
...⚠️Sexual Education Area⚠️...
...🧸🧸...
Dalam hidup planning selalu menjadi acuan utama. Tanpa adanya planning yang matang, niscaya semua yang dikerjakan akan terhambat oleh berbagai kendala. Adanya planning digunakan sebagai antisipasi dari kejadian-kejadian yang tidak diinginkan terjadi. Oleh karena itu, Altar selalu berpegang teguh pada moto ‘planning is number one’ dalam hidupnya.
Sejak kecil ia sudah belajar menerapkan planning untuk mengatasi masalah sepele hingga masalah yang sifatnya lebih kompleks. Oleh karena itu, saat didiagnosa mengalami gangguan infertilitas, ia sudah memiliki planning. Keputusan yang diambil soal gangguan infertilitas tersebut juga sudah pikirkan matang-matang. Termasuk soal menyembunyikan fakta tersebut dari orang-orang yang ia sayangi.
Altar tidak mau dikasihani. Ia tidak mau orang lain iba akan kondisinya. Altar benci berada dalam posisi tersebut. Ia terbiasa hidup mandiri, apa-apa dilakukan sendiri. merasa dikasihani membuat harga dirinya tersakiti.
Selama ia bisa sendiri, why no’t? Altar akan tetap menjalaninya sendiri. Sadar akan kekurangan yang ada pada dirinya, Altar tidak pernah mengharapkan sebuah cinta. Mengingat dulu ia pernah mengalami luka teramat dalam karena rasa tersebut.
Selama Altar mampu hidup sendiri, ia tidak memerlukan pendamping hidup. Toh, ia tidak sempurna sebagai sorang pria. Wanita di luar sana akan berpikir puluhan kali jika harus menjadi pendamping pria sepertinya.
Akan tetapi, di pagi hari yang teramat cerah ini. Datang ketidakmungkinan menghampiri benak Altar. Kala kelopak mata terbuka siluet familiar tampak hilir mudik di ruangan pribadinya. Untuk sejenak Altar berangan-angan. Mungkin jika ia diberi kesempatan untuk merasakan salah satu Sunnah Rasulullah, yaitu menikah dan memiliki kehidupan yang normal, aktivitas seperti ini akan menjadi rutinitas menyenangkan dikala pagi menjelang. Namun, dengan cepat Altar menampik angan-angan tersebut.
Menikah? Altar ingin menertawakan diri sendiri rasanya. Siapa juga yang mau dinikahi pria cacat sepertinya?
“Bapak sudah bangun?”
Altar tersadar. Dengan segera ia merubah posisinya menjadi duduk. Pening seketika pula datang menyergap. “Hm.”
“Jangan terlalu banyak bergerak dulu. Bapak kecapean, sampai-sampai kekurangan cairan dan harus diinfus.”
Wanita yang tengah sibuk berkutat dengan pas bunga itu berujar. Jemari-jemari lentiknya dengan telaten menghiasi benda tersebut dengan bunga-bunga segar yang memberi kesan colourful.
“Siapa yang mengizinkan kamu datang ke sini? Bukannya saya menyuruh kamu untuk cuti?”
Wanita berkemeja pastel itu mengangguk. Masih dengan pas bunga di tangan, ia beralih. Menatap ke arah Altar dengan netra hazelnut yang tampak berkilauan. “Saya sudah cuti dua hari. Kalau lebih dari itu, nanti pihak HRD menegur saya.”
“Saya yang memberi kamu wewenang, bukan pihak manapun.”
“Iya, juga. Tapi....” Wanita berkemeja pastel itu bergerak guna menyimpan pas bunga di tangan. Menggantung kalimatnya, sebelum selesai dengan urusan vas bunga. “....saya mau kerja. Bapak gaji saya buat kerja, bukan buat leha-leha.”
Altar menautkan kening mendengarnya. Arunika yang melihat ekspresi sang atasan tersenyum tipis. Pria yang baru terbangun dari hibernasi panjang itu tampak menawan saat sedang berpikir. Walaupun belum terguyur oleh air, pillow face yang muncul saat di bangun tidur tetap tidak mampu menutupi pesona seorang Altar Jhonyan Dee Diantoro.
“Bapak cuci muka dulu, habis itu sarapan. Dokter Ridwan pagi tadi sudah landing di Jakarta. Kemungkinan besar besok beliau sudah kembali bekerja. Jadi, besok Bapak bisa chek up.”
