
...β οΈ Sexual Education Areaβ οΈ...
...ππ...
Arunika terbangun dari buaian bunga tidur lebih awal dari jam biologisnya. Saat terbangun, kesadaran langsung terkumpul begitu saja saat merasakan material hangat juga kokoh yang melingkupinya. Ia mendongkrak saat matanya hanya mendapati lapisan kain. Kala mendongkrak ia disuguhi pemandangan indah yang pasti membuat wanita manapun enggan beranjak dari peraduan.
Beberapa helai surai hitam tampak berjatuhan di atas dahi, membuatnya kian mempesona. Turun ke bawah, ada sepasang kelopak mata yang ditumbuhi bulu mata lentik tertutup rapat. Menyembunyikan sepasang netra jelaga di dalamnya. Turun lagi, melewati hidung mancung bak seluncuran anak di taman kanak-kanak, kemudian ia mendapati bibir tipis yang berwarna merah alami. Di tutup oleh pemandangan rahang kokoh yang sentuh-able.
Ia baru sadar jika memperhatikan seseorang yang sedang tidur bisa semenyenangkan ini. Padahal sebelum-sebelumnya ia tidak pernah begitu. Kendati demikian, alih-alih bisa mengalihkan pandangan ke objek lain, objek satu ini malah tidak dapat membuat pandangan berpaling. Sungguh, keindahan yang memiliki nilai jerat yang fantastis.
Tak mau menanggung malu karena kedapatan menikmati wajah rupawan sang suami, Arunika memilih beranjak. Semaksimal mungkin meminimalisir bunyi yang dapat menganggu. Setelah berhasil turun dari tempat tidur, Arunika bergegas menuju kamar mandi. Mengunci pintu dari dalam, kemudian berdiri di depan wastafel. Menghadap cermin yang menampilkan wajah cantiknya yang dihiasi rona kemerahan.
"OMG, gue masih gak nyangka kalau laki gue seganteng itu!" gumamnya heboh. "Mimpi apa kemaren-kemaren, sampe dapet gift suami model Ulzzang."
Sedetik kemudian, wanita itu menyalakan keran air untuk mencuci wajahnya. Menyegarkan juga berharap menyamarkan rona merah yang muncul. Ia tidak tahu dengan kinerja takdir yang begitu mudah membolak-balik jalan hidup. Baru sebulan lalu ia menyandang status sebagai sekretaris CFO dadakan, hanya karena insiden jumpa di club night. Berujung pada kilas kejadian memalukan yang tidak pernah terlupakan.
Sekarang ia malah menjadi istri dari pria yang dulu menghina performance-nya. bos keturunan Sabyan yang irit bicara, suka seenaknya, juga killer nauzubillah. Lucu sekali benang takdir di antara mereka.
"Aru, kamu di dalam?"
Arunika terlonjak kaget mendengar suara dari balik pintu. Pria itu ternyata sudah bangun.
"I-iya, Mas."
"Kamu masih lama di dalam? Kita harus salat Subuh. Bisa lebih cepat?"
"I-ya. Sebentar lagi, Mas," jawab Arunika seadanya. Membayangkan salat diimami oleh pria rupawan berwajah Adonis itu tentu membuat wajahnya kembali dihiasi oleh rona merah.
"Ck, wajah sensian. Dikit-dikit merona merah. Gak punya malu apa?" decak nya pada diri sendiri seraya membuka tutup odol. Tidak menyangka jika semudah itu tubuhnya merespon hanya karena membayangkan ketika nanti sang suami menjadi imam.
...ππ...
Arunika turun ke lantai dasar setelah salat Subuh diimami oleh Altar dan membereskan kamar mereka. Tiba di dapur, sudah ada dua wanita beda usia yang tengah berkutat dibalik cabinet dapur. Didampingi oleh seorang asisten rumah tangga yang tengah sibuk memotong sayur.
