Mendadak Jadi Istri Presdir

Mendadak Jadi Istri Presdir
31. Legal


__ADS_3

Tepat 24 jam kemudian, status lajang yang Arunika sandang telah sirna. Sekarang ia berganti status, baik menurut hukum dan agama. Berlaku pula pada kartu identitasnya. Jauh dari kesan mewah, acara sakral itu hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat. Mulai dari keluarga, hingga sahabat dekat. Tidak terkecuali dua biang gosip D'A Cooperation yang saat ini tengah menangis sesenggukan di pojokan seraya berangkulan layaknya Teletubbies.


"Udah, dong, Ling, Ros. Kan gue yang nikah, kok lo berdua yang terharu?" wanita dalam balutan wedding dress sederhana itu berucap seraya menyodorkan box tisu kepada dua sahabatnya.


"Tega lo, Ru. Kenapa lo malah taken duluan!"


Rose buka suara terlebih dahulu. Wanita yang menjadi Bridesmaids dadakan itu tampak cantik dalam balutan dress berwarna putih selutut dengan hiasan payet-payet di beberapa bagian. Sayangnya sapuan make up hasil karya make up artist di wajah cantiknya sejak tadi malah dihujani air mata. Untung saja make up-nya waterproof dan transferproof.


"Mana taken nya dapat yang hot and sexy man lagi. Iri hati gue tuh, Ru! kenapa sih lo hoki banget?! "


Wanita dalam balutan wedding dress itu tersenyum tipis. Tahu jika pernikahan dadakan ini mengguncang kedua sahabatnya. "Tau nggak, jam delapan kemarin gue datang ke apartemen dia sebagai sekretarisnya. Sejam kemudian, gue dilamar tanpa ada embel-embel kata romantis. Dilamar di ruang makan, di dapur lebih tepatnya. Tolong digaris bawahan itu. And then, 24 jam kemudian gue ganti status jadi istrinya. Lo pikir gue nggak shock?"


Jawabnya adalah Arunika shock. Ia bahkan tidak memiliki persiapan apa-apa ketika hendak dinikahi oleh sang atasan. Semua diurus oleh Altar dan Anita. Arunika bahkan tidak tahu bagaimana cara laki-laki itu mengurus dokumen dan sebagainya untuk kebutuhan pernikahan mereka. Tahu-tahu sudah siap saja.


Sedangkan Anita sendiri sejak kemarin langsung melakukan make over singkat namun sangat bermanfaat pada Arunika. Wanita paruh baya itu pasti juga sangat terkejut, namun tidak aka raut wajah yang menyiratkan penolakan. Arunika sempat was-was dengan respon Anita. Nyatanya, wanita paruh baya itu sangat welcome. Kemarin banyak waktu Arunika disita oleh Anita. Dikarenakan wanita itu tiba-tiba membawa segerombolan manusia yang bertugas untuk mengukur Arunika, bahkan sampai melakukan perawatan pra-nikah seperti yang biasa dilakukan para mempelai wanita di luar sana.


Semua benar-benar dilakukan secara singkat, cepat, dan tentu saja menggunakan uang yang tidak terhingga.


"Shock sih iya. But, kenapa Tuhan baik banget sama lo!" ketus Rose. Ia masih tidak terima salah satu idolanya di kantor ternyata menikahi sahabat sendiri. Parahnya lagi, ia tidak tahu kapan mereka dekat atau bahkan menjalin asmara.


"Udah lah, Ros. Cogan di dunia ini gak akan habis cuma karena taken satu," lerai Aling. "Lagian seharusnya sekarang kita ikut bahagia buat Aru."


"Iya, sih. But, sekarang tiga petinggi D'A Cooperation udah taken semua. Mulai dari sir Afka, sir Arez, sekarang sir Altar. Lah, gue auto nggak kebagian dong." Sedih Rose.


"Tenang, 'kan sir Airlangga masih ada," sahut Aling jenaka. Ia yang sejak tadi diam jadi gatal untuk ikut bersuara.

__ADS_1


"Najis! Mana mau gue balikan sama mantan. Balikan sama mantan itu udah kayak baca buku yang sama dua kali, ending-nya tetap sama. Pokoknya andwe!"


Arunika dan Aling tersenyum kecil. Dari pihak mempelai wanita hanya ada mereka berdua plus dengan Airlangga dan Bian yang hadir di pernikahan super dadakan tersebut. Benar-benar tidak persiapan sama sekali untuk pernikahan mereka. Namun, Altar telah mempersiapkan semuanya dengan baik dalam kurun waktu 24 jam.


