Mencintai Kamu Dalam Gelapnya Malam

Mencintai Kamu Dalam Gelapnya Malam
bab 10


__ADS_3

" Salsa !!


" Salsa !!" Teriak pria itu dengan emosi, rahang yang mengeras, nafas yang di naik turunkan seperti menahan emosi dan tangan yang sudah di kepalkan, menandakan orang yang berdiri di depan pintu kamar Salsa itu sedang marah.


Sedangkan Rahma dan Salsa, yang mendengar panggilan atau lebih tepatnya berteriak, segera mengalihkan pandangan mereka kearah pria itu.


Rahma dan Salsa hanya merasa aneh dengan tingkah pria yang berada di depan pintu, yang tiba-tiba saja datang dengan berteriak dan masuk tanpa permisi kedalam kamarnya.


" Kenapa lo datang terik teriak kaya orang lagi kesetanan aja." Tanya salsa heran dengan pria yang berada di hadapannya itu.


" Apa yang Lo lakuin di kamar pacar gue." Tanya pria itu sambil melangkah mendekati Salsa.


Rahma yang mendengar ucapan pria yang berada di depan pintu itu ikut merasa bingung. Memangnya Salsa melakukan apa, sampai membuat pria yang berada di depan mereka itu sampai marah tidak jelas seperti ini.


" Ada apa Putra, kenapa kamu datang langsung marah-marah, emangnya apa yang di lakukan Salsa." Tanya Rahma bingung menatap kearah Putra.


Ya, pria yang tadi datang dengan keadaan marah, tidak lain adalah Putra. Putra masuk kedalam kamar Salsa sambil berteriak-teriak, karena pria itu sedang kesal terhadap adiknya itu. Entah apa yang Salsa lakukan sampai membuat putra semerah tadi.


" Apa bunda tahu apa yang di lakukan Salsa di kamar pacar ku." Tanya Putra sambil mendudukkan tubuhnya diatas sofa, yang bersebelahan dengan tempat tidur Salsa. Sedangkan matanya terus mengarah ke Salsa.


Putra menatap Salsa dengan tatapan tajam bagaikan elang yang sedang mencari mangsanya.


" Tidak nak." Jawab Rahma sambil menggeleng kan kepalanya." Emangnya apa yang di lakukan Salsa." Tanya Rahma menatap Putra bergantian kearah Salsa.


" Emangnya Salsa tidak menceritakan apa yang dia lakukan hari ini, kepada bunda." Tanya Putra membuat Rahma hanya menggeleng kembali, karena Salsa belum ada cerita kepadanya, apa yang dia lakukan hari ini.


Flashback.


Tert.


Putra yang dari tadi fokus kearah laptopnya, karena dia sedang mengerjakan sesuatu yang penting, harus terusik karena suara dari ponselnya yang berdering.


" Siapa sih yang mengangguku di saat aku masih bekerja." Gerutu Putra kesal, dengan muka asemnya Putra mengambil ponselnya itu.


Sayang ku Lina๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜


Putra yang melihat nama sang penelepon, langsung mengubah ekspresinya yang tadi asem kini menjadi senyuman yang manis, sampai-sampai memperlihatkan deretan gigi nya yang rapi.


" Assalamualaikum sayang." Salam Putra dengan suara yang begitu lembut, dan tidak lepas dari senyumannya yang manis. Jika saja penelepon melihat ekspresi wajah Putra, mungkin dia akan merasa geli sendiri.


" Putra !!." Bukannya menjawab sang penelepon, yang tidak lain adalah Lina, pacar Putra. Malah berteriak. Terdengar dari suaranya kalau Lina sedang marah.


" Ada apa sayang, kenapa kamu berteriak-teriak, seperti itu. Apakah kamu baik-baik saja." Tanya Putra khawatir dengan keadaan kekasihnya itu


"Jangan panggil gue sayang, gue bukan istri lo." Jawab Lina dengan ketus. Terdengar dari suaranya kalau Lina masih dalam keadaan marah.


Putra yang mendengar kata Lo, gue. Tau kalau kekasihnya itu pasti sedang marah padanya.


