Mencintai Kamu Dalam Gelapnya Malam

Mencintai Kamu Dalam Gelapnya Malam
Bab 60


__ADS_3

Mencintaimu dalam gelapnya malam


Gadis cantik sedang menatap pantulan dirinya di cermin, karena siang ini dia terlihat cantik, dengan rambut yang tergerai, dan juga dandanan terlihat natural." Kalau dilihat-lihat, sebenarnya aku lebih cocok menjadi gadis yang anggun dan kalem. Tapi diingat-ingat, aku juga tidak bisa meninggalkan sifat bar-bar ku." Ucap Salsa sambil terkekeh, tidak lupa dia berputar-putar untuk melihat gaun yang dia pakai. Salsa mengunakan gaun berwarna merah hati, yang panjangnya sampai di bawah lutut, yang terlihat sangat cocok untuknya.


" Baiklah, persiapkan dirimu Salsa, karena kamu harus bertemu dengan klien mu. Jadilah gadis yang terlihat lugu dan kalem, agar klien mu mau berkerja sama dengan perusahaan mu." Ucap Salsa semangat, karena hari ini dia akan bertemu dengan kliennya. Sebenarnya pertemuannya dengan klien sama saja, hanya saja, ini sedikit berbeda. Karena yang mengajukan kerja sama dengan perusahaannya, adalah perusahaan yang terkenal. Bahkan perusahaan papi Burham sudah berkerja sama dengan perusahaan itu, tinggal perusahaan kecilnya saja yang belum.


" Ayo semangat Salsa, kamu bisa membawa perusahaan sampai terkenal seperti perusahaan papi." Gumam Salsa. Salsa mengambil tas selempannya lalu melangkah keluar dari kamarnya.


Sedangkan di lantai bawah, Nabila yang memang tidak melakukan apa-apa, hanya bisa bermain dengan ponselnya, dengan posisi yang berbaring di atas sofa panjang. Nabilah tidak sendiri, karena disitu ada sih kecil Azam, yang sedang duduk sambil bermain di lantai yang berlapiskan karpet dengan bulu-bulu yang lembut. Sepertinya bocah kecil itu begitu sangat nyaman dengan posisi nya sekarang


" Kak Bila." Panggil Azam sambil menggoyang-goyangkan lengan Nabila. Nabil yang merasakan kalau lengannya digoyangkan, dan juga mendengar kalau namanya di panggil, menoleh kearah samping, dan dia bisa melihat kalau adiknya itu sedang berdiri sambil menatap kearahnya.


" Ada apa Azam." Tanya Nabila dengan lembut, sambil merubah posisinya menjadi duduk." Apakah Azam membutuhkan sesuatu." Bocah kecil itu hanya menggeleng." Lalu Azam mau apa." Tanya Nabila bingung, dengan kemauan adiknya itu.


" Kak bia, apatah Adam boeh pijam hp na kak bia. Coalna Adam nau tepon papi." Ucap Azam dengan suara candlenya, yang membuat Nabila tersenyum, karena dia mengerti apa yang ingin adiknya itu mau.


" Tentu boleh Azam, kenapa Azam ngga ngomong dari tadi." Ucap Nabila gemas, lalu mencubit pipi adiknya itu." Tunggu, biar kak Bila carikan nomor papi. Kak Bila tau kalau Azam pasti rindu benget sama papi, Apalagi dua hari ini papi lagi ada di luar kota." Nabilah mencari nomor papi Burham, setelah ketemu. Dia langsung menelepon nya." Nih, Azam pengang hape nya biar suara papi terdengar jelas."


Tangan mungil Azam mengambil ponsel Nabila." Telimatati kak Bia." Ucap Azam dengan tersenyum.


" Sama-sama Azam." Nabilah merasa lucu saat benda persegi panjang itu menempel di pipi tembam Azam.


" Acayamuayaikum papi." Nabilah lagi-lagi hanya bisa tersenyum mendengar sapaan lembut Azam kepada papi nya yang berada jauh di luar sana. Rasa senang, karena kelurga mereka begitu sangat lengkap dengan kehadiran Azam di tengah-tengah keluarga itu.


