
Cahaya lampu kembali menyala, menerangi malam yang kembali gelap. Tidak terasa langit yang tadi terang kini berubah menjadi gelap, Tapi masih ada setitik cahaya dari bintang-bintang yang bertaburan di langit.
Jam tujuh malam, kedua gadis yang memiliki aktivitas mereka masing-masing, kini telah pulang kerumah, dengan keadaan yang sangat melelahkan.
Bahkan saat kedua mobil yang berbeda itu, berhenti di garasi yang sama, tapi mereka tidak saling menyampa sama sekali. Kedua gadis itu hanya jalan saling beriringan, tanpa ada yang membuka pembicaraan sama sekali. Terlihat jelas dari wajah keduanya, yang terlihat kelelahan, karena hari ini mereka terlalu banyak menguras energi dan juga pikiran.
Bunda Rahma, papi Burham dan juga sih kecil Azam yang sedang duduk di ruangan keluarga. Dibikin bingung oleh kedua gadis itu. Karena saat keduanya datang, mereka hanya diam tanpa mengucapkan apapun, dan mereka langsung duduk di sofa yang sama, Kebetulan juga sofa yang keduanya duduki adalah sofa panjang.
Nabilah maupun Salsa, sama-sama menyadarkan tubuh mereka di sandaran sofa, lalu mata itu terpejam.
" Nabilah, Salsa, you guys are fine?" Tanya papi Burham dan juga bunda Rahma sambil menatap keduanya secara bergantian. Papi Burham maupun bunda Rahma dibuat bingung dengan wajah kelelahan kedua gadis itu. Apakah mereka baru saja melakukan kegiatan yang membuat keduanya terlihat kusut seperti itu? Tapi, biasanya mereka melakukan aktivitas yang sama dan tidak terlihat kusut seperti malam ini. Apakah kegiatan hari ini jauh lebih banyak?
Salsa maupun Nabilah sama-sama membuka matanya, lalu memperbaiki duduknya, Agar mereka bisa menatap kedua orang tuanya.
" Tubuhku baik-baik saja Pi, Bun. Tapi pikiran ku, yang sedang tidak baik-baik saja." Jawab Salsa dengan wajah cemberutnya." Pokoknya, hari ini adalah hari paling sial untukku."
" Otakku seperti harus di paksa berpikir, dan berkeja, Pi, Bun. Rasanya hari ini sangatlah melelahkan dari hari hari biasanya." Sambung Nabilah." Sungguh, aku ingin tidur sekarang."
" Apakah ada masalah dengan klien mu, Sal? Sampai kamu terlihat kusut seperti itu?" Tanya bunda Rahma. Bunda Rahma masih mengingat perkataan Nabila, yang mengatakan kalau Salsa sudah keluar untuk pergi bertemu dengan kliennya tadi siang. Bunda Rahma berpikir, kalau putrinya itu pasti baru saja mendapatkan masalah dari kliennya, makanya Salsa terlihat kacau seperti sekarang.
" Nabilah, bukannya tadi sore, Nabilah ijin nya mau ketemu sama murid Nabilah yang baru? Apakah ada yang salah dengan murid mu Bil?" Tanya bunda Rahma beralih menatap kearah Nabilah. Bunda Rahma juga masih mengingat wajah bahagia Nabilah, sebelum berangkat tadi sore. Nabilah juga mengatakan kalau dia akan pergi bertemu dengan murid barunya hari ini, makanya bunda Rahma berpikir seperti itu.
" Tebakan bunda kenapa selalu benar sih." Ucap kedua gadis itu secara bersamaan.
" Bunda, aku sangat tidak suka dengan klien ku kali ini." Dengan nada yang merengek, Salsa mendekati bunda Sisi, lalu duduk di atas pengangan sofa bagian samping. Tidak lupa tubuh itu memeluk bahu itu, dengan wajah yang bersembunyi bahu bunda Rahma. Sedangkan Nabilah, dia hanya memperhatikan tingkah manja adiknya itu.
Papi Burham, dan Nabilah hanya bisa menggeleng kecil, saat melihat tingkah manja Salsa yang terlihat seperti anak kecil. Mereka tidak heran kalau Salsa terlihat manja saat bersama dengan bunda Sisi, karena gadis itu memang seperti itu. Bahkan papi Burham dan Nabilah merasa lucu dengan tingkah Salsa.
