Mendadak Jadi Istri Presdir

Mendadak Jadi Istri Presdir
8. Celebrity


__ADS_3

Satu porsi spaghetti aglio olio yang disajikan dengan sangat cantik sudah siap dinikmati, tersaji di hadapan Arunika. Mata coklatnya menatap hidangan tersebut dengan tatapan antara berselera dan tidak.


For your information, Arunika ini memiliki perut karet. Ia tidak akan kenyang hanya dengan menikmati seporsi spaghetti aglio olio yang harganya bisa dia gunakan untuk membeli 3-4 porsi mie ayam langganannya. Selain itu Arunika yang keturunan darah campuran, maksudnya mix antara Korea-Jawa-Sunda. Ia lahir, tumbuh, dan besar di kota Pasundan.


Kendati memiliki darah orang Korea, sedari kecil Arunika sudah hidup membumi. Salah satunya adalah urusan perut. Orang asli bumi pertiwi ini biasanya menganut kebiasaan yang unik soal urusan perut. Kalau belum makan nasi, ya belum makan. Begitu bukan?


Kalimat itu pasti familiar di telinga. Arunika juga begitu. Ia belum afdal di sebut makan jika belum bertemu dengan nasi. Ia bahkan sanggup menikmati dua porsi mie ayam dilanjutkan dengan makan sepiring nasi lengkap beserta lauk-pauknya. Perutnya aman-aman saja. Namun, ketika datang masa mogok makan, jangankan menyuapkan sesuap nasi, air saja rasanya enggan ia ditelan.


“Ayo, makan.”


“Ah, iya, Pak.”


Arunika menjawab sembari mengulas senyum paksa. Namun, kali ini keadaanya berbeda.


Bagaimanapun caranya ia harus menghabiskan makanan tersebut agar bisa cepat pulang. Anggap saja ini adalah rezeki anak sholehah. Makan makanan mahal di restoran bintang lima di tengah bulan. Bagi seorang staf kantoran biasa sepertinya, hal ini ibarat ketiban durian runtuh.


“Nikmat mana lagi yang engkau dustakan,” gumamnya kecil seraya tersenyum sumringah.


“Kamu berbicara sesuatu?”


“Ah, tidak. Bapak salah dengar kali,” dalih Arunika seraya melambaikan tangannya di depan wajah.


Altar menatap sang sekretaris datar. Ia pikir barusan mendengar lawan bicaranya mengatakan sesuatu. Ah, atau mungkin dia cuma salah dengar?


“Habiskan makananmu. Setelah itu saya antar kamu pulang.”


Arunika mengangguk mantap. Di dalam hati ia bersorak gembira karena akhirnya bisa pulang juga. Ia sudah tidak sanggup lagi berlama-lama dengan sanga atasan.


...🍄🍄...


“Haduh, telat nih gue,” gumam Arunika gusar.


Wanita yang mengenakan hari ini mengenakan atasan kemeja putih berkerah V nick dengan bawah pencil skirt berwarna dongker itu baru saja turun dari Transjakarta. Kesialan kembali menghampiri hari keduanya menjadi sekretaris plus asisten plus pesuruh pria bernama lengkap Altar Jhonyan Dee Diantoro. Baru saja menuruni TransJakarta, kakinya yang terbalut heels  7 centi hampir saja tersandung pembatas jalan.


Poor Arunika.


Setelah semalam ditraktir sang atasan di hari pertamanya official berganti jabatan, paginya malah ketiban sial karena bangun kesiangan. Terlebih lagi pagi tadi sang adik tidak sempat meninggalkan sarapan apapun, karena harus buru-buru pergi ke sekolah. Hanya ada dua lembar roti tawar berselimut nuttela yang mengganjal perutnya pagi ini.


“Baru nyampe, lo?” Tanya Aling saat berpapasan dengan Arunika di dalam lift.


“Iya. Telat gue.”


“Mampus. Barusan bos lo udah dateng.”

__ADS_1


“Yang bener lo?” kaget Arunika sembari mengecek jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul delapan lewat dua puluh menit! Pantas saja bos-nya sudah datang.


