
Belum genap 24 jam pasca ajakan menikah yang biasa-biasa saja, tetapi berefek luar biasa. Arunika sudah hampir gila. Mungkin sebentar lagi ia akan dirujuk ke rumah sakit jiwa terdekat, yaitu RSJ Dr. Soeharto Heerdjan misalnya. Sekarang, ia memandang nanar cincin bertahtakan batu Pirus yang melingkar jari manis tangan kirinya. Batuan berharga itu terbilang unik karena bentuknya menyerupai pembuluh darah. Selain itu, ada dua cincin lain yang tak kalah eksotis. Bertahtakan batu Opal berwana putih susu dan Carnelia yang berwarna merah gelap.
"Pak."
"Kenapa? Kamu tidak suka cincinnya?" tanya pria yang sedari tadi sibuk mondar-mandir tersebut. Katanya sih, menghubungi asisten pengganti supaya mengurus sesuatu di kantor urusan agama.
"Perasaan saya belum bilang 'yes, i do' atau 'yes i will' deh. Tapi, kenapa Bapak sudah ribut mengajak saya menikah?"
"Karena saya tidak menerima penolakan."
"Memangnya nikah bisa dipaksakan?" kesal Arunika.
"Tidak bisa."
"Nah, itu Bapak tahu sendiri." Arunika melipat kedua tangannya di depan dada. Kesal akan sikap Altar yang suka seenaknya. "Lagian, saya juga belum putus sama Bian."
Altar memberikan sedikit perhatian kepada Arunika. "Pacar berondong kamu itu?"
Arunika mengangguk. "Saya tuh sayangnya sama dia loh, Pak."
"Sayang saja?" pria itu memicingkan mata saat bertanya.
Arunika menautkan kening mendengarnya. Sedetik kemudian, kalimat berikutnya yang keluar dari mulut pria itu berhasil membuat Arunika tertegun untuk beberapa saat.
"Sayangi saja dia, simpan rasa cinta kamu untuk saya."
Arunika memutar bola mata malas. Capek meladeni sikap Altar yang sulit sekali ditebak. "Pak, ngomong-ngomong, saya sama Bian belum putus, loh."
"Saya sudah tahu, Aru."
"Kalau Bapak tahu, kenapa masih ribut mengajak saya menikah? Bapak mau jadi pembinor? eh, perebut pacar orang maksudnya?"
Altar menggeleng ringan. "Saya tahu jika Bian adalah adik kamu."
Arunika terbelalak mendengarnya. Shock berat dengan ucapan Altar yang terdengar sangat gamblang. "Bapak sudah tahu?"
__ADS_1
"Hm. Saya juga sudah menghubungi dia." Pria itu menjawab dengan tenang. Seolah-olah fakta itu sama sekali tidak mengganggunya. Padahal Arunika sudah berbohong kepadanya.
"Menghubungi siapa maksudnya? Bian itu masih sekolah, Pak. Dia lagi sibuk-sibuknya menghadapi ujian nasional. Dia pasti shock mendengar berita hoaks dari Bapak."
"Tenang, dia baik-baik saja. Lagipula, tanpa dia kita tidak bisa menikah, Aru. Kamu membutuhkan wali."
Arunika mendesah kesal. Dengan segera ia menjatuhkan punggung di sandaran sofa. "Memangnya Bapak yakin mau nikah sama saya?" tanyanya, pesimis.
"Hm."
Arunika mendengus. Altar kapan mau kalah berargumen dengannya sih?
"Kita tidak saling mencintai loh, Pak?"
"Cinta bisa datang kapan saja."
"Tapi, Pak..."
"Kamu terlalu banyak mengucapkan kata 'tapi'. Apa kamu sadar?"
Arunika mengangguk. Masih dengan netra yang terkunci pada pria di hadapannya. "Menikah bukan permainan loh, Pak. Menikah itu sekali seumur hidup. Bapak kok ngajak saya nikah, kayak ngajak main-main?"
Arunika menggeleng, kemudian mengangguk. Altar yang melihat itu menghembuskan nafas pelan. Ia tahu jika sekretarisnya itu pasti tengah tersesat dalam Palung kebingungan. Orang gila mana coba yang mengajak seorang wanita menikah di ruang makan. Tanpa cincin, ataupun tanpa kata-kata romantis dan manis. Yang ada malah pemaksaan. Dan orang gila itu sepertinya bernama Altar Jhonyan Dee Diantoro.
