
Rintik hujan yang awalnya satu per satu jatuh membasahi bumi kini semakin lebat debitnya. Langit kian gelap di saat Arunika baru saja mendapatkan notifikasi pembatalan ojek online yang dipesan. Hujan lebat dibarengi dengan angin kencang di luar sana membuatnya kesulitan mendapatkan transportasi umum untuk pulang. Apalagi sekarang sudah cukup larut, ditambah dengan cuaca yang tidak bersahabat. Genangan air juga mulai timbul di mana-mana, bahkan berpotensi membuat banjir datang menyambangi ibu kota.
“Kamu tidak lihat ramalan cuaca? Hari ini akan ada hujan dan badai. BMKG baru saja memuat informasi tersebut.”
Arunika yang tengah menggunakan heels-nya memutar bola mata malas. Mau hujan badai sekalipun, ia akan tetap pulang ke rumah. Di sana sang adik pasti tengah menunggu. Ia akan lebih memilih menerjang badai, ketimbang harus bertahan lebih lama di apartemen Altar.
“Saya tetep mau pulang. Sebentar lagi Air jemput.”
“Air?” bingung pria yang tengah menyender di dinding dekat pintu keluar. “Maksud kamu Airlangga, staf baru Data Analyst?”
“Hm. Itu Bapak kenal,” jawab Arunika Acuh. “Dia pasti sudah standby di lobby.”
“Kamu memiliki hubungan apa dengan dia? Saya dengar dia baru kembali dari luar negeri.”
“Hubungan saya sama Air bukan urusan Bapak.”
“Kenapa? Kamu takut saya membocorkannya kepada Bian, pacar kamu itu?”
“Kenapa jadi bawa-bawa Bian, sih?” ketus Arunika. “Orang dia adikku,” lanjutnya dalam hati.
“Kenapa? Bukannya dia pacar kamu? Apa jadinya kalau dia tahu kamu pulang dengan pria lain? Apa dia akan marah? Kemungkinan besar dia akan jealous.”
Oh my god, kalimat retoris tersebut adalah kalimat terpanjang yang Altar ucapkan seingat Arunika. Entah kenapa juga pria itu jadi punya kebiasaan bicara panjang kali lebar jika menyangkut sesuatu yang tidak penting.
“Tetap di sini.”
“Bapak maksudnya mau menahan saya di sini?” Arunika memicingkan mata. “Sorry, dory, strawberry. Saya tidak mau menginap di sini. Mending saya pulang, soalnya ada my honey, bunny Bian in the home.”
“Saya tadi sudah bicara dengan pacar kamu.”
“What?!” Arunika terperangah mendengarnya. “Maksudnya?”
“Saat kamu berada di kamar mandi, dia menelepon.” Altar berujar dengan santai.
“Terus Bapak angkat?”
Altar mengangguk sebagai jawaban.
Arunika memicingkan mata. “Itu namanya menyalahi privasi saya, Pak.”
Altar menatap sang sekretaris dengan alis bertaut. “Apanya yang menyalahi privasi? Kamu terlalu lama di kamar mandi, ringtone handphone kamu menganggu gendang telinga saya.”
Arunika tersenyum congkak. Ia lupa jika ringtone yang digunakan memang cukup menganggu pendengaran, belum lagi dilengkapi dengan flash yang akan menyala setiap kali ada notifikasi SMS atau telepon masuk.
“Ya, maaf. Tetapi Bapak tetap saja tidak boleh sembarangan mengangkat panggilan di telepon saya.”
“Hm.”
“Hm, hm, dong. Didengerin kalau orang lagi bicara tuh!” ketus Arunika secara berdecak sebal. Masa bodoh lah dengan etika. Toh, ini sudah di luar jam kerja.
“Jangan berdecak kepada—“
“Ini sudah diluar jam kerja, ya elah.” Arunika menyela seraya menunjuk jam tangan yang melingkari pergelangan tangan. “Saya pulang dulu kalau gitu, Pak. Tadi pacar saya sudah telepon, ‘kan?” eh, dia udah tau Bian adikku atau belum, sih? lanjut Arunika, bertanya di dalam hati.
“Pacar kamu mengijinkan kamu tinggal di sini malam ini.”
“Hah?” Arunika tiba-tiba tulalit. Sedetik berikutnya, ia tertawa congkak. “Mana mungkin Bian membiarkan saya menginap di sini? Asal Bapak tahu saja, dia itu tidak bisa tidur kalau belum saya pok-pok.”
“Tapi dia mengizinkan.”
__ADS_1
Arunika kontan menghentikan tawanya. “Bapak bercandanya garing banget.”
“Begitulah adanya.” Altar beranjak dari posisi bersandar. “Sebagai seorang pria dia cukup bijak dengan mengizinkan kekasihnya tinggal di apartemen pria lain.” Pria itu kemudian berlalu meninggalkan Arunika.
