Mendadak Jadi Istri Presdir

Mendadak Jadi Istri Presdir
10. Confusion


__ADS_3

Bunyi suara operator yang kembali terdengar berhasil membuat Altar mendesah kecewa. Sudah berulang kali ia menghubungi nomer yang sama setelah panggilan pertama diputuskan begitu saja. Padahal kondisinya sangat genting, akan tetapi wanita itu tidak mengangkat telepon penting darinya. Dan, apa katanya tadi?


“Pacar saya barusan datang. Udah dulu ya, Pak. Assalamualaikum.”


Setelah berkata demikian, panggilan tersebut terputus. Bolehkah Altar mengumpat saking kesalnya?


Harusnya ia memang dinner dengan college dari luar negeri pada dua lokasi. Namun, siapa sangka semua itu tidak berjalan mulus sesuai schedule. Ia malah terjebak di antara keluarga inti Soedibyo. Salah satu keluarga terpandang, pemilik bisnis raksasa yang bergerak di sektor pariwisata, pangan, pertelevisian, sampai perikanan.


Ketidaksengajaan bertemu dengan Arumi di lobby cafe tempatnya janjian dengan college dari luar negeri, membuat semuanya berakhir begini. Ia sampai melupakan sang sekretaris yang pasti menunggu kedatangannya.


“Mas Al kenapa? Kelihatannya kesal sekali.”


Sadar akan adanya penumpang lain dalam kendaraan yang ia kendarai. Altar lantas menoleh ke kursi penumpang samping, tatapannya langsung bersirobak dengan tatapan lembut khas putri ningrat tersebut.


“Apa mas Al harus kembali lagi ke kantor? Kalau iya, aku bisa telepon supir buat jemput.”


Bad idea. Tidak mungkin Altar menurunkan putri kebanggan keluarga Soedibyo begitu saja di tengah jalan. Di mana tanggung jawabnya sebagai seorang pria yang diberi amanah?


Saat pamit pulang tadi, orang tua wanita tersebut memang menitipkan putrinya kepada Altar. Berhubung setelah ini para inti keluarga Seodibyo masih harus mengunjungi suatu tempat.


“Pakai sabuk pengaman kamu. Saya antar pulang.”


Altar bersuara sembari bergerak menyalakan mesin kendaraanya lagi. Arumi yang duduk di sampingnya mengangguk sembari tersenyum kecil. Pikiran wanita cantik tersebut tengah berkelana kesana-kemari. Utamanya, ia penasaran dengan perubahan suasana hati pria di sampingnya.


Setelah menelepon wanita yang Arumi yakini adalah sekretarisnya, Altar terlihat kesal. Tapi, kenapa Altar harus kesal?


Setahunya Altar itu jarang kesal atau marah hanya karena hal-hal sepele. Pria itu juga tidak akan peduli kepada sesuatu yang bukan ranah nya. Tetapi, kali ini agaknya berbeda. Kenapa pula Altar harus peduli dan kesal kepada sekretaris yang baru genap seminggu bekerja dengannya. Ah, mungkin ada sedikit masalah yang ditimbulkannya oleh sekretaris baru Altar. Arumi positif thinking saja.


Keesokan harinya, Altar datang ke kantor pada jam yang sama. On time adalah sebagian dari hidupnya. Namun, saat tiba di lantai tempatnya bekerja, keningnya mengernyit saat melihat sang sekretaris yang tidak ada di ruangan. Ia bisa melihat ruangan yang dibatasi oleh transparant glasses itu kosong melompong.


“Bapak lagi lihatin apa?”


Altar terperanjat. Namun, ia bisa dengan mudah mengendalikan ekspresi. Dilihatnya sang sekretaris yang baru saja muncul dari balik pintu ruangannya.


“Saya baru bersihin ruangan Bapak, kalau itu yang mau Bapak tanyakan.”


Wanita cantik penyuka topi itu berucap mendahului sang atasan. Seolah-olah ia tahu jika Altar memang akan bertanya demikian.


“Kopi buat Bapak juga sudah siap di meja. Tinggal diminum,” tambahnya seraya mengulas senyum. “Ada yang lagi Bapak butuhkan?”