Altar mengajak Arunika menikah memang terdengar seperti seseorang mengajak main-main. Akan tetapi, ia serius berkata demikian. Apa yang keluar dari mulutnya terucap dengan spontan.
"Kamu tidak mau menikah dengan saya, Aru?"
Arunika menggeleng kecil. "Bukan, bukan tidak mau. Tapi, ini terlalu mendadak. Rasanya saya belum siap, Pak."
"Apa yang membuat kamu tidak siap?"
"Saya akan menikah dengan pria seperti Anda. Pria dari kalangan tak biasa. Sedangkan saya, wanita yang tidak punya apa-apa. Saya bahkan hidup nomaden karena dikejar-kejar debcollector. Orang tua saya meninggal bunuh diri karena terlilit hutang. Apa Bapak tidak malu menikahi wanita seperti saya?" Arunika menarik nafas setelahnya. Memuntahkan semua kenyataan pahit itu membuat dadanya sesak.
"Sudah?"
__ADS_1
Arunika menautkan kening mendengarnya.
"Sekarang biar saya yang bicara."
Pria rupawan dalam balutan pakaian kasual itu mendekat. Mengikis jarak yang ada di antara mereka. Menjatuhkan posisinya di hadapan wanita pemilik netra hazelnut tersebut.
Altar telah memiliki rencana. Pun sebelum lamaran dadakan ini terlontarkan begitu saja. Ia telah menyelidiki Arunika. Wanita muda yang hidup mandiri demi menghidupi adik serta dirinya sendiri. Masalah keluarga serta hutang piutang yang ditinggalkan almarhum orang tuanya, semua juga tidak luput diselidiki.
"B-apak ngapain?" tanya Arunika. Tidak enak melihat posisi Altar yang sekarang berlutut di hadapannya.
"Dengarkan saya, Aru. Saya memang belum mencintai kamu, begitupun sebaliknya. Tapi, saya yakin dengan keputusan saya. Menikahi kamu bukanlah sebuah kesalahan. Terlepas dari latar belakang kamu. Bukan hanya saya yang akan menghadapi pernikahan ini, tapi juga kamu. Saya yakin dengan pilihan saya. Kamu mengerti saya, peduli, juga sabar dengan sikap saya. Saya tidak butuh wanita manapun lagi, jika kamu saja sudah lebih dari cukup." Altar meraih jemari Arunika, membawanya dalam genggaman hangat jemari miliknya sendiri.
"Saya ingin kamu menjadi pendamping hidup saya. Menjadi penyokong semangat agar saya bisa mewujudkan kemungkinan yang pernah kamu katakan terjadi. Apa kamu keberatan dengan itu?"
Bak disihir oleh mantra tak kasap mata, Arunika menggeleng. Netranya masih terpaku pada pria di hadapannya. Dengan irama jantung yang terlunta-lunta.
"Jadi, kamu mau menerima ajakan saya untuk menikah? Hanya satu jawaban yang saya butuhkan, Aru. Semoga saja kamu memahaminya." Seulas senyum terbit di bibir Altar, membuat Arunika lagi-lagi tersihir oleh pesona keturunan Diantoro tersebut.
Dengan perlahan, wanita beriris hazelnut itu menarik nafas, kemudian menghelanya perlahan. Lalu bibirnya terbuka, menjawab ucapan Altar dengan seuntai kalimat yang akan mengubah segalanya.
"Yes, I do."
Mungkin Altar sudah gila, tetapi Arunika jauh lebih gila. Biarlah mereka menjadi pasangan tergila tahun ini. Gila dan sangat gila. Bukannya saling melengkapi? mereka akan menjadi couple gila yang saling melengkapi, sehidup semati.
"Terima kasih," ucap Altar seraya mengecup punggung tangan Arunika. Senyum yang jarang, bahkan hampir tidak pernah Arunika lihat sekarang tersungging cukup lebar. "Saya tahu saya gila karena tiba-tiba melamar kamu. Tapi, apa kamu tahu siapa yang paling gila?"
Arunika menghela napas seraya memejamkan mata. "I'am."
...🧸🧸...
...TBC...
...Author lebih gila 🫂...
...Semoga suka 🖤...
__ADS_1
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
...Tanggerang 09-12-22...