" Ada apa sayang." Tanya putra selembut mungkin agar kekasihnya itu, tidak semakin Marah padanya. Walaupun Putra tidak tahu kesalahan apa yang dia perbuat, sampai membuat Lina marah padanya." Coba kamu cerita." Jelas Putra kembali dengan suara lembutnya.


" Udah gue bilang jangan panggil gue sayang, gue bukan istri Lo." Bentak Lina kembali, semakin membuat Putra yang mendengar bentakan dari Lina hanya bisa bingung sendiri.


Pasalnya kekasihnya tadi baik-baik saja, tapi ini entah kenapa, kekasihnya itu tiba-tiba saja berubah menjadi sangat aneh. Menelfonnya dengan cara berteriak tanpa tau apa penyebabnya.


" Mungkin lagi datang bulan kali ini cewek." Batin Putra sedang menerka-nerka.


" Coba cerita, kenapa kamu telfon dengan suara kesal begitu, Emangnya aku berbuat kesalahan sama kamu, sampai membuat mu menelfon ku dengan berteriak-teriak seperti tadi." Tanya Putra dengan kata aku, kamu.


Putra berusaha berbicara selembut mungkin agar kekasihnya Lina tidak semakin Marah padanya. Walaupun Putra juga merasa kesal dengan sang kekasihnya itu. Tapi Putra berusaha untuk menutupinya agar kekasihnya itu tidak semakin Marah padanya.


" Lebih baik sekarang kamu kerumah." Suruh Lina dengan tegas tidak lupa dengan sedikit ketus.


" Oke, baik aku ke rumah kamu sekarang." Jawab Putra mengiyakan perintah dari sang kekasih.


Putra berdiri dari duduknya, melangkah keluar dari ruangan kerjanya. Karena kekasihnya itu memintanya untuk datang kerumahnya.


Dalam pikirannya Putra merasa bingung, apa yang terjadi dengan kekasihnya itu sebenarnya. Kenapa dia menyebutkan nama Salsa, apa yang di perbuat Salsa sampai membuat Lina marah seperti tadi.


" Kalau sampai Salsa, berbuat macam-macam, bakal gue jual tuh motor kesayangannya." Gumam Putra sambil melangkah memasuki pintu lift.


.

__ADS_1


.


Tidak lama putra sampai di kediaman Lina sang kekasih hati, dengan waktu yang cepat. Karena Putra mengendarai motornya dengan kecepatan yang lumayan tinggi untuk sampai di rumah Lina.


Putra turun dari mobilnya, melangkah pergi kerumah kekasihnya itu, dan dari jarak yang dekat Putra bisa melihat kalau Lina sedang berdiri. Mungkin Lina sedang menunggunya.


" Assalamualaikum." Salam putra saat sudah berada di dekat Lina


" Waalaikumsalam." Jawab Lina ketus dengan ekspresi dingin tanpa ada senyuman sama sekali. Putra yang melihat ekspresi Lina, semakin membuat dirinya gelisah.


Lina mempersilahkan putra masuk ke dalam rumahnya.


" Apa boleh." Tanya Putra menatap Lina. Bukannya Putra tidak mau masuk rumah Lina, hanya saja Putra masih mengingat apa yang di ucapkan sang adiknya Salsa tadi. Makanya Putra menanyakan dulu kepada Lina, Apakah ia boleh masuk atau tidak. Karena Putra tidak mau nantinya akan timbul fitnah jika mereka hanya berdua di dalam satu ruangan apalagi sepasang kekasih yang bisa saja melakukan hal yang aneh.


Walaupun Putra tahu ini di negeri orang. Tapi Putra tidak mau nanti akan ada orang yang menuduhnya yang tidak benar.


Putra tidak mau kalau nanti akan ada yang ke tiga seperti yang di ucapkan salsa tadi, jika mereka hanya berdua didalam rumah.


" Masuk saja, di rumah juga ada Bu Asman ( Pembantu di rumah Lina )." Jawab Lina, karena Lina tau apa maksud dari Putra.


Putra masuk ke rumah Lina. Putra bisa melihat kalau di situ ada ibu Asman yang sedang membersihkan ruang keluarga.


