Mencintai Kamu Dalam Gelapnya Malam

Mencintai Kamu Dalam Gelapnya Malam
bab 9


__ADS_3

Sedikit terkendala tadi. Karena ulah kedua sekertaris Farel.


Farel bingung dengan dengan kelakuan kedua sekertaris nya itu, yang tidak berhenti berdebat bagaikan kucing dan tikus. Untung Saja mereka tidak bermain kejar-kejaran seperti kartu, yang berada di tv.


" Kita lanjutkan". Ucap Firman yang memasang muka seriusnya.


Sedangkan Denis meminum jus dan menimbulkan suara seperti.


sssstttt


Keduanya langsung menatap kearah Denis, yang memasang wajah biasa saja." Denis." Pekik Farel dan Firman bersamaan, karena mereka sedang menahan kekesalan mereka.


Sedangkan sang pelaku, hanya memasang wajah polos tanpa dosa.


Farel menatap Denis dengan tatapan membunuh, tatapan yang siap menerkam mangsanya." Jika Lo ingin mengganggu silahkan keluar."


Denis menatap kearah Keduanya, secerah bergantian." Gue ngga ganggu, gue hanya menikmati jus yang terbilang nikmat." Jawab Denis santai, yang semakin membuat Farel maupun Firman semakin kesal karena tingkah Denis, yang usil.


Firman maupun Farel, berusaha untuk menahan kekesalan mereka, mengingat ini di tempat orang-orang banyak." Biarkan saja Rel, Anggap saja dia hanya debu yang di hamparan pasir." Sambung Firman dengan cibiran nya.


" Betul yang Lo bilang Firman, Anggap saja dia debu di bagian pasir." Jawab Farel. Sedangkan Denis masa bodoh, dari pada kembali berdebat dan mungkin urusan Farel akan terlupakan.


" Apakah kita bisa lanjutkan Rel." Firman dan Farel mengabaikan tingkah Denis, dan mencoba untuk berbicara dengan serius.


" Gue mau Lo cari tau siapa pemilik kalung ini Fir, dan wanita semalam yang membatu gue " Ucap Farel sambil memperlihatkan kalung yang di temui nya kemarin malam.


" Gue akan mencari tau siapa pemilik kalung itu, tapi gue mau tanya sama Lo, kenapa Lo mau repot-repot buat cari wanita semalam dan kalung ini." Jujur Firman begitu sangat penasaran dengan sahabatnya itu.


" Gue, hanya ingin tau siapa dia." Jawab Farel tidak memberitahukan alasan sebenarnya.


" Kalau masalah itu gue ngga percaya, Kalau lo hanya ingin tau siapa wanita itu. Pasti lo punya alasan tertentu." Selidik Firman yang tidak percaya dengan jawaban yang Farel berikan.


" Dia memang punya alasan tertentu. Makanya lo di suruh untuk mencari wanita itu dan kalung yang Farel pegang." Bukan Farel yang menjawab, melainkan Denis.


" Yang suruh Lo nyambung siapa." Tegur Farel kesal karena Denis ingin mengatakan tujuannya yang sebenarnya.


" Gue hanya meluruskan apa tujuan lo Rel, dari pada lo buat teka teki yang membuat gue pusing." Jawab Denis sambil mengunyah makanannya.


" Yang Denis ucapkan ada betul nya Rel." Sambung Firman membenarkan ucapan Denis, walaupun dia sendiri merasa Kesal.


" Sebenarnya apa sih tujuan Lo." Tanya Firman kembali sambil menatap Farel lekat lekat.


" Gue udah bilang gue hanya ingin tau siapa wanita itu." Jawab Farel tegas masih tidak ingin memberitahukan alasannya.


" Yakin cuman itu tujuan utama Lo." Tanya Firman penuh selidik sambil menatap Farel curiga.


" Iya."

__ADS_1


" Kalau lo sudah tau siapa wanita itu, Lo mau apain wanita itu."


" Gue akan berterima kasih kepadanya." Jawab Farel, tapi lain dengan di hatinya." Jika dia benar-benar Khalifa, maka aku akan menikahinya." Batin Farel sambil tersenyum.


" Jadi cuman itu tujuan utama lo." Tanya Firman tidak percaya dengan jawaban dari Farel yang menurutnya sangat aneh.


" Hmmm."


