
Altar tidak tahu apa yang terjadi dengan dirinya hari ini. Saat terbangun di jam biologisnya, ia sempat tertegun lima menit lamanya saat menemukan seonggok tubuh memeluknya dengan posesif. Ia bahkan menunda niatnya untuk beberapa, ketika hendak beranjak.
And then, ia juga tidak tahu apa yang mendasari perbuatannya karena telah merepotkan diri sendiri dengan memasak sarapan untuk dua orang. Padahal ia tidak perlu repot-repot begini. Ia 'kan tuan rumahnya.
Tepat saat dua porsi waffled sandwich filled with creamy scrambled egg terhidang di atas meja makan, terdengar suara decitan pintu yang terbuka. Membuatnya mengangkat pandangan, menyambut kedatangan sosok yang tampak sudah fresh. Tidak ada lagi pillow face yang dilihatnya subuh tadi.
“Aduh, maaf, Pak. Tubuh saya memang agak keterlaluan. Tidur di atas ranjang empuk sedikit saja, bangunnya pasti kesiangan,” seloroh wanita cantik itu seraya terkekeh kecil. “Barusan saya juga pinjam sabun, sikat gigi baru, sama pasta gigi di kamar mandi Bapak.”
“Hm.”
Altar merespon singkat seraya menghidangkan segelas kopi untuknya, serta segelas jus jeruk untuk Arunika. “Duduk dan makan sarapan kamu.”
“Tidak perlu repot-repot, Pak. Saya bisa sarapan di jalan.” Arunika melambaikan tangan, sungkan menerima kebaikan kesekian yang ditunjukkan Altar. Melihat Altar berbuat demikian, ia malah nething sendiri.
“Saya tidak menerima penolakan, Arunika. Cepat duduk dan makan.”
Arunika mengangguk. Tidak lagi mau mendebat sang atasan. Keduanya kemudian larut dalam keheningan, menikmati sarapan masing-masing dalam diam. Pukul tujuh tepat, mereka meninggalkan unit pria itu.
Sepanjang jalan menuju lantai dasar, beberapa orang tampak berbisik-bisik saat Altar berjalan beriringan dengan Arunika. Pria itu sudah rapih dengan setelan formal bernuansa dark blue. Berbanding terbalik dengan Arunika yang hanya mengenakan celana kargo dan atasan yang semalam dipinjamkan Altar. Ia memeluk sebuah paper bag berukuran medium berisi heels dan pakaian kerjanya.
Arunika menunduk, menatap lantai yang ia pijak. Ada alas kaki rumahan menghiasi sepasang kakinya. Overall, ia benar-benar berbanding terbalik dengan Altar yang sudah good looking dengan setelan kerja.
“Kenapa berhenti?” tanya Altar seraya menoleh ke samping.
“Mereka kenapa melihat saya terus?” alih-alih menjawab, Arunika malah melontarkan sebuah pertanyaan.
“Kamu malu?”
Arunika berdecak pelan. “Masa enggak! Bapak sudah rapih begitu, sedangkan saya masih begini? Mereka pasti mikir yang aneh-aneh, Pak.”
“Aneh-aneh seperti apa?” Altar bertanya seraya mengerutkan kening. Ia bukannya tidak sadar jika sejak tadi mereka menjadi objek perhatian. Hanya saja memilih cuek.
“Staff with benefit, maybe.”
Arunika menunggu respon Altar setelah berkata demikian. Sebagian besar orang-orang pasti berpikir seperti itu. Apalagi ia muncul pagi-pagi sekali dari unit sang atasan.
__ADS_1
Altar tidak menjawab. Hanya tangan yang bergerak, membuka jas mahal yang melekat di tubuhnya. Menggunakan jas tersebut untuk melingkupi bahu Arunika, sebelum merapatkan tubuh wanita itu agar jarak di antara mereka terkikis habis.
“Jangan pedulikan persepsi mereka. Kamu dan saya lebih tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Kepala Arunika tiba-tiba kosong. Ia diam saja saat Altar kembali melangkah, membuat tubuhnya kembali berjalan secara otomatis. Posisi mereka masih dengan sebelah lengan Altar melingkari pinggang ramping Arunika dari luar lapisan jas.
Tiba di lobby Arunika baru bisa mendapatkan kesadarannya kembali. Ia buru-buru membuat jarak di antara mereka seraya menggumamkan permintaan maaf. Perubahan sifat Altar yang tiba-tiba tentu menjadi alasan utama bagi keterkejutan Arunika. Ia merasa jika ada yang berbeda pada sikap pria itu. Sepanjang jalan menuju parkiran apartemen, Arunika memilih menundukkan kepala.
Berjalan bersama Altar sudah seperti berjalan dengan aktor kawakan. Banyak pasang mata yang memperhatikan. Sebagian dari mereka bahkan tak sungkan menyapa untuk sekedar berbasa-basi.