Saat menatap adiknya yang sedang asyik mengobrol bersama dengan papi mereka. Pandangan Nabila harus teralihkan saat melihat Salsa yang baru saja turun dari lantai atas. Terlihat kalau gadis berusia delapan belas tahun, hampir sembilan belas itu. Terlihat sangat cantik dengan gaun panjangnya sampai dibawah lutut dan juga rambut yang terurai.


" Mau kemana Lo, tumben udah rapi." Tanya Nabila saat Salsa sudah berada didepannya.


" Mau ketemu sama klien." Jawab Salsa." Terus kalau Lo ngapain diam situ, apa Lo ngga kuliah atau ngajar gitu." Tanya Salsa balik, karena tumben kakaknya itu hari ini ngga pergi kuliah. Padahal biasanya setiap hari Nabila akan pergi keluar. Kalau bukan kuliah, Nabila akan mengajar anak-anak ngeles atau pergi kekantor.

__ADS_1


" Hari ini libur. Dosen nya juga ngga kasih gue mata kuliah, makanya gue nggak ngapa-ngapain. Mungkin besok dosen nya akan masuk kembali, Kalau untuk mengajar anak-anak ngeles, seperti nggak soreh dikit."


" Pantas Lo santai benar. Terus mana bunda, kenapa lo sama Azam beruda aja disini." Tanya Salsa yang tidak melihat keberadaan bundanya.


" Bunda lagi ada di lantai atas. Tadi katanya ada urusan bentar, makanya Azam dititipkan ke gue."


" Hmmm, padahal gue mau pamitan ke bunda kalau gue mau keluar."


" Keluar aja sana, nanti gue sampaikan ke bunda."


" Wah, benarkah. Tumben Lo baik. Tapi ngga ada maksud tertentu nih, Lo baik sama gua."


" Ya elah curigaan benar ya lo, ngga percayaan benar. Gue lagi baik, makanya gue bantuin Lo, jadi ngga ada maksud tertentu. Gue ikhlas." Jelas Nabilah dengan ketus." Katanya Lo mau keluar. Cepat sana keburu lari tuh klien, karena nungguin lo kelamaan."


" Gue tidak akan membiarkan klien itu pergi. Karena jarang-jarang, ada perusahaan besar yang mengajukan kerja sama dengan perusahaan kecil seperti perusahaan gue. Makanya kesempatan kayak gini, gue tidak akan melewatkannya." Jawab Salsa yang begitu sangat semangat.


" Ogah mah gue, mending sendiri daripada sakit hati. Yang gue ingat, kalau setiap klien yang gue temui, pasti yang datang pria paruh baya yang memiliki perut buncit, bukan pria tampan seperti pangeran. Jadi ogah gue mau berharap." Jelas Salsa dengan wajah yang sedikit kecut, mengingat klien yang bertemu dengannya adalah pria paruh baya. Bukan pria tampan seperti perkataan kakaknya itu.


" Mungkin hari sedikit berbeda." Nabilah masih saja menggoda Salsa, yang terlihat lucu sekarang.


" Terserah. Gue lagi malas berdebat sekarang. Mending gue pergi, karena klien gue, pasti sudah menunggu." Ucap Salsa, yang ingin menghentikan perdebatan mereka." Gue pergi Bil, nanti Lo jangan lupa kasih tau bunda, kalau gue pergi nemuin klien, bukan ngerjakan misi." Ucap Salsa melangkah meninggalkan Nabila, yang hanya tersenyum penuh kemenangan, karena berhasil menggoda adiknya itu.


Salsa yang melihat Azam yang sedang asyik mengobrol bersama dengan papi nya, menghentikan niatnya untuk berpamitan ke Azam, karena Salsa tidak mau menganggu kebahagiaan adiknya itu.


" Semoga berhasil Sal, dan Lo bisa terbebas dari kesibukan dunia gelap yang penuh dengan ketakutan." Ucap Nabila menatap punggung Salsa yang sudah menghilang dari pandangannya.