"Kakak ipar bangun pagi-pagi sekali? Bukannya pengantin baru biasanya bangun kesiangan, ya?" pertanyaan jenaka itu berasal dari wanita cantik yang mengenakan dress rumahan dari kain batik berbahan dingin. Dari dress itu tampak perutnya yang membuncit, menandakan eksistensi kehidupan lain di dalamnya.
"Una, jangan digoda gitu. Nanti Aru malu," lerai sang kepala keluarga.
Wanita bernama Aruna itu tersenyum tipis seraya mengelus perut buncitnya. "Sini, Mbak. Bantuin masak, jangan kayak aku yang cuma dibolehin nonton."
Arunika mengangguk, kemudian berjalan mendekat. "Ibu sedang masak apa?" tanyanya pada sang mertua. Wanita itu menyambut Arunika dengan ramah.
"Mama saja, Aru. Kamu, kan, sekarang anak Mama juga."
Arunika tertegun untuk sejenak. Kalimat Anita agaknya mampu membuat hatinya berdesir. Ia jadi merindukan sosok mama-nya yang telah lama berpulang. Pembawaan Anita dan mama-nya hampir serupa. Mereka ramah, keibuan, juga murah senyum.
"Anggap Mama seperti orang tua kamu sendiri mulai hari ini."
Arunika mengangguk. Selain tangguh, Anita Diantoro laksana dewi yang sesungguhnya. Ia baik, murah hati, keibuan, juga penyayang. Arunika sendiri bisa melihat aura tersebut hanya dalam satu kali pertemuan.
"Boleh Aru bantu, Ma?"
"Tentu," jawab Anita. "Mama malah senang lihat menantu-menantu Mama kumpul semua," imbuhnya bersamaan dengan datangnya seorang gadis muda berwajah kebarat-baratan.
Arunika tentu hafal siapa itu. Gadis itu lah alasan kenapa sang adik sempat mengalami patah hati berkepanjangan. Geuslline Anyelir namanya. Nama yang cantik, secantik si pemilik nama.
Gadis muda berwajah kebarat-baratan yang siapa sangka telah dipersunting diam-diam oleh playboy legendaris di D'A Cooperation, Arezta Jonh Nathaniel Diantoro. Mereka menikah karena sebuah insiden one night in the air yang menghasilkan sebuah kehidupan baru. Ada cerita panjang dibalik kisah keduanya sebelum berakhir di pelaminan.
__ADS_1
Inilah alasan terbesar kenapa playboy cap kakap sekelas Arez alias Jonhatan tidak lagi suka mengumbar rayuan maut. Alih-alih melakukan kebiasaanya, sekarang pria itu lebih dominan menjadi pria sejati yang hanya mencintai sang istri. Entah bagaimana pula akhir kisah cintanya dengan super model cantik berdarah Belanda yang dulu sering kali menjadi ajang iri dengki Rose and the geng di kantor.
"Ma, ini ikannya mau dimasak apa?" tanya Arunika dengan tangan menunjukkan ikan yang sudah dibersihkan dan disimpan di dalam Tupperware.
"Itu mau digoreng, tapi belum dibumbui."
"Biar Aru yang bumbui, boleh?"
Anita tersenyum seraya mengangguk. "Tentu saja."
Pagi pertama di rumah mertua yang Arunika lakoni, agaknya tidak seburuk cerita-cerita yang sempat ia dengar. Ibu mertuanya sangat baik dan ramah. Ditemani oleh dua adik iparnya, melengkapi kesan pertama saat Arunika memulai paginya di rumah mertua. Seluruh anggota keluarga kemudian turun saat hidangan sarapan telah masak semua.
Menikah dengan Altar berarti menikahkan pula dua keluarga, adat-istiadat, juga kebiasaan. Membuat Arunika juga turut serta mengetahui tabir fakta yang selama ini publik tidak ketahui. Seperti pernikahan tersembunyi Arez, adik bungsu Altar yang menikah dengan seorang gadis belia yang tak lain dan tak bukan adalah Anye. Cinta pertama Fabian Arian, adik Arunika. Pun ia turut mengenal semua anggota keluarga Diantoro dengan baik, karena mulai dari kemarin ia resmi menyandang gelar Diantoro pula di belakang namanya.
