Mendadak Jadi Istri Presdir

Mendadak Jadi Istri Presdir
32. Be Mine


__ADS_3

Sepasang iris hazelnut terang menebar pandangan ke seluruh penjuru ruangan. Ruangan tersebut tampak luas, dihiasi oleh sedikit perabotan berukuran minimalis. Didominasi oleh warna putih dan gray membuat ruang itu menonjolkan kesan bahwa si pemilik adalah pecinta kebersihan. Pada salah satu dinding, ada meja belajar dan rak buku yang dibiarkan menempel di dinding. Sticky note yang ditempel entah sejak kapan, masih terlihat menghiasi satu sudut.


Apa pula ranjang king size yang telah didekorasi layaknya kamar pengantin baru. Lengkap dengan selimut yang dibentuk menyerupai dua ekor angsa yang berhadapan, sehingga membentuk simbol love. Plus dengan taburan kelopak bunga mawar Holland berwarna merah yang menebarkan aroma harum ke seluruh ruangan.


Interior di dalam ruangan tersebut memang tidak terlalu ramai. Hanya ada beberapa perabotan dan barang-barang berukuran minimalis. Membuat ruangan itu terkesan lebih besar dan luas. Ini adalah pengalam pertama bagi Arunika memasuki kamar seorang pria. Kamar Bian dan Airlangga tidak masuk kedalam hitungan, mengingat mereka adalah dua orang yang tidak asing dalam hidupnya. Sedangkan si pemilik ruangan ini belum genap ia kenal dua bulan. And then, sekarang mereka sudah berganti status menjadi suami-istri.


Lucu sekali, ya?


“Kamu belum membersihkan badan?”


Pertanyaan yang dibarengi dengan suara pintu terbuka itu membuat Arunika berbalik. Di ambang pintu, pria yang beberapa jam lalu mempersunting dirinya berdiri seraya menenteng jas yang ia kenakan seharian. Wajah rupawannya tampak lelah, mengingat seharian ini ia harus menyapa beberapa orang terdekat yang hadir.


Alih-alih menjawab, Arunika memilih menggelengkan kepala. “Barang-barang saya masih di bawah, Pak.”


Jujurly, canggung sekarang mendominasi. Walaupun sudah menikah, tetapi mereka tetap menggunakan bahasa baku yang terkesan kaku.


“Hm. Biar saya suruh seseorang membawanya ke atas. Sekarang kamu bisa membersihkan badan. Kamu pasti lelah.”


Arunika lagi-lagi mengangguk. Dengan gerakan canggung ia mengangkat bagian rok wedding dress-nya yang menjuntai hingga menyapu lantai. Mendapati sang istri kesulitan, pria itu bergerak untuk membantu.


“Lepaskan di sini saja, sepertinya kamu akan kesulitan melepasnya di kamar mandi.”


Altar bersuara tepat di belakang wanita yang telah ia nikahi. Disuguhi punggung mulus sang istri yang hanya tertutup kain transparan, lengkap dengan hiasan bordiran bunga yang cantik. Bohong jika ia tidak terkesima melihat penampilan sekretarisnya yang telah resmi ia nikahi.


“Pak, saya—“


“Aru, berapa kali harus aku ingatkan? Kita sudah menikah. Jadi, jangan terlalu formal. Tidak ada lagi status atasan dan bawahan sekarang.”


“Iya, saya ....maksudnya aku mengerti. Tapi, Pak—“


“Don’t call me ‘Pak’, Aru.”


Arunika mengangguk paham. “Iya, M-as.”


Altar tersenyum tipis. Sangat tipis sampai-sampai Arunika sendiri tidak dapat menyadarinya. Ada sebentuk rasa yang tercipta di dalam dada kala panggilan itu tersemat untuknya.


“Mandilah terlebih dahulu. Barang-barang kamu akan diantar sebentar lagi. Aku akan mandi di bawah.”


“Iya.”


“Anggap saja seperti kamar sendiri.”


Arunika mengangguk sebagai jawaban. Detik berikutnya sang suami berbalik badan, menuju walk in kloset tempat barang-barang pribadinya tersimpan. Pria itu tampak membawa baju ganti dan handuk saat kembali.


“Aku pergi,” ucapnya seraya menyentuh pucuk kepala sang istri sebentar. Menepuk-nepuk surai kecoklatan yang hari ini tampak tertata dengan cantik, lengkap dengan hiasan tiara di atasnya. Bohong jika Altar tidak mengakui kecantikan sang istri.


Wanita yang masih memiliki darah Korea itu kian terlihat cantik dengan balutan wedding dress yang dipilih seadanya dari salah satu butik langganan sang adik ipar. Wajah cantiknya dihiasi make up sederhana, bukan berasal dari tangan make up artist atau MUA terkemuka, hanya tangan terampil adik iparnya—Aruna—istri dari Afka.


Kendati demikian, tidak ada yang Altar sesali dari pernikahan super dadakan ini. Karena sejatinya semua ini sudah tercetus cukup lama, pun dengan planning yang telah ia pikirkan secara matang-matang. Karena hanya Arunika satu-satunya wanita yang berhasil membuat kepercayaan dirinya kembali. Hasrat ingin mengecap bahagia dalam sebuah mahligai rumah tangga bersama wanita yang mampu mengubah sudut pandangnya mengemuka.