“Tunggu sebentar, saya harus mengangkat telepon.”
Arunika mengangguk. Membiarkan Altar berjalan menjauh seraya mengangkat sambungan telepon. Saat baru tida di area parkiran, telepon milik pria itu tiba-tiba saja berdering. Sekarang Arunika harus menunggu pria itu selesai dengan sambungan teleponnya, karena ia tidak mau membiarkan Arunika pulang sendiri.
“Sekarang kalian sudah berani go public.”
Arunika menoleh saat mendengar suara familiar tersebut. Di sampingnya, Arumi hadir dengan look yang elegan menggunakan BRIDE AND YOU button down detailed tweed dress berwarna violet. Salah satu tangan wanita cantik itu menenteng sebuah paper bag berukuran medium. Seulas senyum remeh tersungging di labium.
“Apa sekarang kalian tinggal bersama?”
Arunika melotot mendengarnya. “Tentu saja tidak!”
“Kamu terlalu banyak berspekulasi, Arumi.”
“Bagaimana aku tidak banyak berspekulasi jika melihat seorang wanita keluar dari unit atasannya pagi-pagi begini. Dengan keadaan hanya mengenakan pakaian milik atasannya.”
Arumi benar. Penampilan Arunika saat ini memang menimbulkan spekulasi negatif. Arunika juga sadar jika alasan itulah yang membuatnya menjadi pusat perhatian. Akan tetapi, ia juga tidak bisa mengenakan baju kerjanya yang kemarin.
“Kamu tidak mundur sekali pun tahu soal kondisi Altar yang sesungguhnya?”
“Kenapa dengan kondisi Pak Altar?” Arunika balik bertanya. “Tidak ada yang salah dengan kondisinya. Yang salah di sini adalah kamu yang tidak bisa menjadi bahu baginya saat dia membutuhkan tempat untuk bersandar.”
“Apakah kamu bisa menjadi tempatnya bersandar?” Arumi bertanya dengan tampang datar andalannya.
Wanita cantik itu pandai sekali mengolah emosi. Sekalipun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia mulai tersulut emosi.
__ADS_1
“Aku saja yang selama bertahun-tahun bersabar dengan sikap dingin Altar akhirnya memilih mundur. Apa kabar dengan kamu yang baru mengenalnya sebulan belakangan?”
Kalimat Arumi bak pukulan telak bagi Arunika. Ia tahu jika Arumi tengah mempermainkan emosinya agar terjebak dalam topik pembicaraan mereka.
“Aku jadi bertanya-tanya, apa yang membuat kamu bertahan di sisi Altar. Sekalipun kamu mengetahui kondisi kesehatannya. Is it because of money?”
“Jaga bicaramu Arumi!” Arunika berseru marah. “Aku memang bekerja untuknya. Tetapi bukan untuk menjual harga diriku.”
Arumi tersenyum skeptis. “Aku dengar kedua orang tua kamu meninggal karena bunuh diri. Mereka juga meninggalkan banyak hutang.”
Arunika merasa jantungnya berhenti bekerja saat itu juga. Bagaimana bisa Arumi mengetahui rahasia besar yang selama ini ia tutupi dengan baik? Apa Arumi akan menggunakan celah ini untuk menekannya?
Arunika kembali mencoba menguasai diri. Hanya karena Arumi mengetahui hal tersebut, tak lantas membuatnya gentar. Jadilah kuat jika sudah terpojok sekalipun. Jangan sampai musuh tahu jika kamu sempat gentar karena gertakannya. Arunika memotivasi diri sendiri.
“Aku yang selama ini mencintai dia apa adanya sudah biasa menemukan wanita-wanita seperti kamu. Ujung-ujungnya, mereka hanya mengincar harta yang Altar miliki. Aku cuma khawatir jika kamu juga memiliki tujuan yang sama.”
Arunika hendak menjawab ucapan Arumi, sebelum tubuhnya digeser begitu saja. Membuatnya berakhir dalam kungkungan dada bidang berbalut kemeja putih dan lingkaran lengan kokoh. Bersama dengan itu mengalun suara deep bass yang terdengar begitu tegas.
“Aku tidak butuh cinta apalagi rasa simpatimu, Arumi. Jadi jangan mengurusi urusanku dengan wanitaku.”
“Altar, aku—“
“Apapun yang kamu tuduhkan kepadanya tidak benar. Dia berbeda dengan kamu. Dia mencintaiku dengan tulus.”
Bad liar.
Arunika mengeram lirih dengan irama detak jantung yang kian bertalu-talu. Ia merasa jika apa yang barusan Altar ucapkan sudah berlebihan.
Arunika mencintai Altar dengan tulus? Mimpi.
...🍄🍄...
...TBC...
...Semoga suka 🖤...
__ADS_1
...Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘...
...Tanggerang 06-12-22...