“Bapak yakin tadi telepon dari Bian?” tanya Arunika, buru-buru mengejar Altar.
“Hm. Dia sepertinya lebih muda dari bayangan saya.”
Arunika menelan ludah susah payah. “Jangan-jangan dia udah tau?” batinnya.
Altar berbalik ketika mereka sudah berada di ruang tengah. Pria itu menatap Arunika lamat-lamat, sebelum mengucapkan kalimat yang membuat Arunika menggeram lirih.
“Saya baru tahu kalau selera kamu ternyata berondong.”
Arunika kontak membelalak. Berondong katanya? Tapi, iya juga sih. Dilihat dari segi manapun, jika ia mengatasnamakan Bian sebagai kekasih, pasti akan dicap doyan berondong. Tapi, kok lucu ya saat melihat atasannya berkata demikian.
“Terserah Bapak, deh. Saya capek, mau istirahat.”
Arunika berjalan menuju sofa yang ada di ruangan tersebut, lalu menjatuhkan dirinya pada bantalan empuk. Sepertinya ia memang harus tinggal, karena cuaca juga tak kunjung membaik. Airlangga mana mau repot-repot menjemputnya. Pria itu palingan sedang asik perang ******* dibalik selimut. Apalagi cuacanya mendukung sekali.
“Jangan tidur.”
Arunika memang ***** alias nempel molor. Belum lagi jadwal hari ini cukup membuatnya letih. Jadi, jangan heran manakala ia langsung terlelap saat menemukan tempat nyaman untuk rebahan.
“Kamu akan tidur dengan pakaian seperti itu?”
“Hm.” Arunika bergumam lirih. “Ganggu banget sih, Pak. Lagian, saya mana ada baju ganti. Tidur pakai pakaian kantor juga tidak pa-pa.”
Altar menatap sekretarisnya tak percaya. Wanita itu sekarang berbaring dengan keadaan mata tertutup di atas sofa. Padahal beberapa menit yang lalu ia kekeuh ingin pulang. Sekarang, lihatlah betapa mudahnya ia memejamkan mata. Untuk sejenak, Altar menghela napas dalam. Detik berikutnya pria itu membuat gerakan yang membuat Arunika memekik tertahan seraya meronta.
“Turunin saya, Pak!”
Arunika terdiam. Benar juga apa kata Altar, jikalau ia terus meronta, yang ada ia akan terjatuh dengan naas. Arunika menggelengkan kepala. Ia tidak mau peristiwa memalukan itu terjadi, jadi ia memilih manut. Membiarkan Altar membawanya ke kamar utama, kemudian menurunkan Arunika di tepi ranjang.
Masih dalam diam, Arunika mengawasi setiap gerak-gerik sang atasan. Mulai dari pria itu membuka almari hingga mengambil beberapa potong pakaian, kemudian kembali ke hadapannya. Arunika menautkan kening melihatnya.
“Ganti pakaian kamu dengan ini.” Altar menyerahkan pakaian yang baru ia ambil. “Pakai ini akan membuat kamu lebih nyaman. Setelah itu kamu boleh tidur.”
Arunika tercekat untuk sejenak. “Tapi, Pak. Saya juga butuh sabun mandi, make up remover, facial wash, skincare, sama…. Underwear,” cicit Arunika.
Altar menatap Arunika tanpa suara. Detik berikutnya pria itu berbalik begitu saja setelah menyimpan pakaian untuk Arunika di atas ranjang.
“Hanya itu yang bisa saya berikan. Jadi, jangan berharap lebih.”
“WHAT?!” Arunika hampir saja memekik, jika saja pengendalian dirinya tidak baik. Selepas hilangnya Altar dibalik pintu, Arunika langsung misuh-misuh. “Dasar keturunan Dajjal. Berbuat baik kok setengah-setengah. Kagok banget tau nggak sih?!”
Arunika tetap misuh-misuh sendiri hingga melangkahkan kaki menuju kamar mandi. Setidaknya sebelum tidur ia mencuci muka seadanya, serta bisa menganti pakaian formalnya. Thanks to bos keturunan Dajjal-nya yang telah berbaik hati meminjamkan kaos berbahan super soft dan celana kargo yang lebih nyaman ketimbang pencil skirt yang ia gunakan.
...🍄🍄...
Setelah menyelesaikan urusannya di kamar mandi, bukannya tidur guna mengistirahatkan tubuh dan pikiran, Arunika kini malah terjebak dalam situasi yang akward. Bagaimana tidak akward, sekarang posisinya berbaring di atas peraduan dengan orang yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Bukannya segera memejamkan mata, Arunika malah dihantam berbagai pertanyaan tidak bermutu.
“Pak?” Arunika buka suara, merobek keheningan di antara mereka.
“Hm.”