Selepas sarapan, Arunika dan Altar bergegas menuju rumah sakit. Sesuai jadwal konsultasi dengan dokter Ridwan yang telah kembali membuka praktek. Mereka datang ke gedung klinik khusus infertilitas. Tempat di mana dokter senior itu buka praktek.
"Selamat siang, Dok."
"Selamat siang, Tuan dan Nyonya Diantoro."
Sambutan hangat diberikan oleh pria bersnelli dokter yang usianya mulai memasuki angka 50 tahunan. Senyum ramah berkembang di wajah pria tersebut saat menyambut kedatangan pasien tetap nya sejak lama.
"Selamat atas pernikahan kalian. Maaf tidak bisa menghadiri hari bahagia kalian."
Arunika tersenyum maklum. Dokter Ridwan memang masih memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga Diantoro. Jadi, bukan hal yang tabu jika pria itu telah mengetahui pernikahan Altar dan Arunika.
"Jadi, ada yang bisa saya bantu?"
"Em, kami ingin konsultasi soal promil, Dok." Arunika buka suara, mengutarakan maksud dan tujuan mereka datang ke tempat ini.
"Program kehamilan, ya?"
"Kalian masih pengantin baru, langsung ingin memiliki momongan rupanya."
Arunika tersenyum canggung. Sedangkan Altar tetap memasang wajah datar. Hanya dokter Ridwan yang selama ini mengetahui kondisi kesehatannya, jadi ia tidak perlu menutupi apa-apa lagi.
"Mengingat kalian masih pengantin baru, untuk program kehamilan saya sarankan agar Arunika melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Karena kondisi kesehatan Altar sudah saya ketahui."
Arunika mengangguk. Kemudian ia mengikuti instruksi dokter Ridwan agar mengikuti arahan perawat. Pemeriksaan pertama adalah pemeriksaan untuk mengetahui kondisi kesehatan rahim dan sistem reproduksi. Banyak cara dapat dilakukan untuk melihat kesehatan rahim dan sistem reproduksi, salah satunya adalah dengan cara ultrasonografi.
"Ini rahim istrimu, Al. Sedangkan ini sel telurnya, ukurannya normal. Kondisi sel telur dalam keadaan matang. Ketebalan rahim istrimu bagus. Jadi memperkecil kemungkinan terjadinya pendarahan atau keguguran saat hamil."
Altar mengangguk dalam diam. Kesimpulannya, kondisi Arunika sehat. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Wanita itu juga siap mengandung di usianya yang bisa dikatakan sudah matang. Masalah tetap ada pada dirinya.
"Jadi, apa yang harus kami lakukan?" tanya Altar to the point.
Arunika sendiri sudah kembali ke sisi Altar setelah pemeriksaan selesai.
"Untuk kamu sendiri, jangan lupa dengan pesan-pesan saya selama kamu melakukan chek up. Hindari konsumsi kafein berlebihan, alkohol, rokok, lada hitam, kunyit, makanan berbahan dasar kedelai, karbohidrat olahan, makanan diet bebas lemak, dan minyak hidrogenik. Konsumsi bahan makanan yang mengandung Vitamin B-12 karena baik untuk mortilitas sp*rma."
Arunika mengangguk seraya mendengarkan ucapan dokter Ridwan. Ia tentu harus menghafal semua itu. Mortilitas sp*rma sendiri adalah salah satu dari istilah kesehatan sp*rma. Mortilitas sp*rma adalah istilah untuk sp*rma yang sehat dan bisa bergerak dan "berenang" menuju sel telur untuk membuahinya.
"Seperti yang kamu ketahui Al, selama ini kamu sudah mengikuti serangkaian tes. Sekarang karena kamu sudah memiliki istri. Coba lakukan apa yang kemarin saya sampaikan. Utamanya adalah meningkatkan frekuensi hubungan sexual."
