
Apa yang akan kamu lakukan jika berada di antara suasana yang tidak pernah kamu bayangkan? Melarikan diri atau malah memilih menghadapi tanpa ragu? Tapi bagi Arunika yang tiba-tiba berada di antara suasana yang tidak pernah ia pikirkan sebelumnya, melarikan diri adalah keputusan yang paling tepat.
And then, ia memilih melarikan diri setelah menjelaskan secara singkat. Kendati ia sendiri tidak tahu apa wanita cantik mantan finalis putri Indonesia itu percaya atau tidak. Yang terpenting bagi Arunika saat itu adalah pergi.
Sekarang ia di sini, menggigiti jari seraya mendengarkan alunan music berjudul 'SLUMP' versi jepang yang dibawakan dengan apik oleh para member Stray Kids. Berulang kali ia mendengarkan lagu yang menjadi salah satu lagu favorit di playlist. Namun, rasa resah tidak kunjung berkurang. Kendari Rose dan Aling juga sudah mencoba menghiburnya.
"Ru, lo enggak mau turun ke bawah?"
"Iya. Ini udah waktunya makan siang, Ru."
Gelengan kepala diberikan sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan tersebut. "Duluan aja, gue belum laper."
Aling dan Rose saling bertatapan untuk sejenak, sebelum keduanya meninggalkan Arunika dengan berat hati. Wanita itu tengah berada dalam mode tidak dapat diganggu. Ia akan memilih mengurung diri juga mengabaikan panggilan-panggilan yang terdengar dari interkom.
Dalam benak hanya ada pertanyaan-pertanyaan seputar bagaimana ia menghadapi Batari keturunan Soedibyo setelah ini?
Posisinya begitu sulit dijelaskan dan mudah menimbulkan fitnah.
"Ternyata kamu di sini."
Arunika mendongrak. Iris matanya langsung bertemu dengan sosok yang tidak ingin ia temui untuk saat ini. Siapa lagi jika bukan Arumi.
Wanita cantik itu datang tanpa senyum ramah yang biasa tersemat di bibir. Arunika refleks menoleh, melihat ke belakang wanita cantik tersebut. Jaga-jaga jika ia datang bersama sang atasan. Untuk saat ini ia sedang tidak punya daya dan upaya untuk menghadapi keduanya.
"Kamu mencari Altar?"
Arunika dengan cepat menggelengkan kepala. "Tidak!"
Namun, alih-alih percaya, Arunika malah kembali melontarkan pertanyaan. "Kenapa kamu berbohong?"
Arunika menggelengkan kepala tegas. Dengan gerakan impulsif ia beranjak dari tempatnya duduk.
"Duduk saja, lagipula aku hanya mampir."
Arunika semakin salah tingkah. Ia berusaha mengontrol gejolak emosi semaksimal mungkin. Lagipula ia bukan tersangka utamanya di sini. Jadi, kenapa Arunika harus takut? bukankah itu malah membuatnya semakin tersudut?
"Sudah berapa lama?" tanya Arumi seraya berjalan mendekat. Nada bicaranya terdengar sangat tenang.
"Maksud kamu?"
__ADS_1
"Sudah berapa lama kalian menjalin hubungan?"
"Kami tidak memiliki hubungan apapun selain hubungan atasan dan bawahan," kilah Arunika. Apa Arumi pikir ia menjalin hubungan semacam staff with benefit dengan Altar?
"Jika orang lain berada di posisiku, apa dia akan percaya begitu saja dengan kata-kata kamu?"
Arunika menelan saliva susah payah. Ketenangan Arumi benar-benar mengerikan. Belum sempat Arunika mengambil kesempatan untuk menjawab, Arumi kembali melontarkan pertanyaan.
"Kami akan meresmikan hubungan bulan depan."
Meresmikan hubungan? Apa Arumi dan Altar akan bertunangan? atau malah hendak melangsungkan pernikahan?
Tiba-tiba saja jantung Arunika dilanda kegugupan. Apa ia baru saja menjalani trainee sebagai calon perebut laki orang alias pelakor?
"Kita sama-sama wanita, Aru. Kamu pasti bisa memahami posisiku. Mendekati hari-hari sakral pasti banyak sekali rintangan yang menghadang."