Bagaimana dengan sih kecil Azam yang melihat tingkah kakak perempuannya itu, hanya bisa terkekeh sambil menutupi mulutnya mengunakan kedua tangan kecilnya. Karena bunda Sisi memberikan isyarat kalau anak laki-laki itu tidak boleh membesarkan suara kalau ingin tertawa.
Seperti paham, Azam melakukan permintaan bundanya, dan lihatlah sekarang Azam melakukannya. Memang benar-benar anak yang pintar.
" Emangnya, apa yang sudah terjadi, hmm? coba cerita sama bunda." Tanya bunda Sisi mengusap-usap lengan Salsa dengan lembut.
" Bunda, klienku telah menjebakku untuk menjadi asistennya, tanpa sepengetahuan ku." Rengek Salsa yang kembali mengingat kejadian tadi siang.
" Katakan apa yang anda inginkan tuan Farel, Agar anda tidak melaporkan saya?"
" Jadilah asisten saya nona, selama setahun, maka saya tidak akan melaporkan anda dipihak berwajib."
" What menjadi asisten anda? Tidak-tidak, saya tidak mau! Untuk apa saya menjadi asisten anda tuan Farel? Maaf saya tidak setuju!" Pekik Salsa yang tidak setuju dengan permintaan kliennya itu. Ia datang untuk membahas soal kerjasama mereka, bukan menjadi asisten pria didepannya. Tapi kenapa pria itu malah memintanya untuk menjadi asistennya? Sungguh pria yang aneh.
__ADS_1
" Jika anda menerima penawaran saya nona Salsa, maka anda akan selamat dari hukum, dan Saya juga berjanji, Saya akan melupakan kejadian waktu itu, dengan cara meminum obat yang pernah anda berikan waktu itu kepada saya."
" Tapi saya tidak mau tuan Farel!." Tolak Salsa dengan tegas menatap pria didepannya dengan berani.
Pria didepannya bukannya takut, dia malah tersenyum miring, membuat Salsa dibuat bingung." Kenapa anda tersenyum tuan?"
" Baiklah jika anda tidak ingin menjadi asisten saya nona, saya tidak akan memaksa anda. Tapi bagaimana kalau anda sendiri yang menerima tawaran ini tanpa paksaan?" Salsa mengerutkan keningnya bingung saat mendengar pertanyaan Farel." Coba anda perhatikan beberapa surat itu nona, lalu bacalah, maka anda akan mengerti."
Salsa mulai mencari surat yang dimaksud oleh Farel, sampai dia menemukan satu surat yang bertuliskan tentang pendaftaran diri menjadi asisten Farel Ardian Pratama. Bukan itu saja, ternyata Salsa juga sudah menandatangani surat itu.
" Maksudnya, apa ini tuan Farel?!" Geram Salsa menatap Farel dengan marah.
" Disitu tertera, kalau anda bersedia untuk menjadi asisten saya selama satu tahun, nona Salsa." Jawab Farel santai, membuat Salsa semakin naik pitam. Ternyata pria didepannya sudah berani menipunya.
Baaakkk
" Brengsek, berani sekali anda menipu saya!" Ucap Salsa kembali memukul meja itu dengan sangat kuat." Kenapa anda melakukan ini? Apakah anda tidak ada kerjaan lain?"
" Saya memiliki banyak kerjaan nona Salsa, hanya saja anda sendiri yang tidak terlalu teliti membaca berkas itu dengan baik-baik. Maka jangan salahkan saya jika terjadi seperti ini."
" Keterlaluan. Pokoknya, saya tidak mau menjadi asisten anda!"
Salsa mulai membaca surat keterangan lamaran kerja itu, dan matanya harus melotot dengan besar, saat membaca isi surat itu, yang berisi tentang kerja sama mereka, dan disini Salsa akan tetap diuntungkan.
" Anda gila tuan, masa jaminannya adalah kebahagiaan keluarga saya. Benar-benar pria gila, pria sinting, pria kurang waras." Maki Salsa.
" Jadi bagaimana, apakah kamu menerimanya?" Tanya bunda Rahma dan papi Burham dengan bersamaan.
" Iya Pi, Bun, Terpaksa. Dari pada, semua yang aku lakukan di laporkan ke pihak kepolisian." Jawab Salsa yang terlihat lesu.
