
Tepat pada hari ke tujuh, Altar sudah kembali bertolak ke Jakarta dari bandara Changi Singapura. Ia sengaja mengambil tiket pagi supaya lebih cepat sampai di Jakarta. Pekerjaan yang seharusnya menghabiskan waktu selama dua Minggu, ia rampungkan dalam satu Minggu. Oleh karena itu, ia sama sekali tidak punya waktu luang untuk mengurus sesuatu yang bersifat sepele. Seminggu ini ia benar-benar hectic dengan masalah keuangan yang mengalami urgent problem.
Setibanya di Jakarta, Altar tidak langsung pulang ke rumah. Ia ingin menyerahkan hasil laporan kerjanya selama satu Minggu ini secara langsung pada sang adik yang memegang jabatan Chief Exsekutive Officer (CEO) atau Presdir (Presiden Direktur). Jabatan yang sebelumnya ia pegang selama beberapa tahun. Altar juga sudah rindu ingin menemui sang istri. Wanita hamil itu pasti sedang bekerja. Padahal ia sudah menyuruh untuk mengambil cuti beberapa hari.
Altar dan timnya yang terdiri dari dua sang asisten langsung menuju kantor setelah landing di Jakarta. Pagi itu mereka benar-benar sibuk. Sesampainya di kantor, mereka malah mendapati keributan yang cukup menonjolkan. Beberapa staf wanita terang-terangan sedang membicarakan sesuatu tentang rumor.
"Alura."
"Yes, Sir."
"Cari tahu apa yang sebenarnya sedang mereka bicarakan pagi-pagi begini. mereka tidak punya pekerjaan?"
Wanita muda bernama Alura yang sudah tampak kelelahan itu mengangguk. Walaupun lelah, ia tetap semangat bekerja dengan semestinya. Sesuai perintah sang atasan, Alura pun berinisiatif untuk menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi selama mereka pergi. Kenapa heboh sekali.
"Ada apa?" tanya Altar ketika Alura kembali. Saat ini ia sedang menunggu lift eksekutif.
"Begini, Sir. Belakang ada rumor tentang staf yang menutupi status mereka."
Altar manggut-manggut mendengarnya. "Lalu, apa masalahnya? kenapa jadi mereka yang sibuk bergosip?"
Alura tersenyum kikuk seraya menggaruk tengkuk. "Katanya, suaminya ini ada main sama anak magang. Sedangkan istrinya sedang hamil, sir."
"And then? istrinya melabrak anak magang itu?" tebak Altar.
Alura menggelengkan kepala. "Justru anak magang itu yang melabrak istri sah, Sir."
Altar berdecak mendengarnya. Masalah seperti itu seharusnya tidak dibesar-besarkan. Ini adalah kantor, tempat untuk bekerja. Bukan sarana bergosip serta membuat keributan hanya karena alasan pribadi. Seharusnya pihak human resource development atau HRD segera mengambil tindakan untuk menyelesaikan masalah ini supaya tidak menganggu pekerjaan para staf.
"Satu lagi, Sir."
Altar merespon santai. Sebentar lagi lift yang ja tunggu akan terbuka. "Hm."
__ADS_1
"Katanya pasangan yang menutupi statusnya itu Mbak Arunika dan Mas Airlangga. Mereka sebenarnya pasangan suami-istri yang...."
"Bisa kamu ulangi sekali lagi, Alura?" tanya Altar dengan satu alis menukik.
"Mbak Arunika dan Mas Airlangga ternyata pasangan suami-istri, Sir."
Altar tersenyum kecil mendengarnya. "Opini bodoh dari mana, itu?"
"Eh, itu memang rumor yang sedang dibicarakan saat ini, Sir. Buktinya sekarang Mbak Arunika sedang dilabrak...."
Alura tidak lagi dapat menyelesaikan ucapannya, karena saat pintu lift terbuka, Altar langsung melesat masuk dengan kecepatan cahaya.
"Kalian berdua temui CEO, kemudian paparkan hasil kerja selama di kantor cabang," pesan Altar sebelum pintu besi itu tertutup rapat. Meninggalkan Alura dan satu rekannya lagi yang masih melongo.
ππ
"Sebenarnya apa yang kamu kerjakan sampai-sampai kamu tidak menjaga Kakak ipar mu dengan baik?" pertanyaannya itu dilontarkan Altar dengan nada dingin saat sambungan telepon diangkat oleh seseorang di seberang.