Altar membuang pandangannya ke sembarangan arah barang sejenak. Otaknya tiba-tiba bubar jalan. Ia tidak tahu harus bertanya apa lagi, padahal tadi pertanyaan begitu menumpuk di kepala.


“Tidak. Kamu bisa kembali bekerja.”


“Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi.”


Arunika berlalu setelahnya. Meninggalkan Altar yang masih kebingungan dengan sikapnya sendiri.


Wanita yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai DJ itu hari ini memang datang pagi-pagi sekali. Walaupun semalam adalah mimpi buruk baginya, karena harus menunggu berjam-jam lamanya tanpa kepastian, pagi tadi ia mendapatkan hidayah.


Bangun pagi dan berangkat ke kantor sendiri menggunakan Transjakarta seperti biasa. Datang-datang ia langsung membersihkan ruangan sang atasan, kemudian membuatkan kopi seperti biasa. Mood booster-nya hari ini tidak lain dan tidak bukan karena semalam ia mendapat good news dari Aling.

__ADS_1


Minggu depan rencananya mereka akan bertolak ke Surabaya untuk mengisi acara di salah satu club malam terkenal seantero kota Pahlawan tersebut. Fantasia namanya. Sarang orang-orang berdompet tebal yang dihuni oleh dollar, hingga jejeran koleksi black card, dan platinum card.


Sudah lama Aru ingin manggung di Fantasia. Namun, baru kali ini kesempatan itu datang kepadanya. Jadi, ia memutuskan untuk bekerja dengan baik mulai hari ini. Agar nanti saat meminta cuti tidak akan dipersulit. Jadwal sang atasan hari ini juga bisa dibilang longgar. Hanya ada beberapa pertemuan, rapat dengan divisi micro finance, serta tumpukan dokumen yang perlu dibubuhi tanda tangan.


“Intern.”


Indra pendengaran Arunika menajam saat Interkom berbunyi. Ketika benda itu berbunyi, dia akan dengan cepat melesat ke ruangan sang atasan.


“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”


“Bisa ubah jadwal rapat di tanggal 22?” tanya pria rupawan yang tengah mengoperasikan MacBook itu.


“Baik, Pak. Akan saya ubah jadwal rapat-nya.” Arunika menjawab dengan santai. Padahal isi otaknya sudah dipenuhi dengan hujatan-hujatan untuk atasannya yang suka seenak jidat. Min ubah-ubah saja, padahal ia tidak tahu seberapa sulit Arunika menata jadwalnya.


“Minggu depan saya ada perjalanan bisnis ke Bali.”


Arunika mengangguk. Minggu depan Altar memang memiliki jadwal untuk mengunjungi pulau dewata dalam rangka bertemu dengan college asal Inggris yang tengah bermukim di sana.


“Saya sudah mengurus semuanya, Pak. Bapak tinggal berangkat saja.” Arunika menatap sang atasan lurus-lurus. Ia memang sudah mempersiapkan semua kebutuhan sang atasan untuk perjalanan bisnis kali ini.


Sejauh ini Arunika bisa dengan mudah beradaptasi dengan posisinya, karena sebelum bekerja untuk Altar, ia juga sudah biasa bekerja untuk pak Irewes.


“Siapkan dirimu. Kita berangkat ke Bali sehari lebih awal dari jadwal.”


Arunika terperanjat kaget mendengar ucapan sang atasan. “Maksud Bapak ....saya ikut ke Bali minggu depan?”


“Hm.”


Lantas, sekarang kenapa malah ia yang diajak?!


“Bukannya Bapak seharusnya pergi dengan sekretaris Pak Afka?”


“Ubah.”


“Apanya yang diubah, Pak?”


“Ubah planning awalnya. Kamu ikut saya ke Bali,” ujar Altar enteng.


Arunika sontak menggelengkan kepala tegas. “Tidak bisa seperti itu, Pak!”


“Apanya yang tidak bisa? Saya atasan kamu, sudah seharusnya kamu melakukan semua perintah saya.”


“Saya tidak bisa ikut ke Bali,” ucap Arunika, menyuarakan penolakan dengan gamblang. “Saya ada jadwal manggung minggu depan, bertepatan dengan keberangkatan Bapak ke Bali.”