Jujur sebenarnya Nabila tidak ingin melihat Salsa, selalu terluka karena benda-benda tajam, apalagi sampai membahayakan nyawanya karena parah musuh yang tidak ingin melepaskannya. Nabilah tidak tau seberapa banyak musuh yang Salsa hadapi. Tapi melihat gadis itu pulang dengan tubuh terluka, membuat Nabilah yakin kalau Salsa memiliki banyak musuh yang banyak, dan musuhnya adalah musuh paling berbahaya.


🌼🌼🌼🌼🌼🌼

__ADS_1


Pak Az, yang sedang menyetir tersenyum kecil saat melihat nona mudah itu, yang terlihat bahagia sekarang.


" Maaf nona Salsa, saya lihat anda seperti bahagia siang ini. Apakah anda memiliki janji dengan seseorang." Tanya pak Az.


" Iya pak Az, hari ini aku bahagia sekali, Karena perusahaan terbesar yang berada di kota J, mengajukan kerja sama dengan perusahaan ku. Karena kata orang suruhannya, mereka tertarik dengan kinerja perusahaan ku pak Az." Ucap Salsa yang terlihat antusias sekali menceritakan kebahagiaanya sekarang.


Salsa sangat senang, karena perusahaan yang masuk dalam bidang kuliner hingga alat-alat dapur, ternyata diminati oleh perusahaan terbesar itu, yang sudah memiliki cabang dimana-mana. Bahkan mereka memiliki banyak usaha.


Kalau dibilang sih, antara perusahaan papi nya dan perusahaan itu sama besarnya, karena papi nya memiliki perusahaan terbesar sebagai alat transportasi. Hingga bidang lain seperti perhotelan, restoran, kafe hingga perduk dikital. Walaupun perusahaan papi nya terkenal sebagai perusahaan terbesar, tapi Salsa masih ingin membangun perusahaannya sendiri dengan jeri paya nya, tanpa bantuan papi nya. Walaupun masih perusahaan kecil, tapi perusahaan Salsa sudah mulai terkenal.


" Saya ikut senang nona Salsa, semoga pertemuan nona kali ini berjalan lancar."


" Amin , makasih untuk doa nya pak Az. Aku semakin ngga sabar bertemu dengan klien ku kali ini." Ucap Salsa semangat empat puluh lima, padahal masih jauh, tapi gadis itu sudah tidak sabaran sekali.


Tidak berapa lama kemudian, Pak Az, mengehentikan mobilnya didepan restoran terbesar di kota itu. Karena Salsa dan kliennya membuat janji di restoran, bukan di perusahaannya langsung. Karena klien Salsa yang memintanya.


" Hati-hati nona, Jika terjadi sesuatu, nona Salsa bisa mengabari saya. Saya tidak akan pergi meninggalkan nona, karena saya akan menunggu nona di besmen."


" Tenang saja pak Az, pasti semuanya akan baik-baik saja. Nanti kalau ada apa-apa, aku akan mengabari pak Az, tapi kalau aku sudah tidak sanggup untuk menghadapi mereka." Ucap Salsa sambil tersenyum." Baiklah pak Az, aku pergi dulu ya pak. Doain Salsa, agar pertemuan ku kali ini, aku tidak akan berbuat ulah."


" Saya selalu mendoakan yang terbaik untuk nona. Maka semangatlah nona Salsa." Ucap pak membalas senyuman Salsa.


Salsa turun dari mobilnya. Sambil berjalan sedikit cepat, Salsa mendekati Resepsionis untuk menanyakan di ruangan manakah kliennya itu berada. Setelah menemukan kalau kliennya berada di ruangan VVIP, lantai tiga. Salsa langsung melangkahkan kakinya dengan cepat menuju keruangan dimana dia membuat janji.


...----------------...


Hay ketemu lagi Sama Salsa, karya kedua kak Zahra. Karena Kesabaranku membawa cinta sudah kak Zahra tamat kan, maka kak Zahra akan melanjutkan, karya kak Zahra yang sempat tertunda ini.


Biar kak Zahra makin semangat, bagaimana kalau simak cerita Salsa.

__ADS_1


__ADS_2