Sepeninggalan Altar, Arunika memilih bergegas untuk membersihkan badan. Menyegarkan tubuhnya yang sudah letih seharian ini. Ketika keluar dari kamar mandi, pria yang sudah resmi menjadi suaminya itu sudah kembali. Ia tampak duduk di atas tempat tidur seraya mengoperasikan MacBook. Untuk sejenak Arunika mematung di depan pintu kamar mandi. Masih tidak percaya dengan fakta yang tersaji di depan mata.


Ia sudah menikah. Sudah taken. Menyandang status sebagai istri dari seorang pria bernama Altar Jhonyan Dee Diantoro. Pria yang sekarang tengah duduk di atas tempat tidur,  menunggunya. Layaknya seorang suami yang menunggu sang istri untuk melakukan ritual malam pertama. Arunika menggelengkan kepala cepat, menampik kilasan berbau 1821 yang mampir di kepala.


“Kamu sudah selesai?”


Pertanyaan yang datang tanpa diduga itu membuat Arunika mengerjap. Ia kemudian mengangguk, berjalan mendekat menuju meja rias. Duduk di sana, memunggungi sang suami. Dengan gerakan kikuk ia meraih pouch make up miliknya. Barang-barang pribadinya memang sudah diantarkan seseorang saat ia membersihkan badan. Oleh karena itu, sekarang Arunika bisa menggunakan skincare yang rutin ia gunakan sebelum tidur. Namun, sadar akan tatapan menusuk dari balik punggung, membuat Arunika yang tengah menggunakan skincare secara merata di wajahnya jadi salah tingkah.


‘Anj*r, dia ngapain ngelihatin terus, sih? Bikin salting aja!’ gerutunya di dalam hati.


“Aru, mau sampai kapan kamu bercermin? Kamu tidak mau beristirahat?”

__ADS_1


Arunika tersentak. “Ah, iya, Mas. Ini udah selesai, kok,” kamu aja yang bikin galfok—lanjut Arunika di dalam hati.


Selesai dengan urusan per skincare-an, Arunika beranjak. Mendekat ke arah tempat tidur. Semua gerak-gerik wanita itu tidak lepas sedikitpun dari sepasang netra jelaga milik suaminya.


“Jangan berpikir yang aneh-aneh, tidak ada salah satu di antara kita yang akan tidur di sofa.”


Arunika tersenyum congkak. Padahal ia baru akan mengambil bantal dan selimut tambahan untuk ia gunakan.


Arunika memang berencana tidur di sofa yang ada di dekat jendela. Tapi, ternyata skenario itu dapat ditebak dengan mudah oleh sang suami.


“Tidur di tempat tidur. Kita tidak akan melakukannya sekarang.”


“Melakukan apa?” tanya Arunika ambigu.


Altar menaikkan satu alis, tampak menggoda. “Memangnya untuk apa kita menikah, Aru? Bukannya untuk membuktikan ucapanmu soal—“


“Stop!” Arunika menyela cepat. “Udah, aku tidur di sini. Puas?” tanyanya seraya buru-buru membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.


“Good.” Altar tersenyum tipis.


Arunika berdecak sebal seraya menaikkan selimut hingga batas dada. Altar juga melakukan hal yang sama, membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang sudah lama tidak ia sambangi.


“Kamu belum tidur?” tanya Altar beberapa saat kemudian. Sadar akan gerakan acak yang berasal dari samping. Wanita cantik yang mengenakan piyama panjang berwarna dark blue itu seperti tidak nyaman di tempatnya berbaring.


“Kenapa? Tidak nyaman? atau AC nya terlalu dingin?”


Arunika menggeleng pelan. “Bukan gitu, aneh aja. Mungkin karena aku belum bisa beradaptasi.”


“Kamu belum bisa beradaptasi? Kupikir kamu bisa tidur di mana saja dengan mudah.”


“Saya tidak begitu, Pak—ups!” Arunika cepat-cepat menutup mulutnya menggunakan tangan. Sadar akan kebiasannya yang tidak mudah dihilangkan. Ia menoleh ke samping, mencari tahu respon sang suami.


“Sesulit itu bicara non formal denganku?” tanya suaminya tanpa ekspresi.


“Hm.”


“Mas marah?” tanyanya hati-hati sembari mengamati ekspresi sang suami. Pria itu terkadang sangat sulit dimengerti.


“Marah untuk apa?”


“Karena kebiasaan aku manggil ‘Pak’.”


“Seperti yang tadi kamu bilang, itu kebiasaan. Perlahan-lahan juga kamu pasti akan lupa.”


Arunika tersenyum tipis. Setidaknya sekarang ia bisa bernafas lega. Altar tidak marah. Walaupun ia sendiri tidak pernah melihat sang atasan marah selama bekerja sebulan belakangan. Omong-omong soal bekerja, bagaimana dengan masalah pekerjaan? Lalu surat kontrak kerja?