“Tidak perlu.”
Altar menjawab sekenanya. Pria itu baru saja beranjak dari tempat tidur, hendak melepaskan infus yang terpasang di salah satu punggung tangan.
“Eh, Bapak mau ngapain?!” Arunika bereaksi cepat. Meraih tangan Altar yang terpasang infus. Memegangnya erat, takut-takut pria itu berbuat gegabah.
“Bapak lagi sakit. Kurang cairan. Pasti karena kesibukan kerja. Biarkan cairan infusnya habis dulu.”
“Saya tidak apa-apa.”
“Siyi tidik ipi-ipi, bicit!”
__ADS_1
“Kamu bilang apa barusan?” Altar menatap sekretaris nya itu dengan mata memicing.
Arunika menggeleng seraya tersenyum jenaka. “Canda doang, Pak. Elah, selera humor Bapak rendahan amat.”
Altar mendelik tajam, membuat Arunika tersenyum keki. “Sudah, sekarang mendingan Bapak ke kamar mandi. Cuci muka, mandi sekalian juga nggak papa. Tapi, pakai air hangat. Atau, mau saya mandikan?” tawar Arunika jenaka.
“Kamu serius?”
“Saya sedang stand up comedy. Serius dari mana.” Arunika tertawa pongah seraya melepaskan tangan Altar. Buru-buru mengipasi wajahnya yang terasa mulai memanas.
“Kalau serius juga tidak apa. Kamu lihat sendiri, sebelah tangan saya terpasang infus. Jadi, ide dimandikan—“
“BODO AMAT!” setelah berkata demikian, Arunika beranjak meninggalkan rungan. Menyisakan Altar yang diam-diam mengul*m senyum.
...🍄🍄...
Altar menatap makanan yang tersaji di hadapannya dengan kening berkerut. Ada berbagai macam olahan yang terbuat dari sayuran hijau, kacang-kacangan, seafood, hingga daging. Lantas ia beralih, menatap sekretarisnya yang tengah berdiri seraya mencatat sesuatu di iPad . Wanita itu tampak serius dengan catatannya.
“Apa-apaan semua ini, Aru?”
Ketika mendengar sang atasan memanggilnya dengan nama panggilan, Arunika menatapnya dengan kening mengerut. “Aru?”
Dahi Altar berkerut. “Apa saya tidak boleh memanggil kamu Aru?”
“Nothing,” jawab Arunika. “Kenapa Bapak barusan memanggil saya?”
“Apa-apaan semua ini? Kamu pikir di sini sedang mengadakan pesta?”
“Sayuran berdaun hijau gelap seperti bayam dan kubis burssel ini contohnya. Kedua jenis sayuran ini mengandung folat yang dapat membantu meraih sp*rma yang sehat.”
Altar masih tidak bergeming di tempatnya duduk. Sedetik kemudian, wanita itu kembali buka suara.
“Selain itu ada kerang dan hati sapi yang mengandung vitamin B-12. Menurut study, motilitas sp*rma akan bertambah jika kadar vitamin B-12 tercukupi. Vitamin B-12 juga dapat meningkatkan sp*rma dan menghindari DNA-nya dari kerusakan. Vitamin—“
“Cukup.”
Altar menatap sang sekretaris lekat. Wanita itu tampak ingin menyuarakan protes saat kalimatnya dipotong begitu saja.
“Kenapa kamu melakukan semua ini?”
“Karena sekarang kesehatan Anda adalah perioritas saya. Bapak harus sehat supaya bisa kembali bekerja.”
“Apa untungnya kamu melakukan semua ini?”
“Hm, antara ada dan tidak,” jawab Arunika ambigu. “Tenang saja, Pak. Nanti saya akan memberikan buku berisi catatan rekomendasi ini ke istri Bapak. Biar dia tahu apa saja yang Bapak butuhkan.”
Seutas senyum terbit di bibir wanita tersebut. Membuat Altar gatal hanya diam saja. Detik berikutnya, kalimat laknat itu meluncur tanpa dusta dari mulutnya. “Kenapa bukan kamu saja yang menjadi istri saya?”
Arunika tertawa pongah mendengarnya. “Saya jadi istri Bapak? Mimpi!”
