
Farel melangkah mendekati rak buku yang cukup besar, sangking besarnya rak buku itu hampir menutupi setengah dari dinding ruangan kerjanya itu, yang terbilang lumayan besar. Dua kali lipat besarnya dari kamar yang di tempati oleh pembantunya.
Farel mendekati rak Buku itu. Terlihat jelas kalau ruangan kerja itu di penuhi oleh buku dan berkas.
Farel mendekati sebuah buku putih, yang tertulis sebuah nama khalifah.
Nama yang selalu dia rindukan dan selalu dia cari, bahkan dia selalu sebutkan dalam doa-doanya.
Farel mengambil buku itu yang terlihat kosong, Jika di membuka setiap lembarannya
tapi ada satu lembar buku yang menunjukkan kalau buku itu tidak kosong semuanya.
Karena di lembaran buku itu terdapat sebuah foto, yang memperlihatkan dua orang anak, yang sedang tersenyum. Foto itu memperlihatkan dua orang anak berbeda usia, yang sedang tersenyum senang.
Gadis kecil dengan rambut dikepang dua, sambil tersenyum manis memperhatikan dua gigi yang ompong diatasnya, yang membuat gadis kecil itu terlihat lucu dan menggemaskan.
Sedangkan anak laki-laki yang mungkin berusia tiga belas tahun, sedang merangkul pundak gadis itu dengan sayang. Bukan itu saja, mata anak laki-laki berusia tiga belas tahun itu terlihat menatap gadis kecil disampingnya, senyumannya juga tidak kalah manisnya dari gadis kecil yang berada di foto tersebut.
Jika di bilang mereka seperti pasangan yang serasi, jika mereka dewasa nanti.
Farel yang melihat foto itu hanya tersenyum, karena dia mengingat kapan foto itu diambil. Foto itu diambil saat dia akan pergi keluar negeri bersama dengan kedua orang tuanya dan mungkin itu adalah pertemuan terakhirnya dengan gadis kecil itu.
Lama memandang foto itu, Farel kembali mengingat tujuan sebelumnya, Tujuan yang sempat ia lupakan tadi, karena terlalu terbang ke masalalu.
Farel kembali menutup buku itu, setelah puas menatap foto masa kecilnya bersama dengan gadis kecil yang begitu dia sayangi.
Setelah menyimpan buku putih bertulis Khalifa. Farel melangkah mendekati sebuah lukisan yang terlihat cantik, yang terpajang rapi di ruangan kerjanya. Lukisan gadis kecil yang sedang tersenyum sambil menatap seekor anak kucing. Yang membuat lukisan itu terlihat sangat manis.
Mungkin seperti itu ya.
Farel menatap sebentar lukisan itu, lalu mendekatkan tangannya untuk menggeser sedikit lukisan itu.
Saat lukisan itu bergeser, terlihat sebuah tombol, yang bisa mengantarkan Farel kesebuah ruangan rahasia.
Farel menekan tombol itu, yang membuat rak buku tadi seperti tergeser dari tempatnya. Saat rak buku itu tergeser, terlihat kalau ada sebuah pintu disana, yang tadi tidak terlihat karena di halangi oleh rak buku yang cukup besar. Farel melangkah mendekati pintu yang sudah terbuka, Lalu masuk kedalamnya.
Saat Farel masuk, Pitu itu tertutup dengan sendirinya, karena pintu itu adalah pintu otomatis yang bisa tertutup dan terbuka dengan sendirinya, jika kita menekan sebuah tombol yang Farel tekan tadi.
Farel terus melangkah menyusuri ruangan itu yang sedikit gelap, karena setiap lorong itu hanya ada sebuah pencahayaan sedikit.
__ADS_1
Farel sedikit berjalan, sampailah dia disebuah ruangan yang begitu sangat gelap seperti goa yang tidak berpenghuni.
Farel menekan sebuah sakral lapu yang berada di sebelahnya, membuat ruangan yang tadi gelap, kini terang bagaikan siang, Setelah lampu yang berada di ruangan itu menyalah.
Ternyata ruangan itu terlihat begitu besar saat lampu itu menyalah. Karena setiap sudut dari ruangan itu, memiliki benda seperti senjata api, pedang, pisau, panahan dan masih banyak lagi benda-benda berbahaya lainnya, yang tertata rapi diruang itu.
Ruangan itu bukan saja memiliki benda berbahaya, melainkan sebuah benda elektronik, yang memiliki fungsi berbeda-beda.
Ruangan itu juga memiliki dua mobil yang, yang berharga fantastis. Jika kita mendengar harganya mungkin kita akan diam seribu bahasa, karena bingung dengan jumlah nol yang harus dihitung.
Bukan saja mobil, tapi motor juga turut hadir dalam hitungan itu.
Motor yang begitu sangat mahal, tidak kalah mahalnya dengan mobilnya tadi.
Setelah selesai melihat semua barang-barang yang di sembunyikan di ruangan itu. Farel melangkah mengambil sebuah senjata api yang akan di pergunakan nanti. Farel bukan saja mengambil satu, melainkan lima senjata api yang memiliki nama yang berbeda-beda.
Setelah mengambil senjata api yang berbeda-beda. Farel mendekati mobilnya, lalu memasukkan semua senjata api itu kedalam mobil. Di rasa tidak ada lagi yang tertinggal, Farel masuk ke dalam mobilnya, yang memiliki harga fantastis.