" Tapi gue ngga percaya sama ucapan lo Rel. Hanya karena lo mau berterimakasih ke wanita itu, lo sampai mau repot-repot mencari tau tentang wanita itu." Batin Firman penuh dengan pertanyaan dalam hatinya.


Karena mereka asik berbincang, mereka tidak menyadari kalau. Pesanan Firman dan Farel sudah datang dan di sajikan di atas meja, sedangkan Denis sudah selesai dengan makanannya.


Karena makanan sudah di hidangkan Farel dan Firman menyelesaikan pertemuan mereka. Dan menikmati makan siang mereka dengan diam.


.........


Sedangkan di sisi lain yaitu tempat Salsa berada.


Wanita yang baru saja menyelesaikan sholatnya melangkah pergi kearah kamar yang dari tadi ribut oleh benda yang jatuh.


Wanita itu melangkah masuk ke dalam kamar, yang dari tadi membuat keributan. Dan betapa terkejutnya wanita itu saat melihat Kamar yang sudah seperti gudang tidak terurus." Astaghfirullahaladzim." Wanita itu beristigfar, saat masuk ke dalam kamar itu dan melihat apa yang terjadi di hadapannya itu." Salsa kenapa dengan kamarmu nak." Tanya Wanita itu terkejut melihat kamar Salsa yang berantakan.


Rahma begitu terkejut saat melihat kamar di hadapannya sekarang, Rahma melihat kamar Salsa yang bagaikan kapal pecah, atau gudang yang tidak terurus.


Bantal, Selimut Dan Sprei, yang berhamburan di lantai. Sedangkan vas bunga pecah.


Sedangkan lemari yang tadi penuh dengan baju-baju mahal, kini ikutan kosong dan ikutan terhambur seperti barang barang yang lain, padahal baju Salsa yang berkisaran sampai berjuta-juta, dan miliaran, di hambur begitu saja.


Entah apa yang terjadi dengan Salsa sampai kamar yang biasanya bersi dan rapi, kini hancur bagaikan kapal pecah atau gudang yang tidak terurus.


Sedangkan Salsa terus mengacak ngajak kamarnya sampai tidak menyadari kalau Rahma sudah berada di dalam kamarnya. Salsa terus melakukan aktivitasnya, mengacak laci, yang berada dekat dengan meja rias. Entah apa yang sedang dia cari sekarang.


Rahma yang melihat, kamar Salsa yang berantakan, membuat kepalanya langsung terasa pusing sendiri.


" Salsa." Tegur Rahma yang sudah pusing melihat Salsa yang dari tadi sibuk sendiri sampai mengabaikan nya, padahal biasanya setiap kali Rahma memanggil Salsa, Pasti Salsa akan menyahut. Tapi tidak tau dengan hari ini Salsa menjadi aneh saat dia baru pulang dari kafe.


Salsa yang mendengar panggilan dari Rahma, memutar kepalanya, menoleh kearah belakang." Bunda apa bunda melihat kalung salsa." Bukannya menjawab panggilan Rahma Salsa malah balik bertanya.


Rahma yang mendengar pertanyaan dari Salsa mengerutkan keningnya bingung." kalung yang mana Salsa?" Tanya Rahma bingung.


" Kalung yang biasa Salsa pakai bunda." Jawab Salsa yang kembali mengacak meja rias itu.


" Bukanya kalung Salsa ada banyak ya." Tanya Rahma, Yang mengingat kalau kalung yang dimiliki oleh Salsa bukan hanya satu melainkan ada banyak.


" Iyaa bunda, kalung Salsa memang ada banyak, tapi yang ini beda." Jawab Salsa kembali menoleh kearah Rahma dan menghentikan aktivitas mengacak lac itu.


" Berbeda bagaimana."

__ADS_1


" Kalung itu pemberian dari teman kecil Salsa bunda. Kalung itu mempunyai mata kalung berbentuk S dan dihiasi berlian kecil yang menghiasi kalung itu membentuk huruf F." Jawab Salsa. Sedangkan Rahma hanya mengangguk mengerti, karena Rahma sering melihat kalung itu terpasang rapi di leher Salsa, tapi tidak dengan hari ini.


" Apa bunda melihatnya." Tanya Salsa kembali


Bunda Rahma menggeleng." bunda tidak melihatnya Salsa." Jawab Rahma, sedangkan Salsa menundukkan dirinya di atas kasur dengan lesu, dari tadi dia mengacak-ngacak kamarnya, tapi kalung itu masih belum di temukan.