Aling mengangguk seraya melipat kedua tangan di dada. “Mana dateng nya sama mantan finalis putri Indonesia lagi.”


“Yang bener lo? Hebat bener.” Aruna menatap sang sahabat tidak percaya. Pagi-pagi begini ia sudah ketinggalan headline news.


Wanita bermata sipit itu mengangguk seraya menyentuh frame kacamatanya. “Hm. Kabar yang lagi anget sih, katanya mereka itu punya something.”


“Wah, keturunan Sabyan itu bukan main seleranya. Gandengannya aja finalis putri Indonesia. Kenapa enggak anak Presiden aja sekalian?” ujar Arunika, menyuarakan pendapat.


“Lah, lo memangnya gak tahu kalau pak Al itu memang deket sama anak Presiden?”


Arunika menggeleng spontan. “Emang beneran pernah punya sejarah deket anak Presiden?”


“Iyalah. Mereka dulu katanya satu universitas di Harvard University. Sampe sekarang masih follow-follow-an juga di Instagram.”


“Weleh, pantesan.” Arunika mengangguk-anggukan kepalanya mendengar informasi tersebut.


Ia memang baru tahu soal latar belakang Altar yang satu itu. Lulusan Harvard, Arunika tahu itu. Jikalau soal kedekatannya dengan putri presiden dan mantan finalis putri Indonesia, Arunika memang baru tahu.


Terbesit rasa penasaran di otak cantiknya. Apa yang para wanita cantik nan terpelajar itu lihat dari seorang Altar?


Mapan, yes.


Tampan, yes.


Attitude and manner-nya good, yes.


Boyfriend material, yes.


Husband material, yes.


Kurangnya? Hampir tidak ada.


Pria itu layaknya kesempurnaan nyata bagi seorang umat manusia. Walaupun Arunika tahu jika kesempurnaan itu hanya milik Tuhan. Tapi, untuk ukuran manusia biasa, Altar bisa jadi memiliki tingkat  keakuratan 90% mendekati kata perfect.


Tiba di lantai  yang dituju, Arunika lantas buru-buru memasuki ruangannya yang baru. Sembari berjalan mengendap-endap, manik coklatnya menebar ke seluruh penjuru. Senyumnya baru terbit saat tangannya berhasil meraih kenop pintu ruangan kerja yang baru. Namun, baru saja ia menarik kenop tersebut. Sebuah suara terlebih menyela gerakannya.


“Kamu sekretaris barunya, Al?”


Arunika membalikan tubuhnya dengan gerakan refleks. Senyum tipis terbit di wajahnya yang hari ini terpulas make up sederhana. “Ah, iya. Ada apa ya, Mbak?”


Manik coklatnya menatap wanita kelewat cantik yang berdiri dengan anggun di hadapannya dengan lekat. Tubuh semampai dan proporsional wanita tersebut terbalut dress berwarna light blue dengan bahan super lembut. Ujung dress tersebut jatuh tepat di atas lutut. Sepasang heels berwarna senada juga tampak menghiasi kaki jenjangnya. Surai hitam miliknya tergerai rapih. Senyum ramah senantiasa menghiasi wajah ayu khas perempuan Asia tersebut.

__ADS_1


“Panggil saja Arumi atau Arum. Kita kayaknya seumuran.”


Arunika tersenyum sembari mengangguk. “Hm, kamu ada perlu apa di sini? Atau jangan-jangan kamu tersesat?”


“Bukan, kok. Saya ke sini cuma mau keliling-keliling,” jawab wanita cantik yang mengaku sebagai bernama Arumi itu.


Suaranya terdengar halus sekali di telinga Arunika. Berbeda dengan suaranya yang sering kali nge-gas jika sedang berbicara. Tidak ada remnya. Arunika memang bukan tipe wanita feminim. Ia lebih cenderung ke tomboy dan cuek terhadap urusan penampilan.


Berbeda dengan Arum yang seorang Celebrity. Finalis putri Indonesia yang sudah pasti terakreditasi kecantikan, keanggunan, serta kecerdasannya.