" Silahkan naik keatas, dan lihat didalam kamarku, apa yang Salsa lakukan." Suruh Lina sambil menatap kearah Putra.


Lina yang menyuruh putra kerumahnya, agar Putra melihat apa yang dilakukan oleh Salsa didalam kamarnya.


Putra yang mendengar ucapan Lina,


jadi berpikiran buruk terhadap adiknya itu.


Apa yang di perbuat sang adiknya, sampai-sampai membuat Lina marah seperti tadi, dan menyuruhnya untuk naik ke lantai atas.


Apa Salsa melakukan kesalahan yang sangat Fatal, sampai membuat Lina marah. Atau Salsa melakukan hal yang buruk di kamar Lina. Semua pikiran buruk itu timbul di pikiran Putra.


" Sebenarnya apa yang di lakukan Salsa." Tanya Putra, yang ingin memastikan apa yang di lakukan oleh adik, bar-barnya itu.


" Kamu bisa melihatnya sendiri." Jawab Lina." Aku akan akan memberitahukan Bu Asman untuk menemani mu naik ke lantai atas."


Bu Asman yang mendengar panggilan dari nonanya, melangkah dengan tergesa-gesa mendekati Lina.


" Iya non Lina." Jawab Bu Asman." Apa yang bisa bibi bantu."


" Bibi, Lina minta tolong, antarkan Putra kekamar Lina." Suruh Lina sopan. Sedangkan bibi Asman hanya mengangguk mengerti, karena dia sudah tahu apa yang di maksud oleh Lina, sampai menyuruh Putra untuk pergi kekamarnya.


" Baik non Lina."


Bu Asman melihat ke arah Putra." Mari nak putra." Bu Asman mempersilahkan Putra untuk duluan melangkah naik kelantai atas. Sedangkan dirinya berada di belakang untuk mengikuti langkah Putra.


Putra melangkah menaiki satu persatu anak tangga yang di susul oleh Bu Asman. Sesampainya di depan kamar Lina, putra begitu deg-degan, karena ini pertama kalinya dia menginjak kamar kekasihnya itu.


Putra begitu sangat takut jika melihat apa yang Putra takutkan tentang adik perempuannya yang satu itu.


Tapi dengan perlahan-lahan Putra membuka pintu kamar Lina, sambil memejamkan matanya. Karena Putra tidak mau melihat hal yang paling terburuk nantinya.


Ceklek.


Putra membuka pintu perlahan-lahan, dengan mata yang masih tertutup. Dirasa pintu sudah terbuka, Putra membuka matanya secara perlahan-lahan, dan hal yang pertama Putra lihat adalah.


Kamar yang berantakan. Putra berfikir. Apakah seperti ini kamar Lina sebenarnya, jauh dari kata layak, dan rapi.


Tapi menurut Putra, Lina terkesan orang yang tidak suka dengan hal yang berbau kotor. Putra ingin menanyakan hal itu. Tapi Putra urungkan karena ia tidak mau membuat kekasihnya itu semakin marah padanya.


Putra menatap seisi kamar itu, Tapi Putra tidak menemukan sesuatu yang berhal negatif.


Putra hanya melihat kamar yang berantakan. Seperti, laci meja rias yang terbuka. Buku-buku yang berhamburan di lantai dan juga sekotak perhiasan yang ikut berada di lantai. Kalau bisa dibilang kamar Lina seperti habis terkena perampokan.


" Apa kamu sudah melihat apa yang di lakukan Salsa." Tanya Lina yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakang Putra. Sedangkan Putra begitu sangat terkejut saat melihat kehadiran Lina yang tiba-tiba saja muncul di belakangnya.


" Kapan kamu kesini."


" Baru aja." Jawab Lina." Apa kamu sudah melihat apa yang di lakukan Salsa." Tanya Lina lagi.

__ADS_1


" Tapi aku tidak melihat Salsa di sini." Jawab putra yang memang belum mengerti apa-apa.


" Kenapa kamu mencari Salsa." Tanya Lina bingung.


" Bukannya katamu, Salsa berada di kamar ini." Jawab Putra dengan wajah polosnya.


Lina yang mendengar jawaban putra memukul pelan jidatnya. Lina tau apa yang sedang di pikirkan oleh putra.