Arunika kontan menatap Arumi. "Maksud kamu?"
"Aku bisa maklumi untuk kali ini. Entah kamu atau Altar yang memulai semua ini. Tapi, tolong berhenti sampai di sini."
Ini salah. Arumi telah salah paham. "Arumi, aku...."
Apanya yang Arumi mengerti? Batin Arunika berperang di dalam hati. Arumi bukannya mengerti, malah semakin salah arti.
"Aku bersungguh-sungguh menganggap kamu sebagai teman. Jadi, tolong pertimbangkan apa yang aku ucapkan."
Arunika membuang muka untuk sejenak. Sesak melingkupi sebagian rongga dada. Apa ia baru saja diberi warning karena kedapatan berduaan dengan calon suami orang? Atau perlu Arunika perjelas jika semua itu hanya ketidaksengajaan?
Bukan Arunika yang memulai. Satu-satunya pihak yang seharusnya disalahkan adalah Altar. Semenjak insiden di pulau Dewata, Altar yang sudah melanggar batasan yang telah dibuat. Pria itu berbuat seenaknya, bahkan berani menyulut api. Padahal ia sudah berstatus sebagai suami orang. Jadi, sekarang kenapa Arunika yang harus divonis seberat ini?
Sepeninggalan Arumi, isi kepala Arunika tetap berkutat seputar insiden beberapa waktu yang lalu. Rumit sekali. Padahal belum satu bulan ia lewati. Namun, jalan yang harus ditempuh ternyata sesulit ini.
"Jadi gue harus gimana?"
Wanita yang baru saja menyajikan mie instan goreng itu menghela nafas kecil. "Kalau lo enggak bisa bertahan, resign aja. Biaya pinalti biar gue yang ganti."
"Lima ratus juta rupiah, Ling. Lo punya duit sebanyak itu dari mana? Dari keluarga lo di Cina sono?"
Aling menyengir. "Iya, juga. Lima ratus juta buat dia sih nggak ada apa-apanya. Lah, buat kita yang kaum miskin?"
__ADS_1
"Nah, itu lo tau sendiri."
Kedua wanita itu kemudian terdiam. Menatap keindahan malam di ibu kota yang tampak sunyi dari ketinggian seperti ini.
"Terus lo mau gimana?"
"Life goes on, kan, kalau kata BTS. So, gue nggak bisa mundur cuma karena kesalahpahaman ini. Mungkin dia gitu karena lagi banyak pikiran. Lagipula dia bentar lagi juga married."
"Lo yakin, Ru? Kita nggak tahu loh sama kelak. Bisa aja cupid buat lo atau dia falling in love."
Terdengar helaan nafas dari wanita cantik berkaos putih tersebut. "Jangan sampe, Ling. Gue nggak mau jadi benalu di antara mereka."
"Ini bukan soal lo mau atau nggak, tapi soal hati. Siapa yang tahu apa yang akan terjadi nanti."
"Argh!" erang Arunika pusing.
Ia memang sengaja menginap di kosan Aling supaya dapat berbagi cerita. Sedikit banyaknya, beban yang menumpuk di kepala akan terbagi. Namun, bukannya berkurang apalagi terbagi, Aling malah mengingatkan Arunika pada kemungkinan-kemungkinan yang bisa saja terjadi.
"Ru."
Wanita yang tengah melahap mie instan goreng dengan tambahan serbuk cabai dan telur itu menoleh sebentar dari layar monitor. "Apaan?"
"Doi nelepon."
"Siapa? Bian? Dia udah gue bilangin--"
"Big bos," sela Aling membuat Arunika langsung terdiam. "Nggak mau lo angkat? Takutnya urgent. Soal pekerjaan misalnya."
Arunika mengedipkan bahu acuh seraya melanjutkan acara nonton dan melahap mie. Tidak peduli jika puluhan atau bahkan ratusan kali ringtone telepon terdengar. Katakanlah Arunika pengecut. Tapi, itulah jalan ninja nya.
Hanya untuk kali ini saja, ia ingin benar-benar punya waktu untuk berpikir. Walaupun cara yang ia pilih terbilang hanya mementingkan diri sendiri
...ππ...
...Semoga suka π€...
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai π...
...Tanggerang 29-11-22...
__ADS_1