__ADS_1
Altar mendengus mendengarnya. “Seburuk itu saya di mata kamu, sampai-sampai kamu menolak lamaran saya mentah-mentah.”
Arunika terhenyak, sadar akan apa yang telah ia ucapkan menyakiti perasaan sang atasan. Diliriknya sang atasan hati-hati. Pria itu terlihat mulai menikmati sarapannya tanpa ekspresi. Arunika memang tidak berniat menyakiti Altar. Namun, apalah daya bibirnya yang refleks berkata demikian. Sekarang, ia tidak tahu harus berbuat apa.
Padahal, kedatangannya ke apartemen Altar untuk memberikan support supaya semangat menjalani semuanya. Arunika harus meyakinkan Altar, bahwa ia masih bisa hidup normal, menikah, juga memiliki keturunan.
“Pak, bukan seperti itu maksud saya.” Arunika coba membuka pembicaraan. “Maaf kalau ucapan saya menyakiti perasaan Bapak. Tapi, sungguh, itu bukan sesuatu yang disengaja.”
Altar masih tak bergeming. Pria itu baru saja menyeka sudut bibirnya menggunakan tisu. “Sup-nya hambar.” Hanya dua kata itu komentar Altar. Tanpa menggubris ucapan Arunika. Sedetik kemudian, Altar beranjak dari duduknya. Meraih tiang infus di samping tempatnya duduk, sebelum memutar badan. Hendak meninggalkan ruangan tersebut, sebelum ucapan Arunika membuat langkahnya tertahan.
“Bukan dengan saya Anda akan menikah, tetapi dengan wanita yang memiliki kesenjangan sosial yang setara dengan Anda.”
“Kamu pikir wanita dari kalangan seperti itu ada yang mau menikah dengan saya?”
Arunika tahu jika ‘itu’ yang diucapkan oleh Altar merajuk pada wanita-wanita seperti Arumi. Wanita dengan kesenjangan sosial yang sama dengan Altar, seperti apa yang Arunika ucapkan barusan.
“Jika ada wanita dari kalangan biasa-biasa saja yang peduli dan mau menjadi istri pria cacat seperti saya, saya akan segera menikahinya tanpa pertimbangan,” pungkas Altar tanpa berbalik badan.
Arunika membatu. “Pak, saya—“
“Kamu peduli kepada saya karena status atasan dan bawahan yang mengikat kamu. Tapi, Aru, apa kamu tidak pernah memikirkan perasaan saya?”
“Pak, please. Jangan membuat semuanya menjadi rumit. Bapak tampan, mapan, kaya raya, husband material sekali. Ada banyak wanita di luar sana yang mengantri menjadi istri Bapak.”
“Tapi, saya cacat.”
“Bapak tidak cacat!” jawab Arunika cepat. “Bapak masih memiliki kemungkinan untuk memiliki keturunan. Yang Bapak butuhkan saat ini adalah semangat dan percaya diri. Bapak harus semangat menjalani semua ini, dan percaya diri bahwa Bapak mampu menjadikan kesempatan itu sebagai peluang. Yang terakhir….” Arunika menjeda kalimatnya. Sepasang iris hazelnut itu tampak menatap Altar lamat-lamat. “Bapak butuh peran serta seorang pendamping untuk melakukan hubungan seksual.”
“Apa?” suara Altar tercekat di tenggorokan. Namun, pria itu dapat menutupinya dengan baik.
“Bapak belum mencobanya, ‘kan? Seharusnya Bapak sering-sering melakukan hubungan badan untuk—“
“Kamu menyuruh saya untuk having s*x?”
“Bukan!” arunika menjawab cepat. Wajahnya sudah memanas entah sejak kapan. “Maksud saya menikah, Pak. Bapak harus menikah, kemudian melakukan usulan dokter Ridwan untuk meningkatkan frekuensi hubungan s*ksual.”
Arunika terdiam setelahnya. Bukan ini tujuan awalnya. Ia juga tidak tahu kenapa otaknya malah melenceng begini.
“Aru.”
“Iya, Pak.” Arunika mendongkrak, menatap lawan bicaranya lamat-lamat. Entah kenapa, perasaanya mengatakan jika pria itu akan mengatakan sesuatu yang membuat jantungnya meledak.
“Menikahlah dengan saya.”
...🍄🍄...
...TBC...
...Semoga suka 🖤...
__ADS_1
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
...Tanggerang 08-12-22...