Arunika tertegun dengan bibir tertutup Sedangkan Altar tampak data mendengar usulan tersebut.
"Hm. Bagaimana dengan jadwalnya?" tanya Altar buka suara.
__ADS_1
"Berhubungan setiap hari atau dua hari sekali."
"S-etiap hari, Dok?" tanya Arunika sawan.
Dokter Ridwan mengangguk seraya tersenyum maklum. "Meningkatkan frekuensi hubungan sexual dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kehamilan. Selain itu disarankan juga melakukan hubungan saat pembuahan."
Lagi-lagi, Arunika hanya bisa mengangguk dengan raut wajah yang sudah memerah seperti kepiting rebus. Sedangkan Altar hanya berdehem pelan saat mendapati senyum maklum dari dokter Ridwan.
"Untuk sekarang, kalian bisa coba ikuti tips-tips yang saya sarankan. Semoga Tuhan lekas menitipkan momongan pada kalian."
"Amin. Terima kasih, Dok."
Arunika menjawab seraya tersenyum sopan. Sesi pemeriksaan telah selesai dilaksanakan. Sekarang, mereka hanya perlu menebus resep obat dan vitamin yang biasa dokter berikan untuk Altar.
Sepeninggalan mereka dari rumah sakit, hening sempat tercipta. Mewarnai perjalanan mereka menuju kediaman Diantoro. Ada banyak hal yang sebenarnya berkecamuk di kepala Arunika. Apalagi jika bukan soal statusnya sekarang.
"Mas."
"Hm?"
"Gimana soal orang-orang di kantor? Apa jadinya kalau mereka tahu sekarang kita sudah menikah? Padahal aku baru aja digosipkan sebagai PHO di hubungan kamu sama Arumi."
"PHO?" bingung pria yang tengah memarkirkan kendaraannya.
"Perusak hubungan orang. Masa kamu gak tahu, sih?"
Altar tidak merespon. Ia sibuk memarkirkan kendaraannya di garasi rumah dua lantai tersebut. "Apa yang mengganggumu?"
"Mereka pasti semakin yakin soal aku yang rebut kamu dari Arumi."
"You are not so, Aru. Kamu tidak merebut siapapun."
"Iya. Tapi, setiap orang punya mindset beda soal aku...." Arunika tidak lagi dapat menyelesaikan ucapannya kala sesuatu yang hangat nan lunak dengan cepat membungkam bibirnya. Membuat sistem di dalam tubuhnya mati total.
"Kamu terlalu banyak memikirkan pendapat orang lain," ujar Altar tepat di depan bibir sang istri. Bekas tawanan bibir kissable nya sendiri.
"Mas, ini di garasi loh. Kalau ada yang lihat gimana?!" ujar Arunika seraya menengok ke kanan dan kiri.
"Why?"
"Why? Kalau ada yang lihat memangnya Mas gak malu? Kalau aku sih malu!" ketus Arunika seraya memalingkan wajahnya yang tampak memerah.
Altar tersenyum tipis melihat ekspresi sang istri. Detik berikutnya ia keluar mobil. Memutari body kendaraan tersebut guna mencapai pintu yang lain.
"Ayo, kita punya projek yang lebih penting ketimbang mengurusi cibiran orang-orang di luar sana."
Arunika tertegun. Pandangannya sekarang teralihkan pada sebuah telapak tangan yang tersodor ke arahnya.
"Kita menikah bukan karena sebuah aib. Kita menikah karena memang kita mau. Kamu tidak merebut apapun dari Arumi, karena sejatinya aku dan dia tidak memiliki hubungan apa-apa. Jadi, jangan ragu. Kamu menjadi istriku karena kamu memang pantas mendapatkannya."
...ππ...
...TBC...
...Semoga suka π€...
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai π...
__ADS_1
...Tanggerang 12-12-22...