Orang pertama yang pria itu hubungi adalah ibunya. Dilanjut asisten pribadi, lalu adik-adiknya. Akad nikah dilangsungkan pada pukul 09.00 pagi, dengan Bian sebagai wali dari pihak mempelai wanita. Kurang dari 30 orang yang menyaksikan acara sakral tersebut. Bertepatan di kediaman utama keluarga Diantoro, akad nikah dilangsungkan secara kekeluargaan.


Hingga fajar menyingsing di ufuk Timur, para tamu mulai berangsur-angsur menyurut. Menyisakan keluarga inti dan orang-orang terdekat.


"Bi."


Laki-laki muda yang baru saja mengisi gelas dengan air dingin dari water dispenser itu menoleh. Melarikan pandangan pada sang kakak yang hari ini tampil berkali-kali lipat lebih cantik dalam balutan wedding dress.


Sebagian seorang adik, Bukan tentu bahagia dan terharu karena bisa menikahkan sang kakak dengan tangannya sendiri. Di sisi lain ia sedih, karena di jari bahagia kakaknya itu, mereka hanya berdua. Tidak ada satu pun sanak saudara.


"Iya, Mbak."


Bian terdiam. Ia tahu maksud dari ucapan sang kakak. Namun, untuk saat ini tidak ada yang ingin ia sampaikan. Bohong jika Bian tidak terkejut kala ada seorang pria asing yang menemuinya. Pria itu menanyakan apa hubungannya dengan Arunika.


Altar, suami kakaknya itu pertama kali Bian temui di saat pria itu mengantarkan kakaknya pulang selepas menginap. Tanpa sengaja mereka berjumpa. Entah dari mana pula pria itu mengetahui Bian.


Kendati demikian, setelah mengetahui status Bian dan Arunika, pria itu pergi begitu saja. Tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Bian kembali bisa mendengar suara pria asing itu kemarin. Etah dari mana ia mendapatkan nomer Bian, yang pasti ia mengatakan sesuatu yang membuat Bian shock mendadak.


Bagaimana tidak shock, pria yang baru ia jumpai satu kali tiba-tiba mengatakan akan mempersunting sang kakak. Jangan salahkan Biar jika langsung memberondong pria itu dengan pertanyaan sarkasme. Misalnya apa mereka telah melakukan perbuatan yang seharusnya tidak dilakukan, sehingga pria itu harus menikahi kakaknya secara mendadak? namun, Biar bukan anak-anak lagi.


Alih-alih pertanyaan sarkasme, ia memilih melemparkan pertanyaan yang menuntut sebuah jawaban dan alasan. Kenapa pria seperti Altar ingin menikahi kakaknya yang hanya wanita biasa . Wanita mandiri yang selama ini lebih mementingkan hidup adiknya, ketimbang hidupnya sendiri.

__ADS_1


"Semoga Mbak bahagia sama pernikahan ini. Bian mendoakan yang terbaik untuk kalian."


Wanita dalam balutan wedding dress itu tak kuasa menahan tangis. Sejak mendengar suara sang adik melantukan kalimat ijab dengan suara serak, rasa sedih terkumpul jadi satu di dalam dada. Ia tidak menyangka akan menikah secepat ini. Pun dengan kondisi hanya didampingi sang adik dan tiga sahabatnya.


"Jangan lupain Bian, ya, Mbak."


Laki-laki muda itu juga ikut terisak, walaupun mati-matian ia tahan. Dalam pelukan sang kakak yang malam ini menjadi milik pria lain, Bian menumpahkan air matanya.


Bian berusaha tegar demi Arunika. Namun, melihat satu-satunya anggota keluarga yang selama ini berperan multi sebagai keluarga juga sahabat, ia tak kuasa menahan air mata. Tak pernah menyangka jika akan secepat ini sang kakak diperistri.


"Kamu bicara apa sih, Bi? Mana mungkin Mbak lupain kamu?" Arunika melerai pelukan. Kedua tangannya bergerak menangkap wajah mungil sang adik. "Kamu adalah satu-satunya harta berharta yang Mbak punya. Di manapun Mbak berada, kamu juga akan ada di sana, Bi."


"Tapi, suami Mbak-"


"Dia tidak sejahat itu sampai-sampai tega memisahkan Mbak sama kamu."


Bian mengangguk. Lelaki muda itu kembali memeluk sang kakak erat, sebelum melepaskannya untuk pergi bersama pria yang samar-samar ia lihat di dekat dinding sekat. Bian harap pria itu menepati janjinya untuk membuat sang kakak bahagia. Karena Bian percaya ia bisa memegang kata-katanya.


...πŸ„πŸ„...


...TBC...


...Happy Wedding πŸ’...


...Semoga suka πŸ–€...

__ADS_1


...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...


...Tanggerang 10-12-22...


__ADS_2