Didalam mobil, Farel memegang sebuah benda seperti segi empat yang sama seperti remote, hanya saja lebih kecil dari remote biasanya.
di hadapannya bergeser naik ke atas.
Dinding yang tadi kita lihat sama seperti dinding lainnya, ternyata sangatlah berbeda dengan dinding lainnya. Karena dinding itu adalah dinding rahasia yang bisa
mengantarkan Farel keluar tanpa sepengetahuan orang sama sekali. Karena dinding itu akan langsung mengantarkan kita di luar mansion, yang berada di belakang.
Farel langsung menancapkan gas keluar dari ruangan rahasianya. Setelah mobil Farel keluar, dinding tadi kembali tertutup seperti semula, dinding itu tertutup tanpa meninggalkan celah sama sekali, begitu terlihat sangat rapi seperti semula, membuat orang-orang tidak akan curiga kalau dinding itu adalah jalan rahasia.
🍃🍃
Farel terus melajukan mobilnya melewati hutan yang begitu sangat sepi, hutan yang gelap tanpa diterangi oleh cahaya apapun, selain cahaya dari lampu mobilnya.
Lama mengendarai mobilnya, tidak berselang lama Farel sampai di sebuah rumah yang tidak terlalu besar, karena rumah itu berada di tengah-tengah hutan, membuat rumah itu terlihat begitu sangat kumuh. Terlihat dari perawakannya, kalau rumah itu tidak terurus sama sekali.
Sesampainya di rumah itu, Farel langsung disambut oleh tangan kanannya, yaitu Firman, dan juga anak buahnya, yang sudah menunggunya dari tadi. Farel keluar dari mobilnya sambil membawa senjata apinya di kedua tangannya.
" Untuk apa lo bawah senjata lagi, Bukanya di markas sudah ada senjata yang memiliki jumlah yang banyak." Tanya Firman bingung.
__ADS_1
" Gue hanya ingin mencoba senjata, yang baru gue rakit kemarin." Jawab Farel, sambil menunjukkan beberapa senjata yang baru saja dia rakit kemarin.
" Hebat juga ya lo." Puji Firman tersenyum, menatap kagum kearah Farel.
Sedangkan Farel hanya tersenyum kecil, sampai tidak terlihat oleh tangan kanannya itu.
" Itulah kegunaannya otak " Jawab Farel sambil menunjuk kearah kepalanya.
Firman hanya tersenyum mendengar jawaban dari Farel, yang memang benar adanya. Kalau kehebatan Farel, pasti keluar dari otaknya pintarnya langsung, karena Farel begitu sangat pintar dalam hal merakit senjata api seperti sekarang.
Firman begitu kagum dengan kepintaran Farel yang begitu lihai dalam hal merakit senjata api. Bukan saja lihai dalam senjata api, Tapi Farel juga lihai dalam dunia bisnis. Lihatlah sekarang, di umurnya yang masih muda, yaitu dua puluh lima tahun, Tapi Farel sudah masuk kedalam kategori orang terkaya dan pengusaha muda di usianya itu. Walaupun Farel baru masuk kedalam enam orang terkaya, tapi itu sudah di anggap hebat oleh orang-orang, karena masuk kedalam posisi itu sangatlah sulit.
" Lo memang pintar Rel dari dulu."
" Gue memang pintar Fir, dari semenjak gue lahir." Jawab Farel memuji dirinya sendiri. Sedangkan Firman hanya menggelengkan kepalanya kecil mendengar jawaban Farel yang memuji dirinya sendiri.
Sebelum Farel dan Firman masuk kedalam rumah itu, Farel memberikan kunci mobilnya kepada anak buahnya, untuk menaruh mobilnya ketempat yang paling aman, ketempat yang orang-orang tidak tau. Mungkin tempat itu hanya Farel, Firman dan orang kepercayaan Farel saja yang mengetahuinya.
Farel dan Firman masuk kedalam rumah itu.
Terlihat dari dalam, kalau rumah itu cukup bersih, beda banget dengan diluar rumah yang terlihat tidak terurus sama sekali.
" Apa lo akan menggagalkan rencana mereka." Tanya Firman di selah-selah lanka mereka. Sedangkan Farel, yang mendengar pertanyaan tangan kanan, dan juga sahabatnya itu hanya tersenyum miring.
Karena selama setahun ini, Farel tidak pernah lagi, menggagalkan rencana mantan sahabat itu. Karena ada orang lain, yang selalu menggalakkan rencana Mafia Dark Black.
Farel yang berada ditempat itu, hanya ingin memastikan kalau mantan sahabat itu masih baik-baik saja, atau mantan sahabatnya itu sudah depresi karena selalu gagal dalam setiap rencananya.
" Kita lihat saja permainannya, Firman." jawab Farel sambil tersenyum penuh arti. Entahlah permainan apa yang selalu Farel mainkan, karena permainannya itu selalu saja berhasil.
Farel kembali melanjutkan langkahnya untuk pergi ke ruang bawah tanah, Meninggalkan Firman yang masih saja terdiam.
Bagaimana dengan Firman yang masih tercengang dengan jawaban dari Farel tadi. Karena Firman masih bingung dengan jalan pikir bos serta sahabatnya itu.
" Gue bingung dengan jalan pikir lo Rel." Gumam Firman yang kembali mengikuti langkah Farel yang sudah duluan menjauh.
Bersambung
Maaf baru bisa update soalnya author sibuk banget di dunia nyata.
makasih teman teman yang udah mau mendukung author
__ADS_1
yang belum bisa menulis Serapi
karya yang lain***