Sudah terlanjur basah, nyemplung saja sekalian. Itulah kata-kata yang cocok untuk menggambarkan posisi Arunika. Untuk apa ditutup-tutupi lagi. Toh, atasannya itu sudah tahu pekerjaan sampingannya. Arunika harap dengan kejujurannya ini, Altar akan berubah pikiran dan menunjuk orang lain untuk menemaninya pergi ke pulau Dewata.


“Kamu dibayar untuk pekerjaan ini, Arunika. Kamu sudah menandatangani kontrak untuk memenuhi tugas sebagai sekretaris dan asisten pribadi saya. Di mana loyalitas kerja kamu?”


Arunika bungkam. Kontrak sialan itu!


Bagaimana bisa Arunika meloloskan diri sekarang? Angan-angannya untuk melakukan performance luar biasa di panggung Fantasia bubar total. Berganti dengan bayangan dirinya nge-trip ke Bali menemani atasan yang suka semena-mena. Patah harapan Arunika seketika.

__ADS_1


“Baik, Pak.” Arunika bersuara lirih.


Altar yang mendengar suara lirih sang sekretaris menautkan alisnya sembari menatap sekretarisnya. “Baik untuk apa?”


“Saya akan menemani Bapak ke Bali,” jelas Arunika.


Lagi, dan lagi ia tidak akan menang melawan Altar jika mengingat titel ‘atasan-bawahan’ di antara mereka.


Tanpa Arunika ketahui, Altar menaruh perasaan bimbang atas jawaban tersebut. Ekspresi sang sekretaris yang tadinya secerah langit, tiba-tiba saja keruh saat menyuarakan persetujuan. Apa manggung yang dimaksud wanita itu sangat berarti?


Apakah Altar telah mematahkan harapan wanita tersebut? Mengingat ekspresi wajah dan mood Arunika langsung buruk setelahnya.


“Abang kenapa lihatin ke luar terus? Ini aku ngomong didengerin nggak sih?” protes pria rupawan yang baru saja berceloteh panjang lebar mengenai pertemuan dengan college Asal Inggris seminggu lagi.


“Hm.”


“Di luar ada apa sih?”


Pria rupawan itu menoleh. Menatap ke arah yang sama dengan sang kakak. Di sana, di balik dinding sekat yang dibuat dari transparant glasses lebih tepatnya, seorang wanita tampak tengah menelungkupkan wajahnya di depan layar monitor. Entah tidur atau apa, namun dari gerak-geriknya bisa ia simpulkan bahwa wanita itu sedang bad mood.


“Itubsekretaris baru Abang?”


“Hm.”


“Masih muda?”


“Hm?” Tatapan penuh tanya Altar layangkan ke arah sang adik saat mendengar kalimat yang muncul dari bibir laddy killer tersebut.


“Kelihatan soalnya.” Lawan bicara Altar terkekeh kecil di akhir kalimat. “Cantik nggak Bang?”


“Kenapa bertanya begitu? Lupa sama istri di rumah?”


Ditanyai demikian, pria rupawan yang bekerja sebagai sekretaris CEO itu kontan tertawa renyah. Tidak percaya jika sang kakak bisa berkata demikian. Seumur-umur ia baru melihat sang kakak bereaksi demikian. Geli sekali melihatnya.


“Aduh, sakit perutku nih.”


Arez mengurai tawa. Pria rupawan itu kenyang menertawai sang kakak yang terlihat seperti orang jealous saat wanita incarannya diganggu.


“Kalau suka pepet terus, jangan sampe lepas,” komentar Arez. Memberikan masukan sambil terkekeh geli. “Kayaknya yang ini bakal beda deh.”


“Beda apanya?” sewot Altar, walaupun tertutupi oleh nada bicaranya yang super dingin.


“Beda aja, soalnya bisa bikin Abang  jealous,” tambah Arez sebelum tertawa terbahak lagi.


...🍄🍄...


...TBC...


...Semoga suka 😘...


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...

__ADS_1


...Tanggerang 29-11-22...


__ADS_2