Rahma yang melihat Wajah sedih Salsa menjadi kasian." Biar bunda bantu cari ya." ucap Rahma menawarkan dirinya untuk membantu Salsa, karena Rahma merasa kasian dengan Salsa, yang cukup acak-acakan dengan penampilannya sekarang, hanya karena mencari sebuah kalung.


" Iya bunda." Jawab Salsa.


Rahma keluar dari kamarnya terlebih dahulu untuk mengganti mukenanya. Karena tadi saat dia masuk di dalam kamar Salsa, Rahma baru saja menyelesaikan solat dzuhur.


Karena mendengar suara benda jatuh atau vas bunga, yang membuat Rahma pergi ke kamar Salsa untuk memastikan keributan apa lagi yang di buat Salsa.


" Biasanya setelah Salsa lepas kalungnya Salsa taruh di mana." Tanya Rahma yang sudah masuk ke dalam kamar Salsa kembali.


" Salsa ngga pernah lepas kalung itu bunda. Tapi kalau Salsa, lepas pasti salsa akan simpan di kotak kecil ini. ( Salsa memperlihatkan kota kecil, kepada Rahma ). Salsa ngga pernah sipan sembarangan kalung itu, karena kalung itu adalah kalung spesial buat Salsa." Cerita Salsa, dengan wajah yang di tekuk.


" Kenapa sepesial buat salsa?," Tanya Rahma yang penasaran soal kalung itu, yang menurut Salsa cari itu.


" Karena itu pemberian dari teman Salsa bunda." Jawab Salsa." Apa bunda tau?. Dia mendesain khusus kalung itu untuk Salsa, sebelum dia pergi ke jerman, untuk melanjutkan sekolahnya di sana, karena kedua orang tuanya juga pindah ke jerman, untuk mengurus perusahaan mereka di sana." Cerita Salsa. Rahma hanya mengangguk kecil mendengar cerita dari Salsa.


" Bagaimana kalau kita cari kalung itu, Sambil membereskan barang-barang yang Salsa tadi terhambur. Mungkin setelah membersihkan kamar Salsa, kalung itu bisa ketemu." Ajak Rahma, yang mendapat anggukan dari Salsa.


Salsa dan Rahma mulai mencari kalung itu atau bisa di bilang sih membereskan kamar Salsa yang tadi seperti kapal pecah.


" Alhamdulillah selesai juga." Ucap Salsa yang langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur, Sedangkan Rahma duduk di pinggiran kasus.


Salsa melihat kearah Rahma yang duduk di pinggiran kasur." Bunda, kita sudah mencari kalung itu tapi kalungnya belum ketemu." Lirih Salsa dengan sedih. Rahma yang melihat Salsa, yang sedih karena kehilangan kalung kesayangannya ikut merasakan kesedihan Salsa. Rahma membelai lembut rambut panjang Salsa.


" Sudah Salsa ngga usah sedih, nanti kita cari lagi kalungnya." Ucap Rahma mencoba untuk menghibur anak keduanya itu.


" Tapi bunda, kalung itu, kalung yang paling berharga buat Salsa." Ucap Salsa sedih. Salsa mengambil tangan Rahma yang sedang mengusap lembut kepalanya lalu mencium tangan Rahma dengan lembut.


Tangan yang selama tiga tahun ini menyayanginya seperti anaknya sendiri. Walaupun Rahma hanya ibu sambung untuk nya. Tapi Rahma begitu sangat menyayangi Salsa dan juga kedua saudaranya seperti anaknya sendiri.


" Udah, ngga usah sedih kaya gitu, " ucap Rahma menenangkan Salsa. " Istirahat sebentar baru kita cari lagi." Bujuk Rahma.


" Iya bunda." Jawab Salsa.


Saat sedang asyik menikmati kebersamaan antara ibu dan anak. Dari luar kamar Salsa dan Rahma bisa mendengar kalau di luar nama Salsa sedang di panggil begitu kerasnya. Bisa di rasakan kalau orang itu sedang marah besar


" Salsa!!


" Salsa!!" Teriak pria itu dengan emosi, mata yang merah, rahang yang mengeras, napas yang di naik turunkan seperti menahan emosi dan tangan yang di kepalkan, menandakan kalau orang, yang berdiri di depan pintu kamar itu sedang marah.


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2