aku sesalkan, karena kebencianku ini, aku telah membuat seorang anak kehilangan kasih sayang seorang ibu. Karena dia sangat mirip denganmu. Aku membencinya seperti aku membencimu," kata Mila sedih.
"Kenapa kamu harus membenci Hasan dan Husein? Mereka tidak bersalah, bukankah kamu mencintai mereka jauh sebelum kita menikah lagi?" tanya Hisam sedih.
"Bukan Hasan atau Husein. Tetapi, dia Galang," jawab Mila.
"Galang, siapa dia?"
"Saat kita bercerai, aku sedang hamil."
...****************...
__ADS_1
Sambil menunggu up baca juga karya temen aku.