Jika hidup bergantung pada kecantikan, maka Arunika masih bisa bersaing. Dari segi fisik, ia tidak jelek-jelek amat. Masih bisa dikatakan golongan tipe ideal para pria. Sedangkan dari segi kecerdasan, mungkin Arunika akan tertinggal tiga langkah di belakang Arumi.


Arunika memang diberkahi otak yang mudah untuk mencerna materi. Namun, ia terkadang lemah dalam beberapa aspek jika terlalu terlalu dibebankan banyak tugas. Kelebihannya, Arunika itu menyukai berbagai hal yang berbau dengan perhitungan dan musik. Ia tidak akan kesulitan jika diberikan materi menyangkut perhitungan serta musik.


“Apa kamu enggak capek kerja multitasking begini?” Tanya Arum saat mengetahui jika Arunika berkerja sebagai sekretaris sekaligus asisten pribadi Altar.


Arunika menggelengkan kepalanya tegas. “Enggak. Ini masih bisa aku handle.”


“Aku dengar kamu baru menggantikan posisi Ibu Yangti, ya?”


“Iya. Baru dua hari ini.”


“Wah, kalau begitu seharusnya Al traktir kita makan.”


Kening Arunika mengernyit mendengarnya. “Traktir makan dalam rangka apa?”


“Dalam rangka Al memiliki sekretaris baru. Dia selama ini terlalu bergantung sama Ibu Yanti. Sudah seharusnya dia berdiri sendiri.”


Wanita cantik bak Batari yang tengah pelesiran ke bumi itu, tampak bersemangat setiap kali bicara soal Altar. Beberapa saat kemudian, celebrity dadakan di D’A Cooperation itu pamit undur diri. Sebelum pergi mereka sempat bertukar nomer untuk menjalin komunikasi. Arunika tentu saja menerimanya dengan senang hati. Toh, siapa juga yang tidak mau berbagi nomer dengan seorang celebrity. Apalagi celebrity macam Arumi.


Sepeninggalan Arumi Soedibyo Joyokusumo—mantan finalis putri Indonesia—Arunika lantas kembali melanjutkan rutinitasnya. Ia harus berkutat dengan beberapa dokumen yang perlu dievaluasi oleh sang atasan, mengecek beberapa data yang masuk, juga melakukan pendataan ulang soal jadwal sang atasan untuk beberapa hari ke depan. Ibu Yanti juga sudah berpesan agar ia pandai memanage waktu sang atasan. Karena jadwal pria itu akan padat mendekati akhir bulan ini.


Ketika memasuki jam makan siang, mantan finalis putri Indonesia itu benar-benar membuktikan ucapannya. Saat turun ke lantai dasar, wanita cantik yang pembawaannya selalu anggun itu mengajak Arunika makan bersama di canteen.


Arunika tidak bisa berkata ‘tidak’, karena Altar juga ada di pihak Arumi. Jadi, sekarang ia terjebak di posisi canggung ini. Hampir seisi canteen menatap ke arah-nya. Mungkin lebih tepatnya ke arah sepasang manusia yang tengah menikmati makan siang dengan elegan di hadapannya.


Duduk satu meja bersama dua orang celebrity tak lantas menjadikan Arunika celebrity pula. Namun, ia kecipratan getahnya karena posisinya seperti benalu di antara dua manusia keturunan dewa-dewi tersebut. Mendadak selera makannya hilang.


Ia melirik ke kiri, iri akan posisi Aling dan Rose yang tengah menikmati makan siang dengan lahap. Harusnya ia juga makan dengan lahap di antara teman-temannya, berhubung pagi tadi lambungnya kurang terisi.


Menu yang dihidangkan di canteen siang ini adalah masakan Timur Tengah. Mulai dari olahan sayur-sayuran, ikan, hingga daging, semuanya tampak menggugah selera. Nasi kebuli tetap jadi dominan yang paling dicari. Namun sayang, Arunika tidak bisa menikmati semua itu karena posisi canggung yang ia hadapi. Nasibnya hari ini memang sial sekali.


...🍄🍄...

__ADS_1


...TBC...


...Tanggerang 28-11-23...


__ADS_2