Pasti tadi Putra berpikiran negatif terhadap Salsa." Putra pikiran mu terlalu jauh." Ucap Lina geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol dari Putra." Putra, yang aku maksud itu bukan yang berbau negatif, Tapi.. " Ucapan Lina sengaja menggantung, agar Putra semakin penasaran.


" Tapi kenapa."


" Apa kamu lihat. ( Sambil menunjuk kamarnya yang berantakan )." Tanya Lina, sedangkan Putra hanya mengangguk." Inilah kesalahan yang di lakukan Salsa."


Putra hanya membulatkan matanya, karena tidak percaya dengan jawaban sang kekasihnya itu.


" Jadi ini kesalahan yang di lakukan Salsa." Tanya Putra tidak percaya, sambil menunjuk benda-benda yang berhamburan didalam kamar Lina.


" Iya." Jawab Lina singkat sambil tersenyum.


" Astaghfirullah." Putra memukul jidatnya sendiri. Sudah berpikir yang tidak-tidak terhadap adiknya Salsa. Ternyata saat dia melihat yang sebenarnya, jauh lebih dari kata yang berada di pikirkan nya.


" Apa yang di lakukan Salsa di kamar mu sampai-sampai berantakan seperti ini." Tanya Putra penasaran sambil menatap Lina.


" Kamu bisa menanyakan itu langsung kepada Salsa."


Flashback


" Oh." Rahma hanya ber 'oh' mendengar cerita Putra, Sedangkan Salsa hanya tersenyum menyeringai.


" Apa yang kamu lakukan di kamar Lina." Tanya Putra menatap Salsa.


" Gue hanya mencari kalung ke sayangan gue saja." Jawab Salsa jujur.


" Dan menghamburkan kamar orang."


" Yap, gue kira kalung itu ada di kamar Lina. Tapi ternyata tidak ada." Jawab Salsa begitu sangat santai.


" Tapi kenapa harus di kamar pacar gue juga."


" Aku kira kan di situ soalnya. Tadi pagi gue masuk langsung terus di kamar Lina, yang mungkin kalung itu jatuh di sana."


" Tapi mana mungkin juga di kamar pacar gue. Bisa saja kalung itu jatuh di tempat lain."


" Nggaklah Put, orang gue udah cari ke tempat lain, tapi kalungku ngga ketemu m."


" Sepertinya di cafe." Tanya Putra memastikan.


" Iya, Put. Gue sudah cari semuanya, kalau lo tidak percaya Lo bisa melihat sendiri seperti apa berhamburan nya ruangan kerja gue, kalau Lo engga percaya." Jawab Salsa


" Jadi tempat ruang kerja lo, yang berada di cafe Lo hambur juga." Tanya Putra memastikan.


" Iya "


Kedua orang yang berada di hadapan mereka hanya menepuk jidat mereka sendiri. Ngga kebayang seperti apa berantakannya cafe itu, saat Salsa menghamburkannya. Pasti tukang bersih-bersih yang berada di cafe itu akan marah seperti Lina tadi.


Belum selesai perbincangan mereka, terdengar suara kembali dari arah lantai bawah.


" Salsa !!" Teriak pria dari lantai bawah, yang masih bisa mereka dengar oleh Salsa, Rahma dan juga Putra


" Salsa." Setelah suara tadi, kini kembali lagi suara teriakan lain, yaitu suara seorang wanita yang memang berasal dari lantai bawah.


" Kaka Salsa." Terik bocah kecil dengan suara cendel nya yang sudah berada di depan pintu kamar Salsa.


" Pasti mereka korban dari Salsa. Karena Salsa telah merusak kamar mereka." Ucap putra dan Rahma secara bersamaan sambil menatap kearah Salsa.


Sedangkan Salsa, yang mendapatkan tatapan dari kedua orang didalam kamarnya hanya tersenyum sambil memperlihatkan deretan giginya yang rapi.


...----------------...


Mungkin author akan jarang up karena pekerjaan author yang sekarang

__ADS_1


Makasih buat teman teman yang udah mau baca karya author yang mungkin masih amburadul.


__ADS_2