Altar mendengus mendengar ucapan sang adik. Tiba gedung finance, Altar kemudian mengakhiri sambungan telepon dengan adik bungsunya. Ia bergegas menuju ruangan sang istri yang berada tepat di depan ruangannya. Ternyata benar kata Alura, istrinya sedang dilabrak. Buktinya, banyak orang yang sedang berkerumun di depan ruangan sang istri. Mayoritas mereka adalah staf kaum Hawa.
Dengan emosi yang sudah berkumpul menjadi satu, Altar yang sudah berdiri di depan ruangan sang istri, tepat di belakang kerumunan yang berjubel di depan pintu, ia bersuara dengan nada begitu dingin.
"Sedang apa kalian berkerumun di ruangan istri saya?"
Sontak, semua perhatian teralihkan ke arah Altar. Secara tiba-tiba kerumunan yang berjubel di depan pintu itu membuat celah, sehingga Altar bisa dengan jelas melihat wajah istri tercintanya.
"Ada yang bisa menjawab pertanyaan saya?" tanyanya lagi. Kali ini tatapan onyx hitamnya bergerilya. Membuat mereka semua kompak tutup mulut dan menunduk. Hanya isi kepala yang bekerja, terus menerka-nerka.
"Saya bisa menjawab pertanyaan Bapak," ujar Coryssa, angkat bicara. "Kami di sini sedang meluruskan masalah status sekretaris Bapak yang sedang hamil tanpa suami."
"Hamil tanpa suami?" kedua alis Altar menukik tajam.
__ADS_1
"Iya, Pak. Mengingat status sekretaris Bapak selama ini masih singel. Sedangkan sekarang dia sedang hamil," tutur Coryssa percaya diri. "Dan apa Bapak tahu, siapa suami dari sekretaris kesayangan Bapak ini?"
Alih-alih menjawab, Altar memilih melipat tangan di depan dada seraya tersenyum miring. "Kamu tidak dengar saya memanggil dia dengan sebutan apa?"
Dia yang Altar maksud adalah Arunika. Wanita cantik yang menggunakan blouse lengan panjang berwarna biru Dongker itu tampak mencoba mengajak suaminya berkomunikasi lewat kontak mata. Namun, Altar tak menghiraukan.
"I-stri?" lirih Coryssa. Ia tidak salah dengar. Banyak telinga yang mendengar Altar dengan gamblang mengatakan kalimat, "Sedang apa kalian berkerumun di ruangan istri saya?"
"Arunika .... Istri Bapak?" Coryssa bertanya dengan raut wajah pias luar biasa.
Altar tidak langsung menjawab. Ia memilih melangkah terlebih dahulu menuju ruangan sang istri. "Dia tidak hamil tanpa suami," ujarnya penuh penekanan. "Dan Airlangga bukan ayah dari janin yang sedang dia kandung," tambahnya. "Janin itu ada karena saya."
Coryssa terhenyak dalam diam. Begitu juga Anin yang sudah bergetar ketakutan. Mereka yang kedapatan menonton juga ikut dibuat tercengang.
"Tapi ....kapan Bapak dan Arunika menikah? bukannya status Bapak masih singel?"
"Kami menikah satu tahun yang lalu." Altar berkata seraya menggenggam tangan sang istri yang sudah ia rindukan selama berhari-hari.
Jujur, Altar tidak mengenal siapa itu Coryssa. Ia tahu nama Coryssa saja dari ID Card Staff yang menggantung di lehernya. Namun, Altar ingat jika ia sempat beberapa kali melihat wajah Coryssa saat meeting bersama divisi marketing.
"Kami sudah resmi menjadi suami-istri. Membiarkan publik tahu atau tidak tentang status kami, itu adalah hak kami berdua." Onyx hitam Altar menatap Coryssa dengan lekat. "Sebenarnya menyembunyikan pernikahan adalah cara yang saya pilih untuk melindungi istri tercinta saya."
"M-aaf, Pak." Coryssa tiba-tiba berucap maaf. "Saya ....tidak tahu jika Arunika istri Bapak."
"Sekarang kamu sudah tahu," sahut Altar. Onyx hitamnya menatap dingin, sedangkan tangan bergerak merengkuh pinggang ramping sang istri yang sejak tadi memilih bungkam. "Kalian semua sekarang sudah tahu jika Arunika istri saya. Untuk kedepannya, saya tidak ingin masalah seperti ini terjadi lagi," tukasnya. "Jika ada yang berani mengusik istri dan calon bayi kami, kalian harus bersiap untuk kehilangan pekerjaan."
ππ
Semoga suka π€
Jangan lupa rate bintang 5 π like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai π
__ADS_1
Tanggerang 08-12-23