“Mas.”


“Hm.”


“Em, apa aku masih boleh kerja setelah menikah? Terus, gimana soal kontrak  kerja waktu itu?”


“Kamu dipecat.”


“A—pa?!” kaget Arunika. Kedua bola matanya sudah membulat sempurna. “Dipecat? Kok bisa?”


“Hm.”


“Kenapa? Padahal sebulan belakang aku berusaha bekerja seoptimal mungkin. Kinerjaku juga tidak perlu diragukan. Kenapa tiba-tiba aku dipecat?” tanya Arunika bertubi-tubi.


Altar menoleh, menatap wajah cantik yang tampak tengah menuntut sebuah jawaban darinya. “Karena sekarang kamu memiliki pekerjaan yang tetap, dan lebih cocok untuk kamu.”

__ADS_1


“Pekerjaan tetap? Pekerjaan apa? Aku mana ada kerja lain selain DJ dan menjadi sekretaris kamu?”


Altar kembali mengurai senyum setipis kerta mendapati kecerewetan sang istri. Ia terhibur. “Sekarang tugas kamu adalah menjadi istriku. Pekerjaan kamu hanya menungguku di rumah, mengurusi kebutuhanku, melayaniku, dan mempersiapkan diri untuk mengandung anakku.”


Arunika speechless mendengarnya. Apa benar yang baru saja berkata-kata dengan gamblang adalah Altar? Bos-nya yang mengidap gangguan infertilitas? Tapi, sejak kapan pria itu memiliki kepercayaan setinggi langit? Kemana perginya Altar yang kemarin tampak lemah karena kondisinya?


“Kamu nggak lagi kesurupan, kan, Mas? Kok bicaranya jadi kayak Vicky Prasetyo?”


Altar menautkan kening. “Kenapa? Kamu tampak kebingungan?”


“Iya, bingung sama ucapan kamu. Kayak bukan kamu aja.”


“Memang apa yang salah dari ucapanku?” tanya Altar seraya meraih pinggang sang istri, membawa wanita itu mendekat.


“Kamu mau ngapain, Mas? Jangan aneh-aneh deh!” ronta Arunika. Waspadalah.


“Ssttt, diam. Kamu harus beradaptasi, bukan?”


“Beradaptasi sih beradaptasi. Tapi, bukan gini juga,” ujar Arunika ketus. Sekarang posisinya sudah berbaring tepat di hadapan Altar. Degup jantungnya juga sudah tidak terselamatkan.


“Ini adalah cara supaya kamu cepat beradaptasi,” ujar Altar pelan seraya menyerukan wajahnya di pucuk kepala sang istri. Menghirup aroma shampo yang berasal dari aroma campuran bunga segar dan citrus.


“Mas.”


“Hm?”


“Masa kita tidurnya begini?”


“Kenapa?”


“Gak nyaman.”


“Rileks. Buat dirimu nyaman, Aru.” Altar berujar seraya melilitkan kedua lengan kokohnya di pinggang sang istri. Membawa tubuh mungil itu ke dalam rengkuhan. Membuat wanitanya senyaman mungkin dalam rengkuhan yang ia berikan.


Arunika hanya bisa terdiam dengan tubuh membatu seperti arca dengan jantung yang bertalu-talu. Namun, tubuhnya berangsur-angsur rileks. Bagaimanapun juga Altar adalah suaminya. Harusnya ia bersyukur karena pria itu tidak memaksanya melakukan ritual yang biasa dilakukan pasangan baru pada malam pertama.


Kendati demikian, tetap saja semua ini terlalu mendadak bagi Arunika. Sekarang yang bisa Arunika lakukan adalah menjalani semuanya dengan lapang dada. Maka, dengan perlahan tapi pasti, ia mencoba membuat tubuhnya rileks. Ia sebenarnya tidak yakin bisa tertidur dalam posisi dipeluk dengan posesif seperti saat ini.


“Aru.”


Suara deep bass itu kembali mengalun. Membuat bulu-bulu halus di sekitar lehernya terasa berdiri. Sedahsyat itu memang efek suara deep bass milik CFO D’A Cooperation. Bujangan terpanas yang hari ini melepas masa lajangnya.


“Hm.”


Arunika hanya merespon dengan dehaman kecil yang tersamarkan oleh posisinya yang berhadapan langsung dengan dada bidang yang sama-sama terlapisi pejamas berwarna dark blue.


“Besok kita harus pergi ke rumah sakit.”


“Untuk apa?”


“Pemeriksaan,” jeda sejenak. Sebelum suara deep bass itu kembali mengalunkan kalimat yang membuat jantung Arunika kian menggila.


“Aku harus memastikan sesuatu, sebelum kita membuktikan ucapanmu soal kemungkinan dapat memiliki keturunan. Besok kita harus menemui dokter Ridwan sebelum melakukan penyatuan.”


Please, sekarang Arunika tidak tahu bisa memejamkan mata atau tidak setelah Altar berkata demikian.


...🍄🍄...


...TBC...


...Semoga suka 🖤...

__ADS_1


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...


...Tanggerang 11-12-22...


__ADS_2