" Hahah, kamu terlihat lucu saat seperti sekarang Sal. Padahal kamu terkenal hebat di tim mu, tapi pecundang saat bertemu dengan klien mu itu. Ternyata ada juga yang bisa mengalahkan mu." Sambung Nabilah sambil tertawa kecil.
" Diam Lo, kalau nggak tau apa-apa." Ucap Salsa menatap Nabilah dengan garang.
" Cieee, yang berhasil dikalahkan." Ledek Nabilah, membuat wajah Salsa semakin memerah, karena menahan kekesalan.
" Sudah-sudah, ngga usah berdebat." Cegah papi Burham, sebelum terjadi ledakan yang lebih besar lagi. Karena ulah keduanya." Nabilah, bagaimana denganmu? Bukannya kamu juga merasa lelah hari ini, karena ulah murid mu? Apakah kamu tidak ingin bercerita?"
" Aku tidak jadi bercerita Pi, soalnya rasa lelah, dan pusing ku sudah hilang berkat cerita dari Salsa." Jawab Nabilah." Karena rasa cepek ku udah hilang, aku duluan naik keatas, Soalnya mau istirahat. Untuk kamu Sal, semangat karena kamu akan berkerja menjadi asisten nya orang besok." Ucap Nabilah menjulurkan lidahnya, mengejek adiknya itu.
" Memang kakak kuknut kamu Nabilah." Pekik Salsa kesal, saat Nabilah yang melangkah cepat meninggalkan nya.
__ADS_1
" Hihihi, kak, Taca telnata cenen ya." Ucap Azam sambil terkekeh kecil.
" Bunddaa, lihat Azam." Rengek Salsa seperti anak kecil, yang baru saja di ganggu oleh temannya. Sedangkan papi Burham, dan bunda Rahma hanya bisa tertawa, melihat tingkah lucu Salsa.
🌼🌼🌼🌼🌼
Disisi lain.
Seorang pria baru saja keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang menutupi sebagian tubuhnya. Lihat wajah tampannya yang kini terlihat segar, dari sebelumnya. Bahkan senyumannya juga terlihat sangat manis malam ini.
" It turns out you look very handsome Farel. Look, how you won the little girl's heart." Gumam Farel sambil tersenyum menatap cermin besar didepannya." Baiklah, kita lupakan dia. Karena ada hal lain yang harus aku kerjakan." Farel mengambil kemeja berwarna putih, celana terbuat dari kain yang lembut, serta jas kerja yang memiliki harga yang fantastis.
" Looks really cool." Puji Farel pada dirinya sendiri, saat melihat pantulan dirinya dari dalam cermin, yang terlihat sangat tampan.
Farel menyisir rambutnya dengan tapi, lalu memasangkan jam tangan di tangan kirinya.
" Let's fight." Merasa penampilan sudah cukup, Farel melangkah keluar dari kamarnya.
" Rapi benar, mau kemana Lo?" Tanya Denis, saat dia melihat Farel yang masuk kedalam lift, dengan penampilan yang sudah rapi." Rel, kenapa malah diam? orang ditanyain di jawab." Omel Denis saat melihat Farel hanya diam, dengan gaya sok cool nya.
" Memang susah kalau ngomong sama kulkas." Gumam Denis, tapi masih bisa didengar oleh Farel, dan Farel yang mendengar ucapan sekertaris serta adik angkatnya itu, menatap Denis dengan tajam.
" Coba ulangi?!" Denis meneguk Saliva, saat mendengar suara Farel.
" Hehe, ngga ada apa-apa Rel." Jawab Denis dengan gelagapan, sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
tigg
Pintu lift terbuka, membuat kedua keluar secara bersamaan." Rel, gue ikut Lo ya." Farel menatap Denis dengan tatapan bingung saat mendengar ucapan Denis, yang tumben-tumben nya dia mau ikut." Gue malas sendirian di rumah, soalnya mommy sama Deddy sedang keluar kota selama seminggu. Jadi boleh ya gue ikut."
" Dasar penakut."
" Gue nggak takut. Cuman gue mau ikut aja. Boleh ya."
" Terserah." Ucap Farel, melangkah meninggalkan Denis.
" Yey, gue boleh ikut." Dengan hati yang senang, karena dibolehkan ikut. Denis melangkah mengikuti langkah Farel dengan bahagia.
" Untung saja Farel memperbolehkan ku pergi, kalau ngga. Mungkin gue udah bertemu dengan oneh ( Orang aneh )
...----------------...
__ADS_1