“Bapak belum tidur? Tidak nyaman dengan keberadaan saya, ya? Kalau begitu saya tidur di sofa depan saja.” Arunika berujar tanpa jeda seraya menoleh ke samping. Menunggu respon pria rupawan yang malam ini berkali-kali lipat terlihat lebih tampan.
Padahal ia hanya mengenakan atasan kaos putih polos dengan bawahan celana piyama bermotif kotak-kotak. Namun, entah kenapa Altar terlihat berkali-kali lipat lebih tampan. Aura orang tampan memang bahaya sih.
__ADS_1
“Saya hanya sedang berpikir, Arunika. Bukan terganggu karena keberadaan kamu.”
“Bapak memangnya sedang memikirkan apa? Memikirkan masalah seluruh rakyat Indonesia? Kelihatannya seperti berat sekali.” Arunika sudah tidak lagi menoleh ke samping. Pandangannya kini terpaku pada langit-langit kamar.
“Saya sedang memikirkan pendapat kamu.”
“Kenapa sama pendapat saya, Pak?” bingung Arunika.
“Apa pendapat kamu soal Arumi?” tanya Altar, tidak terduga.
“Kenapa tiba-tiba bahas Arumi?”
“Karena saya ingin.”
Arunika menautkan kening. “Arumi itu cantik, baik, care, feminim, menantu-able, pintar, memiliki pandangan terbuka, tatakrama nya juga bagus. Overall, dia itu definisi hampir mendekati perfect dan mantu idaman. Cocok banget sama Anda yang perfeksionis dalam segala hal.”
“Menurut kamu kami cocok?”
Arunika mengangguk dalam diam. “Hm. Kalau sampai nikah, Anda dan Arumi pasti bakal didapuk sebagai couple goals yang membuat iri penghuni negeri ini.”
“Menurut kamu begitu?” ada nada ragu dari suara Altar.
“Iya. Ini, kan, pandangan saya. Opini sendiri. Tapi, Bapak sama Arumi memang terlihat sangat cocok dan saling melengkapi.” Arunika mengulas senyum kecil tanpa Altar ketahui.
Saling melengkapi? Arunika ingin menertawakan kalimatnya sendiri.
Ia masih ingat betul percakapannya dengan Arumi kala di rumah sakit. Wanita itu dengan gamblang mengatakan telah mundur dari posisinya sebagai calon istri Altar Jhonyan Dee Diantoro. Ia tidak lagi membutuhkan Altar. Mungkin kah ia sudah mengetahui kondisi kesehatan Altar yang sebenarnya?
Kemungkinan besarnya adalah yes. Arumi sudah mengetahui kondisi Altar yang akan sulit memiliki keturunan, maka ia memilih mundur. Jika iya, dangkal sekali pemikirannya. Bagi Arunika tidak seharusnya Arumi berbuat demikian. Seharusnya ia memberikan bahu secara suka rela ketika pria yang ia cintai tengah dilanda kenyataan pahit. Bukannya memilih memutuskan hubungan begitu saja. Apalagi sekarang ia berani mengumbar kebersamaan bersama pria lain.
“Kami tidak bisa saling melengkapi.”
Arunika terhenyak dari lamunannya kala mendengar ucapan Altar. “Kenapa?”
“Kamu percaya dengan cinta?”
Arunika mengangguk tanpa suara.
“What is love, Arunika?”
“Cinta adalah perasaan istimewa yang Tuhan berikan kepada manusia. Cinta itu fitrah. Cinta juga dapat menimbulkan berbagai reaksi kimia. Biasanya, orang yang saling mencintai akan cenderung saling memahami, mempercayai, juga memiliki. Jikalau ada kekurangan di antara salah satunya, bukannya menjadi penghalang, malah hal tersebut akan menjadi penguat. Mereka bisa saling menguatkan, juga saling mengisi. Bukan menjauhi saat salah satunya memiliki kekurangan,” jawab Arunika.
“Bagaimana dengan dia yang mengatakan cinta, tetapi pergi begitu saja saat tahu pasangannya tidak bisa memenuhi kriteria?”
Arunika menoleh, menatap Altar dari samping. “It’s not love. Itu namanya egois. Tidak ada cinta yang mematok sebuah kesempurnaan. Jika dia pergi setelah mengetahui kekurangan pasangannya, berarti dia egois.” Arunika menjeda kalimatnya sejenak, saat Altar beralih menatapnya.
Obsidian hitam jelaga itu tampak menyimpan sejuta teka-teki yang tidak dapat diselami.
“Cinta bukan soal kesempurnaan, karena tidak ada manusia yang sempurna di dunia. Jika dia mencari yang sempurna, nikahi saja karakter fiktif yang selalu digambarkan perfect. Karena manusia yang mendekati kriteria sempurna sekalipun pasti Tuhan lengkapi dengan kekurangan.”
...🍄🍄...
...TBC...
...Semoga suka 🖤...
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
...Tanggerang 05-12-22...
__ADS_1